My Teacher

My Teacher
MT part 41



Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Rasanya rindu dengan suasana sekolah yang riuh saat berdesakan di kantin, rindu suasana saat jam kosong, dan masih banyak lagi. Terutama rindu dengan guru-guru yang mengajar.


Sedari subuh tadi, Nessa sudah disibukkan dengan aktivitasnya merapikan barang-barangnya. Mulai dari buku, hingga seragam sekolah.


"Dek, nanti berangkatnya mau bareng?" tawar Endi saat Nessa baru saja selesai menyetrika pakaian.


"Enggak deh, sendiri-sendiri aja. Takut nanti ketauan." balas Nessa sambil mencabut colokan setrika.


Endi pun tidak mempermasalahkannya, karena memang sepertinya pernikahan mereka akan disembunyikan dari publik terlebih dahulu guna memberikan kenyamanan dalam hubungan mereka.


"Bareng Vella?"


"Kayaknya sih, nanti Nessa suruh Vella buat jemput."


"Ya udah, pokoknya nanti hati-hati. Sekolahnya yang giat."


"Iya, iya. Kalau gitu Nessa duluan yang mandi."


Gadis itu bergerak cepat menyambar handuk yang tergantung rapi di gantungan samping lemari. Lalu tidak lupa membawa baju seragamnya juga.


"Dek, gak mau bareng? Hemat waktu loh." seru Endi bercanda.


"Mohhhhh!!!" teriak gadis itu dari dalam kamar mandi. Sedangkan Endi yang berada di luar langsung tertawa ngakak.


Selang beberapa menit, Nessa sudah keluar dengan memakai seragam putih abu. Gadis itu kembali meletakkan handuknya di gantungan, dan menyambar handuk yang tergantung di sampingnya.


"Nessa udah selesai, sana gantian." suruh Nessa sambil menyodorkan handuk di tangannya.


Dengan senang hati Endi mengambil handuk dari tangan istrinya sambil mengucapkan terima kasih.


"Makasih, Dek."


Cup


"Hmmmm..." Nessa hanya bergumam saat pria itu mendaratkan bibirnya tepat di keningnya.


Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Nessa pun menyiapkan seragamnya yang sebelumnya sudah sempat ia setrika. Gadis itu menaruh pelan seragam khas guru yang berwarna coklat terang itu di atas kasur.


Nessa sempat heran saat meneliti seragam itu yang sedikit kebesaran dari postur tubuh suaminya. Namun, setelah mengingat penampilan pria ith akhirnya Nessa mengerti dan nanti akan menanyakan perihal tersebut.


"Gak lupa kan sama janji Mas waktu lalu?" seru Nessa yang saat itu membantu Endi mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Posisinya saat ini Endi duduk di sisi kasur membelakangi Nessa, sementara gadis itu berdiri sambil menggosok rambu suaminya dengan handuk.


Endi sempat terdiam sambil mengangguk pelan. Pria itu tidak lupa dengan janjinya waktu lalu sebelum mereka menikah. Masih ingat dengan malam itu saat Endi mengantarkan Nessa pulang? Ya, obrolan mereka di dalam mobil. Pria itu mengatakan apa alasannya berpenampilan yang kurang enak dipandang setelah hubungan mereka sudah halal. Dan sekarang waktunya Nessa menagih janji itu.


Pria itu membalikkan tubuhnya dan reflek membuat Nessa menghentikan pergerakan tangannya.


"Jangan sekarang ya? Nanti kalau Mas cerita waktunya bakalan mepet belum lagi mau berangkat ke sekolah."


Nessa menganggukkan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan pria itu. Waktu juga sudah menunjukkan pukul enam pagi lebih 5 menit. Belum lagi mereka harus sarapan.


Ngomong-ngomong soal rumah. Rencananya mereka akan pindah rumah sekitar dua minggu lagi. Setelah beberapa hari yang lalu, Nessa sempat mensurvey bagaimana kondisi rumah tersebut. Setelah dirasa pas dan lingkungannya juga bagus, Nessa pun menyetujui. Selama seminggu itu, rumah mereka akan dibenahi terlebih dahulu. Banyak barang-barang yang harus mereka beli. Perlahan-lahan saja, dimulai dari hal yang terkecil.


Tampak Nessa sudah rapi, begitu juga dengan Endi. Keduanya berdiri berdampingan di depan cermin sambil merapikan penampilannya.


