My Teacher

My Teacher
MT part 15



Khilaf ini adalah awal dari segalanya


~Dimas Endi Rey~


🌼🌼🌼


Suara adzan subuh berkumandang. Menyeru umat muslim/muslimah untuk mengerjakan kewajibannya. Membasuhi sebagian anggota tubuh dengan dinginnya air wudhu.


Nessa menggosok kedua matanya menggunakan punggung tangannya agar kantuk itu reda dan supaya dia bisa mengerjakan tugasnya.


Tangannya terangkat ke atas seiring dengan kuapnya yang segera ia tutup.


Nessa meraba-raba sekelilingnya untuk mencari ikat rambutnya yang entah hilang ke mana. Nessa mengerutkan keningnya saat merasakan sesuatu yang terasa asing di tangannya.


Matanya menatap ke arah kasur, keadaannya lumayan gelap, namun masih bisa terlihat karena cahaya lampu tidur. Seketika matanya melotot saat melihat sosok laki-laki yang menghuni tempat tidurnya. Karena kaget, Nessa berteriak dan otomatis kakinya menendang orang itu. Dan...


Bruk


"Shhhtttt..."


Tuh kan bener emang orang. Batin Nessa bergidik ngeri sambil menatap horor.


"Mama, ada maling. Maling! Maling!" teriak Nessa sekuat tenaga.


"Hah? Maling, Mama ada maling di rumah kita." teriak laki-laki itu juga.


Karena mendengar keributan di kamar Nessa, Winanti pun datang diikuti oleh Wulan. Mereka berlari terbirit-birit sambil membuka pintu kamar Nessa karena memang pintunya tidak pernah terkunci.


Tak


Suara stop kontak yang dipencet oleh Winanti. Seketika kamar menjadi terang benderang. Winanti dan Wulan yang berada di dalam otomatis ternganga melihat pemandangan di hadapan mereka.


Dua orang berbeda jenis kelamin itu sangat berantakan. Apalagi Nessa kan, yang sempat mencari ikat rambutnya dan sampai sekarang tidak ditemukan.


Dan juga penampilan laki-laki yang menghuni kamarnya tadi, sama seperti penampilan Nessa saat ini.


"Kalian ngapain!" ya, suara itu berasal dari Winanti dan Wulan secara bersamaan.


"Ada maling, Ma." jawab keduanya kompak. Sesaat kemudian mereka saling pandang dan saat itu juga mata keduanya melotot.


"Aaakkkkk, setan!" teriak Nessa berlari ke arah Winanti dan memeluk wanita itu. Aslinya Nessa memang penakut, dan sedikit manja. Apalagi kalau sudah dalam keadaan takut.


"Ada setan, Ma. Nessa takut." cicit Nessa pelan.


Wulan hanya memijat pelipisnya.


"Ma, aku ke kamar dulu. Enze sendiri, takut kebangun."


Winanti hanya mengangguk sekilas.


"Mana setannya, Sayang?" tanya Winanti lembut, berusaha menenangkan Nessa yang masih dalam keadaan terkejut.


"I-itu, di situ." jawab Nessa sambil menunjukkan ke arah samping, tapi, tidak mengalihkan pandangannya.


"Ayok, coba lihat dulu. Pelukannya dilepas dulu." Nessa menggeleng kuat.


"Ayo, Sayang. Itu bukan setan." bujuk Winanti lagi. Nessa pun terpaksa melepas pelukannya. Tapi, kepalanya terus menunduk.


"Coba lihat ke depan." ujar Winanti, Nessa pun menurut.


Sesaat wajahnya terbengong saat melihat laki-laki tersebut yang kini sudah dalam keadaan lumayan rapi dan memakai kacamatanya.


"B-bapak?" gadis itu melongo, tidak cukup dengan keterkejutannya saat mendapati ada laki-laki asing yang menghuni kamarnya, kini ia dikejutkan lagi saat mengetahui bahwa orang tersebut adalah gurunya sendiri.


