
Seminggu telah berlalu, akhirnya Erlan sudah dinyatakan sembuh meski harus memperbanyak istirahat. Dan tepat empat hari yang lalu hasil tes DNA yang sempat Endi lakukan pun keluar. Dinyatakan kalau keduanya memiliki hubungan ikatan darah. Saat ini semua anggota keluarga sudah berkumpul, termasuk kedua orang tua Nessa. Mereka tampak mengobrol serius di ruang tengah di rumah Mama Winanti.
Raut wajah para lelaki menjadi tegang, beda dengan para wanita yang menunjukkan ekspresi tenang.
"Kakek nyari kamu." Erlan melemparkan sebuah foto kecil kepada Endi. Endi pun mengambil foto kecil tersebut yang dilemparkan Erlan di atas meja.
"Menyusahkan, arghhh... kenapa harus aku yang dijadikan babu." seru Erlan menghempaskan tubuhnya di belakang sandaran sofa.
"Ini siapa?" tanya Endi dengan raut kebingungan.
"Pria tua itu adalah Kakek, dan di sampingnya itu Ayah dan Bunda." jelas Erlan membuat alis Endi menyatu sempurna.
"Kita?" ujar Endi lagi dibalas anggukan oleh Erlan. Pria yang menjadi kembaran Endi itu pun bercerita.
"Kakek kalian adalah sahabat buyut kami." terang Erlan sambil menunjukkan Winanti dan Resa. "Lalu buyut kami memiliki seorang putra yaitu kakek kami sekarang. Belasan tahun yang lalu ibu kami pun melahirkan, anak kembar. Ya, itu adalah kami berdua. Tapi, karena dulu kondisinya sangat buruk dan banyak sekali musuh-musuh yang mengincar. Jadi, kakek menyarankan agar salah satu dari kami diselamatkan."
Erlan lalu memberikan foto ibunya kepada Winanti dan Resa. "Kalian ingat?" tanya Erlan. Kedua mertua Nessa pun terdiam sambil mengingat-ingat. Lalu mereka pun menganggukkan kepala.
"Kehadiran kami banyak mengundang musuh berdatangan. Salah satunya banyak investor yang berusaha menculik ku. Dulu, mereka salah menculik, mereka berpikir yang mereka culik adalah aku, namun ternyata itu adalah kembaranku." jelas Erlan mengingatkan Endi pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Endi masih ingat bagaimana dirinya diculik oleh para preman.
"Jadi, foto yang mereka tunjukkan itu adalah kamu?" tanya Endi dibalas anggukan oleh Erlan.
"Tenang saja, semuanya sudah diatasi. Jadi, jangan khawatir soal keselamatan."
"Kecelakaan itu?"
Erlan menggaruk kepalanya tidak gatal. Kembaran Endi itu pun hanya menyengir. "Itu... gue menangin tender dari perusahaan lain. Mereka gak terima karna tendernya gue yang menangin." jelas Erlan.
Akhirnya setelah sedikit mendapat pencerahan, mereka semua pun lebih tenang.
"Lalu di mana orang tua kalian?" sahut Papi Ibra yang ingin tau.
"Ada. Tapi, lagi di luar negeri." jawab Erlan.
"Trus kamu sekarang tinggal di mana?" sambung Papa Resa ikut bertanya.
"Gak menentu. Biasanya di apartemen, biasa juga pulang ke rumah Kakek kalau lagi dipaksa pulang." ujar Erlan menunjukkan wajah kesal mengingat Kakeknya.
"Jadi... gimana?" sahut Endi.
"Ya begitu. Kakek minta gue buat bawa lo ke hadapannya. Gak tau deh sama pria tua itu."
"Bisakah kamu sopan sedikit? Bukannya kamu itu adikku?"
"Aelah. Cuman beda berapa menit doang. Udah lah, gue mau pulang. Capek, badan gue remuk."
"Tunggu dulu! Emangnya... Kakek nyuruh kapan?"
"Serah lo dah. Oh ya, nih kartu nama gue. Lo bisa telfon kalau mau ketemu kakek. Bye!" pria itu nyelonong keluar setelah memberikan kartu namanya kepada Endi. Mereka semua yang melihatnya pun hanya melongo. Sungguh! Pribadi keduanya berbanding terbalik. Endi yang terkenal akan sopan santunnya dan Erlan yang sepertinya sudah sesad.
"Dia pulang naik apa?" cetus Papa Resa yang masih mencerna.
"Mungkin ada jalur teleportasi." sahut Mama Wina.
"Jadi, semuanya sudah jelas kan?" kata Papi Ibra.
Mereka pun hanya mengangguk termasuk Endi.
Endi pun hanya mengangguk-angguk. Akhirnya misteri demi misteri sedikit terpecahkan. Intinya Endi terpisah dengan keluarganya karena demi keselamatannya. Dunia bisnis memang kejam. Endi pun sampai tidak habis pikir. Pria itu berdo'a semoga nantinya dirinya tidak akan berkecimpungan di dunia pembisnisan.
"Rey, kamu siap-siap juga untuk menggantikan posisi Papi kedepannya karean kamu menantu laki-laki satu-satunya."
