
Setelah bersih-bersih, Endi menghampiri istrinya yang saat ini berada di kasur sedang rebahan ditemani sebuah buku tebal di tangannya. Pria itu ikut bergabung sementara menunggu waktu maghrib tiba.
Tiba-tiba Nessa menutup bukunya menimbulkan suara khas buku yang ditutup. Endi pun terkejut.
"Mas, aku lupa." ujar Nessa baru teringat dengan dapur yang masih berantakan. Dirinya sampai reflek memukul dahinya pelan.
"Apa yang lupa? Kamu gak sholat asar, Dek?" tebak Endi.
Nessa dengan cepat menggelengkan kepalanya. Bukan lupa melaksanakan sholat asar. Malahan dirinya sudah melaksanakan sholat asar saat di rumah mertuanya. "Dapur berantakan." wanita itu menggigit ujung jari telunjuknya.
Endi langsung menarik tangan Nessa. "Masalahnya kenapa kalau dapur berantakan?" tanya Endi bersikap biasa-biasa saja.
Sekali lagi Nessa menggelengkan kepalanya cepat. "Mas liat aja sendiri." bukannya menjawab, malah dirinya menyuruh suaminya untuk melihat sendiri. Endi hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Ya udah. Mas lihat bentar ke bawah." pria itu perlahan bangkit dan keluar untuk melihat dapur yang kata istrinya berantakan.
Saat Endi sudah berada di dapur, ternyata Nessa menyusul. Dirinya hanya menyengir saat sudah berada di hadapan suaminya. Kondisi dapur saat ini tidak masuk dalam kategori rapi dan bersih. Sayur bayam yang tergeletak di samping wastafel yang ditempatkan di dalam wadah, tahu yang juga masih terbungkus di dalam keresek putih, dan terutama beberapa siung bawang yang tergeletak di dekat kompor. Dan juga pisau yang berada tidak jauh dari bawang.
"Maaf, Mas. Tadi aku ketiduran." ucap Nessa menundukkan kepala karena merasa bersalah.
Nessa kira suaminya akan marah dan akan memarahinya karena tidak becus menjaga rumah dalam urusan kebersihan dan juga tanggungjawabnya dalam hal memasak. Ingat, itu hanya pandangan Nessa saja. Karena baru kali ini kerjaan dapur yang berantakan dan masakan yang belum juga siap.
Tidak disangka Endi mendekat kepadanya dan langsung merangkulnya. Mengusap-usap bahunya pelan. "Nanti kita makan malam di luar aja ya? Sekalian jalan-jalan cari angin. Sekarang adek mandi dulu, siap-siap buat maghrib."
Nessa yang mendengarnya langsung mendongakkan kepalanya, menatap paras pria itu. "Tapi, ini masii berantakan." balas Nessa sambil mengalihkan pandangannya ke arah dapur.
Endi langsung membawa berdiri berhadapan dengannya. Tidak lupa tangannya yang suka sekali mengusap kepala Nessa dengan gerakan lembut. Seolah-olah itu adalah candu baginya. "Intinya adek sekarang mandi dulu. Urusan dapur jangan dipikirin." pria itu tidak mempermasalahkan urusan dapur yang berantakan dan belum siap. Dirinya tidak menuntut keadaan dapur harus bersih dan siap ketika dirinya tiba di rumah. Intinya, bukankah pekerjaan rumah itu bukan selalu dikerjakan oleh istri? Pekerjaan rumah itu adalah tugas dari pasangan suami-istri. Saling berbagi tugas misalnya.
"Beneran?" tanya Nessa tidak enak hati.
Endi membalasnya dengan sebuah anggukan kepala. Dan mengkodenya agar segera masuk ke kamar. Nessa pun hanya menurut, tidak berani membantah.
Selepas kepergian Nessa, kini Endi mulai berdiri berhadapan dengan dapur yang berantakan. Tidak ingin membuang waktu berharga, pria itu bergerak perlahan. Mulai dari memasukkan kembali sayur bayam ke dalam kulkas. Tidak lupa dengan tahu dan dua butir telur. Lalu menyimpan pisau ke tempat semula dan mengambil bawang lalu memasukkannya ke dalam keranjang bawang. Setelahnya dia mengambil serbet kemudian mengelap meja dapur.
