My Teacher

My Teacher
MT part 45



Sepulang sekolah Nessa meminta izin kepada suaminya untuk bepergian ke luar bersama Vella, sahabatnya. Karena keduanya jarang lagi bermain, jadi, mereka memutuskan untuk jalan-jalan. Kebetulan juga saat itu Endi tengah menghadiri rapat bersama guru lainnya, entah sampai jam berapa rapat itu selesai.


Vella dan Nessa pun memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Setelahnya Vella akan menjemput Nessa, mereka berangkat dengan satu motor.


"Pokoknya kita harus mampir ke banyak tempat. Titik no debat." ujar Vella sudah menetapkan. Nessa hanga terkekeh pelan.


"Satu-satu dulu kali, Vel. Yakali langsung semuanya, gak bakalan cukup soalnya waktunya singgat." sahut Nessa.


"Ihhhh, lo mah gak ngerti, gue kangen tau. Udah lama kita gak main bareng, kesepian gue, Nes. Asal lo tau, gue sampe bela-belain beli kucing buat peliharaan untuk jadi temen gue di rumah." rengek Vella dengan wajah masamnya.


Nessa sedikit terharu, sebegitunya Vella sampai-sampai rela membeli hewan peliharaan untuk dijadikan teman.


"Nih liat! Kemarin gue dicakar. Galak banget kucingnya tau gak." adu Vella sambil menunjukkan punggung tangannya yang terkena cakaran kucing.


"Kenapa dicakar? Pasti ada penyebabnya?" tebak Nessa merasa curiga.


Dan Vella pun sudah mulai menunjukkan gelagat anehnya. Gadis itu cengar-cengir. "Hehe, kemarin tuh ya gue ajakin main tuh. Nah karna ekornya panjang, jadinya gue gemesh, gue tarik tuh. Eh taunya dia balik badan dan langsung miawww... kena deh." cerita Vella yang langsung membuat Nessa tertawa geli. Pantas saja terkena cakaran, lah wong tuannya yang membuta masalah. Salah siapa ekor kucing ditarik, ya langsung nyambar kucingnya.


"Vel, Vel. Makanya kalau melihara hewan itu yang bener, jangan nyiksa doang. Mending kasihin ke gue aja, buat temen kalau lagi sendiri di rumah."


Vella langsung menggeleng menolak. "No! Itu anggap aja sebagai lo."


"Ihhh! Temen sendiri diganti dengan kucing. Sadis lo!"


"Hehe, canda beb."


"Kapan-kapan bawa ya tuh kucing, gue juga pengen liat."


"Siap, Ibuuu. Oh ya, Nes. Rencana nanti udah lulus lo mau lanjut atau di rumah aja?" tanya Vella tiba-tiba.


Nessa terdiam. Dirinya juga sedikit bingun. Hati kecilnya berkata ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, logikanya berpikir, apa bisa ia mengemban tugasnya sekaligus 2? Iya, mengurus rumah tangga dan sekolah. Ah, memikirkan saja sudah membuat Nessa bingung. Mungkin nanti didiskusikan bersama suaminya. Dan Nessa pastikan kalau suaminya itu akan memberikan dukungannya. Bukannya mengarang, tapi, selama beberapa bulan ini ia sudah sedikit lebih mengenal pribadi suaminya.


"Rencananya mau lanjut sih, tapi, belum tau deh. Biar nanti didiskusikan lagi." jawab Nessa. Vella pun hanya manggut-manggut.


"Kalau lo?" tanya Nessa balik.


"Gue sih tentunya lanjut. Kalau gue mau berhenti trus gue ngapain? Jadi pengangguran dong. Kalau alasannya nikah sih masih bisa, tapiiiii... gue belum ada calonnya!"


Sontak keduanya tertawa menyadari topik obrolan mereka yang sedikit melenceng.


"Lupain soal itu. Ini kita mau ke mana?" tanya Vella karena memang sedari tadi mereka hanya berjalan berkeliling di pusat perbelanjaan. Saking asiknya ngobrol, bahkan mereka sampai lupa tujuan utama.


"Makan aja yuk!" ajak Nessa karena merasakan perutnya keroncongan. Sepulang sekolah tadi memang Nessa belum makan siang, begitu juga dengan Vella. Jadi, sudah dipastikan keduanya akan kelaparan.


"Pesen apa, Nes?" tanya Vella sambil memilih menu.


"Apa aja, asal bisa di makan. Gue pesen pesto chicken baked sama minumnya milk tea. Itu aja."


Vella mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya. Lalu tidak lama pelayan pun datang ke arah mereka.


"Pesto chicken baked sama minumnya milk tea, dua ya, Mbak?"


Vella hanya mengangguk.


"Hubungan lo gimana, Nes?" Vella mulai membuka suara.


"Alhamdulillah baik, Vel. Ya gitu deh, pasti disetiap hubungan itu bakalan ada rintangan. Do'ain gue ya?" pinta Nessa tulus.


"Lo sahabat gue, udah gue anggap sebagai saudara sendiri. Gue selalu menginginkan hal yang terbaik buat kehidupan lo, gitu juga sebaliknya." jawab Vella tulus.


"Uluhhhh, terharu gue. Semoga juga lo bisa dapet jodoh yang baik."


"Aamiin."


"Eh!" Vella tersentak sendiri. Keduanya pun tertawa bersamaan. Nessa bahkan sampai geleng-geleng kepala.


Mereka pun mengobrol, saling bertukar cerita. Sampai obrolan mereka terhenti saat pesanan mereka datang. Keduanya pun memutuskan untuk menyantap makanan mereka dahulu.


"Selamat makan." ucap Vella.


Selang beberapa waktu, akhirnya makanan mereka habis. Keduanya masih belum beranjak dan sesekali mengobrol.


"Nes." panggil Vella membuat Nessa memandangnya dengan penuh tanya.


"Kenapa, Vel?" tanya Nessa.


"Tuh liat!" tunjuk Vella tepat di kursi yang tidak jauh dari mereka.


"Mana?" Nessa bahkan celingak-celinguk.


"Itu tuh!" tunjuk Vella sekali lagi.


Netra Nessa pun menangkap sosok pria yang mirip dengan suaminya.


"Pak Endi itu?" tanya Vella mendapat gidikan bahu oleh Nessa. Gadis itu juga penasaran. Tapi, jika dilihat lebih teliti lagi sepertinya itu bukan suaminya. Tapi, wajahnya mirip. Hanya pakaiannya saja yang membedakan. Pria itu memakai celana pendek, sedangkan Nessa tau kalau suaminya itu sangat anti kalau memakai celana selutut.


"Bukan kayaknya. Tapi, mukanya mirip loh." seru Nessa dengan tatapan tidak lepas dari sosok itu.


"Apa kita samperin aja? Tapi, rame itu dia ngumpul bareng temen-temennya. Mana pakaiannya nggak bangett lagi." koreksi Vella akan penampilan pria yang mirip dengan Endi.


Pikiran Nessa melayang, ia teringat kalau suaminya itu memiliki kembaran yang entah ke mana dan tak tau di mana. Nessa segera merogoh ponselnya dan memotret pria itu.


"Ngapain difoto sih, Nes? Ntar ketauan gimana?" ujar Vella.


"Nggak bakal. Gue lagi kepikiran aja, mungkin nanti biar gue tanyain. Ya udah lah, kita lanjut keliling lagi."


"Tapi, ah gak tau deh. Ntar kasih tau gue ya?"


Nessa hanya mengangguk sambil menarik tangan Vella pelan agar meninggalkan tempat itu. Tidak lupa mereka membayar pesanannya tadi.