
"Eughhhh..."
Sontak Nessa dan Endi mengalihkan pandangannya ke arah ranjang tempat di mana sosok laki-laki seumuran dengan Endi itu terbangun dari tidurnya. Keduanya masih terdiam di tempat karena sama-sama syok.
Satu jam yang lalu pasien kecelakaan sudah dipindahkan ke ruang rawat. Mendengar itu, Nessa dan Endi pun meminta izin kepada dokter untuk melihat keadaan pasien. Dan beruntungnya keduanya diperbolehkan, asal tidak membuat keributan.
Saat baru membuka pintu ruang rawat inap, betapa terkejutnya Nessa dan Endi saat melihat sosok laki-laki yang terbaring lemah di atas ranjang dengan memakai pakaian khas pasien rumah sakit.
Ya, sosok itu adalah pria yang mirip dengan Endi. Bahkan Nessa sempat melongo di tempat dan membandingkan wajah keduanya yang ngaris hampir mirip sempurna.
Dan sampai saat ini Nessa bahan speechless dibuatnya. Sementara Endi yang melihat pasien sudah sadar segera menekan tombol interkom. Lalu tidak lama kemudian datanglah dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan pasien lebih lanjut.
"Alhamdulillah, keadaan pasien sudah lumayan normal. Tolong obatnya nanti jangan lupa diminum. Kalau begitu saya pamit dulu."
"Baik, Dok. Terima kasih." sahut keduanya kompak.
"Sama-sama."
"Stttssss..." Endi mendekati ranjang pasien dan berdiri tepat di sampingnya sementara Nessa masih mematung di tempat.
Endi meneliti lebih dekat, benar saja, wajah mereka begitu mirip. Endi bahkan sempat terperangah.
"Siapa lo!?" tiba-tiba pasien terkejut saat melihat Endi, seperti dirinya yang melihat bayangannya di cermin.
"Bukan siapa-siapa. Sudah enakan?" tanya Endi.
"L-lo, lo kok mirip sama g-gue?" ujarnya terbata. Endi pun hanya tersenyum menanggapi.
"Hai kembaran, ini pertama kalinya kita bertemu."
Ya, rupanya Endi sudah tau. Tepat saat satu jam yang lalu, dirinya langsung meminta pihak rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Walau hasilnya belum keluar, pria itu bahkan sangat yakin. Selain itu, akhir-akhir ini dirinya juga meminta pertolongan kepada mertu dan Papanya. Dan sekarang sudah mendapat titik terangnya tanpa dirinya harus bekerja lebih jauh lagi.
"Sayang, sini dong!" tutur Endi sambil melambaikan tangannya ke arah Nessa. Gadis itu pun hanga melongo tidak percaya. Sayang? Kata pertama yang terucap dari bibir pria itu.
"Nessa, Mas?" tanya Nessa sambil menunjukkan dirinya sendiri.
"Iya, emangnya siapa lagi."
Nessa mengangguk dan perlahan mendekat, berdiri tepat di samping suaminya.
"Erlan, kenalin ini kakak ipar kamu." sekali lagi Nessa dibuat terkejut. Begitu juga dengan pasien. Bagaimana bisa Endi tau nama dan bahkan sudah yakin kalau pasien itu adalah saudara kembarnya.
"Mas?"
"Iya. Nanti Mas jelasin di rumah. Kenalan dulu sama adik ipar." bisik Endi pelan.
Nessa pun hanya tersenyum canggung.
"Nessa, istri Mas Rey." Endi tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Nessa langsung yang mengatakan kalau dirinya istri dari seorang Endi. Bukankah Nessa begitu plin-plan. Dulu Dimas, sekarang Rey?
"Erlan." jawab pria yang terbaring lemah di atas ranjang dengan suara seraknya.
"Lo tau dari mana kalo gue kembaran sama lo?" tanya Erlan dibalas sebuah gelengan kepala dari Endi.
"Panggil, Mas. Saya terlahir lebih dulu dari kamu."
"Ck!" Erlan hanya berdecak sambil memutar bola matanya malas. Nessa sudah merasakan aura berbeda dari dua kepribadian pria di dekatnya.
Endi menarik pelan tangan istrinya untuk meninggalkan tempat itu. Sementara Erlan bahkan tidak menjawab salam dari Endi. Laki-laki macam apa itu?
Sebelumnya Endi sudah mengirim pesan kepada Mama Wina untuk datang ke rumah sakit tanpa menjelaskan bahkan bukan dirinya lah yang masuk rumah sakit, tetapi kembarannya.
