
Suasana meja makan tampak sunyi karna hanya ada dua gadis remaja yang tampak diam sambil menikmati makan malam mereka. Tidak ada pembahasan apapun yang dilakukan ketika dimeja makan. Itu sema sudah menjadi kebiasaan mereka sejak dulu.
"aku sudah selesai makan" Kata seorang gadis cantik berutubuh mungil itu. Dia adalah Angel Haerly, gadis kelahiran New York yang kini berusia tujuh belas tahun. Dia adalah anak yatim piatu kedua orang tua nya telah menginggal akibat kecelakaan pesawat.
Selama beberapa bulan ia tinggal seorang diri di kota besar ini. Erlyn pindah dari Spanyol dan menemaninya disini. Nasib Erlyn tidak beda jauh dengannya. Dia adalah gadis cantik dan baik kedua orang tuanya terpisah setelah beberapa lama akhirnya sang ayah meninggal.
Ibunya lebih memilih menikahi pria lain setelah sang ayah meninggal. Erlyn saat itu masih usia lima belas tahun dan tinggal bersama mendiang kakek dan neneknya. Di usianya yang ke enam belas Erlyn memutuskan pindah menuju New York dan bertemu dengan Angel.
Mungkin karna memiliki nasib hampir sama mereka menjadi sangat akrab. Mereka lebih terlihat seperti saudara kembar, Angel memiliki sifat sedikit kekanak kanakan dan manja sedangkan Erlyn adalah gadis yang memiliki kedewasaan yang baik diusianya yanh masih muda.
Di pagi hari Erlyn akan bangun lebih awal, dan menyiapkan sarapan. Setelah itu ia akan membangunkan Angel agar bersiap kesekolah. Meski manja, Angel adalah gadis yang kuat dan tahan banting. Meski telah menghadapi banyak rintangan Angel tidak pernah putus asa. Baginya hidup itu hanya sekali, kita tidak bisa menyianyiakan hidup dengan keputus asaan.
Di awal mereka bertemu Angek dan Erlyn sudah langsung akrab mereka seakan sudah mengenal lama. Hingga Angel pernah mengira mungkin di kehidupan yang dulu mereka memang seorang teman.
Jika disekolah, Angel adalah gadis pintar dan kesayangan guru guru, dia selalu aktif mengikuti kegiatan. Angel sangat populer di sekolahnya dan dikabarkan sangat dekat dengan anak pemilik sekolah.
Berbanding terbalik dengan Erlyn. Meski memiliki sikap yang lebih dewasa dengan Angel. Dia tidak lebih pintar darinya. Erlyn sering kali mendapat nilai rendah di pelajarannya dan mendapat teguran dari guru guru.
Kembali pada suasana mereka.
Angel dan Erlyn menyelesaikan makan malamnya. Mereka tampak duduk di sofa sambil menikmati cemilan.
"Angel, ku rasa besok aku harus berangkat lebih awal dari biasanya" Angel menoleh sekilas kearah Erlyn. Ia menatap bingun seolah bertanya 'kenapa?'
"Apa kau lupa? besok aku harus mengikuti kelas tambahan karna nilai ku selalu rendah. Jadi kupikir jika aku berangkat lebih awal aku bisa mempersiapkan diriku setidaknya aku bisa mempelajari beberapa materi sebelum kelas dimulai" Angel mengangguk mendengar penjelasan Erlyn
"lalu, siapa yang akan menyiapkan sarapan untuk ku?" Tanya Angel sambil mengusap bibirnya. Menyingkirkan remah remah snack yang menempel.
"kau akan membuat sarapanmu sendiri. aku tidak akan sempat membuatnya"
Angel menghela nafas panjang. Ia bangkit dari duduk nya menuju dapur.
"ku harap aku bisa menemukan mie instan disini" ia mengobrak abrik lemari dapur.
"Bukankah semua persediaan makanan sudah habis?"
Angel menghentikan aktifitasnya, bagaimana bisa ia melupakan hal itu.
