
Tidak terasa waktu berlalu. Hari yang dinanti pun telah tiba, hari di mana seorang Nessa menjadi ratu dalam satu hari penuh. Semua para tamu undangan telah berdatangan. Begitu banyak dari mulai rekan kerja Papi Ibra, Papa Resa, dan rekan kerja Ayah Rio. Termasuk juga dengan para staff guru yang berdatangan. Alangkah terkejutnya mereka saat tau kalau murid mereka dulunya itu adalah istri dari seorang guru agama Islam. Ya, hanya sebagian saja guru yang belum tau. Mereka pun mengucapkan selamat dan mendo'akan agar rumah tangga keduanya berjalan dengan lancar.
Satu hari penuh itu akan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dihadiri oleh para guru, rekan kerja Papi Ibra, Papa Resa,dan terakhir Ayah Rio. Dan untuk sesi kedua nanti akan dilakukan pada malam hari yang dihadiri oleh teman-teman Nessa dan teman-teman arisan Mami Hana, Mama Winanti, begitu juga dengan Bunda Dita.
Berdiri berjam-jam lamanya membuat kaki Nessa terasa pegal. Gadis itu pun memilih untuk duduk sebentar sementara para tamu undangan sepi. Endi yang melihatnya ikut prihatin. Pria itu berjongkok tepat di hadapan istrinya lalu menyibakkan sedikit ujung gaun itu kemudian melepaskan heels yang dipakai istrinya.
"Istirahat di kamar aja ya?" ujar Endi mendapat gelengan kepala dari istrinya.
"Acaranya kan belum selesai, Mas. Masih sekitar 1 jam-an lagi baru selesai." balas Nessa. Hatinya berdesir saat suaminya memperlakukannya dengan lembut. Kakinya dipijat, membuatnya sedikit lebih rileks.
"Ya nggak pa-pa. Nanti minta tolong Mama atau Mami buat gantiin menyambut tamu yang datang."
"Ya udah deh." Nessa pasrah, lagi pula dirinya benar-benar letih. Ingin rasanya berbaring di kasur yang empuk.
Endi mengambil sendal jepit yang sempat ia simpan di bawah karpet. Lalu memasangkan di kaki istrinya agar memudahkan istrinya untuk berjalan. Sementara heelsnya sudah Endi lepaskan.
Sambil menuntun istrinya, Endi memanggil orang tuanya untuk menggantikan mereka sementara di atas pelaminan.
Saat baru menginjakkan kakinya di dala rumah, tiba-tiba Nessa berteriak tertahan saat suaminya tiba-tiba menggendongnya. Reflek Nessa langsung memukul lengan suaminya pelan.
Sementara Endi hanya terkekeh. Dirinya menaiki anak tangga dengan perlahan, takut jatuh apalagi istrinya berada dalam gendongannya. Beruntung suasana rumah mereka sepi, karena semuanya berada di halaman rumah, menyambut para tamu yang berdatangan.
Nessa seakan tersihir, gadis itu juga reflek mengalungkan lengannya di leher suaminya karena takut terjatuh. Sesampainya di kamar, Endi mendorong pintu kamar dengan pelan sehingga pintu itu terbuka. Aroma vanila langsung menusuk indra penciumannya. Kamar mereka pun didekorasi ala-ala pengantin baru dengan taburan bunga di atas kasur. Balkon dan tirai ya g tertutup rapat membuat pencahayaan di kamar mereka menjadi minim. Hanya ada lilin sebagai penerang yang temaram.
Endi langsung menurunkan istrinya perlahan di sisi kasur. Seakan mengerti, pria itu menawarkan bantuan kepada istrinya untuk melepaskan aksesoris di kepalanya yang seperti memang terlalu ribet bagi kaum adam.
Nessa pun menerima dengan senang hati tawaran suaminya. Satu per satu aksesoris di kepala Nessa kini sudah terlepas bebas. Hanya menyisakan jilbab yang melekat di kepalanya. Endi pun langsung mencabut jarum pentul yang melekat di berbagai sisi sebagai penahan agar kain di kepala Nessa tidak terlepas. Setelah terlepas, kini kepala Nessa rasanya plong. Hanya rambutnya saja yang disanggul dan itupun kini juga sudah terlepas.
"Bentar, Mas ambilin baju ganti dulu." Endi langsung berjalan melangkah menuju lemari mereka dan langsung menarik satu stel pakaian tidur istrinya.
Saat kembali, Endi melihat istrinya duduk di depan meja riasnya. Gadis itu tengah membersihkan sisa-sisa make up di wajahnya.
