
Erlyn berjalan gontai melewati koridor koridor di sekolahnya, sekilas ia tampak begitu aneh, wajahnya sedikit pucat matanya sayu dan lingkaran hitam terlihat samar samar di area matanya.
Dia seperti tidak tidur semalaman dan bangun sangat awal. Pemandangan itu tak lepas dari tiga siswa yang memandanginya sedari tadi.
"Hey! Erlyn! ada apa dengan mu? Kau lebih terlihat seperti zombie dari pada siswa disini" Tergur Lardo salah satu siswa populer di sekolah ini. Dia adalah anak dari pengusaha terkenal dan terkaya ke delapan di Amerika.
"Diamlah, dan menyingkir dari depanku aku mau lewat" Sinis Erlyn melihat Lardo terlekeh mengejeknya.
"uuhhuu... aku semakin kau adalah seorang zombie hahaha..." Lanjut Kenzo, dia juga siswa populer, dia sangat terkenal di kalangan gadis gadis.
"Huh... apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain hm? Aku lelah dan aku ingin ke kelas"
"Tunggu... Erlyn"
Erlyn membalik, ia menatap manik biru laut dan rambut coklat miliki siswa bernama Arlan.
"Aku memasak ini tadi pagi... makanlah" Arlan menyodorkan taperwer biru muda itu kepada Erlyn. Lardo dan kenzo berdehem dan menyoraki mereka berdua.
"Terimakasih, akan ku makan nanti"
Erlyn kembali berjalan menuju kelasnya sambil tersenyum. Erlyn dan Arlan adalah sepasang kekasih mereka baru dua bulan menjalani hubungan.
Seharusnya mereka itu ber-empat. Lardo, Kenzo, Arlan, dan Daniel. Daniel adalah yang paling mencolok diantara mereka. Rambutnya berwarna hitam pekat, rambutnya berwarna coklat, dan sorot matanya sangat teduh. Ia memiliki tubuh yang atletis tak seorang gadis pun yang tidak terpesona dengan parasnya.
Dia adalah anak pemilik sekolah, serta calon pewaris dari perusahaan terbesar se Amerika.
Tapi entah dimana keberadaannya saat ini, biasanya dia akan selalu bersama ketiga temannya, tapi tidak dengan hari ini. Sejak pagi dia bahkan belum memperlihatkan wajahnya.
"Lardo, dimana Daniel? Apa dia akan membolos tanpa kita?"
Lardo mengedikan bahunya.
"Entahlah, tidak biasanya dia seperti ini. Mungkin dia sedang dijalan. Tunggu akan ku telfon dia"
"Ah.. aku juga tidak melihat Angel. Biasanya dia bersama Erlyn" cetus Kenzo menyadari ketidak beradaannya kedua siswa itu.
"Aku jadi curiga mereka pergi kencan di hari sekolah" Lanjutnya.
"Arlan, apa kau tidak berkencan juga?" Arlan menatap kearah Lardo
"Tidak" jawabnya dengan singkat. Lardo menepuk bahu Arlan dengan keras membuat Arlan meringis.
"Arlan, kau tidak akan jatuh miskin jika banyak bicara. Setidaknya berikan kami jawaban yang lebih dari sepuluh kata" Lardo dan Kenzo terkekeh melihat ekspresi kesal sahabatnya. Arlan menatap tajam mereka berdua.
"Lardo kau bilang akan menelfon Daniel" Kata Arlan mengalihkan pembicaraan. Lardo mengecek ponselnya.
"Aku sudah menelfonnya, tapi nomornya tidak aktif, pesanku juga tidak di balas" Jelas Lardo.
"Sudahlah, aku ingin tidur ayo kita kekelas"
"ah benar.. ayo!"
Disi lain Angel tengah sibuk dengan hanphonnya, tidak ada yang bisa dilakukan jika ia dirumah seorang diri selain membuka media soisal. Setidaknnya itu adalah kegiatan yang tidak akan membuatnya bosan.
ddrrrrttttt.... dddrrrttt...
"halo"
"halo"
Angel tersenyum mendengar suara orang disebrang sana.
"Daniel, ada apa kau menelfonku?"
"Tidak aku hanya sedang meri****nduka****nmu****"
Angel tersenyum lebar sambil memainkan jari lentiknya.
tut tut tut
Angel mengumpat dalam hati, ia melihat handphonnya yang tiba tiba mati. ia bahkan belum memberi tau Daniel jika dia tidak sekolah hari ini.