"Baiklah, kurasa aku akan membelinya"
"tidak, ini sudah malam. Berbahaya jika kau keluar sendiri"
"Jangan khawatir, lagi pula aku hanya belanja didekat sini"
Sudahlah, tidak ada yang bisa melawan keras kepalanya Angel. Gadis itu sudah membulatkan tekadnya untuk keluar dimalam hari.
***
Awalnya semua baik baik saja, Angel berjalan seorang diri di gang gelap dan sepi hingga ia sampai di minimarket di komplek rumahnya.
segera ia mencari barang yang ia perlukan lalu membayarnya dan kembali berjalan pulang.
Angin malam yang dingin, tempat yang agak gelap dan suara suara yang diciptakan kucing atau hewan hewan yang berkeliaran dimalam hari membuat susana semakin mengerikan.
semakin lama ia berjalan rasa penyesalan semakin besar ia rasakan. Andaikan ia tidak kesini di malam hari ini tidak akan terjadi, atau setidaknya ia menyuruh Erlyn untuk mengantarnya.
Tapi apa daya, semuanya sudah terjadi, nyatanya ia hanya seorang diri di sini. Dan parahnya lagi ia merasakan seseorang mengintainya dari belakang.
Angel mempercepat langkahnya, jantung nya terpacu lebih cepat hingga akhirnya ia harus berlari. Angel menghela nafasnya ia tidak lagi merarsa seseorang mengintainya dari belakang.
Tapi, hal yang lebih buruk terjadi, empat orang pria menjaganya di depan sana. Mereka tampak seperti preman dengan kalung rantai melingkar di leher mereka yang penuh tato.
Angel berniat melarikan diri, tapi ia di kepung. tiga orang pria lainnya sudah menjaganya dari belakang. Mereka menatap Angel dengab tatapan lapar.
Angel mulai panik.
"t..tidaak.. jangan mendekat atau aku akan teriak" Ancam Angel. Tapi ancamannya tidak berpengaruh, mereka malah menertawai Angel.
"Gadis manis, tidak akan ada yang mendengarmu meski kau berteriak hingga menghancurkan pita suaramu" Kata salah satu dari mereka sambil tertawa di akhir kalimatnya.
"Tidak! jangan mendekat atau aku akan menelfon polisi!!"
Mereka tertawa sangat keras. Buku kuduk Angel meremang mendengar suara tawa mereka.
"Kau pasti sudah kami santap sebelum polisi itu datang!"
"uh.... kulitmu sangat haluss"
Angel menepis kasar tangan pria yang menyentuh kulit lengannya yang sedikit terbuka.
"Menyingkirlah! jangan menyentuhku"
"Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menyentuhmu. Ah tidak magsudku jika kami semua menyentuhmu"
"Hahaha... Itu benar, tidak ada yang bisa kau perbuat. Sudahlah serahkan dirinu sayang dan kita akan bersenang senang malam ini"
Angel mulai menangis, ia menepis tangan yang meraba raba tubuhnya.
BUGH BUGH
kedua pria itu merengis kesakitan ketika dua batu berukuran lumayan besar mengenai kepala mereka.
"aku"
Seluruh perhatian jatuh pada pria misterius yang mengenakan jaket kulit celana jeans dan topi hitam. Wajahnya tidak beitu jelas karna keadaan yang agak gelap.
"Wah jadi gadis ini punya pahlawan juga rupanya. Ada berapa nyalimu berani menantang kami huh?"
Pria itu tidak merespon dia hanya diam sambil melipat tangannya di dada.
"Aku bahkan tidak memerlukan ginjalku untuk menghadapi bancih sepertimu" Cetusnya sambil berjalan santai mendekati mereka.
Angel tampak kaget melihat keberanian pria berawakan tinggi dan tegap itu.
"Beraninya kau!!"
Perkelahian tidak dapat di hindari. Meski satu lawan tujuh pria itu tidak kalas sedikitpun. Dia menghindari setiap pukulan dengan gesit dan tangkas dia seperti telah terlatih selama bertahun tahun.