"Bisa?" tanya Endi dibalas anggukan kepala oleh Nessa.
"Mas ke depan lagi ya? Gak enak sama tamu undangan."
"Iya, maaf Nessa gak bisa nemenin." ujar Nessa langsung mendapat bungkaman jari telunjuk suaminya.
"Udah ya? Gak pa-pa, biar Adek istirahat di kamar. Mas ke depan dulu. Assalamu'alaikum." sebelum pamit Endi mendaratkan satu kecupan sayang di kening istrinya.
"Wa'alaikumsalam." Nessa sempat membalas senyuman suaminya kala pria itu menilik melalui pintu sebelum menutupnya rapat.
Nessa yang ditinggalkan sendirian pun langsung membersihkan dirinya. Jam pun sudah menunjukkan pukul empat sore. Untuk sesi kedua nanti akan dilaksanakan setelah isya. Ya, mereka memanfaatkan waktu dengan baik.
🌼🌼🌼
Setelah make up, MUA tersebut pun pamit keluar. Hanya tersisa dirinya dan para orangtua perempuannya.
"Ma Syaa Allah. Anak Mami cantik sekali." puji Mami Hana tidak lupa mengucap syukur.
"Mami juga gak kalah cantik. Mama sama Bunda juga." balas Nessa kini mulai malu.
"Nanti jangan grogi ya? Persiapannya nanti jangan lupa." ujar Bunda Dita mengerling. Ya, Nessa yang awalnya hanya curhat kepada Maminya eh malah sang Mami bocor dan menceritakannya kepada Mama dan Bundanya persoalan dirinya yang belum memberikan haknya.
"Udah, udah. Kasian itu Nessa jadi malu." lerai Mama Wina.
"Udah jam setengah delapan. Sekarang ayo kita ke depan. Mungkin sudah ada tamu yang berdatangan." sahut Mami Hana menanggapi.
Mama dan Bundanya pun hanya menganggukkan kepala dan berjalan di depan. Sementara Nessa dan Maminya berjalan beriringan di belakang.
"Mi, Nessa kok grogi ya." curhat gadis itu setengah berbisik.
Sang Mami pun mengambil tangannya dan menggenggamnya. Memberikan support kepada putrinya lewat genggaman tangan itu.
"Bismillah ya. Buat nanti malam, kamu gak perlu takut. Kalau emang belum siap, jangan dipaksa."
Hati Nessa langsung tenang seketika saat mendengar suara lembut dari sang Mami. Memang ya, kalau support dari ibu kandung akan lebih terasa. Dan Nessa merasakan kekuatan itu.
Di ujung tangga, sudah ada suaminya yang menunggu kedatangannya. Mata pria itu tidak lepas dari istrinya sejak Nessa menuruni anak tangga pertama. Netra mata mereka pun tidak sengaja bertemu, Nessa semakin gugup dibuatnya apalagi melihat tampilan suaminya yang sangat membuatnya lupa akan kondisi.
"Sayang." Nessa tersentak saat sudah berada di ujung anak tangga. Dirinya sampai tidak sadar, dan melihat suaminya tengah mengulurkan tangannya.
"Ayok!" bisik Mami Hana memberi semangat.
Nessa hanya tersenyum, dirinya sangat gugup. Apalagi saat tangan mereka bertautan erat.
"Duluan ya, Ma, Mi, Bun." ujar pria itu mendapat anggukan dari orang tuanya.
"Ma Syaa Allah. Cantiknya istri Mas." puji pria itu. Nessa hanya menunduk malu, sangat malu. Padahal pujian itu sudah beberapa kali ia dengar dari bibir suaminya. Namun, rasanya sensasi malam ini sangat berbeda. Seperti ada jagung yang meletup-letup menjadi popcorn. Seperti itulah hati Nessa sekarang.
Begitu sampai di atas pelaminan, tatapan Nessa langsung mengarah ke penjuru tamu undangan yang sudah hadir. Matanya terus berkelana mencari seseorang yang sangat berarti baginya.
"Cari siapa?" tanya Endi saat melihat istrinya tengah kebingungan.
"Vella, belum datang ya, Mas?"
"Mungkin belum. Tuh! Teman-teman yang lain udah pada datang." tunjuk Endi pada segerombolan anak-anak muda.
Nessa pun tersenyum sambil melambaikan sebelah tangannya ke arah teman-teman kelasnya. Ya, gadis itu mengundang semua teman kelasnya. Mereka yang mendapat undangan begitu syok saat mengetahui Nessa sudah menikah. Dan parahnya lagi gadis itu menikah dengan gurunya sendiri.