My Teacher

My Teacher
MT part 46



"Assalamu'alaikum." seru Endi begitu sampai di rumah. Pria itu baru saja pulang dari rapat. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, sementara Nessa baru saja sampai setengah jam yang lalu.


"Wa'alaikumsalam." jawab Nessa yang saat itu berada di dapur langsung menghampiri suaminya setelah ia mencuci tangannya.


"Baru pulang, Mas?" tanya Nessa sambil mengulurkan tangannya.


"Hummm, iya. Rapat baru selesai."


"Mau dibikin teh?" tawar Nessa. Karena Endi tidak suka kopi, jadilah ia menawarkan teh.


"Boleh."


"Ya udah, kalau gitu Mas bersih-bersih dulu di kamar."


"Makasih, Dek." Endi bergerak untuk mencium kening istrinya singkat lalu setelahnya pria itu langsung naik ke atas.


Setelah membuat teh hangat, Nessa langsung naik ke atas. Sambil menunggu Endi, ia menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu. Ya begitulah, rutinitas yang sudah ia lakukan selama menjadi istri dari seorang Endi.


Suara derit pintu kamar mandi menandakan Endi telah selesai mandi. Pria itu keluar hanya menggunakan handuk yang melindungi setengah dari tubuhnya. Nessa yang melihatnya hanya memalingkan wajahnya malu, walau sudah beberapa kali melihat dada bidang pria itu, tapi, rasanya masih sama yaitu malu.


"Tadi ke mana aja bareng Vella?" tanya Endi membuka pembicaraan sambilan dirinya memakai pakaiannya.


"Biasa, jalan-jalan. Eh ya, Mas, ada yang mau Nessa tanyain. Nanti malam aja deh." Nessa mengambil handuk bekas pria itu dan memasukkannya ke dalam keranjang tempat pakaian kotor.


"Mau tanya apa, hm?" tanya Endi mengikuti langkah istrinya.


"Ada, tapi, nanti malam." jawab Nessa membalikkan badannya.


Endi hanya mengangguk menurut. Karena baginya toh sama aja, intinya istrinya itu mau bicara.


"Yuk ke bawah, nanti tehnya dingin."


Keduanya berjalan dengan posisi Endi merangkul bahu Nessa menggunakan tangan kanannya.


Sesampainya di bawah, Nessa langsung menyuguhkan teh hangat tadi di hadapan suaminya.


"Emangnya tadi rapat bahas apa?"


Endi menyeruput kecil tehnya. Rasa lelahnya berganti dengan rasa hangat di hatinya saat diperlakukan seperti itu oleh istrinya. Rasanya sangat bahagia, entahlah sampai-sampai Endi bingung bagaimana untuk mengekspresikan rasa bahagia itu. Bersyukur. Ya tentu saja.


"Sekolah mau adain les untuk kelas 12 karna sudah memasuki semester 2. Masih berunding-runding gitu." jawab Endi. Ya memang rapat tadi membahas tentang murid kelas 12 yang kini sudah memasuki semester 2. Sudah dipastikan sekolah akan mengambil langkah yang tepat untuk mengajar siswa-siswi kelas 12. Ekstrakurikuler pun diberhentikan terkhusus kelas 12 karena mereka akan fokus terhadap ujian yang sudah semakin dekat di depan mata.


Rasanya seperti mimpi. Rasanya baru saja mereka menginjakkan kaki di sekolahnya, tapi, sekarang sudah akan meninggalkan sekolah itu. Banyak kenangan yang akan mereka simpan rapi di memori otak mereka dan nantinya akan diceritakan kepada generasi mereka entah itu kepada anak ataukah mungkin cucu.


"Gak kerasa udah mau ujian aja." gumam Nessa.


Endi meletakkan cangkirnya ke atas meja hingga menimbulkan dentingan kecil. Lalu ia menatap lekat istrinya yang saat itu duduk di hadapannya.


"Kok liatinnya gitu banget?" Nessa merasa salting.


