
Suara tawa dari kedua kaum hawa kini terdengar di ruangan yang hanya memiliki luas 3×2 yang dilengkapi peralatan masak memasak. Tampak keduanya kini sudah mulai akrab, menyandang status sebagai menantu dan mertua. Bunda Dita tidak memandang rendah menantunya itu, malahan wanita separuh baya itu sangat antusias setiap kali bertemu dengan Nessa.
Setelah adanya drama di dalam kamar tadi, akhirnya Endi memilih untuk langsung berangkat ke perusahaan sang Papa setelah memastikan istrinya itu tidak dalam keadaan sendirian di dalam rumah. Rasanya sangat berat untuk meninggalkan istri kecilnya itu. Ingin sekali rasanya dia bermanja-manja setelah keduanya benar-benar lengket tanpa adanya jarak sedikitpun. Namun, tidak mungkin dirinya berleha-leha. Mengingat dia adalah seorang kepala rumah tangga yang seharusnya memberikan nafkah untuk istrinya baik nafkah lahir maupun batin.
Sementara Endi tengah belajar mengurus perusahaan, beda lagi dengan istrinya yang saat ini berkutat di dapur dengan oven. Gadis yang sudah berusia delapan belas tahun itu tampak cekatan dalam menuangkan adonan ke dalam cetakan. Dia berencana akan membawakan kue buatannya untuk suaminya.
"Itu yang udah matang boleh disimpan di dalam toples." ujar sang mertua.
"Iya, Bun." jawab Nessa melepaskan sarung tangan tebal dikedua tangannya. Berjalan pelan untuk mengambil toples yang tersimpan di kabinet atas dapur yang biasa sebagai tempat penyimpanan alat dapur seperti penggorengan, panci, blender, toples, dan lain-lainnya.
Berjalan pelan, seakan ada yang mengganjal di bawah sana. Rasa perih di area bawahnya membuatnya menggigit pelan bibir bawahnya saat setiap melakukan pergerakan. Hal itu rupanya mendapatkan senyuman malu dari sang mertua. Ya, wanita itu pasti sudah tau apa yang terjadi dengan menantu. Maklum, senior pastilah hafal. Walaupun Nessa tidak menunjukkan langsung rasa tidak nyamannya, namun, ekspresinya tidak bisa dibohongi.
Nessa memasukkan kue yang sudah matang ke dalam toples dan menyusunnya agar tampak lebih cantik jika dipandang. Karena penasaran akan rasa kue buatannya sendiri, jadilah satu kue Nessa ambil dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Dengan kepala mengangguk, Nessa tidak dapat menyembunyikan rasa kue buatannya. Ya walau tidak seenak kue buatan chef, namun, rasanya tidak kalah enak.
"Bunda, mau?" tawar Nessa kepada mertuanya yang saat itu menunggu di samping oven.
Ditawarkan begitu, mana mungkin Bunda Dita menolak. Wanita separuh baya itu langsung menerima uluran kue dari tangan menantunya.
"Enak gak, Bun?"
"Enak kok, enak banget malah. Bunda malahan belum bisa buat kue seenak ini. Kamu mah paket komplit, udah pinter masak, ditambah pinter buat kue. Nyenengin perut suami itu perlu." celetuk Bunda Dita dibalas senyuman malu oleh Nessa.
"Jangan berlebihan, Bun. Nanti Nessa malah terbang."
"Ya gak pa-pa terbang. Oh ya, Bunda mau tanya satu, boleh?"
Pernyataan mertuanya barusan membuat Nessa penasaran. Tumben-tumbenan Bunda Dita harus izin dulu ketika mah bertanya. Aneh. Pasti ada sesuatu!
Tangannya tidak berhenti menyuapkan kue ke dalam mulutnya. Rasa tekstur lembut dan rasa sedikit asam dari kue nastar membuatnya meleleh.
"Semalam kalian baru?" ucap Bunda Dita terpotong karena Nessa langsung tersedak dibuatnya. Cepat-cepat Bunda Dita mengambilkan air untuk menantunya.
"Uhukkk... uhukkk... a-apa, Bun?" Nessa tergagap. Punggung belakangnya di tepuk pelan berkali-kali oleh sang Bunda.
Melihat keterkejutan Nessa, membuat Bunda Dita paham. "Enggak apa-apa. Oh ya, udah jam dua siang nih. Mending kamu siap-siap." ujar Bunda Dita mengalihkan pembicaraan.
"I-iya, Bun. Nessa ke kamar dulu buat bersih-bersih." gadis itu pamit langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap-siap menyusul suaminya.