"Iya, Rey. Kamu juga harus siap mengambil alis perusahaan Papa nantinya. Kami sudah tua, mau menghabiskan waktu bersama anak cucu." sahut Papa Resa ikut-ikutan.
Endi merasakan kepalanya langsung berdenyut. Dua perusahaan sekaligus? Perusahaan Papa dan mertuanya? Rasanya Endi ingin menolak saja dan memilih menjadi guru SMA. Walau gajinya tidak seberapa, namun, tidaklah terlalu capek. Apalagi dirinya belum berpengalaman dalam mengurus perusahaan. Hanya sedikit tau karena dulu dirinya pernah mengambil jurusan ekonomi.
"Kalian kapan akan memberikan kami cucu?" pertanyaan itu langsung membuat otak Endi meledak. Pria yang memiliki sifat tenang di segala kondisi kini mulai merasakan panik bukan main.
Pria itu tiba-tiba berdiri bangkit dan bejalan sedikit sempoyongan. Langkah kakinya berhenti saat Mama Papanya dan kedua mertuanya itu bertanya.
"Rey, mau ke mana?" tanya mereka.
"Rey mau ke kamar nyusul Nessa." jawab Endi langsung menuju kamarnya. Ya, sedari tadi tidak ada suara Nessa ternyata gadis itu berada di kamar.
"Assalamu'alaikum, Dek." ucap Endi mendatangi kamarnya.
"Wa'alaikumsalam. Udah selesai?" tanya Nessa menyambut kedatangan suaminya. Gadis itu merentangkan tangannya dengan posisi masih setengah terbaring di atas kasur setelah meletakkan buku yang ia baca di atas nakas.
Endi langsung berjalan cepat dan menubruk tubuh istrinya, masuk ke dalam pelukan gadis itu.
"Ada apa? Kok lemes?" tanya Nessa pengertian. Posisi pria itu saat ini berbaring di sebelahnya dan memeluk erat pinggangnya, sementara kepala suaminya berhadapan langsung dengan perut ratanya.
Endi menggelengkan kepalanya tipis. "Papa sama Papi minta Mas buat ambil alis perusahaannya." curhat Endi langsung membuat Nessa iba seketika.
Tangan Nessa mengelus-elus lembut kepala suaminya. "Yang sabar ya? Kata Papa sama Papi kapan?" tanya Nessa.
"Belum tau. Tapi mereka bilang nyuruh Mas buat siap-siap."
"Tenang aja. Mungkin masih lama, karna gak mungkin kan Papa sama Papi pensiun dini?"
"Iya juga ya." balas Endi setuju dengan pemikiran istrinya.
"Nanti bangunin Mas kalau udah waktunya asar." tutur Endi sambil memejamkan matanya menikmati rasa hangat dari perut istrinya.
Nessa tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum tipis. Tangannya tidak berhenti mengusap-usap rambut suaminya. Setelah setengah jam dalam posisi itu, membuat Nessa sedikit pegal karena posisinya setengah terduduk. Dengan perlahan Nessa melepaskan tangan yang melilit pinggangnya erat. Setelah terlepas, Nessa dengan pelan turun dari kasur. Gadis itu memakaikan selimut hingga kepada suaminya hingga sebatas dada. Lalu meninggalkan jejak sayang di kening suaminya. Baru setelahnya Nessa benar-benar keluar dari kamarnya dan menuju lantai bawah di mana keluarganya masih berkumpul.
"Rey mana, Sayang?" tanya Mami Hana mendapati putrinya turun sendirian.
Gadis itu mendudukkan tubuhnya di samping Maminya. "Ada, barusan tidur."
Kedua orang tua dan mertuanya hanya mengangguk.
"Pa, Pi. Tolong jangan paksa Mas Rey buat ambil alih perusahaan Papa sama Papi ya?" kata Nessa tiba-tiba.
"Enggak kok. Papi sama Papa kamu gak maksa. Mereka cuma mau bilang kalau nanti perusahaan mereka akan diberikan kepada suami kamu. Tapi, bukan sekarang. Mungkin Rey bisa belajar dari sekarang agar nantinya langsung bisa mimpin sekaligus dua." kali ini yang menjawab bukan Papi dan Papanya, melainkan sang Mami yang memberi pengertian.
Nessa pun kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Mami nya barusan.
"Sayang, nanti setelah kamu lulus, kalian gak nunda punya momongan kan?" pertanyaan itu keluar langsung dari bibir mertua, yaitu Winanti.
Nessa tidak menjawab. Dirinya juga bingung. Di satu sisi dirinya belum siap untuk menjadi orang tua di umurnya yang masih muda. Takutnya ketidaksiapannya itu membawa pengaruh terhadap anaknya. Nessa juga berpikir apakah dirinya bisa menjadi panutan untuk anak-anaknya kelar di umurnya yang masih muda.
Nessa juga berpikir menggunakan logikanya lagi. Umur suaminya sudah matang dan pastinya sudah siap menjadi orang tua. Memikirkan persoalan anak, Nessa jadi kepikiran. Gadis itu juga belum memberikan dirinya sepenuhnya kepada suaminya.