"N-essa?"


Winanti sudah menduga ini. Rencana yang dia susun untuk mempertemukan keduanya dengan cara yang baik telah hancur.


"Kalian ini!"


🌼🌼🌼


Begitu juga dengan Winanti. Sementara Wulan nanti menyusul karena takut meninggalkan putrinya sendiri. Jadi, mereka nanti akan bergantian.


Selesai sholat dan masih belum beranjak, Nessa tampak menunduk. Tidak berani mengangkat wajahnya. Gadis itu benar-benar dilanda malu yang mungkin akan berkepanjangan.


"Kenapa, Nak?" tanya Winanti pelan yang berada di sampingnya sambil mengusap tangan Nessa dari balik mukena.


Nessa menggeleng.


"Nessa malu, Ma." ujar Nessa pelan dan mungkin hanya Winanti saja yang mendengarnya.


"Malu kenapa, hm?" tanya wanita itu lembut. Kasih sayangnya hampir sama dengan sang Mami. Mereka sama-sama menyayangi Nessa.


Sekali lagi gadis itu menggeleng.


Endi yang saat itu kebetulan sudah selesai berdo'a langsung membalikkan badannya.


"Maaf." ujar pria itu karena merasa dirinya salah.


"Kalau aja semalam Rey gak pulang mungkin kejadiannya gak bakalan terjadi."


"Udah, Nak. Kamu gak salah. Mama yang salah di sini karena memang dari awal Mama gak bilang sama kamu kalau kamarmu sementara dipakai."


"Nessa, maafkan saya."


Nessa terdiam tanpa mau menatap lawan bicara.


"Ma, Rey berdosa. Rambutnya, tubuhnya--"


Winanti menggelengkan kepalanya agar putranya tidak meneruskan ucapannya.


Winanti beranjak dan meninggalkan mereka berdua.


"Nessa, maaf sekali lagi."


Setelahnya barulah Nessa mengangkat sedikit kepalanya, lalu menatap lawan bicaranya saat ini.


"Bapak gak salah. Saya juga minta maaf."


"Nessa baru tau kalau Bapak anaknya Mama Wina." lanjut gadis itu lagi.


Tepat saat itu Winanti datang lagi sambil membawa ponsel di genggamannya.


"Bicara sama Papa kamu." ucap Winanti sambil menyodorkan ponselnya kepada putranya. Ternyata panggilan telfon masih tersambung.


Sementara pria itu mengobrol, Winanti menenangkan Nessa. Winanti tau kalau Nessa merasa sangat bersalah, apalagi kepada Mami dan Papinya. Nessa itu anak yang paling dijaga oleh orang tuanya. Berdekatan dengan cowok manapun ia belum pernah, apalagi sampai tidur bersama seperti saat ini. Jelas itu menjadi beban pikiran Nessa.


"Ma, Nessa takut. Mami sama Papi pasti marah." ucap Nessa.


"Tenang ya? Semuanya baik-baik aja. Kalian kan gak ngelakuin apapun. Jadi, jangan takut." balas Winanti sambil mengusap pucuk kepala Nessa. Mukenanya masih melekat, begitu juga dengan Winanti.


Nessa mengangguk membenarkan. Lalu, kenapa dirinya sampai setakut ini? Jelas gadis itu takut.


Endi yang awalnya beranjak dari tempatnya kini sudah kembali. Pria itu memberikan ponselnya lagi pada Winanti.


"Udah?"


"Iya, Ma."


"Udah mau pagi, sebaiknya kalian bersiap-siap."


Keduanya mengangguk.


"Nessa, bantuin Mama ke dapur ya? Eh, kamu ke kamar Kakakmu aja, jagain Enze, pasti Kakakmu mau sholat. Nanti kalau Rey udah selesai mandi di kamar, baru kamu siap-siap. Ngerti, Nak?"


"Ngerti, Ma."