Setengah jam kemudian Nessa sudah keluar dari kamarnya. Penampilannya sederhana namun sangat memukau. Bagaimana tidak, sejak statusnya menjadi istri, gadis itu tampak berbeda. Terlihat lebih anggun dan dewasa. Apalagi sekarang dirinya memakai gamis berwarna navy dipadukan jilbab dengan warna yang sama.
Nessa dan mertuanya itu berangkat bersama. Padahal Nessa sudah menolak tumpangan yang diberikan Bunda Dita yang mengatakan akan mengantarkannya sampai ke tujuan. Awalnya dirinya ingin berangkat menggunakan motor kesayangan. Namun, setelah beberapa kali bujukan akhirnya Nessa mengalah saja.
Alhasil di sinilah dia berada. Di dalam mobil, duduk di jok belakang bersama Bunda Dita. Sementara yang mengemudi adalah sopir.
"Bunda nitip ini ya?" mertuanya memberikan sebuah paperbag berukuran kecil kepada Nessa.
"Bukan apa-apa. Itu hanya titipan dari kakek kalian. Nanti bukanya biar barengan aja." Nessa pun mengangguk. Memilih tidak bertanya lagi tentang isi paperbag itu.
Mereka mengobrol banyak. Sampai tidak sadar kalau mobil mereka sudah berhenti di sebuah gedung pencakar langit yang tingginya hampir sama dengan perusahaan Papinya.
Nessa menyalim dan mengucap salam sebelum benar-benar keluar dari mobil. Ini adalah kali pertamanya dia menginjakkan kakinya di perusahaan mertuanya. Rasanya sedikit canggung saat bertemu dengan para staff yang bekerja di perusahaan itu.
"Permisi, Mbak. Kalau boleh tau mau cari siapa?" tanya resepsionis saat Nessa baru menginjakkan kakinya masuk ke dalam.
Gadis itu tersenyum ramah. "Pak Endi-nya ada?" tanya Nessa.
Si resepsionis malah terbengong. Nessa yang menyadarinya segera merapat ucapannya tadi. "Maksud saya Pak Rey."
Reflek si resepsionis membulatkan mulutnya dengan kepala mengangguk-angguk.
"Apakah Mbak sudah membuat janji dengan beliau?"
Nessa menggelengkan kepalanya sambil menyengir.
"Maaf, Mbak. Kalau tidak membuat janji dengan beliau, Mbak tidak bisa bertemu."
Nessa sempat terperanjat. Apa ini? Mau bertemu dengan suami sendiri saja tidak diperbolehkan.
Saat sedang berpikir cara untuk bisa masuk ke dalam, tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sangat familiar di telinganya. Gadis itu berbalik dan melihat laki-laki dengan tampilan khas kantor berjalan ke arahnya.
"Ngapain ke sini?"
Senyum Nessa mengembang melihat laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Yap, dialah sang Papi.
"Mau main aja, Pi, Nessa juga bawa kue. Tadi bikin di rumah bareng Bunda." jawab Nessa menyalami tangan sang Papi.
"Trus kenapa gak masuk?" tanya Papi Ibra. Sontak Nessa melirik sinis si resepsionis yang saat itu tengah gelagapan. Ya, wanita yang bekerja sebagai resepsionis di kantor Resa itu sangat mengenal siapa Papi Ibra.
Sang Papi yang melihat putrinya melirik ke arah resepsionis segera mendekat. Berdiri gagah dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ya, meskipun umur sudah tak lagi muda, tapi, tampilan sang Papi seperti laki-laki dewasa pada umumnya yang berkisar sekitar umur tiga puluhan.
"Dia putri saya sekaligus menantu dari pemilik perusahaan ini. Kenali wajahnya, saya tidak mau kejadian ini terulang lagi." ujar Papi Ibra memasang wajah dinginnya.
"B-baik, Pak. Maaf atas kelalaian saya." si resepsionis hanya menundukkan kepalanya malu.
"Minta maaf bukan kepada saya, tapi, putri saya."
"Udah, gak pa-pa. Jangan diperpanjang, malahan Nessa kagum, Mbaknya profesional banget, gak membiarkan orang asing yang mau masuk ke kantor." ucap Nessa melerai. Lalu dengan cepat menggandeng lengan sang Papi dan membawanya masuk ke dalam.
"Pi, anterin Nessa ya. Soalnya Nessa baru pertama kali ke sini."
Papi Ibra hanya tersenyum sambil mengusap-usap lembut pucuk kepala putrinya. Lama tak berjumpa membuat laki-laki itu sangat rindu. Rumah yang biasa ramai akan tingkah Nessa kini menjadi sunyi.