My Teacher

My Teacher
MT part 74



Suara roda-roda brangkar terdengar bergesekan dengan lantai keramik di koridor rumah sakit. Ringisan kesakitan terdengar dari seorang wanita yang kini tampak tidak berdaya di atas brangkar itu. Darah mengalir di pahanya, membuat gamisnya penuh dengan noda darah.


"Aaakkhhhh... Mami--" bibir Nessa bergetar menatap sang mami yang tampak menangis dengan tangan yang terus menggenggam tangannya.


"Mami di sini, Sayang. Kamu bertahan, Papi segera datang." Mami Hana berusaha untuk tidak menangis agar putrinya kuat. Tapi, air matanya tidak bisa ditahan dan berakhir dengan mengalir deras.


"Mami hiksss..."


Genggaman tangan mereka terlepas begitu Nessa dibawa masuk ke ruang IGD. Seorang perawat mencegat Mami Hana melarangnya untuk masuk.


"Maaf, Bu. Ibu tidak boleh masuk ke dalam. Dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk menangani pasien. Silahkan Ibu tunggu di sana." perawat itu mengarahkan tangannya ke arah kursi tunggu.


Dengan pasrah Mami Hana beranjak mundur lalu duduk di kursi tunggu berada tepat di samping depan ruang IGD. Kepalanya tertunduk lesu.


Tiba-tiba Mami Hana merasakan sentuhan lembut di bahunya yang membuatnya mendongak menatap sang pelaku.


Begitu tau suaminya yang menyentuh bahunya, Mami Hana langsung berhamburan memeluk sang suami. Tangisnya pecah di dalam dekapan Papi Ibra.


"Hiksss... Nessa, Pi. Mami gak kuat."


Dengan sabar Papi Ibra mengelus punggung belakang istrinya. Hatinya juga ikut sedih, namun, sebagai seorang kepala keluarga, tentunya tidak boleh terlihat lemah di depan istri dan anaknya. "Mami harus kuat. Do'akan Nessa."


"Menantu kita gimana, Pi?" tanya Mami Hana melepaskan pelukannya. Wanita paruh baya itu baru tersadar dan mengingat menantunya.


"Semuanya pasti baik-baik aja. Jangan lupa berdo'a untuk kesembuhan Nessa. Mami juga harus kuat untuk Nessa." Mami Hana menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Hal itu dilakukan berulang kali sampai akhirnya Mami Hana merasa tenang dan mencoba untuk tersenyum meskipun matanya terasa sangat berat.


•••


"Sayang, buka mulutnya dong. Ini baru satu suap loh." Mami Hana tampak membujuk sang putri agar memakan buburnya. Namun, wanita itu menolak keras. Tatapannya tampak kosong.


"Hahhhh!!!" helaan nafas terdengar dari sang mami. "Mami cuma mau ngingetin kamu kalau kamu itu gak sendirian lagi. Sekarang ada yang menghuni rahim kamu, dia juga butuh asupan nutrisi, Sayang. Ingat, kamu habis pendarahan kemarin."


Nessa tertegun sempurna. Matanya menatap perutnya yang masih rata. Memang betul kemarin pagi wanita itu sempat mengalami pendarahan. Namun, berkat do'a dan kehendak Tuhan, semuanya baik-baik saja. Hanya saja, wanita itu masih perlu bed rest untuk memulihkan kandungannya. Bersyukur tidak terjadi apa-apa.


"Masih mau nolak?" ujar sang mami lalu menyodorkan satu suapan kepada putrinya.


Mengingat itu, Nessa langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari maminya. Perlahan, suapan demi suapan sudah Nessa habiskan. Mami Hanya tampak tersenyum melihatnya.


"Habis ini istirahat ya? Mami mau pulang sebentar mau ambil baju ganti untuk kamu." Nessa menganggukkan kepalanya lemas.


"Papi?" tanya wanita itu.


"Kalau Papi masih ada urusan sebentar. Mungkin besok pagi baru bisa ke sini."


"Pasti soal Mas Endi?" tebak Nessa.


Karena tidak ingin membuat sang putri merasa sedih dan kepikiran lagi, Mami Hana harus terpaksa sedikit berbohong. "Bukan kok, ini urusan kantor. Kamu gak apa-apa kan Mami tinggal? Nanti kalau butuh apa-apa panggil aja perawat."


"Gak apa-apa kok. Mami jangan lama ya?"


"Enggak kok. Ya udah, kalau gitu Mami pamit. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Nessa memejamkan matanya sejenak saat sang mami mendaratkan kecupan singkat di keningnya.


Setelah kepergian Maminya, Nessa langsung termenung. Pikirannya masih tertuju pada suaminya yang sampai saat ini belum ada kabar. Setiap kali Nessa bertanya, maminya selalu mengalihkan pembicaraan.


Papi Ibra tampak sibuk mencari informasi tentang kecelakaan pesawat yang banyak memakan korban. Suasana di bandara tampak sangat ramai. Semua orang tampak berkumpul. Ada sekumpulan polisi, keluarga korban, dan bahkan wartawan yang terjun langsung ke lapangan.


