My Teacher

My Teacher
MT part 75



"Lihat. Ini siapa? Lihat dengan teliti dan dengar suaranya."


Nessa terdiam sambil menatap pria itu lekat. Tiba-tiba rasa kram di perutnya hilang dan Nessa mulai merasakan tangan kasar menyelus perutnya. Jelas itu bukan tangannya.


"M- mas E- ndi..." lirih Nessa tidak percaya.


Pria itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


"T- tapi bukannya--"


"Syuttt. Kalau adek gak percaya, silahkan pegang Mas untuk mastiin. " Endi menempatkan jari telunjuknya di depan bibir sang istri.


Perlahan tangan lentik Nessa terangkat untuk menyentuh rahang tegas suaminya. Awalnya ia hanya menyentuhnya pelan, namun, lama kelamaan jari jemarinya bergerak mengusap.


"Ini beneran kamu, Mas?" tanya Nessa masih tidak percaya. Saking bahagianya, ia sampai meneteskan air matanya.


"Iya, Sayang. Ini Mas. Suami kamu." Endi menangkap pergelangan tangan Nessa lalu membawa tangan istrinya untuk ia kecup.


"Hiksss... kamu jahat tau gak sih, Mas... hiksss..."


"Cup cup cup. Iya, Sayang. Maaf, ini Mas udah pulang kok. Kemarin itu ada kecelakaan kecil. Mas ketinggalan pesawat karena ada rapat dadakan. Trus taunya ada kerjaan baru yang gak bisa ditinggalin. HP Mas juga mati karena kehabisan daya. Saat kerjaan Mas selesai, Mas langsung peset tiket dan belum sempat ngabarin adek dan keluarga. Mau kan maafin Mas?"


Nessa menganggukkan kepalanya pelan.


"Mas janji setelah ini gak bakalan ninggalin kalian. Mas akan jaga kamu dan ini..." Endi perlahan menyentuh perut istrinya. "Maafin Abi karena udah bikin kalian khawatir." diciuminya perut istrinya lembut.


"Kalian?" tanya Nessa bingung.


"Maksudnya dedek bayi dan Uminya." ralat pria itu.


Nessa hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


"Tidur lagi ya?"


"Tapi, Nessa udah enggak ngantuk lagi, Mas. Ini semua ulah Mas, tau!" wanita itu cemberut kesal.


"Trus, mau ngapain? Adek harus bed rest loh kata dokternya. Jangan kecapean."


"Ya udah, sini tidur bareng." Nessa menepuk-nepuk pelan kasur kosong di sisinya setelah ia bergeser sedikit.


"Emangnya muat, Dek? Mas gak mau maksain. Biar Mas tidur di sofa aja nanti."


Nessa menggeleng. "Di sini aja. Pengen peluk." rengeknya membuat sang suami tersenyum geli.


"Ya udah, sini peluk."


Dengan pelan pria itu naik ke atas tempat tidur yang sebenarnya bisa ditempati untuk dua orang. Endi berbaring di samping istrinya, merentangkan tangannya sebagai sambutan. Nessa langsung menyambutnya hangat, memeluk tubuh pria yang begitu ia rindukan. Aroma tubuhnya serta pelukan hangat yang selalu menenangkannya.


"Mas..."


"Kenapa, hm?" Endi tampak mengelus lembut kepala sang istri yang terbalut jilbab.


"Dedeknya kuat ya." ujar Nessa.


"Iya. Kan ada Uminya."


Nessa tidak lagi merespon perkataan suaminya. Dirinya meringsek masuk lebih dalam lagi memeluk tubuh pria itu. Perlahan rasa kantuk menyerangnya, membuatnya hanya bisa mendengar sayup-sayup suara sang suami yang mengajaknya berbicara.


Endi sendiri yang bisa merasakan keheningan itu langsung menundukkan sedikit kepalanya. Sesaat kemudian ia geleng-geleng kepalanya. "Katanya nggak ngantuk. Tapi, udah molor aja."


"Selamat istirahat, istriku."


Cup


Dikecupnya hangat kening Nessa lalu dirinya pun ikut menyusul ke alam mimpi. Tidak ada lagi kekhawatiran di hati dan pikirannya saat berada di sisi istrinya. Semuanya berubah tenang dan damai.


•••


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Nessa sudah diperbolehkan pulang dengan syarat harus istirahat secukupnya.


Di kediamannya ramai karena kedatangan keluarga dan teman-temannya. Ada keluarga kandung dari Endi, sementara sang mama papanya tidak bisa hadir karena masih berada di luar negeri. Sementara teman-temannya hadir beberapa termasuk Tiara.


