My Teacher

My Teacher
Perhatian Daniel dan William



happy readingā¤



___


William sibuk mengotak atik laptopnya, didampingi Mark dan beberapa anak buahnya yang lain.


"Mark, kita tidak bisa langsung membeberkan kebenaran hanya dengan identitas. Kita perlu bukti agar Angel mempercayainya" Cetus William sambil menyesap kopinya.


"Perlu bukti apa lagi? Bukankah identitas dan pernyataan ini sudah cukup untuk membuktikannya"


"Tidak, Angel pasti tidak akan mempercayainya. Dia tipe gadis yang tidak mudah mempercayai orang lain. Dia pasti memerlukan buktinya"


Mark menghela nafas panjang. Ia menyandarkan kepalanya sambil berpikir.


"Aku tidak tau bagaimana kau bisa segila ini hanya karna gadis kecil itu"


"Aku tidak peduli. Cepat selidiki kasus ini dan berikan bukti yang jelas siapa pelakunya. Aku akan pergi dulu?"


"Pergi?"


"Ck. Aku akan mencari udara segar dulu"


Disis lain Daniel sama uring uringannya seperti William. Ia terus berjalan kesana kemari tidak dapat duduk dengan tenang.


"Ana, apa kau sudah mendapatkan informasi?"


"Aku mendapatkan beberapa informasi. Berdasarkan apa yang saya dapatkan bisa disimpulkan ada beberapa orang yang menjadi tersangka"


"Aku ingin melihat identitas mereka"


Daniel terkejut melihat siapa yang menjadi tersangka di balik semua itu.


"Aku tidak menyangka ternyata ada musuh yang berada di balik selimut"


"Apa yang harus kita lakukan tuan?"


Daniel tampak menimang nimang keputusannya.


"Awasi mereka semua. Pantau mereka jangan sampai lengah kita perlu bukti untuk meyakinkan Angel"


"Baik tuan"


____


Erlyn sibuk menyiapkan sarapan. Di hari minggu kegiatannya akan bertambah banyak, dia harus mengurus ini dan itu mencuci dan membersihkan rumah.


Erlyn berjalan kearah kamar Angel meembawa makanan untuknya. Angel demam tinggi pasca kejadian kemarin.


Erlyn membuka pintu kamar Angel. Ia melihat gadis itu tengah tertidur pulas di atas ranjang.


"Kau tampak lebih tenang bila tertidur." Guam Erlyn sambil mengusap rambut Angel.


Angel yang merasa terusik perlahan membuka matanya.


"Erlyn" Guamnya sambil mengumpulkan kesadaran.


"Makanlah dulu bubur ini, lalu minum obatmu aku akan mengambilkan kompres untuk mu" Angel mengangguk. Ia melihat bubur yang di bawa Erlyn.


Angel merasakan perhatian Erlyn yang terlihat sangat tulus dimatanya. Eryn merupakan sosok kakak, ibu, dan juga teman baginya. Bahkan disaat dirinya sakit Erlyn rela meninggalkan kegiatannya demi merawat dirinya.


Angel menghela nafasnya ia kembali menatap bubur itu. Jujur tidak ada napsu makan pada dirinya tapi ia tau Erlyn pasti marah ketika ia tidak memakan makanannya.


"Erlyn... apakah benar dia di balik semua ini?" Guam Angel sambil menyuap makanannya. Belakangan ini banyak keraguan didalam hatinya.


"Tidak. Itu tidak mungkin"


...


Erlyn kembali kekamar Angel membawa kompres untuknya. Langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar.


Erlyn melihat notifikasi di ponselnya.


"Benar benar menyebalkan" Guamnya membaca pesan yang masuk. Erlyn segera masuk kekamar Angel.


"Angel... apa kau sudah merasa baikan" Angel menggeleng lemah. Erlyn meletakan telapak tangannya di kening Angel. Demamnya memang belum turun, tapi pikiran Erlyn kembali tertuju pada pesan tadi ia tidak bisa menolaknya ia harus segera kesana.


"Angel, maafkan aku, sebenarnya aku tidak tega meninggalkanmu di keadaan seperti ini tapi aku sangat terdesak aku harus pergi sebentar"


Angel menatap manik Erlyn. Gadis itu tampak menyesal karna harus meninggalkannya disaat dirinya sakit.


"Tidak apa apa Erlyn. Selesaikan saja dulu urusanmu"


"Baiklah Angel aku pergi dulu"


"Urusan yang mendesak? Apa itu benar?" Guam Angel setelah kepergian Erlyn.


....


Sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumah Angel, pria itu turun dari mobil dengan mengenakan T-shirt hitam, jeans panjang hitam dengan robek di lutur serta topi hitam. Dengan mengenakan pakaian serba hitam membuat kulit putihnya kontras dengan warna baju yang ia gunakan.


Pria itu menekan bel rumah Angel beberapa kali sambil menunggu sang pemilik membukakan pintu rumah.


