My Teacher

My Teacher
Mommy Peter



Daniel terkejut ketika Angel menyetujui ajakan William. Daniel melihat senyum penuh kemenangan di bibir pria itu.


"Tidak, Angel seharusnya kau istirahat bukankah kau sedang sakit?"


"Aku rasa aku perlu udara segar Daniel, jadi aku akan ikut bersama Mr. William."


"Kalau begitu ayo"


"Tunggu" William menoleh kearah Angel


"Ada apa lagi?" Tanya William


"Saya akan ikut bersama Daniel" Hati Daniel bersorak gembira mendengarkan ajakan. William menautkan alisnya jujur didalam hati ia tidak ikhlas jika anak itu ikut bersamanya.


"Daniel apa kau mau ikut bersama ku?"


"Tentu saja. Bagaimana bisa aku membiarkan mu pergi sendiri, ayo."


William menatap tajam kearah Daniel yang menyeringai penuh kemenangan. William tidak punya alasan untuk menolak Daniel ikut bersamanya ia terpaksa mengikutkan Daniel.


Mereka menaiki mobil, hanya William yang beradadi depan. Ia terlihat seperti supir yang membawa sepasang kekasih.


"Ayo, tunggu apa lagi?"


William menghela nafas, ia langsung melajukan mobilnya hingga ke mansion besar dan mewah itu.



Angel terperangah takjub melihat kemegahan mansion itu, lain halnya dengan Daniel yang tampak biasa biasa saja. Tentu saja ia tidak kagum melihat pemandangan di depannya karna ia memiliki mansion dua kali lebih mewah dari pada milik William.


"Wah besar sekali" kata Angel terpukai melihatnya.


"Ayo masuk"


Mereka mengikuti William dari belakang. Tampak banyak penjaga di seluruh penjuru mansion, maid maid menunduk hormat ketika melihat kedatangan tuannya.


Untuk seorang guru, pria ini kaya juga rupanya. Batin Daniel yang mengakui kekayaan William. Yah, walau tidak sekaya dirinya.


Angel, William, dan Daniel memasuki ruang tengah mansion itu. Inetriornya sangat mewah dan modern.


"Apa anda hanya mengajak kami kesini?" Tanya Daniel tiba tiba.


"Tentu saja, dan saya ralat saya hanya mengajak Angel bukan kamu." Daniel menggerutu didalam hati. Pria ini menyebalkan sekali.


"Sir, mengapa anda mengajaku kesini?"


"Apa kau ingat, beberapa hari yang lalu kau pernah menemui anak kecil di taman?" Angel mencoba mengingat ngingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu.


"Ah iya, aku mengingatnya"


William mengagguk, sekilas ia tersenyum lalu memanggilkan nama 'Mora' sekejap kemudian seorang wanita datang dan menunduk di depan William.


"Dimana peter?"


"Tuan muda sedang tidur tuan"


William mempersilahkan Mora untuk melanjutkan aktifitasnya. Daniel tampak kebingungan nama 'Peter' sangat asing di pendengarannya.


"Angel, siapa Peter?"


"Peter itu anak kecil yang aku temui di taman beberapa hari yang lalu" Daniel mengangguk


"Lalu, apa dia mengajak kita kesini hanya untuk melihat anak itu"


"Entahlah"


William melirik Angel sekilas lalu mengalihkan kembali pandangannya.


"Peter sakit dari kemarin, dia terkena demam makanya aku menyuruhmu kesini kare--"


"Maaf Mr. William, kami bukan dokter" Willian menatap sinis kearah Daniel.


"Saya menyuruh Angel kesini karna Peter selalu mengigaukan nama Angel"


"N..nama saya?"


"Iya, jadi aku membawamu kesini. Siapa tau karna melihatmu Peter bisa merasa lebih baik"


"Baiklah sir, saya akan menemui Peter" Daniel menghela nafas panjang. Ia benar benar tidak ingin menemui anak itu.


"Ayo ikut saya"


Mereka menuju kamar Peter. Angel kagum melihat kamar Peter yang sangat luas bernuansa biru muda dan putih itu.


Terlihat Peter tengah terlelap di ranjang, anak itu tampak menggemaskan bulu matanya sangat lentik dan panjang. Dia begitu tampan.


Angel meletakan telapak tangannya di kening Peter.


"Sir, apa ini anakmu?" Tanya Daniel.


"Dia anakku"


Angel sedikit terkejut mendengarkan jawaban William, ia tidak menyangka kalau Daniel telah memiliki anak. Tapi, jika dia punya anak lalu dimana istri atau ibu dari anak ini?


