
Tak terasa hari sudah berlalu. Pagi ini keduanya sudah rapi karena siang nanti mereka akan melakukan fitting baju di salah satu butik langganan Mami Hana. Yang datang bukan hanya sang Mami, tetapi seluruh anggota keluarganya juga ikut datang. Mereka juga akan melakukan fitting baju couplean.
Selesai sarapan tadi, Nessa dan Endi sudah berangkat ke rumah Mami Hana sambil menunggu keluarga yang lain berdatangan karena mereka memutuskan untuk berangkat bersama dan berkumpul di rumah Mami Hana.
Kini suasana rumah sang Mami yang awalnya sepi menjadi riuh. Apalagi terdengar suara celotehan keponakan Endi. Ya, kakaknya juga turut berdatangan untuk menghadiri acara resepsinya nanti.
Kini Nessa pun menjadi sibuk berjalan ke sana ke sini, bukan karena membantu, namun karena dirinya yang menjaga Enze, keponakan suaminya. Dirinya juga ikut dibantu oleh Tasya, adik bungsu Endi.
"Eh! Cil, jaga di situ ya. Kakak mau ambil botol susu Enze dulu."
"Oke, Kak." jawab Tasya menurut. Gadis remaja itu kini mau memasuki masa-masa putih abu. Dan dia akan mendaftarkan sekolah di kota tempat orang tuanya tinggal saat ini, ya bisa dibilang sudah tidak tinggal lagi bersama kakek neneknya.
Tidak lama kemudian Nessa datang sambil membawa botol susu di tangannya. Gadis itu langsung menunjukkan kepada Enze, balita itu langsung merangkak cepat menuju Nessa.
"Happp... kita minum dulu ya, Sayang. Stop dulu mainnya, nanti capek." ujar Nessa lalu memangku balita itu. Sementara Tasya juga ikut mendekat, duduk bersila di hadapan Nessa sambil memperhatikan Enze meminum susunya lewat botol susu.
Suasana yang awalnya riuh dengan suara celotehan Enze, kini menjadi sunyi karena balita itu sudah tepar di pangkuan Nessa.
"Eh, udah tidur?" gumam Nessa lumayan terkejut karena Enze sudah terlelap di pangkuannya. Nessa langsung melepaskan botol susunya yang masih menempel di mulut Enze lalu meminta Tasya untuk meletakkannya di atas meja.
"Kenapa, Dek?" Endi datang dengan tiba-tiba, duduk berjongkok di samping Nessa tepatnya sejajar dengan kepala Enze.
"Enze tidur, Mas. Mungkin capek abis main." jawab Nessa tanpa mengalihkan pandangannya dari Enze yang tidur nyenyak di pangkuannya.
Tangan Endi pun tergerak menyentuh ubun-ubun Enze lalu mengusapnya lembut sambil memanjatkan do'a kebaikannya untuk keponakannya.
"Ya udah, pindahin aja ke kamar. Mau dibantu?" tawar Endi mendapat gelengan kecil dari istrinya.
"Baru tidur, Mas. Biarin aja dulu gini, nanti kalau udah nyenyak banget baru dipindahin ke kamar."
"Nggak pegel?"
Nessa menggelengkan kepalanya. "Enggak kok. Lagian Enze juga gak berat-berat amat."
"Bikin aja, Rey. Kayaknya Nessa suka tuh, dulu waktu bayi aja nungguin Maminya melahirkan. Tapi, ya gitu." celetuk Papi Ibra sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya. Kini bukan hanya Papinya yang melihat mereka, namun, semua anggota keluarga.
Nessa hanya tertunduk malu.
"Sabar, Pi. Lagi proses." jawab Endi tanpa dosa. Nessa yang menunduk pun merasa bersalah. Sampai saat ini dirinya juga belum memberikan gak suaminya.
"Tapi, Kakek berharap Nessa bisa cepat isi. Kakek cuma mau lihat cicit Kakek sebelum Kakek pergi." ujar Kakek Toni yang saat ini duduk di kursi roda. Ya, memang umurnya sudah tidak muda lagi. Oleh karena itu dirinya sangat menanti kehadiran cicit pertama.