"Aku harap Daniel tidak khawatir" Guamnya lalu terlelap diatas ranjang.
Daniel menatap bingung kearah layar handphonnya.
"Kenapa Angel mematikan ponselnya?" Guamnya sambil mencoba kembali menelfon Angel. Namun nihil, ia tidak bisa menghubungi gadis itu.
"Tuan muda, apa sekarang kita bisa berangkat?" Daniel kaget mendengarkan suara supirnya yang mengaggetkannya. Daniel mengangguk lalu menaiki mobil.
"Cepatlah, aku pasti sudah terlambat Angel akan khawatir jika aku tidak ada disekolah"
Yah... itulah yang terjadi, Angel dan Daniel begitu dekat. Daniel sangat perhatian, pengertian dan peka terhadap Angel. Ia lah yang paling khawatir jika Angel kenapa kenapa.
Angel juga sama. Dia sangat dekat dengan Daniel. Hubungan mereka hangat populer terlebih Daniel adalah anak Billionaier terkenal. Tentu saja semua wartawan berlomba lomba untuk mendapatkan mommen calon pewaris itu berkencan dengan Angel.
Hingga suatu hari, mereka ketahuan sedang berlibur di paris. Mereka menjadi pembahasan hangat selama beberapa bulan. Hingga akhirnya Daniel mengatakan bahwa mereka bukan sepasang kekasih. Mereka pergi ke Paris untuk bersenang senang bersama keluarga dan bukan untuk berkencan. Jelas Daniel.
Apa yang di katakan Daniel bukan sebuah kebohongan. Meski sering kali terlihat bersama dan mesra mereka memang bukan sepasang kekasih. Mereka sudah dekat dari mereka di junior hingh school Daniel juga berulang kali menyatakan perasaanya kepada Angel. Tapi gadis itu menolaknya ia merasa lebihnyaman dengan keadaan seperti ini.
kembali kepada Daniel. Ia meneruni mobil sambil menyisir rambutnya kebelakang ia tampak sangat cool dan tampan. Kulit putihnya seperti bersinar terkena cahaya matahari.
Daniel berjalan lebih cepat ia menyadari karna ia sudah terlambat. Meski begitu tidak ada yang melarangnya untuk memasuki sekolah. Kalian tau sendiri alasannya.
Daniel berdiri di depan kelas sambil menghembuskan nafasnya berulang kali. Ia membuka pintu kelas dengan perlahan.
"Daniel! Kenapa kau baru datang?" Daniel kaget dan hampir terjungkal mendengarkan suara Harry-guru itu tiba tiba terdengar.
"Saya kehilangan ponsel saya pagi tadi, jadi saya harus mencarinya terlebib dahulu" Guru itu menghela nafas panjang. Ia melipat tangannya didada.
"Daniel! Apa menurutmu itu masuk akal? Apa ponselmu bisa membuat nilaimu meningkat?"
"Maafkan saya sir"
"Duduklah dan jangan mengulanginya lagi!"
Daniel mengkerutkan keningnya sambil menatap bangku kosong itu.
Apakah Angel ******sakit******? Batinnya.
Daniel merobek bukunya menuliskan sesuatu disana. ia membuat kertas itu menjadi bentuk bola kecil lalu di lempar kearah Erlyn.
Erlyn menyadari seseorang melemparinya dari belakang. Ia menoleh kebelakang melihat siapa yang melempar kertas itu. Daniel tersenyum seakan mengatakan 'aku yang melemparnya' Erlyn membuka kertas itu.
dimana Angel? Apa dia sedang sakit?
Erlyn menegang membaca isi surat dari Daniel. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan pasalnya Angel tidak pulang dari tadi malam.
"Apa yang harus aku katakan" guam Erlyn. Ia kembali memberikan Daniel surat.
Angel sedang sakit, dia tidak bisa datang kesekolah
Daniel membelalakan matanya membaca surat dari Erlyn. Ia langsung berdiri dan mengambil tasnya.
"Daniel ada apa ini kenapa kau berdiri?" Tanya Harry.
"Aku harus pergi" Tanpa permisi ia langsung berjalan cepat keluar kelas. Erlyn yang melihat itu langsung panik. Bagaimana jika Daniel tidak menemukan Angel di rumahnya. Daniel pasti akan memarahinya habis habisan.