"Lalu dimana ibunya?" Tanya Daniel, jujur ia sangat penasaran dengan anak ini. Daniel pun tidak menyangka kalau dia sudah memiliki anak. Perkiraan Daniel William adalah pria yang menyandang status duda anak satu, atau dia menghamili wanita dan meminta anaknya begitu lahir.


"Aku tidak tau" Angel dan Daniel saling menatap satu sama lain. Bagaimana bisa William tidak tau dimana ibu anak ini.


Daniel hendak bertanya namun Angel memberi kode dengan tatapannya. Ia yakin pertanyaan daniel pasti akan sangat pribadi atau menyinggung.


Tiba tiba Peter membuka matanya dan menggenggam tangan Angel dengan jari kecilnya.


"Hai sayang, kenapa kau bangun? Apa kami mengganggumu?" Peter menggeleng kecil.


"Aunty" Guamnya lemah. Angel mengusap kening Peter.


"Mommy..." Daniel menatap kearah anak itu. Angel, terkejut ketika Peter memanggilnya mommy.


'Mungkin mommy Peter mirip dengannya' pikir Angel.


"Sakit..." Lanjutnya.


"Apa kepalamu terasa sakit? Apa kau sudah meminum obatmu?" Peter menggeleng lemah. ia memeluk paha Angel yang berada di sampingnya.


"Mommy... " Peter menangis, Angel memeluk Peter, ia mulai berpikir bahwa Peter telah menjalani hal hal yang buruk selama ini.


"Apa mommy akan pergi?"


Angel terdiam, ia menatap sendu kearah anak itu.


"Tidak sayang... jangan khawatir aku akan menjagamu disini"


William melihat interaksi Peter dan Angel, dalam hati ia merasa sangat sakit. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan jika Peter tau bahwa Angel bukan mommy nya.


Lain sisi, Daniel masih memandangi Angel, rasa penasaran menguasai dirinya. Siapa sebenarnya Peter? Kenapa dia memanggil Angel dengan sebutan mommy? Siapa mommy nya?


"Angel, aku mau bicara padamu"


Angel menggeleng, ia tidak tega melepaska pelukannya dengan Peter. Anak itu tampak nyaman dan kembali terlelap setelah ia memeluknya.


"Aku masih menemaninya, aku tidak mau Peter bangun jika aku melepaskan pelukannya"


Beberapa menit berlalu...


Daniel mulai mengantuk, ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, ia merasa kesal dengan banyak hal. Pertama Angel mengacuhkannya, kedua tidak ada perlakuan baik dari tuan rumah terhadap tamunya. Yah, setidaknya William menawarinya makanan atau minuman. Tapi ternyata dugaannya salah. Jangankan makanan dan minuman ia bahkan tida menawari Daniel untuk duduk di sofa.


Karna sudah lelah duduk Daniel sendiri yang memutuskan untuk duduk tanpa di tawari tuan rumah.


Sedangkan William hanya sibuk dengan laptopnya, entah apa yang ia lukan dengan benda itu hingga ia tidak bergeming dari duduknya. Ia bahkan tidak memisahkan Angel dan Peter tanpa peduli Angel juga sedang sakit.


"Angel, apa kau tidak mau pulang? Kau juga perlu istirahat" Tanya Daniel, Angel tampak menggeliat. Daniel tau Angel pasti sempat terlelap di sana.


Angel mengangguk sambil berusaha melepaskan pelulan Peter.


"Mommy.. jangan pergi" Angel mengurungkan niatnya. Ia kembali mengelus rambut Peter.


"Ssttt... tidurlah Peter"


William melihat Angel sekilas. Ia tau ia harus melepaskan pelukan Peter dan Angel.


"Pulanglah Angel, biar Peter aku yang menjaga" Kata William sambil menyimpan laptopnya.


'Memang seharusnya begitu' batin Daniel.


Angel kembali mencoba melepaskan pelukan Peter dan ia berhasil. Sejujurnya ia masih ingin bersama Peter tapi ia tidak bisa karna ia juga harus istirahat.


"Baiklah kami pulang dulu"


"Terimakasih sudah mau menemani Peter"


"Iya, aku senang bisa bertemu dengannya"


Angel dan Daniel akhirnya pulang naik taxi sepanjang perjalanannya Daniel menggerutu karna William tidak berniat mengantarnya kembali.


"Anak yang lucu"


"Biasa saja"


-----


PETER