"Mas yakin itu kembaran Mas?" tanya Nessa dalam perjalanan menuju parkiran.
Endi hanya mengangguk. "Iya, karna sebelumnya Mas udah cari tau. Maaf ya, Mas gak bilang sama kamu." ucap Endi meminta maaf.
"Nggak pa-pa kok. Asal itu gak berbahaya. Oh ya, nanti Mama ke sini dong? Trus Mas bilang gak kalau yang sakit itu bukan Mas?"
Endi menggeleng kecil sambil menunjukkan wajah tidak bersalah. Sontak Nessa yang gemas langsung mendaratkan cubitan kecil di lengan suaminya.
"Astaghfirullah. Tega banget sama suami sendiri. Mas ngambek loh ini."
"Apa? Ngambek kok bilang-bilang." balas Nessa tertawa geli. Bahkan suaminya dengan beraninya meninggalkannya masuk ke dalam mobil karena jarak dengan mobil sudah dekat.
Nessa yang melihatnya langsung berjalan cepat dan membuka pintu mobil. Gadis itu duduk tepat di samping kursi kemudi yang saat ini diduduki oleh suaminya. Wajah pria itu ditekuk.
"Ya ampun, pak suami. Gak cocok loh, Pak." ejek Nessa sedari tadi terus tertawa melihat ekspresi suaminya.
Bola mata Endi langsung menajam melihat istrinya. Bukannya takut dengan tatapan tajam suaminya, Nessa malah tertawa karena merasa ekspresi suaminya itu sangat menggemaskan.
"Hahahaa, duhhhh... perut Nessa kram." ujarnya sambil tertawa memegang perutnya.
Kedua tangan Nessa terangkat dan langsung mendaratkannya di kedua pipi suaminya dan langsung mencubitnya gemas.
"Mas, kamu lucu loh." gadis itu terkikik pelan.
Sedangkan Endi yang diperlakukan seperti itu oleh istrinya hanya diam pasrah, bahkan kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan seiring dengan pipinya di cubit.
Merasa jengah, Endi langsung mengambil tindakan. Dirinya langsung mendorong istrinya dengan tangannya yang menahan kepala Nessa agar tidak terbentur sudut mobil.
"Kamu nakal, Dek. Kayaknya harus Mas kasih hukuman." seru Endi yang kini wajahnya berada tepat di wajah Nessa.
"Hukuman?" balas Nessa bertanya dengan nada pelan. Tangannya dengan nakal langsung menarik kerah kemeja suaminya dan melepas satu kancing teratas.
"Nessa tunggu hukumannya." tantang Nessa berbicara sensual tepat di depan telinga Endi. Toh pria di depannya itu suaminya sendiri. Jadi terserahnya mau berbuat apa, dan kenapa harus takut?
Merasa tertantang, Endi langsung melakukan serangan bertubi-tubi. Dirinya mengecupi seluruh wajah Nessa tanpa terkecuali. Perlakuan itu membuat Nessa hanya pasrah sambil menahan geli di wajahnya. Pria itu melampiaskan rasa gemasnya dengan mencium seluruh wajah istrinya. Setelah merasa cukup memberikan hukuman kepada istrinya, Endi pun menjatuhkan kepalanya di dada istrinya.
"Cup cup cup... manja banget sih?" Nessa merasa heran, seharusnya yang manja itu dirinya. Tangannya dengan lembut mengusap rambut tebal suaminya yang sedang memeluknya erat. Posisi duduk membuat Endi merasa pegal, maklum dirinya harus duduk menyamping.
Endi mengangkat wajahnya lalu menatap wajah istrinya dari bawah. Kemudian memajukan wajahnya dan mengecup singkat bibir istrinya membuat senyuman terukir di bibir Nessa.
Tiba-tiba terdengar suara perut Endi yang keroncongan. Menyadari akan hal itu membuat keduanya tertawa bersamaan.
Masih di dalam posisi tadi, Nessa bertanya. "Tadi pulangnya emang gak makan dulu?" tanya Nessa merasa kasihin. Padahal sepulang sekolah tadi dirinya sudah memasak.
Endi membalas dengan gelengan kecil.
"Huumm, ya udah. Kita pulang sekarang. Mas bisa nyetir kan?" tanya Nessa mengingat suaminya tadi sempat diambil darahnya untuk donor darah.
"In Syaa Allah, bisa. Udah dari tadi, jadi, efeknya udah ilang." kata Endi sambil memasangkan sabuk pengaman kepada istrinya.
"Kita pulang sekarang ya?" sambung Endi. Nessa pun hanya mengangguk pelan dengan senyuman di bibirnya.