Erlyn langsung berjalan menyusul Daniel keluar kelas mengabaikan Harry yang memanggil mereka.
"Daniel! Daniel! Apa yang kau lakukan? kenapa kau meninggalkan pelajaran?" Daniel berbalik menatap tajam kearah Erlyn.
"Kau pikir aku peduli? Angel sedang sakit dan kau malah meninggalkannya. Sahabat macam apa kau ini"
Daniel kembali berjalan dengan cepat hingga ia berlari agar mempersingkat waktu. Sedangkan Erlyn pasrah denga segalanya. Semoga keberuntungan memihaknya dan Angel benar benar dirumah sekarang.
Daniel memerintahkan supirnya untuk kerumah Angel. Tanpa banyak pertanyaan supir itu mengendarai mobil dengan laju dan lihai.
ting tong tiong tong
Daniel menekan bel rumah berkali kali. Hingga akhirnya ia menghela nafas lega melihat Angel membukakan dirinya pintu.
Daniel langsung memeluk erat Angel ia merasa sangat khawatir. Angel pun membalas pelukan hangat Daniel.
"Tenanglah Daniel... ada apa?"
Daniel membingkai wajah cantik Angel lalu mengecup keningnya sekilas.
"Erlyn mengatakan bahwa kau sedang sakit, apa itu benar?" Angel mengkerutkan keningnya. Ia mengerti Angel harus berpura pura sakit agar Erlyn tidak di sangka berbohong.
"Itu benar. Kau tidak perlu khawatir aku baik baik saja hanya sedikit pusing" Daniel kembali memeluk Angel dengan erat.
"Lalu kanapa kau mematikan ponselmu ketika aku menelfon mu tadi, taukah kau aku sangat khawatir hingga meninggalkan pelajaran saat ini?"
Angel melonggarkan pelukannya.
"Mari kita bicara didalam. Aku sedang tidak ingin masuk tv karna ketahuan memelukmu" Daniel terkekeh lalu mengekori Angel dari belakang.
Mereka duduk bersebalahan di sofa.
"Tadi Handphonku lowbat, jadi terputus" Jelas Angel. "Dan kenapa kau meninggalkan pelaran? Ayahmu akan memarahimu jika dia mengetahuinya"
"Aku panik dan khawatir jadi aku tidak memikirkannya. Angel ayo kita pergi kerumah sakit. Aku sangat mengkhawatirkanmu"
Angel mengelus rambut Daniel lalu sedikit merapikannya. "Aku baik baik saja"
"Sukurlah, lain kali jagalah dirimu baik baik. Jangan sampai sakit" Angel terkekeh kecil
"Memangnya kenapa jika aku sakit? Kau tidak mau membelikan ku obat?"
"Angel... aku masih sanggup membelikan rumah sakit dan apotek untukmu. Tapi bukan itu magsudku, kau tau aku hampir mati karna terkena serangan jantung akibat mendengar kabar bahwa kau sedang sakit"
Sunyi sejenak.
"Daniel.."
"hm"
"kembalilah kesekolah"
Daniel mengangkat alisnya sebelah
"Apa sekarang kau mengusirku nona?" Angel menggeleng lalu tersenyum singkat. "Mereka akan memarahimu jika kau bolos sekolah"
"Aku tidak mau. Aku masih ingin bersama mu"
"Apa kau tidak mau menurutiku?"
"Ayolah Angel... sehari saja"
"Kau benar benar tidak mau menurutiku.." Angel memasang wajah sedih. Daniel menghela nafasnya. Ia lebih baik disuruh lari keliling lapangan seratus kali dari pada melihat Angel bersedih.
"Baiklah aku pergi"
"Tunggu"
Daniel berbalik.
Cup
Daniel menegang. Ia shock dengan apa yang ia lihat. Seorang Angel mengecup keningnya. Ia tersenyum jahil kearah Angel
"Kau sudah berani rupanya" Angel Tersenyum malu malu. Ia mendorong tubuh Daniel keluar rumahnya.
"Da... sampai ketemu"
"ku harap aku bisa mendapatkan ciuman lagi" Angel memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Ia menutup pintunya sambil menyembunyikan wajahnya. Sedangkan Daniel terkekeh melihat tingkah menggemaskan Angel.
---