
"Jadi, sebenernya kemarin tuh aku udah sampe ke sini, cuman, ada Tante nelfon minta aku buat nginep ke rumahnya. Jadi, terpaksa deh nginep satu malam di rumah Tante. Trus hari ini baru bis ke sini." jelas Wulan mengenai kedatangannya.
Sementara putrinya, Enze, sudah berada di dalam gendongan Nessa. Iya, gadis itu. Setelah bersih-bersih dan makan, dia langsung memberanikan untuk menggendong Enze dibantu oleh Winanti dan Wulan.
Awalnya memang Nessa sedikit takut, namun, setelah mendapat dukungan dari dua orang wanita tersebut, gadis itu akhirnya berhasil. Tapi, ya begitu, Nessa masih takut walaupun tidak setakut tadi, namun kini sudah berhasil dia kuasai.
"Enze anteng banget, Kak." seru Nessa sambil terus memperhatikan Enze yang berada di dalam gendongannya. Balita itu sangat anteng di dalam gendongan Nessa, sesekali dia tersenyum saat Nessa terus memandangi lekat.
"Iya, biasanya kalau digendong orang suka rusuh. Tapi, kalau digendong kamu kok anteng ya?" balas Wulan ikut heran.
"Aduh, Kak! Gemesh banget." Nessa itu sedari tadi sudah gemesh dengan Enze, ingin sekali dia menggigit pipi gembul itu. Apalagi matanya yang hitam bulat. Sangat cantik persis seperti Ibunya.
Wulan dan Winanti hanya terkekeh melihat Nessa yang tampak gregetan karena terlalu gemas.
"Nessa juga mau punya adek kalau gini, tapi, udah gak bisa." ujar Nessa sedikit curhat. Winanti yang tau langsung mengelus pundak Nessa pelan.
"Udah, jangan sedih lagi. Enze kan ada, kamu bisa anggap dia adek."
"Iya, bener apa yang dibilang Mama. Enze ini kan juga adek kamu."
"Kakak kapan balik?" tanya Nessa tanpa mengalihkan pandangannya dari Enze. Jari tangannya digenggaman oleh jari-jari mungil itu.
"Kakak gak bisa lama di sini. Paling kamis udah pulang." jawab Wulan.
"Mmm... hei, kamu bentar amat mainnya ke sini. Tinggal aja ya di sini bareng Kakak, nanti Kakak beliin kamu susu, mau rasa apa? Coklat atau vanila?" ujarnya mengajak Enze berbicara. Perkataan barusan mendapat respon dari Enze, dilihat dari Enze yang berceloteh sambil kakinya bergerak lincah serta tangannya yang ingin menggapai Nessa.
"Owh, mau coklat ya? Bener kan? Biasanya kalau cewek tuh suka coklat, sama kayak Kakak juga suka coklat."
Nessa tertawa geli saat wajahnya di pukul-pukul kecil dan sesekali seperti dibelai oleh jari-jari mungil itu.
Wulan dan Winanti membiarkan, malahan mereka tampak menikmati adegan tersebut.
Kini tangan kecil Enze sudah berpindah. Tangannya bergerak ke arah baju depan Nessa dan merusuh di sana.
"Kak, Enze haus kayaknya." seru Nessa sedikit geli saat Enze merusuh.
"Oh ya. Sini, Enze mimik dulu sana Bunda." ucap Wulan mengambil alih Enze dari gendongan Nessa.
Makan malam kali ini Nessa juga ikut membantu Winanti berkutat di dapur. Saat sudah waktunya, keduanya segera menyantap makan malam. Sementara Wulan menjaga putrinya dan nanti kalau Nessa sudah selesai, maka mereka akan bergantian menjaga Enze.
Sepertinya saat ini, Nessa menjaga Enze yang dibaringkan di atas kasur. Wulan dan Enze sementara menempati kamar tamu yang berada di bawah. Sementara Nessa sedari awal sudah menempati kamar yang berada di lantai atas yaitu lantai 2.
"Enze, Kakak gemesh banget sama kamu. Nanti kalau udah pulang, sering-sering ya main ke sini?"
"Serius amat sih minumnya." Nessa meneliti Enze yang saat itu tengah meminum susu lewat botol. Gadis itu juga ikut berbaring di atas kasur di sisi kiri, sementara di sisi kanannya terdapat guling dewasa sebagai pembatas untuk berjaga-jaga.
"Eh! Abis ya? Kuat banget sih minumnya. Cepet gede ya."
Sedari tadi Nessa terus berbicara sendiri, seolah-olah Enze tau apa yang dia katakan.
Nessa menepuk-nepuk pelan pantat Enze saat mata balita itu terlihat satu. Dan benar saja, beberapa menit kemudian balita itu tertidur.
Niat awal ingin menjaga Enze, eh malah dirinya ikut tertidur. Saat terbangun Nessa sudah melihat Wulan di sisi kanan. Perlahan gadis itu bangkit untuk kembali ke kamarnya.
"Mau ke mana, Dek?" tanya Wulan dengan suara serak. Karena merasa pergerakan akhirnya wanita itu terbangun.
"Eh! Mau ke kamar, Kak. Maaf udah bangunin Kakak. Lanjutin aja tidurnya." jawab Nessa dengan suara pelan.
Wulan hanya mengangguk lemah kemudian melanjutkan tidurnya lagi. Sementara Nessa kembali ke kamarnya.
Gadis itu berjalan gontai, menaiki satu per satu anak tangga dengan pelan. Matanya setengah terbuka karena memang hari masih menunjukkan pukul satu dini hari. Suasana rumah pun terlihat gelap karena semua lampu dimatikan kecuali lampu di pertengahan dapur saja.
Di pertengahan anak tangga, Nessa kembali berbalik. Gadis itu ingin ke dapur karena merasa tenggorokannya kering. Tidak asing lagi kalau melihat Nessa berjalan dengan mata setengah terbuka menuju dapur. Tujuannya hanya satu, yaitu dapur.
Air dingin itu menyapa tenggorokannya yang kering. Setelah selesai, Nessa menyimpan gelas di atas meja, bunyi dentingan kecil itu terdengar.
Nessa pun kembali menuju kamarnya. Saat pintu kamarnya terbuka, Nessa langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur tanpa melihat sekitar karena keadaan kamarnya itu gelap, hanya cahaya dari lampu tidur saja yang minim alias remang-remang.
Perlahan matanya tertutup rapat, Nessa menarik satu guling yang berada di sebelahnya dan memeluknya erat seiring dengan dinginnya udara AC.
Di sepertengahan, Nessa merasakan gerakan dari kasur. Namun, rupanya tidak membangunkan gadis itu. Sampai suara adzan subuh berkumandang baru Nessa terbangun. Tiba-tiba gadis itu berteriak lalu terdengar suara orang jatuh saat sesudah Nessa menendangnya.
Bruk