
Kekuasaan yang dipegang Papi Ibra membuat semuanya tidak berkutik. Bahkan, yang awalnya Jihan dibela kini malah di salahkan. Papinya tidak sungguh tidak main-main, bagi siapa yang sudah membuat ketenangan putrinya rusak, akan menerima akibatnya. Sudah terbukti, Papi Ibra langsung memutus kontrak kerja sama dengan orang tua Jihan, dan bahkan Papi Ibra juga menarik semua saham yang pernah ia tanam. Sungguh kejam, tapi, itulah akibatnya.
Untuk Jihan, gadis remaja itu kini sudah kehilangan mukanya untuk berhadapan dengan Nessa dan juga semua orang. Bagaimana tidak, akibat tingkat ceroboh nya itu berimbas kepada karir orang tuanya. Bahkan guru yang waktu itu menjadi pendamping Jihan kini sudah dikeluarkan oleh pihak sekolah dengan cara tidak hormat. Sungguh mengejutkan bukan?
Masalah itu kini sudah Nessa lupakan, ia tidak mau berlama-lama memikirkannya atau apapun itu.
Tidak terasa juga ujiannya sudah selesai. Nessa bernafas lega dan berdo'a semoga nilainya meningkatkan dari sebelumnya.
Mungkin selama seminggu kedepan, sekolah akan mengadakan class meeting diselingi dengan remedial bagi yang nilainya di bawah rata-rata. Remedial bertujuan untuk memperbaiki nilai mereka yang di bawah rata-rata. Bisa dibilang untuk menambah nilai sih supaya nilainya pas kkm atau lebih.
Setelah class meeting selesai, setelahnya baru akan pembagian raport. Mungkin sebagian dari mereka menganggap nilai itu tidak terlalu penting, namun, kebanyakan menganggap nilai itu yang paling utama. Oleh karena itu mereka belajar mati-matian.
Hari ini adalah hari pertama diadakannya class meeting. Perlombaan yang paling utama yaitu kebersihan kelas. Selama clas meeting berlangsung, kelas harus dalam keadaan bersih. Dan juga akan didekorasi seindah mungkin untuk memperoleh nilai plus. Kebersihan, kerapian, keindahan, semuanya dicek.
Seperti saat ini, kelas Nessa tengah melakukan cat ulang dinding kelas mereka yang warnanya sudha sedikit pudar. Mereka juga akan menambahkan lukisan di dinding itu setelah catnya kering.
Hanya sebagian yang berada di dalam kelas, karena sebagiannya mengikuti perlombaan.
"Nes, gerah, ke kantin yuk! Kita ngadem bentar." ujar Vella merecoki pekerjaan Nessa yang saat itu tengah menggunting kertas origami.
"Bentar, Vel. Dikit lagi nih kelar." balas Nessa masih tetap fokus.
"Cepetan!"
"Cepetan, cepetan? Makanya bantuin, lah itu malah asik duduk santai." ujar Nessa menyinggung Vella karena sedari tadi sahabatnya itu berleha-leha, kalau bekerja pun hanya sedikit.
"Hehe, tadi udah gue bantuin kok." balas Vella menyengir.
"Udah selesai nih. Fitri, tolong selesain ya? Gue sama Vella mau ke kantin bentar."
"Owh, oke." balas temannya yang bernama Fitri.
"Makasih, Fit."
"Sama-sama."
"Udah yuk!" Vella yang tidak sabaran langsung menarik tangan Nessa pelan.
"Pelan-pelam kenapa sih jalannya, Vel? Orang jalannya gak dimakan kok." ujar Nessa melawak.
"Tenggorokan gue seret, Nes. Dari tadi dia minta disiram."
"Air got di depan kelas itu tuh bisa."
"Tega banget, sahabat sendiri disuruh minum air got." Vella manyun.
Nessa hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. Hubungan mereka akhirnya akur setelah waktu lalu sempat meregang.
Keduanya kini sudah duduk nangkring di kantin paling pojokan untuk menghindari ramainya anak-anak yang lain.
"Gak sabar pengen nerima raport." seru Vella membayangkan.
"Gue malah deg-degan. Takut nilai rendah." sambung Nessa.
"Halah! Lo mah pasti juara umum. Tahun kemarin juga gitu, sok-sokan bilang takut nilai rendah, eh malah menaiki rangking teratas."
