
Hari sudah memasuki waktu malam. Nessa tampak selonjoran di sofa ruang tengah hanya dengan menggunakan pakaian piyama. Gadis itu tampak begitu bosan karena di rumah hanya dirinya saja, sementara suaminya kini pergi ke perusahaan dari tadi pagi. Ya, bisa dibilang suaminya itu masih dalam tahap belajar dalam mengelola perusahaan. Sudah tiga hari ini Nessa tampak kesepian lantaran tidak ada teman di rumah.
Sedikit cerita, saat ini Nessa sudah mendaftarkan dirinya di Universitas favorit secara online. Gadis itu berharap dirinya akan diterima dan bisa menjalani pendidikan di sana.
Merasa suntuk dengan tayangan televisi, Nessa pun mematikannya. Gadis itu menyambar ponelnya yang tergeletak di atas meja. Seketika beberapa notif pesan masuk di ponselnya setelah dirinya menghidupkan data selulernya. Beberapa pesan masuk dari suaminya yang mengatakan kalau dia masih berada di perusahaan sang Papa dan sampai saat ini masih belum bisa pulang. Dan mungkin nanti pulangnya akan sedikit larut karena masih banyak yang harus ia pelajari. Ya, begitulah kesehariannya dia hari belakangan ini dan sekarang bahkan sudah memasuki hari ketiga.
Mungkin inilah saatnya dirinya menyiapkan segalanya. Setelah membalas pesan itu, Nessa langsung bangkit dari posisinya. Melangkahkan kakinya menuju dapur dan menilik isi kulkas. Setelah terpikir apa yang akan ia masak, Nessa segera bergerak dengan cekatan. Memasak dengan bahan yang diperlukan dan dengan penuh perasaan. Bukankah masakan akan lebih enak kalau dimasak dengan perasaan, ya kalau memasak dengan tidak ikhlas pasti rasanya mungkin akan berbeda.
Setelah berkutat di dapur sekitar kurang lebih setengah jam, akhirnya masakannya selesai. Nessa segera menyalinnya ke wadah dan menatanya di atas meja makan. Setelah rapi, Nessa pun masuk ke kamarnya untuk merapikan kembali tempat tidur. Bertepatan dengan suara azan isya berkumandang, Nessa segera bersiap-siap untuk melaksanakan ibadahnya.
Setelah sholat isya, tampaknya kantuk menyerang Nessa. Merasa masih ada waktu, Nessa segera menuju kasur untuk memejamkan matanya barang sejenak untuk mengurangi rasa kantuknya.
Tepat pada pukul sembilan malam terdengar suara derit pintu yang rupanya membuat gadis itu terjaga. Merasa kalau suaminya sudah pulang, membuatnya langsung membuka matanya dan bangkit perlahan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Mas." jawab Nessa dengan suara seraknya.
Endi melangkahkan kakinya mendekati kasur dan duduk di sisi kasur. Wajahnya tampak lelah, namun tidak mengurangi guratan ketampanannya. Nessa bahkan tidak berkedip dibuatnya.
"Adek kebangun? Maaf ya, ya udah sekarang tidur aja lagi. Mas mau bersih-bersih dulu." senyuman serta usapan di kepalanya membuat Nessa memejamkan mata sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
"Udah gak ngantuk kok. Mas udah makan?" tanya Nessa.
"Belum. Adek udah?" tanya Endi balik.
Nessa menggelengkan kepalanya lagi.
"Kenapa gak makan? Ini udah larut loh. Mas kan udan bilang, gak boleh makan terlalu larut."
"Gak pa-pa. Mas mandi dulu sana. Aku mau panasin makanan." Nessa menyambar ikat rambutnya di atas nakas lalu mengikat rambutnya asal. Kakinya beringsut turun lagi kasur, berjalan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
Keluar dari kamar mandi lalu mengambil handuk dan kembali lagi menghampiri suaminya yang masih terduduk di sisi kasur sambil membuka kancing lengan kemejanya dan menggulungnya sampai siku.
"Mandi dulu. Habis itu nanti turun ke bawah ya?"
Nessa menyodorkan handuk di tangannya. Endi mengangguk, namun, belum juga beranjak dari tempatnya.
Nessa yang berdiri di sisi suaminya hanya tersenyum. Tangannya menyisir rambut suaminya ke belakang lalu turun perlahan membelai rahang yang ditumbuhi sedikit rambut halus, membuat tangannya merasakan sensasi sedikit kasar saat mengusapnya. Endi hanya terdiam sambil mendongakkan kepalanya. Rasa lelahnya seketika sirna tak berbekas.
"Ayok, mandi dulu! Kan habis dari luar, udah aku siapin air hangat kok." bujuk Nessa dengan sentiasa menyisir rambut suaminya menggunakan jari-jarinya.
