My Teacher

My Teacher
MT part 69



Satu minggu kemudian...


"Huekkk..."


Nessa bergegas berlari menuju kamar mandi. Bukan! Bukan dirinya yang mual. Melainkan sang suami yang langsung berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Gejolak ith datang lagi untuk yang kesekian kalinya. Entah sudah keberapa, Nessa tidak tau itu. Dirinya kasihan dan iba saat melihat suaminya terlihat lemah lantaran kehabisan cairan. Yang dikeluarkannya hanya cairan bening, bukan makanan yang sebelumnya ia makan.


Di dalam kamar mandi, Nessa mengurut tengkuk suaminya yang saat ini yang hanya memuntahkan cairan bening di depan wastafel.


"Mas." lirih Nessa iba.


Endi tampak membasuh mulutnya menggunakan air mengalir. Setelahnya ia berbalik badan menghadap Nessa. Tanpa aba ia memeluk sang istri dan menjatuhkan dahunya di bahu istrinya.


Dengan penuh kasih sayang Nessa mengelus pelan punggung belakang Endi dengan gerakan naik turun.


"Kita periksa ya?" seru Nessa tidak mendapat jawaban dari Endi. Pria itu sungguh lemas dibuatnya. Sudah berapa hari belakangan dirinya mengalami hal yang serupa yaitu muntah-muntah di pagi hari.


"Kali ini jangan nolak lagi. Aku khawatir sama Mas kalau begini terus. Pokoknya kita periksa sekarang, aku gak menerima penolakan apapun." titah Nessa yang merasa gemas dengan suaminya. Sudah berapa kali ia mengajak untuk periksa, namun, selalu ditolak. Alasannya mungkin masuk angin karena begadang saat bekerja.


Endi hanya mengangguk lemas. Pria itu memeluk tubuh istrinya sebagai tumpuan agar dirinya tidak terjatuh ke lantai.


Karena merasa dirinya susah bergerak, akhirnya Nessa menukar posisinya sehingga kini ia memapah tubuh yang lebih besar darinya.


Nessa langsung membawanya ke atas kasur. Mendudukkan Endi di atas kasur dan menumpukkan beberapa bantal di belakangnya agar suaminya bersandar di sana. Karena hari masih pagi, Nessa memilih untuk bersih-bersih terlebih dahulu. Bukannya apa, kalau berangkat sekarang pasti klinik ataupun rumah sakit sebagian ada yang belum buka. Maklum, ini baru jam enam pagi.


Sebelum mandi, Nessa memilih untuk menyiapkan sarapan sebentar. Memasak bubur sumsum untuk suaminya. Sedangkan untuk sarapannya tidak perlu dipikirkan, cukup dengan satu telur ceplok sudah lumayan. Sambil menunggu buburnya matang, Nessa naik ke atas untuk bersih-bersih sebentar. Sebelumnya ia juga sempat mengatur kebesaran api kompor agar nantinya buburnya tidak gosong.


Selesai bersih-bersih, kemudian mematikan api kompor. Nessa segera menyiapkan buburnya. Setelah siap, ia langsung naik ke atas.


Tampak Endi setengah berbaring bersandar di tumpukan bantal.


"Mas, sarapan dulu." ujar Nessa sembari mendekat, duduk di sisi kasur.


Endi tidak menolak karena memang dirinya juga merasakan lapar yang teramat. Suapan demi suapan Nessa unjukkan. Hanya enam sendok saja yang masuk, sisanya Endi menolak keras. Katanya sudah kenyang.


Nessa hanya mengangguk, tidak memaksakan karena baginya enam sendok sudah cukup untuk mengganjal perut suaminya agar tidak kosong-kosong amat.


Sisa bubur di mangkuk itu Nessa habiskan tanpa rasa jijik sedikitpun. Buat apa jijik? Lha wong Endi itu suaminya sendiri, bukan orang asing!


Saat ini Nessa tampak mengobrol di telfon. Terdengar suara lembut khas wanita dari balik telfon itu. Yup, Nessa menelfon sang mami. Meminta sopir di rumahnya untuk menjemputnya dan mengantarkannya ke rumah sakit. Mobilnya memang ada, tetapi, Nessa belum ahli mengendarai. Takut nanti terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Ya sudah, kamu tunggu sebentar ya, Sayang? Sebentar lagi sopirnya datang."