Endi membersihkannya sampai dengan menyapu lantai. Saat Endi sudah selesai, saat ini juga Nessa datang dan sedikit terkejut saat melihat dapur yang sudah kembali ke kondisi semula. Bersih dan rapi. Ini bukan pertama kalinya, namun, Nessa masih tidak menyangka kalau suaminya mau berinisiatif untuk membersihkan dapur. Wanita itu bahkan senyum-senyum sendiri saat sudah tiba di hadapan suaminya.
"Ma Syaa Allah. Suami siapa ini baik banget." puji Nessa sembari tersenyum.
Respon Endi seperti biasa, tersipu malu saat dipuji sang istri. "Suami tetangga di samping rumah." jawab pria itu asal. Nessa langsung tergelak saat mendengar perkataan Endi barusan. Saat sedang dipuji, Endi berusaha agar untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh! Sorry, kelepasan." Nessa menutup mulutnya sebelah saat baru menyadari perbuatannya barusan.
Hal tersebut bukan asing lagi. Nessa yang suka mencomot bibir suaminya saat pria itu bicara sembarangan. Dan seperti biasa balasan dari Endi itu berhasil mengundang aksi lari-larian di dalam rumah.
Nessa langsung berlari saat sudah melihat tatapan tak biasa dari Endi. Dirinya sudah tau, pasti pria itu akan membalas perbuatannya barusan yang tidak kalah sama. Bedanya pria itu membalasnya bukan menggunakan tangan, tetapi, menggunakan bibirnya.
Endi yang melihat istrinya melarikan diri pun langsung bergegas menyusulnya. Suara tawa Nessa tidak terbendung lagi. Dirinya berlari cepat, tujuan awalnya kalau bukan ke kamar, mau ke mana lagi?
"Sini, Dek. Tangannya suka nakal ya!"
"Huaaaaahhhhahaaa... gak sengaja, Mas." teriaknya menggelegar memenuhi sudut ruangan.
.
.
.
Suasana malam di luar dipenuhi oleh anak-anak muda yang nongkrong seperti di cafe, restoran, ataupun di warkop. Yang lebih parahnya ada yang di pinggiran jalan yang suka sekali menyebabkan kemacetan.
Seperti perkataan Endi tadi sore, mereka akan makan di luar sekaligus menikmati suasana malam dengan pasangan. Setelah makan malam di sebuah restoran, kini keduanya menyusuri jalanan yang memang banyak pedagang kaki lima.
Entah sudah berapa tempat mereka kunjungani dan entah sudha berapa banyak makanan yang masuk nek dalam perut Nessa. Tetapi, wanita itu belum juga menunjukkan ciri-ciri kenyang. Malahan mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah.
Endi yang awalnya memaklumi kini tidak bisa menahan istrinya untuk berhenti makan. Bukannya menjadi suami jahat, dirinya hanya takut kalau-kalau istrinya kekenyangan. Kekenyangan juga bisa membawa ke beberapa penyakit yang kita sendiri tidak ketahui.
Saat baru akan menyodorkan bulatan bakso goreng, tiba-tiba Endi menahan tangannya. Nessa langsung meliriknya dengan tatapan protes.
"Dek, kamu gak kenyang?" tanya Endi masih bersikap biasa-biasa saja, namun, beda di hatinya. "Kamu makan banyak banget loh. Tadi di restoran juga, trus ini udah yang keberapa makanan yang kamu makan. Gak kenyang, Dek?"
"Enggak" mendengar suaminya mulai mengomel, dengan santai Nessa menjawab disertai gelengan kepala dan raut wajah polos.
Tangan Endi langsung terulur menyentuh perut istrinya dari luar baju tebal itu. "Ini bukan karet kan, Dek?" tanya Endi yang baru pertama kalinya melihat sang istri makan dengan lahap. Bukan lahap! Tapi, sudah seperti orang yang tidak makan satu bulan!
Dengan santainya lagi Nessa menggelengkan kepalanya. Kini dirinya malahan merasa nyaman saat tangan kekar itu berada di perutnya. Walaupun tidak mengusap-usapnya, tapi, seperti ada rasa hangat yang menyelubungi hatinya. Saat pria itu akan menarik tangannya dari istrinya, dengan cepat Nessa menahannya dan memintanya untuk mengusap-usapnya.
Sekali lagi tingkah Nessa membuat Endi keheranan. Namun, dirinya tidak mampu untuk menolak. Dan bahkan Endi juga merasakan sebuah rasa yang berbeda di hatinya. Seakan ada sebuah getaran kecil yang membuatmu menghangat. Dirinya bahkan sama sekali tidak pernah berpikir ke arah yang lain.