
Rencana untuk belajar bersama langsung ambyar seketika. Vella masih marah kepadanya. Saat Nessa menelfon pun selalu diabaikan.
Besok adalah hari ketiga ujian. Jadi, setiap malam Nessa selalu belajar.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Nessa yang awalnya berharap itu Vella, namun, nyatanya bukan. Dengan perlahan Nessa menggeser tombol hijau itu hingga panggilan pun tersambung.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab Nessa.
"Lagi apa?"
"Belajar." Nessa berbicara sambil tangannya menutup bukunya.
"Jangan terlalu diforsir."
"Enggak kok. Lagian ini juga baru jam sembilan."
"Udah, tutup bukunya, bersih-bersih, ambil wudhu, lalu tidur." suara itu adalah suara yang terus memberinya ultimatum.
"Iya, iya." jawab Nessa hanya mengiyakan.
"Jangan pikirin lagi soal Vella."
"Bapak juga yang salah. Kenapa coba harus nolongin rapiin bukunya, kan jadi ketauan." Nessa langsung mengeluarkan uneg-unegnya. Sesaat ia langsung beristighfar. Ini juga sebagian kesalahannya.
"Maaf." cicit Nessa pelan karena merasa takut.
"Tidur ya?"
"Bapak marah?" tanya Nessa hati-hati.
"Belum-"
"Tuh kan! Nanti pasti bakalan marah." potong Nessa.
"Astaghfirullah. Saya belum selesai bicara, Nessa. Bisa gak, jangan memotong pembicaraan saya?"
"Bisa, Pak." jawab Nessa cepat.
"Udah ya? Sekarang tidur. Jangan lupa bersih-bersih, wudhu."
"Yaampun, iya. Nessa tutup ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Nessa juga bari tau kalau pria itu sungguh cerewet dibandingkan dirinya. Nessa tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti mereka membina rumah tangga. Sudah jelas pria itu lebih dewasa dari dirinya, lebih mapan, dan banyak lagi.
Rasa kantuknya baru Nessa rasakan. Membuatnya tidak berlama-lama langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, lalu mengambil wudhu. Rutinitas yang selalu ia terapkan sejak dulu.
Keesokan harinya Nessa sudah rapi dengan seragamnya. Beberapa hari ini gadis itu selalu berkendara sendiri. Sepi, itulah yan ia rasakan saat melajukan motornya melewati jalanan padat. Kalau saja ada sahabatnya, pasti pagi ini ia tidak kesepian, saat istirahat tidak kesepian. Hal yang membuat Nessa salut adalah Vella tidak mencari teman baru. Ia selalu melihat Vella yang suka menyendiri. Saat Nessa tegur pun hanya memandang sekilas. Namun, Nessa tidak putus asa.
Ujian kali ini Nessa terpisah dengan Vella. Sahabatnya itu beda ruang dengannya. Sungguh miris. Jadi, ini hari ketiganya yang selalu bolak-balik menemui Vella.
Saat istirahat, Nessa langsung keluar dari kelasnya untuk menemui Vella. Kebetulan kelas Nessa satu ruangan terpisah dengan kelas 11 IPA.
Gadis itu berjalan santai sambil membawa buku catatannya. Kedatangannya tidak perlu ditanyakan lagi.
Entah kenapa hari ini adalah hari yang ia anggap hari kurang beruntung. Saat Nessa berjalan, tiba-tiba ada gadis remaja yang berlari sambil membawa dua gelas cup berisi minuman. Gadis remaja itu juga ingin masuk saat Nessa memasuki ruangan itu.
Bruk
"LO! KALO JALAN TUH LIAT-LIAT, BE*GO!"
"AAAAA, MINUMAN GUE."
Yang seharusnya marah di sini itu Nessa. Dirinya yang jadi korban.
Nessa hanya diam tidak menjawab. Kalau menjawab pun tidak berguna. Tampaknya adik kelasnya itu sangat tidak ramah.
Semuanya tidak, tidak membela gadis remaja itu karena mereka tau dialah yang bersalah, sedangkan Nessa yang menjadi korban. Sebagian juga sudah tau kalau gadis remaja itu adalah anak dari salah satu donatur di sekolah. Tidak ada yang berani mencari masalah dengannya.
"LO! GANTI RUGI MINUMAN GUE PLUS MINTA MAAF!" teriaknya begitu pantang. Pembawaan Nessa begitu tenang, ia tidak panik ataupun takut.
"LO DENGER GAK SIH APA YANG GUE BILANG?!!!"