"Enggak kok. Mas cuma mau nanya, nanti setelah lulus kamu mau lanjut di mana?"


"Nggak ada yang melarang. Mas kasih kamu kebebasan, tapi, masih dalam batas yang wajar. Status kita yang sekarang bukanlah menjadi penghambat untuk meraih cita-cita kamu. Mas akan selalu mensupport dan mendukung penuh keputusan kamu."


Mata Nessa berkaca-kaca. Hal inilah yang selalu membuatnya kepikiran. Dirinya belum dewasa sedangkan Endi adalah pria yang matang. Apa bisa nanti ia menjadi istri yang baik? Menjadi contoh yang baik untuk anak-anak mereka kelak. Karena biar bagaimanapun sosok istrilah yang akan menjadi cerminan.


"Kalau gitu, Nessa mau ke London aja." celetuk Nessa tersenyum sambil menyeka sudut matanya yang terasa basah.


"Ehh! Kok ngelunjak ya?" ujar Endi tau kalau istrinya itu bercanda.


"Hiksss..." tiba-tiba terdengar isak tangis Nessa membuat Endi kalang kabut dibuatnya. Pria itu langsung meraih gelasnya dan meneguk habis tehnya itu. Kalau tidak dihabiskan kan sama juga dengan mubazir dan Allah sangat menyayangkan umatnya. Pria itu bergegas bangkit dari duduknya, mengitari meja persegi itu.


"Kenapa nangis? Mas minta maaf ya udah berkata seperti itu." Pria itu mendekap sayang tubuh istrinya.


Nessa menggelengkan kepalanya. Gadis itu menangis hebat di pelukan suaminya. Menyalurkan semua rasa yang ia rasakan. Terharu, bahagia. Rasa itu ia salurkan melalui tangisan. Bukankah tangisan itu adalah obat. Obat semua penyakit.


"Cup cup cup... udah ya? Kok makin kenceng nangisnya? Mas ada nyakitin kamu? Mas minta maaf ya."


Endi berdiri sementara Nessa masih di posisinya duduk di atas kursi. Kepalanya ia benamkan tepat di perut rata suaminya.


Karena merasa istrinya tidak berhenti menangis. Akhirnya Endi pun menggendong Nessa, membawanya masuk ke kamar.


Pria itu menurunkan pelan bobot tubuh istrinya di atas kasur empuk. Jari jempolnya terulur untuk mengusap pipi istrinya yang basah akibat kucuran air mata. Hatinya ikut tercubit melihat istrinya yang menangis seperti itu dan tak tau apa penyebabnya.


Endi berlutut di atas lantai keramik sementara istrinya duduk di pinggiran kasur.


"Kenapa menangis?" tanya Endi lembut.


Nessa hanya menggelengkan. Rasanya bicara saja susah. Anggaplah saja Nessa gadis yang cengeng.


"Udah asar kan?" Nessa mengangguk kepalanya pelan.


"Udah ya? Jangan nangis lagi. Kasian matanya banjir trus itu mukanya jadi jelek." ujar Endi melawak. Berusaha menghibur istrinya dan berhasil. Terbukti dengan Nessa tertawa kecil.


"Nessa kan emang jelek. Iya kan? Buktinya aja Mas gak pernah muji Nessa cantik."


Endi menundukkan kepalanya lalu tersenyum. Kemudian pria itu langsung mendongak, melihat istrinya dari bawah karena posisinya berada di bawah, berdiri menggunakan kedua lututnya.


"Apa Mas perlu ngasih pujian itu?" tanya Endi mendapat anggukan kepala dari Nessa.


"Baiklah. Dengar ya... istri Mas itu cantik, Ma Syaa Allah cantik seperti bidadari. Bidadari yang Allah turunkan kepada Mas yang In Syaa Allah akan menemani disetiap umur Mas dan nantinya juga In Syaa Allah akan menemani Mas di surga-Nya. Masih kurang?"


.


.


.


ayok ramaikan 😌😌