
Hari minggu Nessa lewati dengan suasana barunya. Gadis itu mencoba mengenal lebih dekat, tepatnya sih dirinya yang ditanya-tanya. Dalam satu hari gadis itu rupanya sudah akrab dengan Winanti. Bagaimana tidak akrab, keduanya menghabiskan waktu bersama untuk saling mengenal lebih dalam lagi seperti hobi, kesukaan, hingga hal-hal yang dirahasiakan.
Saat memasuki rumah itu, Nessa sempat bertanya mengenai foto yang terpajang di ruang tamu. Dan gadis itu merasa seperti pernah melihat satu dari lima orang di foto tersebut.
"Ma, di foto ini siapa?" tanya Nessa pagi hari itu.
Winanti tidak menoleh, melainkan langsung menjawab karena memang hanya ada satu foto yang terpajang di ruang tamu.
"Owh, itu foto anak Tante. Yang cowok udah menikah, trus yang cewek itu masih sekolah."
Nessa hanya mengangguk-angguk.
Senin menyapa, Nessa sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Memang minggu, kemarin, Nessa membawa perlengkapannya mulai dari perlengkapan sekolah hingga perlengkapan pribadinya.
"Sini, Nak! Sarapan dulu. Nanti kalau sudah sarapan biar diantar supir ke sekolahnya." ujar Winanti melambaikan tangannya agar Nessa mendekat.
Perlu diketahui, saat Nessa ke sini dia tidak membawa motornya.
"Nessa naik ojek aja, Ma." tolak Nessa sambil duduk di kursi meja makan.
"Gak ada penolakan, Sayang. Nanti pulang juga akan dijemput supir yang sama." titah Winanti membuat gadis itu mau tidak mau harus menerima.
"Iya, Ma." cicit gadis itu pelan.
Nessa pun memakan sarapan yang telah disiapkan oleh Winanti. Ngomong-ngomong soal Resa, suami dari Winanti itu tidak ada di rumah karena ada perjalanan dinas juga dan mungkin lusa hari rabu sudah kembali. Subuh-subuh tadi laki-laki itu pamit, dan Nessa pun masih tertidur, jadi, belum sempat bertemu. Hanya tadi malam saja, dan itu pun sebentar.
"Hati-hati, Nak!"
Nessa mengangguk sambil melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Winanti yang mengantarkannya sampai depan gerbang.
Tidak terasa mobil yang Nessa tumpangi sudah berhenti tepat di depan gerbang sekolahannya. Nessa keluar dari mobil sambil mengucapkan terima kasih. Gadis itu pun berjalan cepat menuju kelasnya. Saat sampai di kelas, dia langsung disambut oleh Vella dengan wajahnya seperti menginterogasi.
Ups, ya. Gadis itu lupa memberitahu Vella kalau dirinya tidak ada di rumah.
"Kata Bibik, lo gak ada di rumah?"
Secepat mungkin Nessa membalikkan badan Vella dan mengajaknya duduk di bangkunya.
"Iya, sorry. Lupa ngasih kabar."
"Segitu gak pentingnya kah gue?" tanya Vella.
"B-bukan gitu, Vell. Gue beneran lupa ngasih kabar, lo tau kan kalau gue lagi kesel pasti lupa."
Vella masih menatap tajam Nessa membuat gadis itu merasa ada aura horor di sekitarnya.
"Pft! Gue becanda, Nes. Serius banget sih itu muka." celetuk Vella sambil tertawa karena sudah berhasil mengerjai sahabatnya.
"Dih! Punya temen!" balas Nessa yang kini sudah cemberut.
"Ulululu, temen siapa sih ini? Pake ngambek segala. Jangan ngembek lah, nanti gue traktir deh." bujuk Vella, lebih tepatnya sih ngasih sogokan ya.
"Jangan pegang-pegang." ujar Nessa sengit sambil menepis tangan Vella saat sahabatnya itu sudah melayangkan cubitan di kedua pipinya.
"Ish! Kebiasaan, kalo nabok suka sakit." Vella mengelus punggung tangannya yang sedikit perih akibat tabokan Nessa.
"Salah sendiri!" balas Nessa ketus.
🌼🌼🌼
"Jadi, sekarang lo tinggal di mana?" tanya Vella pada Nessa saat mereka sudah nangkring di kantin.
"Tinggal di rumah temen Mami Papi. Nanti pulangnya lo pulang duluan aja, gue dijemput soalnya." jawab Nessa.
"Orangnya baik gak?"
Nessa mengangguk.
"Untung deh. Kalo jahat berabe lo, Nes. Udah kayak Tante Tante yang suka nyinyir tuh, haha."
"Syut! Ngomongnya suka ngawur. Kalo jahat mana mau Mami Papi nutupin gue ke sana."
"Iya juga sih. Eh ya, kemarin tuh gue kan anter Papa gue ke bandara ya sama Mama gue. Nah, trus gue gak sengaja liat Pak Endi. Dia lagi jemput cewek, bawa anak juga, Nes. Lo sepemikiran gak sama gue kalo cewek itu tuh istrinya trus yang anak kecil itu anaknya?" ujar Vella tiba-tiba membuat Nessa berhenti mengunyah.
"Ah! Apa, Vel? Oh ya, gak tau gue. Mungkin juga sih, tapi, kita gak boleh suudzon gitu, nanti jadi fitnah orang-orang."