Endi langsung menangkap tangan istrinya saat tangan lembut itu kembali turun mengusap rahangnya. Pria itu mencium telapak dan punggung tangan Nessa. Walau umur masih sebesar biji jagung, namun, hal itu tidak membuat perilaku dan tingkah Nessa sama dengan remaja lainnya. Malahan Nessa terkesan lebih dewasa. Yang manja bukanlah dirinya, melainkan suaminya.
Melihat suaminya sudah masuk ke dalam kamar mandi, Nessa segera menyiapkan baju ganti. Setelahnya langsung turun ke bawah untuk memanaskan makanan yang sempat dingin.
Selesai makan malam, mereka langsung kembali ke kamar setelah mengobrol sebentar di meja makan. Ralat, bukan makan malam, tapi makan larut.
Keduanya sama-sama masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih, seperti menggosok gigi dan mengambil wudhu. Namun, setelah bersih-bersih, yang keluar hanya Endi seorang. Sementara Nessa masih berada di dalam kamar mandi. Gadis itu mengunci pintu saat suaminya telah keluar.
Nessa yang berada di dalam sana, hatinya jedag-jedug. Gadis itu segera menepis perasannya, memutuskan untuk mandi saja. Tapi, bukankah gadis itu sudah mandi sore tadi?
Merasa istrinya lama di kamar mandi, Endi menyusulnya. Takut kalau istri kecilnya itu kenapa-napa.
"Tok... tok... tok..."
"Dek, kamu kenapa? Kok lama di dalam?"
Mendengar suara Endi, Nessa segera menyudahi merendamnya. Nessa langsung membilas tubuhnya dengan cepat.
"Bentar lagi, Mas." sahut Nessa dari dalam sana. Mendengar suara istrinya menandakan keadannya baik-baik saja, Endi kembali ke tempat semula.
Ceklek
Saat itu juga Endi langsung mengalihkan pandangannya ke arah kamar mandi dan melihat istrinya tampak menggunakan baju yang berbeda. Di tangannya juga membawa handuk, menandakan kalau istrinya itu selesai mandi.
"Kamu mandi, Dek? Bukannya tadi sore udah mandi?" Endi sedikit heran.
Mata Nessa bergerak liar. Jantungnya serasa berdetak cepat seiring dengan tangannya yang tiba-tiba mendingin lantaran gugup.
"I-iya. Tadi sore udah mandi kok. Sekarang mandi lagi soalnya gerah." bukan hanya gerah, Nessa merasa badannya sedikit lengket setelah berkutat di dapur tadi.
"Lain kali jangan dibiasain ya?" Nessa mengangguk mendengar penuturan suaminya.
Nessa menggantung handuk di gantungan yang berdampingan dengan lemari. Kakinya melangkahkan dengan ragu menuju kasur. Gadis itu akhirnya memberanikan dirinya dan mengusir rasa malu, canggung, ego, dan segala perasaan buruk yang bersarang di hatinya.
Gadis itu mendudukkan dirinya di sisi kasur, berdekatan dengan suaminya yang hanya berjarak beberapa meter saja. Tangannya bertumpu dengan tangan satunya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hal itu disadari oleh suaminya yang sedari tadi memperhatikan.
"Kenapa, Dek? Ada masalah?" tanya Endi khawatir.
Nessa berdeham guna menetralisirkan perasaan gugupnya. "Ekhemm... Mas... pernikahan ini sudah berjalan delapan bulan lamanya. Aku, Nessa minta maaf kalau ada kesalahan sama Mas, baik itu kesalahan yang disengaja ataupun enggak. Terimakasih karena selama delapan bulan ini sudah menjadi suami yang yang sempurna untukku. Terimakasih karena sudah menjadi suami yang pengertian. Mungkin kata terimakasih enggak akan cukup untuk itu."
Baru saja Endi akan berucap, namun, sudah mendapat kode dari istrinya agar dirinya tidak menyela ucapan istrinya. "Maaf karena selama ini belum menjadi istri yang baik. Maaf untuk segalanya. Menjadikan hubungan ini selalu baik tanpa hambatan masalah bukanlah hubungan yang sempurna. Karena itu, aku ingin Mas selalu membimbingku ke jalan yang benar. Jalani hubungan ini dengan segala rasa syukur. Aku bersyukur dan aku tidak menyesali pernikahan ini. Awalnya, pernikahan tidak ada dipikiranku, namun, Allah berkehendak lain. Dia mengirim Mas untuk menjadikan pemimpin di kehidupanku, untuk menjadi Imam dalam ibadahku, untuk menjadi panutan dalam hidupku. Dan terutama untuk menjadi jalanku menuju surga. Malam ini... atas izin Allah, izinkan aku untuk menunaikan tugasku sebagai seorang istri yang seutuhnya. Dan aku izinkan malam ini, kamu sebagai suamiku untuk menerima suguhan atas diriku. Malam ini, Allah izinkan kita untuk mengejar apa yang Dia berikan..."