"Minuman lo berapa? Gue ganti rugi. Tapi, untuk minta maaf, sorry, gue gak salah sama sekali. Yang salah tuh lo, yang harusnya jalan harus liat-liat itu lo. Yang harusnya minta maaf itu lo. Karna yang di sini salah itu lo. Kenapa gue yang harus minta maaf? Di sini banyak saksinya, mereka liat." balas Nessa begitu menusuk.
"What! Gue yang salah? Lo kali yang salah, udah tau jalanan umum, kenapa berdiri di tengah-tengah?!!" balasnya tetap ngotot.
"Mau gue pasang CCTV di semua sudut sekolah ini? Mau?!"
"Emang lo punya duit? Dari tampangnya aja udah keliatan. Lo itu... MISKIN! Penampilan aja kuno, apalagi dompet."
Nessa banyak-banyak mengucap istighfar. Sabar, ia harus sabar. Ini semua adalah cobaan.
"Gue emang miskin. Tapi, gue punya etika yang harus dijaga. Jangan sekolah aja yang tinggi, tapi etika rendah. Jangan duit yang dibangga-banggain, tapi sombong."
"Udah miskin, sok-sokan mau jadi ustadzah. Orang tua lo tingal di mana sih? Tolong deh, ambil nih anak lo pada. Kalo didik anak tuh yang bener."
Awalnya Nessa sabar, namun saat mendengar orang tuanya yang dihina begitu membuatnya naik pitam. Nessa mengepal kedua tangannya sambil menunduk memejamkan mata agar emosinya bisa dikendalikan.
"Kenapa diem? Kalah ya? Cemen, gitu aja kalah."
"Permisi ges, nih liat! Anak miskin yang lagi nahan emosinya. Ups!"
Plakk
Nessa mengangkat wajahnya saat suara tamparan keras terdengar di telinganya. Ia jelas tau itu suara tamparan.
"V-vella?"
"Jadi cewek tuh jangan lemah. Mau aja direndahin sama sampah."
Iya, Vella. Sedari tadi Vella menonton adegan itu yang terus membuat hatinya memanas. Ia tidak rela sahabatnya diperlakukan seperti itu. Semarah apapun dirinya, sekecewa apapun dirinya. Sungguh! Vella tidak rela. Nessa itu sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai saudara. Mendengar lontaran kasar dari adik kelasnya membuat hati Vella ikut terbakar.
Vella langsung menarik tangan Nessa agar keluar dari ruangan itu. Sebelumnya ia berhenti tepat di depan gadis remaja itu.
"Lo itu cantik, tapi sayang, etika lo di bawah. Bahkan orang miskin pun lebih suci daripada lo."
"Satu lagi. Buat kalian semua yang melihat kejadian ini. Kalian punya mata kan? Jangan tutupi mata kalian hanya karna sampah ini yang hanya berlindung di bawah kekuasaan orang tua. Memangnya cuma dia yang berkuasa. Oke, kita lihat siapa yang paling berkuasa di sini."
Setelah itu Vella benar-benar pergi sambil menarik tangan Nessa. Ia membawa Nessa ke toilet untuk merapikan penampilan Nessa, jilbabnya basah terkena tumpahan kopi.
Sesampainya di toilet, Vella langsung mengunci pintunya supaya orang-orang tidak bisa ikut masuk. Biarlah mereka para cewek terkencing dalam celana, Vella tidak perduli itu.
"Buka!" ujar Vella dengan datarnya menyuruh Nessa agar membuka jilbabnya supaya lebih mudah untuk membersihkan jilbabnya. Sedangkan Nessa, gadis itu sudah bercucuran air mata. Bukan karena efek dihina.
"Cengeng banget lo!"
Nessa masih menangis.
"Berhenti nangis, be*go!" suara Vella sudah mulai bergetar. Sungguh ia tidak tahan. Biarlah nanti dirinya dipanggil ke ruang BK atau sampai orang tuanya ikut terpanggil karena sudah menampar anak dari salah satu donatur di sekolahnya.
"Lo tuh cengeng banget. Berhenti gue bilang ya berhenti! Lo tuh budeg ya!?" teriak Vella dengan bibir bergetar.
Grepp
"Hiks... maafin gue, Vel. Maafin gue udah bohongin lo. Gue gak ada niat buat bohongin lo, gue cuma perlu waktu buat ngejelasin semuanya. Maafin gue, Vel." tangis Nessa pecah sampai-sampai Vella mengigit bibir bawahnya menahan isak tangis.