My Teacher

My Teacher
MT part 25



Nessa segera mengalihkan pandangannya, dan melihat seorang gadis yang mungkin umurnya di atas Nessa tengah menyapa Endi.


"Alhamdulillah, saya baik. Kamu bagaimana? Lancar kuliahnya?" tanya Endi setelah mematikan ponselnya.


"Lumayan, Mas. Eh ya, ini adeknya?" tanya gadis itu sembari menatap Nessa dengan raut penuh tanda tanya.


"Sari, antar ini ke meja Mas Endi." teriak Ibu dari gadis yang bernama Sari itu.


"Iya, Bu. Eh, Mas, tunggu sebentar ya?"


"Silahkan."


Nessa yang melihat keakraban keduanya jelas tidak suka. Apalagi mereka sudah seperti orang yang lama kenal, terbukti dari interaksinya yang sangat santai saat mengobrol.


"Silahkan dinikmati, Mas." Sari datang sambil membawa pesanan Endi tadi.


"Terima kasih, Sari."


"Sama-sama, Mas." jawab Sari lalu pamit setelah mengantar pesanan itu.


"Ayo, dimakan satenya, Nessa." ujar Endi menyodorkan sate yang ditempatkan di atas piring.


"Bapak aja yang makan." jawab Nessa yang tiba-tiba naf*su makannya hilang.


"Kenapa? Tadi katanya mau makan sate." ujar Endi dengan raut wajah heran.


"Tiba-tiba kenyang, Pak. Mungkin tadi ada hantu lewat, jadi, Nessa kenyang."


Dengan raut wajah keheranan, Endi menatap satenya dengan teliti. Mengambil satu tusuk sate lalu melihatnya sambil memutar-mutarnya.


"Ayo cobain, Nessa. Ini enak." ucap Endi lagi.


Gadis itu menggeleng. "Bapak aja yang makan, Nessa kenyang."


Apa iya? Batin Endi. Perasaannya tadi saat makan malam pun Nessa hanya makan beberapa suap saja, bahkan setelahnya ia muntahkan lagi. Endi yakin saat ini perut Nessa kosong dan butuh asupan.


"Tadi di rumah, kamu muntahin lagi makanannya, itu pun baru masuk sedikit. Ayo Nessa, kasian kamu pasti lapar."


"Yang lain aja, Pak. Nessa mau makan bakso." ucap Nessa.


Yang dilakukan Endi saat ini adalah menghela nafas berat. Ia meletakkan tusukan sate yang tadi ia pegang.


"Bu! Ini bisa dibungkus juga?" tanya Endi pada pemilik warung makan.


"Bisa dong, Mas. Bentar ya?"


Tidak lama Bu Patmi datang sambil membaww dua kantong kresek.


"Ini, Mas."


"Berapa, Bu?" tanya Endi sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya.


🌼🌼🌼


Di dalam perjalanan, Nessa hanya diam sambil melihat ke arah kaca mobil. Sementara Endi dibuat bingung dengan gadis itu yang tiba-tiba pendiam, biasanya banyak mengobrol bersamanya.


"Masih lapar? Mau makan apa?" tanya Endi sambil melirik ke arah Nessa sebentar.


"Langsung pulang aja, Pak." jawab gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ya udah." nyatanya setelah mengatakan itu, Endi tidak langsung mengantarkan Nessa pulang. Ia terlihat memberhentikan mobilnya di pinggir jalanan sepi. Rupanya pria itu membawa Nessa ke sebuah pedagang kaki lima yang menjual bakso.


Meskipun heran, namun, Nessa tetap menurut saat pria itu memintanya untuk keluar. Keduanya langsung duduk di kursi yang tersedia di sana. Endi langsung memesannya bakso untuk Nessa. Hanya satu porsi karena dirinya masih kenyang setelah makan malam tadi.


Endi langsung menyodorkan mangkuk bakso setelah pesanannya datang.


"Makanlah!"


Nessa memandang kuah bakso yang masih mengepul itu.


"Gak mau, Pak." tolak Nessa sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan minta pakai cabe, kamu baru sembuh." potong pria itu saat Nessa baru akan membuka suara.


Gadis itu hanya mendengus kesal karena permintaannya sedari tadi ditolak. Mulai dari dirinya yang ingin makan seblak, dan sekarang?


Walau begitu, Nessa tetap memakan baksonya tanpa campuran apapun termasuk kecap.


"Ini minumnya. Tunggu di sini sebentar, saya bayar dulu." Endi beranjak dari duduknya untuk membayar baksonya tadi.


Sementara Nessa tampak duduk ayem sambil menunggu Endi kembali.


"Nes?"


Nessa mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik suara itu.


"Ke sini bareng siapa?"


Wajah Nessa berubah menjadi panik dan waswas tentunya. Ia takut ketahuan kalau dirinya ke sini bersama gurunya.


"B-bareng temen." jawab Nessa gelagapan.


"Owh. Vella?" tanya Deca. Iya, Deca. Pemuda yang sempat menaruh hati pada Nessa dan mengejarnya. Namun, dirinya disadarkan oleh perkataan Nessa waktu lalu.


"I-iya." jawab Nessa yang tentunya berbohong. Ia meminta maaf karena telah membawa-bawa nama Vella, sahabatnya.


"Nessa, ayo pulang!"


Seketika wajahnya pucat. Suara itu? Endi sudah kembali.


"Pak Endi?" seru Deca menerawang. Entah kenapa saat melihat sosok pria di dekat Nessa itu pikirannya langsung tertuju pada gurunya. Karena memang penampilan pria itu berbeda, dan entah kenapa Deca memiliki feeling yang kuat.


"Aduh! Mati gue!" batin Nessa meringis melihat tatapan Deca yang terus melihatnya.


"Iya, siapa?" balas Endi bingung.


"Beneran Pak Endi? Nessa, lo bohong sama gue!"


"B-bukan gitu, Ca. Ini beneran gak seperti yang lo lihat."


Ah entahlah. Mau menjelaskan pun menjelaskan apa?


"Bapak kok beda?" celetuk Deca sedari tadi sudah melongo melihat Endi. Kalau saja dirinya cewek, sudah pasti pemuda itu akan terang-terangan memuji Endi.


"Apa yang berbeda? Kamu bukannya anak IPA ya?" tebak Endi.


"Hooh. Penampilan Bapak kok beda? Ganteng loh. Iya gak, Nes?"


Nessa yang ditanya hanya melongo. Bingung mau menjawab apa.


"Nessa?"


"Iya, Ca." jawab Nessa menjawab ragu.


"Emang tadi gue tanya apa?"


"Pak Endi ganteng." balas Nessa reflek. Sesaat ia langsung melotot.


Sementara Endi masih dengan coolnya, namun tidak dipungkiri ia ingin sekali tersenyum lebar. Namun, dia sadar bahwa masih ada orang luar di dekatnya.


"Nessa ke mobil dulu." gadis itu langsung ngacir, langsung masuk ke dalam mobil.


"Jangan bilang ke siapa-siapa. Bisa kan?" seru Endi melihat ke arah mobilnya.


"Bisa, Pak." jawab Deca cepat. Sebenarnya dia juga bingung ada hubungannya apa mereka? Tapi, ya sudahlah. Tidak baik terlalu mencampuri urusan orang lain.


"Terima kasih. Kalau begitu saya pamit pulang."


"Iya, Pak."


Deca hanya terdiam sambil melihat gurunya masuk ke dalam mobil yang sama dengan Nessa.