
Nessa tampak berdiri sambil mengarahkan sang papi yang berdiri menaiki kursi untuk memasang balon di sudut ruangan kamarnya. Kamar yang awalnya polos kini sudah terdapat banyak sekali aksesoris seperti balon dan gantungan lainnya. Saat siang tadi setelah menelfon orang tuanya, Nessa langsung meminta mereka semua untuk datang ke rumahnya. Tidak lupa Nessa berpesan kepada mereka agar membeli barang-barang yang akan dibutuhkan.
"Ini udah semuanya, Sayang?" tanya Mami Hana kepada putrinya yang tampak begitu senang.
Nessa menganggukkan kepalanya. "Huumm, kayaknya udah semuanya, Mi. Tinggal nunggu orangnya pulang aja."
Mami Hana langsung mendekatinya dan mengelus lengan putrinya pelan. "Sabar ya? Besok kok, sebentar lagi. Mending kamu istirahat sekarang. Mami dan Papi juga mau pulang. Besok Papi Mami ke sini lagi kok bareng sama Bunda kamu." ujar Mami Hana.
"Gak nginap aja, Mi? Lagian ini udah malam, kasian juga Papi kalau ngantuk. Nginap ya, Mi? Di sini tuh cuma ada aku aja bareng Tasya." rengek Nessa meminta Mami dan Papinya untuk menginap di rumahnya.
Mami Hana melirik sang suaminya yang kini sudah turun ke bawah dari atas kursi tadi. "Gimana, Pi?' tanya wanita itu meminta persetujuan.
"Papi gak masalah kok, Mi Lagian mungkin aja Nessa butuh temen bicara. Papi gak masalah kalau kita nginap di sini barang semalam." jawab Papi Ibra.
"Ya udah deh, Mami nurutin permintaan kamu. Tapi, tidurnya jangan larut ya? Kasian dedek bayinya." sebelah tangan Mami Hana terulur menyentuh perut Nessa yang masih rata.
"Siap, Papi. Oh ya, Pi, Mami tidur bareng aku ya? Cuma sekali ini kok." bujuk Nessa yang sudah tau kalau papanya itu tidak bisa berjauhan dengan sang mami.
Tampak Papi Ibra hanya menghela nafas. Lama akhirnya pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya.
"Yeayyy, makasih, Papi." dengan cepat Nessa mendaratkan ciuman kilat di sebelah pipi sang papi.
"Ada maunya." cibir Papi Ibra hanya geleng-geleng kepala.
"Ya udah, mending kita tidur sekarang. Tasya, kamu tidur ya, Sayang? Besok kan harus sekolah." ujar Mami Hana kepada Tasya yang asik duduk sambil menyantap cemilan.
"Oke, Tante." jawab gadis itu lalu bangkit dari duduknya dan melenggang pergi ke kamarnya. Kini tinggallah Nessa dan kedua orang tuanya berada di kamarnya.
"Pi, masuk kamar." titah Mami Hana dibalas anggukan pasrah oleh Papi Ibra.
"Ayo, Sayang. Kita tidur, jangan lupa bersih-bersih dulu." Mami Hana memegang kedua bahu Nessa dan mendorongnya pelan sampai ke depan pintu kamar mandi.
•••
Pagi-pagi sekali Nessa sudah terbangun dari tidurnya. Setelah subuh tadi, wanita itu kembali tidur. Melainkan mondar-mandir tidak jelas di dalam rumahnya. Segala sesuatu ia lakukan dengan sangat antusias. Bahkan kedua orang tuanya sudah melarang, namun, wanita itu jelas menolak. Katanya ingin memberikan surprise untuk suaminya nanti saat tiba di rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 pagi. Namun, sampai kini tidak ada tanda-tanda kedatangan Endi entah itu sebuah kiriman pesan ataupun telfon. Entah kenapa firasat Nessa tidak enak. Dan bahkan perutnya juga sering mengalami kram yang membuatnya meringis setiap saat.
Sedari tadi Nessa menggenggam ponselnya. Setiap menit bahkan detik wanita itu menelfon nomor suaminya yang tiba-tiba saja tidak tersambung.
"Sabar ya, Sayang. Mungkin suami kamu masih di dalam perjalanan. Jangan banyak pikiran." nasehat sang Mami yang dibuat ikut khawatir.
Nessa menggelengkan kepalanya sambil menahan lelehan air matanya agar tidak mengalir. Mungkin efek kehamilannya yang membuatnya sedikit cengeng. "Aku gak bisa, Mi. Harusnya dua jam yang lalu udah ada telfon. Tapi, ini udah lewat dari dua jam, Mi. Gimana bisa aku tenang?" ujar Nessa dengan segala kegundahan hatinya.