"Kacamatanya bisa dilepas gak?" ujar Nessa melihat Endi dari pantulan cermin. Penampilan pria itu sudah kembali ke asalnya.


Sontak pria itu menghadap istrinya. "Jelek ya?" tanya Endi membuat Nessa mengangguk tanpa ragu. Pria itu hanya terkekeh saat melihat kejujuran dari istrinya.


Saat Nessa menghadapnya, tangan kekar itu terulur untuk membetulkan jilbab Nessa yang sedikit mleyot. Lalu tangannya turun ke bawah dan memegang kedua bahu Nessa.


"Janji?" ulang Nessa.


Endi mengangguk yakin.


"Oh ya, cincinnya disimpan aja ya? Supaya aman." saran Endi.


"Ummm... boleh. Bentar, Nessa simpan dulu di kotaknya." baru saja akan beranjak, tapi, tangannya sudah ditahan terlebih dahulu.


"Mas aja. Sini cincinnya."


Nessa hanya mengangguk lalu menyerahkan cincin itu.


Setelah menyimpannya di tempat yang aman, Endi kembali mendekati istrinya.


"Gak dilepas juga?" tanya Nessa menyadari bahwa Endi tidak ikut melepas cincin di jari manisnya.


"Enggak, biarin aja." jawab Endi lalu menarik pelan tangan Nessa, menuntunnya keluar kamar.


Setiba di bawah, keduanya langsung menuju meja makan. Ternyata di sana sudah ada Mami dan Papinya menunggu kedatangan mereka.


"Sarapan dulu, Sayang." ujar Mami Hana menyerahkan wadah nasi goreng pada Nessa.


"Makasih, Mi." jawab gadis itu. Biasanya ia yang selalu dilayani oleh Mami nya, kini berbanding terbalik. Sekarang dirinya lah yang melayani, melayani suaminya.


"Udah, cukup." ucap Endi pelan saat Nessa menyendokkan nasi goreng ke dalam piringnya. Nessa hanya mengangguk, ia pun mulai mengisi piring kosongnya dengan sarapan.


"Kalian gak barengan?" tanya Papi Ibra.


"Enggak, Pi. Nessa berangkat dengan Vella aja, tadi juga udah dikabarin." sahut Nessa menjawab.


🌼🌼🌼


Saat ini mereka berdua sudah berada di kelasnya. Nessa berangkat bersama Vella setelah sesaat Endi berangkat. Jadi, Endi berangkat terlebih dahulu sementara Nessa dan Vella menyusul.


Senin yang biasanya upacara bendera, kini ditunda dikarenakan baru saja masuk sekolah setelah libur panjang.


Kelas menjadi riuh dengan suara masing-masing. Mereka tampak menceritakan pengalamannya saat liburan, entah itu liburan bersama keluarga maupun teman.


Begitu juga dengan kedua siswi itu. Tampak Vella bercerita panjang lebar, menanyai Nessa dengan pertanyaan yang beruntun. Pernyataannya sungguh membuat Nessa ingin sekali menggetok kepala sahabatnya. Bagaimana tidak, otak Vella yang biasa bersih dari hal yang kotor eh sekarang malah membicarakan hal yang kotor. Walaupun perkataannya mengandung makna tersirat.


"Keponakan gue kapan launching?" celetuk Vella.


Nessa yang mendengarnya tidak tahan untuk menoyor kepala sahabatnya.


"Kasar banget sih jadi temen." keluh Vella sambil mengusap kepala bagian kanannya.


"Makanya jangan bahas gituan. Belum kepikiran lah, lulus sekolah aja belum. Fokus nih fokus, udah semester 2 , jadi, harus serius belajar."


Kalau boleh jujur. Nessa tidak ada sama sekali pemikiran seperti itu. Menjadi istri diusianya yang sekarang saja rasanya seperti mimpi. Apalagi sampai memikirkan tentang anak segala macam.


Seketika pikirannya melayang saat mengingat mimpinya waktu lalu. Nessa meringis saat mengingat saat-saat itu. Bahkan, sakitnya melahirkan pun seperti nyata. Nessa menggelengkan kepalanya guna mengusir pikirannya itu.


"Hehe, iya juga ya. Kalau udah jadi, ntar kabarin ya?"


"Dikira buat kue!" sungut Nessa.