"Gue kan gak suudzon, Nes. Cuman nebak aja sih gitu. Siapa tau bener kan ya, berarti tuh Bapak untung dapet istri cantik trus anaknya gemoy." ujar Vella yang tidak tau kalau omongannya itu membuat Nessa sedikit kepikiran. Apa iya, gurunya itu sudah menikah. Tapi, saat perkenalan diri, gurunya itu mengatakan bahwa dirinya masih single alias jomblo.
"Tapi, pas perkenalan waktu itu dia bilang single kan alias jomblo?" ujar Nessa membuat obrolan mereka.
"Ah! Pusing, Nes. Ngapain mikirin hidup orang, hidup sendiri aja gak dipikirin. Huhuhu nasib." ujarnya mendramatis.
"Lagian, lo duluan yang ngomong gitu." balas Nessa menyalahkan Vella yang memang benar Vella yang salah karena topik awalnya itu dari perkataan Vella.
🌼🌼🌼
Sepulang sekolah, Nessa sudah dijemput, terbukti saat gadis itu keluar gerbang dan dia sudah melihat supir yang tadi mengantarkannya sudah menunggunya di depan mobil.
"Makasih, Pak." ujar Nessa saat dirinya dibukakan pintu mobil penumpang.
"Sama-sama, Non." balas supir pribadi di rumah Winanti. Panggil saja supir itu Pak Jon.
Roda-roda itu berputar seiring dengan laju mobil bergerak. Beberapa saat kemudian mobil itu masuk ke halaman rumah. Nessa langsung turun setelah mengucapkan terima kasih.
"Assalamu'alaikum." ucap Nessa saat memasuki rumah, gadis itu melepas sepatunya dan menyimpannya di rak.
Keningnya mengerut saat mendengar suara ramai dari ruang tengah. Apakah ada tamu? Ataukah ada keluarga Winanti yang berkunjung. Jika iya! Matilah Nessa, gadis itu masih malu untuk berjumpa dengan siapapun termasuk Winanti. Padahal dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.
Gadis itu mengulang salamnya lagi saat sudah mendekati ruang tengah.
"Wa'alaikumussalam. Eh! Nessa? Sini, Nak. Maaf, salamnya gak kedengeran."
Nessa mengangguk tidak mempermasalahkan. Gadis itu berjalan menuju Winanti dan langsung menyalami tangan wanita itu dan ikut menyalami tamu. Rasanya tidak sopan kalau melewati tamu begitu saja.
"Eh ya. Kenalin ini menantu Mama yang datang dari Depok." ucap Winanti memperkenalkan. Nessa mengangguk paham.
"Salam kenal. Nessa, Kak." sahut Nessa.
"Salam kenal juga, Dek. Panggil aja Wulan." ucap wanita itu sambil menggendong anak kecil.
"Anaknya ya, Kak?" tanya Nessa.
"Iya, Dek."
"Cewek atau cowok, Kak? Trus namanya siapa?" Nessa begitu tertarik dengan anak kecil yang berada di gendongan Wulan.
"Cewek. Namanya Queenza."
"Hai, Enza. Kenalin nama Kakak, Nessa." sapa Nessa ke arah balita itu yang sekiranya baru berusia 1 tahun.
"Eh! Dia senyum, Kak." sambung Nessa girang saat mendapat senyuman dari balita itu.
"Mau coba gendong?" tawar Wulan.
"Eh! Enggak deh, Kak. Nessa takut, soalnya belum pernah gendong bayi." jawab Nessa menolak. Perlu ditegaskan, Nessa tidak mempunyai adik ya. Jadi, dirinya sama sekali tidak bisa menggendong bayi, dan Nessa juga anak tunggal satu-satunya. Sebelumnya Nessa memang pernah akan menjadi calon Kakak, namun, takdir berkata lain. Maminya kecelakaan dan kandungannya keguguran. Dan lebih parahnya lagi, rahim Maminya harus terpaksa diangkat. Kejadian itu terjadi saat Nessa baru berusia tiga tahun. Sejak saat itu, Nessa menjadi anak satu-satunya, dan keduanya orang tuanya sangat menjaga dan menyayanginya.
"Coba dulu, Dek. Belajar, tenang aja, Kakak ajarin kok. Jadi, jangan takut." ujar Wulan.
"Nessa takut, Kak, kalau Enza kenapa-kenapa." jawab gadis itu menolak lagi.
"Ayo, Nak. Kamu belajar, nanti kedepannya kan bakal jadi Ibu." bujuk Winanti ikut-ikutan.
"Ya udah deh. Tapi, Nessa bersih-bersih dulu ya? Kan abis dari luar, jadi takut bawa bakteri pas gendong Enze." seru Nessa betul adanya.
"Ya udah. Sana ke atas, kalau udah selesai langsung makan aja dulu ya? Nanti baru gendong Enze." sambung Winanti langsung mendapatkan anggukan dari Nessa. Gadis itu pun langsung pamit ke kamar yang dia tempati.
"Anaknya baik ya, Ma?" ucap Wulan saat Nessa sudah tidak terlihat.
"Iya, cocok gak?"
"Cocok, Ma. Semoga aja ya?"
Winanti mengangguk, sambil mengaminkan apa yang diucapkan menantunya.