"Makasih, Mi."


"Sama-sama, Sayang. Kalau gitu mami tutup telfonnya ya? Nanti kalau ada apa-apa tinggal telfon mami lagi."


"Iya, Mi. Assalam'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Nessa menutup telfonnya dan menyimpan di dalam tas. Dirinya sudah rapi. Kini tinggal giliran suaminya saja yang belum rapi, terlihat masih mengenakan baju piyama tidur.


"Ganti baju aja, jangan mandi. Sini, buka dulu bajunya." tangan Nessa terulur untuk membuka satu per satu kancing baju suaminya. Ia menahan nafas sejenak saat semua kancingnya sudah terbuka semuanya. Memang bukan pertama kalinya, namun, tetap saja Nessa masih malu.


Endi hanya mampu diam dan menurut saja. Beberapa menit kemudian, Endi sudah rapi dengan pakaiannya yang cukup santai. Saat itu juga bunyi sebuah mesin mobil masuk ke area pekarangan rumah mereka. Nessa tau kalau itu adalah sopir yang akan menjemputnya.


•••


"Ibu sama bapak lihat ini? Ada bulatan kecil yang menyerupai biji kacang. Usianya baru memasuki lima minggu. Pada trimester mungkin akan sedikit rentan, dan mengingat juga usia ibu masih sangat muda. Jadi, kandungan janinnya harus benar-benar diperhatikan. Ibu juga disarankan untuk memakan makanan yang mengandung banyak nutrisi. Ada banyak nutrisi yang dibutuhkan ibu pada kehamilan di trimester pertama ini. Oleh karena itu, sangat penting untuk memenuhi asupan yang dibutuhkan agar ibu dan janin dapat tumbuh sehat serta lancar hingga menunggu hari persalinan tiba. Bisa juga perbanyak makan makanan seperti kacang-kacangan, sayur hijau, buah-buahan, daging segar, telur."


Pria berusia dua puluh enam tahun itu terdiam sembari memperhatikan layar monitor USG yang memperlihatkan sebuah bulatan kecil. Matanya tidak berkedip, terus menatap layar monitor yang menyala.


Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Perumpamaan melebihi detak jantung saat dikejar anjing liar. Ya, mungkin bisa dibilang seperti itu.


Matanya berkaca-kaca, tidak percaya atas penjelasan dokter barusan. Padahal tadi dirinya sudah menyaksikan saat dua garis merah itu muncul tepat di depan matanya.


"Bapak. Bapak dengar apa yang saya bicarakan?"


Endi tersentak kaget. Ia segera menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.


"Saya dengar, Dokter. Jadi, bagaimana, Dok?"


Dokter berjenis kelamin perempuan itu hanya tersenyum melihat raut wajah kegembiaraan yang tidak bisa Endi sembunyikan.


"Bapak tenang saja. Cukup atur pola makanan, olahraga bila perlu. Dan rutin cek up untuk melihat perkembangannya."


"Ada yang ingin ditanyakan?"


Saat ini Nessa sudah duduk di kursi berdampingan dengan suaminya.


"Em, begini, Dok. Seharusnya yang mengalami mual itu kan saya, tapi, kenapa suami saya yang mengalaminya, Dok?" sahut Nessa bertanya.


Sang dokter tersenyum. "Sindrom couvade atau kehamilan simpatik adalah kondisi yang terjadi ketika pria merasakan gejala kehamilan pasangan. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya. Ibu dan bapak tidak perlu khawatir, mungkin itu adalah cara keduanya untuk memperkuat ikatan batin antara keduanya baik calon anak dan calon ayah."


"Nanti saya kasih resep untuk meredakan mualnya, dan untuk ibu harus rajin minum vitamin ya? Konsumsi makanan yang bergizi seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya."


"Baik, Dok. Terimakasih."


"Ada yang ingin ditanyakan?"


"Mungkin cukup itu saja, Dok. Kalau begitu kami permisi, selamat siang, Dokter."


.


.


.


nggak tau apa-apa beneran😂ini aja semunya nyari di mbah google 😁😁