Angel berkemungkinan bahwa profesi pria ini mungkin seorang Angen rahasia, polisi, atau aktor film aktion.
Satu jam perkelahian itu akhirnya berakhir. Pria misterius itu berjalan mendekati Angel.
Angel sedikit takut, spontan ia mundur beberapa langakah.
"jangan takut, aku bukan salah satu dari mereka"
Angel masih sangat takut dan shock ia tidaj bisa merespon apa yang terjadi. Suara bariton itu kembali terdengar.
"Kembalilah kerumahmu aku akan mengantarmu jika kau mau" Masih sama Angel bahkan tidak bergeming.
Pandangannya memburam, ia tidak bisa mendengar dengan baik, kepalanya berdenyut sakit.
BRUK
Angel Ambruk seketika, dengan sigap pria misterius itu menangkap tubuh mungil Angel. Pria itu berjalan sambil membopong tubuh Angel, ia tidak terlihat keberatan atau kesulitan berjalan sambil membawa beban.
Hingga pria itu tiba di mobil mewah berwarna hitam dan menyimpan Angel di dalam mobil itu. Pria misterius itu mengendarai mobil dengan kecepatan rata rata menuju sebuah apartemen mewah yang terletak sangat jauh dari rumah angel.
Pria itu berjalan menuju Apartemen itu sambil membopong Angel, seluruh perhatian tertuju kepada mereka, hingga di dalam lift Pria itu tidak menurunkan atau memintai bantuan siapapun membawa Angel hingga kekamarnya.
Ia menyimpan Angel diranjang, memperhatikan tubuh indah gadis itu dari atas kebawah.
"gadis malang" guamnya sebelum meninggalkan Angel sendiri
****
Suara alarm mengagetkan Angel yang sedang tertidur pulas. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, hingga akhirnya ia sadar ia berada di ruangan asing. Interior simple dan mewah, tepajang beberapa lukisan dibeberapa sudut kamar ini.
Angel yakin ini adalah kamar seorang pria. Angel panik segera ia menyibak selimut yang ia kenakan.
ia menghela nafas lega, ia mesi mengenakan pakaian lengkap. Angel mengingat kembali kejadian sebelum ia berakhir di kamar ini.
"Erlyn! Ya tuhan dia pasti mencariku sekarang"
Angel bergegas turun dari ranjang itu dan membuka pintu kamar.
CEKLEK
Angel terperangah melihat tubuh pria jangkung dan kekar berdiri di depannya mengenakan pakaian serba hitam dan berkaca mata itu tengah berdiri tegak didepannya.
"siapa anda? dan dimana ini?"
Pria itu tampak membukuk hormat
"Saya adalah pengawal Pribadi dari pria yang membawa anda kesini tadi malam. Dan ini adalah Apartemen milikinya, aku di perintahkan untuk mengantar anda kembali kerumah anda"
Angel memicingkan matanya, bagaimana bisa ia mempercayai orang asing, bagaimana jika dia adalah penjahat yang sama dengan yang menyerangnya malam itu.
"Ini tanda pengenal saya"
Angel mengalihkan pandangannya ke tanda pengenal itu. Akhirnya ia bisa mempercayai bahwa dia adalah tangan kanan seseorang.
"Baiklah, aku akan mempercayaimu"
Angel pulang bersama pria itu, dimobil mereka berdua hanya diam, suasananya sangat canggung.
"Bisa kau memberi tahu siapa tuanmu?"
"maaf nona, saya tidak bisa memberi tau identitas tuan kami pada sembarang orang"
Angel mengumpat dalam hati
Apa magsudnya 'sembarang orang' lalu untuk apa pria itu membawaku di apartemennya'
Angel tidak memperdulikan itu semua. Ia merasa lega karna saat ini ia sudah berada di depan rumanya.
"sampaikan terimakasih ku dengan tuanmu karna sudah membantuku"
Pria itu mengangguk lalu kembali melajukan mobilnya. Angel masih sangat takut jadi ia memutuskan untuk tidak pergi kesekolah hari ini.