Mereka semua tampak panik. Suasana bandara penuh akan tangisan dan teriakan duka. Hal itu tidak membuat Papi Ibra merasa terganggu, ia tampak sibuk dengan ponsel di tangannya dan sebuah kertas di tangan satunya. Pria itu sedang mengecek nama-nama para penumpang. Memastikan bahwa menantunya bukan salah satu korban kecelakaan itu. Namun, setelah beberapa saat mengecek. Jelas nama sang menantu tertera di sana dengan penerbangan Swiss-Indonesia.


Papi Ibra mengalihkan pandangannya, ia mendongak ke atas. Matanya tampak berkedip-kedip cepat agar air matanya tidak jatuh.


Papi Ibra langsung beranjak dari duduknya menuju kerumunan polisi untuk meminta informasi lebih detail. Karena dilihat dari pergerakannya, para polisi itu sudah melakukan evakuasi dari kemarin malam. Dan Papi Ibra juga sudah berulang kali ke bandara hanya untuk menanyakan lebih lanjut.


•••


Malam sudah datang, bulan bersinar begitu terang. Namun, tidak ada bintang yang menemani bulan yang tampak kesepian.


Suara dengkuran halus terdengar dari seorang wanita yang tampak tertidur pulas. Dia tampak kesepian, tidak ada orang selain dirinya di dalam ruangan itu. Kedua orang tuanya masih ada urusan di luar yang membuat mereka sedikit terlambat.


Biasanya sehabis isya mereka sudah stay di ruangan Nessa, menemani putri mereka.


Suara derit pintu terdengar. Perlahan terbuka, disusul dengan masuknya sebelah kaki yang tampak panjang dilapisi dengan celana kain.


Pintu itu tertutup kembali setelah seorang pria masuk ke dalam. Dia berjalan pelan mendekati Nessa yang tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit. Selimut menutupi tubuhnya sampai sebatas dada. Jilbab simpel masih melekat di kepalanya, sungguh, wanita itu sangat menjaga auratnya. Dalam keadaan sakit pun ia masih berusaha menjaga apa yang seharusnya tidak ia perlihatkan kepada yang bukan mahramnya.


Setelah mendekat, tiba-tiba tangannya menyentuh pucuk kepala Nessa, mengelusnya pelan kemudian mendekatkan wajahnya. Hal yang tidak terduga pun terjadi, pria itu menempelkan bibirnya tepat di kening Nessa.


Nessa yang selalu waspada jika dalam keadaan tertidur pun merasakan hal itu. Ia langsung membuka kelopak matanya dan terkejut saat melihat sosok pria dengan jarak yang sangat dekat dengannya. Sontak ia ia mendorong keras pria itu karena ketakutan. Wajahnya berubah panik. Tidak ada lagi rasa kantuk yang melanda.


Orang yang Nessa dorong jelas terjungkal di bawah lantai keramik yang begitu dingin.


"Aduhhhh!!"


"Kamu siapa!!!" todong Nessa sangat ketakutan. Dia mencoba untuk bangkit, namun, tenaganya bahkan belum pulih. Perutnya tiba-tiba terasa kram karena pergerakannya yang tiba-tiba. Nessa meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


"Aakkhhhh... ssshhhhttt..." ringisnya menahan sakit.


Pria yang terjungkal di bawah sontak langsung berdiri sambil menahan rasa nyeri di area bokongnya. Wajahnya ikut panik melihat Nessa, ia langsung mendekati wanita itu.


Saat tangannya bergerak ingin menyentuh perut Nessa, tiba-tiba Nessa langsung menepisnya cukup kasar.


"Kamu siapa!!? Jangan sentuh saya, kita bukan mahram!" tekan Nessa walau dalam keadaan sakit sekalipun.


Pria di sampingnya itu langsung meraih wajah Nessa yang masih meringis menahan sakit. Ia memajukan wajahnya dan langsung mengecup singkat pipi Nessa membuat wanita itu melongo terkejut. Bola matanya membesar sempurna dan hampir saja berteriak, namun, segera diredam oleh pria itu.


"Lihat. Ini siapa? Lihat dengan teliti dan dengar suaranya."


Nessa terdiam sambil menatap pria itu lekat. Tiba-tiba rasa kram di perutnya hilang dan Nessa mulai merasakan tangan kasar menyelus perutnya. Jelas itu bukan tangannya.


.


.


.


maaf sekali lagi kalau cerita ini lama upnya. Sekarang, InsyaAllah aku bakal lanjutin ceritanya pelan-pelan. Mungkin banyak yang udah lupa alur cerita dan nama tokohnya. Ada juga yang protes kenapa lama up dan segalanya 😂 sekali lagi maaf ya, aku juga lumayan sibuk di rl. Sibuk dg sekolah juga, trus kemarin lagi fokus namatin novel yang satunya dan alhamdulillah sekarang udh tamat. Jadi aku bisa lanjutin ini. Jadi... ya gitu deh ya😅😂 pokoknya aku minta maaf ke kalian sebesar-besarnya karena udah gantungin ini cerita 🙏🏼🙏🏼 silahkan komplen kalo kalian merasa keberatan 🤣


See you in the next chapter🥰🥰🥰