Kini semuanya menatap Kakek Toni dengan ekspresi sendunya. Biar bagaimana pun juga, sosok Kakek Toni sangat berharga bagi mereka.
Nessa yang mendengarnya pun mendongak. "In Syaa Allah, Kek. Kakek harus tetap sehat." seru Nessa membuat semuanya menatap haru.
"Heh! Apa ini kok pada mellow. Jadi gak nih fitting bajunya. Kalo gak jadi aku mau keluar aja." perkataan Erlan barusan membuat mata Bundanya langsung menajam.
"Kamu juga, Lan. Udah tua, sebaiknya cepet cari jodoh. Atau, Bunda jodohin aja kamu sama anak temen Bunda." ancam Bunda Dita membuat ekspresi Erlan berubah seketika. Dia adalah pria bebas yang sampai sekarang bahkan belum terpikir untuk menikah diusianya saat ini. Baginya umur bukanlah penentu tua atau muda. Toh nantinya sama saja.
"No! Aku masih mau bebas, gak mau dikekang." balas Erlan sambil menggeleng kepalanya beberapa kali.
"Oke, Bunda kasih kamu batas. Diusia kamu yang ke tiga puluh tahun, kamu sudah harus menikah."
"Kok pakai usia-usia sih, Bun. Emangnya nyari jodoh itu mudah apa!?" cibir Erlan.
"Makanya kalau bagi kamu sulit, serahin aja semuanya ke Bunda. Bunda akan cariin kamu jodoh yang sholehah, supaya kamu gak bisa keluar malam lagi pergi ke tempat yang gak bermutu."
"Itu tempatnya bermutu, Bun. Bisa bikin hatiku senang." sangkal Erlan mendapat pelototan tajam dari Bundanya.
"Kakek setuju sama Bunda kamu. Tidak menerima negosiasi." sambung Kakek Toni membuat Erlan hanya bisa tertunduk lesu. Perkataannya tadi sungguh menjadi boomerang baginya sendiri. Niat hati ingin mencairkan suasana, eh malah dirinya yang terkena imbasnya. Awalnya yang membahas Nessa dan Endi eh malah sekarang membahas tentang jodohnya. Sungguh miris.
Semuanya yang melihat Erlan tidak berkutik hanya tertawa. Sifat Erlan dan Endi sungguh berbeda. Erlan yang sifatnya keras dan tidak mau diatur, dan Endi yang sifatnya lembut. Bisa menerima kritikan dan tidak marah kalau mendapat cemoooh.
"Sama temen Tasya aja, Kak. Banyak kok yang cantik-cantik." celetuk Tasya menyaut.
"Kak, Kek, Kak, Kek. Ogah sama bocil!" tolak Erlan mentah-mentah. Suara tawa pun pecah di ruangan itu. Akibatnya, tidur Enze yang nyenyak kini terganggu. Balita itu langsung menangis, mencari sumber air alami miliknya. Dirinya bahkan berusaha membuka baju depan Nessa yang terhalang jilbab. Nessa pun hanya tertawa geli melihat tingkah lucu Enze. Gadis itu bangkit sambil menggendong Enze lalu memberikannya kepada Wulan.
Wanita beranak satu itu pun langsung membawa Enze masuk ke dalam kamar untuk menyusui putrinya.
Matahari di luar pun sudah terik. Sesudah sholat zuhur tadi, kini semua formasi anggota keluarga sudah lengkap dan mereka bersiap-siap menuju butik. Sebelumnya mereka terlebih dahulu singgah di restoran untuk mengisi perut mereka karena sudah waktunya jam makan siang.
Setelah mengisi perut, kini semuanya menuju butik. Rombongan mobil pun melewati jalanan ramai. Beruntung macet tidak terjadi, dan mereka pun sampai ke tempat tujuan dengan waktu tempuh normal.
Sesampainya di butik, Nessa dan Endi pertama yang akan mencoba pakaian. Gaun mewah dengan terdapat aksesoris membuat Nessa begitu cantik. Begitu juga dengan Endi yang mencoba stelan tuxedonya. Penampilan pria itu sungguh membuat Nessa pangling.
Setelah menentukan pakaian yang akan dipilih, kini bergantian waktunya anggota keluarganya lah yang memilih.