Disis lain Angel yang mendengar bel rumah berbunyi kembali merasa takut. Jantungnya berdegup kencang mendengar suara bel rumah. Ia masih trauma pasca kejadian teror kemarin.


"S...siapa itu" Angel yang merasa takut mengirim pesan kepada Erlyn berharap dia pulang dan menemaninya.


CKLEK


"Kenapa lama sekali?"


Angel mengangkat kepalanya melihat wajah pria yang berdiri didepannya.


"D...Daniel"


"Bagaimana keadaanmu sekarang. Apa kau sudah merasa baikan" Angel menggeleng. Sekelitika ia langsung memeluk tubuh Daniel. Ia merasa lega karna ada yang menemaninya sekarang.


Daniel membalas pelukan Angel. Ia tau gadisnya tengah ketakutan sekarang.


"Hei...tenangkan dirimu, jangan takut ada aku disini"


"Daniel.. kumohon jangan tinggalkan aku, aku sangat takut."


"Tidak apa-apa, aku ada untukmu tenanglah. Ayo kita masuk aku membawakan makanan dan buah untuk mu" Angel menurut ia mengajak Daniel masuk dan duduk di sofanya.


"Mommy, membuatkan makanan kesukaanmu dan ini adalah buah buahan kesukaanmu makanlah"


"Aku akan memakannya nanti, aku sudah kenyang"


"Baiklah, apa demammu sudah turun?"


"Aku rasa demamnya sudah turun. Aku hanya merasa sedikit lemah dan pusing."


"Itu benar. Jadi kau harus banyak beristirahat."


Hati Angel menghangat melihat perhatian Daniel kepadanya. Kekesalan yang dulu pernah ada mulai luluh dengan perhatian Daniel saat ini.


"Angel dimana Erlyn aku tidak melihatnya" Angel menautkan. Memang sangat aneh tapi pertanyaan Daniel begitu asing menurutnya. Selama bertahun tahun kedekatan mereka ini adalah kali pertama Daniel menanyakan perempuan lain ketika bersamanya perlu di perjelas? YANG PERTAMA KALI!!


"Erlyn... d..dia ada urusan di luar"


"Di keadaanmu yang seperti ini dia masih di luar rumah. Kenapa dia tidak menyanggamu dasar"


"Sudahlah Daniel kau tidak__"


TING TONG TING TONG


Perkataan Angel terpotong ketika suara bel rumah kembali terdengar. Daniel berdiri dan membukakan pintu.


"Ada apa anda kemari?" Tanya Daniel sedikit ketus melihat keberadaan William.


"Dimana Angel?"


"Apa urusan anda mencarinya?" William menghela nafas panjang melihat posesifnya Daniel. Tentu saja William tau tentang kedekatan mereka selain dari informasi yang ia dapatkan berita gosip juga selalu meliput kedekatan mereka.


'Pasangan yang sensasional' Guam William didalam hati.


Angel merasa aneh, Daniel sangat lama untuk membukakan pintu. Ia bertanya tanya siapa yang datang kerumahnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk melihatnya sendiri.


"Sir."


"Angel kenapa kau kesini?"


"Aku hanya mau lihat siapa yang datang. Kenapa kau tidak mempersilahkan Mr. William masuk?"


Daniel menggerutu didalam hati. Disuasana yang seharusnya romantis tidak mungkin ia memasukan anjing gila kedalam rumah ini dan mengganggu kemesraan mereka.


"Tidak, Angel kau perlu istirahat. Jadi, tidak boleh ada banyak orang dirumahmu"


"Apa dengan adanya kau Angel bisa beristirahat dengan tenang?" Sela William di tengah perdebatan dua anak remaja itu.


"Setidaknya dia tidak lebih terganggu dengan kehadiran lebih banyak orang"


"Sudahlah Daniel... Mr. William silahkan masuk"


William menggeleng ia menolak tawaran Angel. Daniel semakin kesal dengan tujuan yang tidak jelas manusia yang satu ini.


"Lalu untuk apa anda datang kesini kalau tidak mau masuk?"


"Saya mau mengajak Angel keluar" Daniel membelalakan matanya


"Orang gila bodoh macam apa yang mau mengajak orang sakit keluar rumah" guam Daniel dengan suara rendah tapi mereka masih bisa mendengarnya terutama William yang kesal dengan ketidak sopanan siswa yang satu ini.


Daniel memberi isyarat tatapan kearah Angel agar menolak ajakan guru itu.


Angel memahaminya. Ia menghela nafas panjang lalu menatap William.


"Maaf sir, saya sedang tidak enak badan. Apakah ada sesuatu yang penting yang harus saya lakukan?"


"Sebenarnya tidak ada. Tapi saya yakin kau pasti akan merasa lebih baik jika melihatnya"


William menunggu jawaban Angel. Angel berpikir keras apa yang harus ia lakukan.


"Ini tidak akan lama, kau boleh memintaku mengantarmu pulang jika memang kamu tidak merasa nyaman"


Daniel memasang wajah cemberut. Ia tidak ingin Angel menerima tawaran itu.


"Baiklah sir, saya akan ikut"


____