"Aamiin." balas Nessa mengaminkan.
"Belajar ujian suntuk banget, nggak ada temen buat diajakin belajar bareng."
Nessa menyipitkan kedua matanya memandang Vella lekat.
"Gak punya temen apaan. Orang udah gue ajakin, eh sok-sokan ngambek lagi."
Vella hanya cengegesan menyengir. Benar juga yang dibilang Nessa.
"Lupain aja sih, Nes. Malu lah, jangan diinget."
"Nessa!!"
"Apa?"
"Kalo ngomong suka bener. Hahahaa."
Vella sontak terbahak hingga membuat anak-anak yang lain langsung melihat mereka. Sedangkan Nessa hanya tertawa, namun suaranya tidak sekencang suara Vella.
"Lo mau ikut lomba apa, Nes. Nyanyi? Nari? Atau alat musik. Tarik tambang sama bola dangdut oke juga tuh."
Tuk
"Awwwss... penganiayaan lo mah, suka bener mukul kepala orang pake sendok." Vella mengusap kepalanya tepat di bagian yang terkena pukulan sendok.
"Lo aja ikut yang kek gituan. Gue mah gak mau ya. Bisa tuh lo daftar ke lomba balap karung, atauga lomba makan kerupuk."
"Gue mah selalu gasss, lo aja yang diajakin kagak mau."
🌼🌼🌼
Obrolan mereka seputar lomba class meeting itu terhenti. Karena semua siswa-siswi harus mengikuti perlombaan, jadilah Nessa hanya mengikuti perlombaan membawa kelereng melalui sendok. Sedangkan Vella malah mengikuti saran Nessa yaitu lomba memakan kerupuk.
Pembawaan Nessa begitu tenang saat menggigit ujung tangkai sendok sambil terfokus pada kelereng yang bergerak di sendok itu.
Suara teriakan Vella yang mendominasi memberikan Nessa semangat dan ada juga teman-temannya yang lain.
Ngomong-ngomong soal Endi, gurunya itu hanya menonton pertunjukan. Nanti diakhir acara perlombaan class meeting, akan ada khusus perlombaan untuk semua guru, dan itu wajib dikuti baik guru perempuan maupun guru laki-laki. Selama mengajar di sekolah itu, Endi masih saja mendengar ada yang membicarakan dirinya, lebih tepatnya menghina penampilannya. Entah sampai kapan pria itu akan mengakhirinya.
"Nessa, semangat!!! Ntar kalo menang gue traktir beli permen."
"Wooooooo!!!" perkataan Vella barusan membuat teman-temannya menyoraki dirinya. Permen? Tidak salah tuh?
"Apa! Gue bener kok." tanpa rasa bersalah Vella membalas teriak teman-temannya.
Suara sorakam ramai membuat keheranan Vella terhenti. Ternyata itu Nessa yang memenangkan perlombaan.
"Yes, apa gue bilang. Lo pasti memang, gue janji abis ini gue traktir permen." ujar Vella bersemangat saat Nessa menghampirinya.
"Basi, Vel. Kasih ke bocil aja nih permennya. Gue mah gak mau, ntar sakit gigi."
"Hehe, sorry. Nanti gue kasih surprise deh. Gak sekarang ya."
"Awas loh ya kalo bohong."
"Iya, gak bohong gue, Nes."
Perlombaan yang diikuti Vella yaitu makan kerupuk ternyata ia kalah. Nessa tidak mempermasalahkan apakah sahabatnya itu menang ataupun kalah. Yang paling penting Vella sudah ikut berpartisipasi dalam merayakan perlombaan class meeting.
"Nessa, lo dipanggil Pak Endi ke kantor." ujar salah satu temannya datang memberitahu.
"Ada apa?" tanya Nessa bingung begitu juga dengan Vella.
"Gak tau, mending lo ke sana sekarang."
"Owh, oke. Makasih ya infonya."
"Hayolohhh Nessa. Dipanggil tuh sama calon su--"
Plak
"Syutt! Jangan kenceng-kenceng." Nessa langsung meninggalkan Vella yang berdiri di posisinya.
"Ampun dah, Nessa. Bibir gue napa ditimpuk, sakit tau."