Teman-temannya hanya datang menjenguk sebentar, kini hanya tinggal Tiara sendiri. Kedua perempuan itu tampak berbincang-bincang di ruang tamu dengan laptop Nessa di atas meja menghadapnya.


"Kok sepi, Nes?" sebuah suara bersumber dari seorang gadis yang wajahnya memenuhi layar laptop. Saat ini Nessa tengah melakukan panggilan video bersama Vella, sahabat yang begitu ia rindukan. Walaupun berbeda agama, silahturahmi mereka tetap berjalan lancar.


"Semuanya ada di belakang. Eh ya, lo gak ngampus, Re?" tanya Nessa.


"Makanya, lo pindah sini aja, Re. Biar gue punya banyak temen. Di kampus temenan sama Tiara doang."


"Hehe, enggak deh. Nanti gue pulang kok, janji."


"Gue kangen hang out bareng lo, Re. Trus sekarang kita udah kedatangan satu temen baru. Nanti kalo lo pulang, kita bisa hang out bertiga."


"Ti." panggil Vella dari seberang sana kepada Tiara. Meskipun keduanya belum akrab, namun, itu tidak membuat mereka tampak canggung.


"Sebenernya gue tuh cemburu loh lo temanan sama Nessa. Berasa kayak diselingkuhin gitu loh. Tapi, ya mau gimana lagi. Nessa juga butuh temen, sedangkan gue jauh di sini."


Tiara langsung terkekeh mendengarnya. "Gak usah cemburu gitu lah. Gue gak bakalan ngerebut kesetiaan Nessa dari lo."


"Gue titip Nessa di sana ya? Dia orangnya tuh gak terlalu bisa berbaur dengan orang asing. Kalo keluar aja harus ditemenin, jangan biarkan keluar sendiri. Iya sih gue tau dia udah ada pawangnya, tapi, gak mungkin juga kan Pak Endi nemplok-nemplok mulu tiap waktu. Gimana mau cari duit kalo gitu." gadis di seberang itu tampak mencerocos tiada henti.


"Uuuuu Vevel guee. Sosweetttt..."


"Baaaaaa!!!" tiba-tiba mereka dikejutkan dengan munculnya Erland di belakang mereka.


"Astaghfirullah." refleks Nessa dan Tiara beristighfar sambil mengelus dada.


"Oyyyyy, Pak Tua. Jangan jaill napa!" teriak Vella kesal.


"Eehhhh!! Apa lo bilang? Pak Tua?"


"Iya, kenapa?" balas Vella.


"Nessa, bilangin temen lo itu jangan asal ngatain aja. Kena batu baru tau rasa." Nessa yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Sementara Tiara yang menjadi pendengar hanya bisa terdiam karena dirinya tidak terlalu kenal dengan Erland, saudara kembar Endi.


"Dasar berandalll tua! Udah tua masih aja bertingkah."


"Lo!" teriak Erland menunjuk Vella dengan jari telunjuknya.


"Apa!" jawab Vella menantang.


"Jangan teriak. Itu Tiara kasian." lerai Vella sambil melirik iparnya.


Sontak pemilik nama yang disebut langsung menoleh cepat dengan tatapan bingung.


"Tiara? Mana?" beo Erland.


Nessa langsung menunjuk Tiara dengan jari jempolnya.


"Ini?" Erland yang berdiri tepat di belakang Tiara langsung nyosor ke depan untuk melihat wajah Tiara. Karena tindakan Erland yang begitu cepat membuat Tiara terkejut karena jarak mereka begitu dekat.


"Astaga!" gadis itu langsung bergeser ke tepi.


"Jaga jarak aman, Bang. Bukan mahram." tegur Vella dari seberang sana.


Erland yang tidak terlalu paham soal agama langsung berkelana jauh. "Diliat juga gak boleh?" tanya pria itu.


"Enggak!" jawab Nessa cepat. "Itu namanya zina mata."


"Kalau dipegang."


"Zina tangan!"


"Lahh terus?"


"Halalin dulu baru boleh dilihat dan dipegang."


"Nes!" ujar Tiara terkejut.


"Hahaha, canda, Ti." Nessa tampak tertawa melihat ekspresi Tiara yang menurutnya menggelikan.


"Kalau gitu jadinya gue harus nikahin banyak gadis dong?" tanya Erland cepat.


"Lahh kok?"


"Iya, kan tadi kamu bilang harus dihalalin dulu baru bisa lihat dan pegang. Sebelumnya gue banyak ngelihat cewek dan megang mereka."


"Bwhahahahahahaaaa... Pak Tua Pak Tua." tawa Vella langsung meledak mendengarnya.