Mami Hana dengan setia mengelus pelan bahu Nessa dan memeluknya. "Tarik nafas yang dalam oke?" Nessa menuruti setiap perkataan maminya. "Terus, kamu maunya gimana?" tanya mami Hana.
"Kita ke bandara." ucap Nessa.
"Ya udah, kamu siap-siap gih!" tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nessa langsung beranjak dari sofa di ruang tamu lalu pergi ke kamarnya.
Wanita yang tengah dilanda rasa khawatir itu dengan cepat mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Nessa langsung menyambar tasnya dan memasukkan ponselnya. Namun, saat akan menutup tas itu, tiba-tiba suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Nessa yang berpikir bahwa itu sang suami langsung saja membuka ponselnya. Saat melihat pesan itu, Nessa langsung kecewa yang itu bukanlah pesan dari suaminya, melainkan sahabatnya sedari SMA dulu yaitu Vella.
Matanya langsung mengembun saat itu lalu tanpa aba air matanya jatuh deras mengenai kedua pipinya. Ia menangis dan terisak pelan. Jantungnya berdetak dengan cepat.
"Gak ini pasti gak mungkin." lirih wanita itu menutupi mulutnya menggunakan punggung tangannya.
Mami Hana yang sudah menunggu cukup lama langsung khawatir saat putrinya tidak kunjung datang. Karena penasaran, wanita paruh baya itu langsung berjalan cepat menuju kamar Nessa.
Pintu kamar Nessa yang terbuka sedikit memudahkan Mami Hana untuk masuk ke dalam. Mendengar suara pintu dibuka membuat Nessa langsung mendongakkan kepalanya dan melihat sang Mami yang tampak kebingungan.
"Kenapa?" tanya Mami Hana khawatir. Ia dengan cepat berjalan mendekati Nessa dan duduk di samping wanita itu di sisi kasur.
Nessa tidak menjawab, melainkan langsung menyodorkan ponselnya kepada sang mami.
"Apa ini?" tanya Mami Hana yang awalnya tidak mengerti saat melihat sebuah poto di ponsel putrinya.
Namun, sesaat kemudian nafas Mami Hana langsung tercekat. Saat itu tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk di ponsel Nessa yang ternyata itu adalah panggilan dari papinya. Karena kondisi Nessa yang sedang tidak baik-baik saja, alhasil Mami Hana lah yang mengangkatnya.
Mami Hana tampak menganggukkan kepalanya beberapa kali saat mendengar setiap perkataan suaminya dari balik telfon. Saat sudah selesai, Mami Hana langsung memutuskan panggilannya.
"Aarghhhh, M-mi..." lirih Nessa tiba-tiba memegang perutnya. Keringat dingin langsung bercucuran di wajahnya.
Mami Hana langsung panik saat melihat sang putri yang meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
"Kenapa, Sayang? Apanya yang sakit?" cerca Mami Hana berusaha menenangkan Nessa dengan ikut mengelus perut wanita itu. Namun, bukannya reda, Nessa malah merasakan nyeri di perutnya semakin menjadi.
Karena tidak ingin putri dan calon cucunya kenapa-kenapa, Mami Hanya dengan gesit menelfon Papi Ibra.
"Hikssss... s-sakit, Mi." isak tangis Nessa yang terdengar pilu membuat hati Mami Hana langsung sesak.
"Kamu tenang oke? Papi akan segera datang. Sini, Mami elus perutnya." Mami Hana mengelus-elus pelan perut rata putrinya.
"Sayang, jangan nakal ya di perut Umi. Kasian Umi kesakitan." ujar Mami Hana pelan tepat di depan perut Nessa.
"Ya Allah..." pekik Mami Hana terkejut saat melihat sebuah lelehan darah yang mengalir dari paha Nessa sampai ke ujung kakinya.
"M-mami... s-sakit..." lirih Nessa meringis menahan sakit di perutnya.
"S-sayang... j-angan b-bu-at Umi kha-watir..." lirih Nessa mengelus pelan perutnya yang masih terasa nyeri.
"A-abi baik-baik oke? Kita akan segera bertemu Abi." Nessa kembali mengajak perutnya yang masih rata. Bahkan mungkin saja kandungan hanya sebesar biji kacang polong.
.
.
.
maaf baru bisa up🙏🏼 karena ada kendala waktu dan juga kendala otak yg mengharuskan ku berhenti sejenak🙏🏼🤣🤣