
Nessa dan Tiara kompak berjalan menyusuri halaman sebuah rumah megah. Bangunan tingkat dua itu menjulang tinggi ke atas. Banyak penjaga yang menjaga rumah itu, terutama di bagian gerbang depan. Untungnya mereka semua sudah mengenali wajah Nessa.
"Ini beneran rumah mertua kamu, Nes?" tanya Tiara takjub bahkan dirinya sampai melongo sejenak. Nessa hanya membalasnya dengan sebuah anggukan pelan.
"Gila sih." gumam Tiara yang sampai saat ini masih belum percaya. Jika dilihat-lihat penampilan Nessa sangatlah sederhana. Namun, ternyata ada rahasia di balik kesederhanaannya itu. Dan Tiara kagum. Sangat sangat kagum.
"Assalamu'alaikum." ucap Nessa dan Tiara kompak. Tidak lama pintu utamanya terbuka. Menampakkan seorang wanita yang seumuran dengan maminya keluar dengan penampilan ala ibu rumah tangga tidak lupa dengan jilbab instannya.
"Wa'alaikumsalam. Eh, masuk-masuk. Bunda kira masih lama, soalnya masih masak di dapur." Bunda Dita menyambutnya dengan cepika-cepiki. Tidak luma Nessa menyalami mertuanya.
"Iya, Bun. Oh ya, ini temen Nessa. Hehe, Nessa ajakin ke sini, gak apa-apa kan, Bun?" Nessa menyengir saat memperkenalkan Tiara kepada mertuanya.
"Enggak kok. Malahan Bunda senang, rumah jadinya gak terlalu sepi."
Keduanya masuk bersamaan, sementara Tiara mengekori dari belakang. Dirinya masih malu dan canggung. Biar bagaimanapun ini adalah kali pertama dirinya diajak ke rumah orang asing.
Mereka dibawa ke ruang tamu. "Bunda ke dapur dulu bentar ya? Nanti ada bibik yang anterin minuman dan cemilan ke sini. Santai-santai aja." ujar Bunda Dita harus pamit ke dapur karena tadi dia sempat meninggalkan masakannya.
"Oke, Bunda." jawab Nessa sambil mengunjukkan jari jempolnya. Kini tinggallah mereka berdua duduk di ruang tamu itu. Sejenak mereka terdiam, lebih tepatnya Tiara yang asik melihat-lihat sudut ruang tamu itu.
"Gede banget, Nes." ucap Tiara takjub.
Nessa hanya tersenyum membalas, dirinya tidak tahu harus menjawab apa. Saat mereka terdiam, tiba-tiba ada pelayan datang sambil membawakan minuman dan cemilan untuk mereka.
"Silahkan dimakan, Nona." ucap pelayan yang hampir sama dengan Mbok Jum di rumah maminya.
"Iya, Bik. Makasih."
"Iya, Non. Kalau gitu Bibik ke belakang dulu ya.".
" Silahkan, Bik." balas Nessa mempersilahkan.
"Minum, Ra." sahut Nessa menyodorkan gelas ke hadapan Tiara. Temannya itu hanya bisa menyengir karena merasa dirinya sangat kampungan. Tiara menerima itu dan mulai menyeruputnya pelan.
"Cucu kakek akhirnya datang juga." sontak Nessa meletakkan gelasnya ke atas meja. Mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Seketika senyum di bibirnya tercetak jelas saat melihat pria tua yang duduk di kursi roda didorong pelan oleh pelayan.
Perlahan kakek dari suaminya itu bergerak mendekat dibantu oleh pelayan. Saat sudah sampai di dekat Nessa, kakeknya meminta pelayat itu untuk meninggalkannya. Nessa segera mendekat, menyapa kakek Dharsono sebagai kepala keluarga di rumah itu.
"Kakek apa kabar?" tanya Nessa mencium punggung tangan kakek Dharsono. Reflek tangan kakek Dharsono mengusap kepala Nessa yang terbalut jilbabnya.
"Alhamdulillah, kakek sehat hari ini. Kamu bagaimana kabarnya?" Nessa mendongakkan wajahnya karena saat ini dirinya duduk bersimpuh di lantai sementara kakek Dharsono duduk di kursi roda.
"Alhamdulillah, Nessa sehat, Kek. Oh iya, Nessa ke sini bawa temen Nessa, Kek. Kenalin, namanya Tiara. Tiara, kenalin ini namanya kakek Dharsono." merasa namanya terpanggil, Tiara segera mendekat. Sebenarnya dirinya masih bingung mau melakukan apa. Mumpung Nessa sudah mengenalkan, ya apa salahnya?
"Halo, Kakek. Saya Tiara, teman Nessa. Salam kenal ya, Kek." Tiara mengikuti jejak Nessa yang mengalami tangan kakek Dharsono.
"Haha, iya, iya. Salam kenal ya, jangan sungkan. Anggap saja kakek sendiri, sama seperti Nessa. Kalian ke sini hanya berdua?" tanya kakek Dharsono.
"Iya, Kek. Ke sini juga mendadak, buru-buru ngabarin Bunda tadi." sahut Nessa menjawab.
"Sering-sering main ke sini, jenguk kakek. Kakek gak ada teman ngobrol. Hanya ada Bunda kamu saja. Oh ya, Kakek mau tanya, boleh?" pernyataan itu tertuju kepada Nessa, bukan Tiara.
Nessa sudah was-was. Takut kalau dirinya ada salah. "B-boleh. Kakek mau tanya apa?" tanya Nessa gugup seketika.
"Kamu sudah isi?"
Nessa bingung mau menjawab apa. Dirinya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melirik Tiara yang juga meliriknya. "E-ehhh... mungkin belum rezeki, Kek. Sabar ya, Kek. Nanti Nessa usahain sama Mas Rey."
Sebenarnya kakek Dharsono hanya bertanya saja, tidak bermaksud untuk menekan dan memaksa Nessa untuk segera hamil. "Enggak apa-apa. Kakek hanya bertanya saja." walau dihati kecilnya sangat menantikan kehadiran cicit pertamanya, namun, kakek Dharsono masih berpikir secara logika. Nessa masih muda, mungkin masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama.
Nessa tersenyum canggung. Pertanyaan itu seakan-akan menjadi pikiran untuknya. Segera dia menggelengkan kepala, menepis pikirannya.
"Kakek udah makan siang?" Nessa berusaha mencairkan suasana.
"Sudah. Kamu dan temanmu sudah?" Nessa menggelengkan kepalanya. Memang tadi dirinya hanya sempat sarapan pagi di rumah.
"Kalau gitu kalian pergi ke dapur saja sekarang. Mungkin Bunda kamu sudah menyiapkan makanan di sana." Nessa menganggukkan kepalanya. Dirinya menatap Tiara yang sedari tadi diam. Mungkin masih malu, pikirnya.
Rupanya saat itu juga Bunda Dita datang memanggil mereka untuk segera datang ke ruang makan. Nessa mengangguk dan mengajak Tiara untuk ikut makan siang. Tidak lupa dirinya membawa kakek Dharsono dengan cara mendorong kursi rodanya. Awalnya kakek Dharsono menolak untuk ikut karena dia sudah makan siang. Namun, berkat bujukan dari Nessa akhirnya kakek Dharsono mau ikut bersama mereka. Tapi, hanya sebentar saja karena kakek Dharsono lebih memilih untuk pergi ke ruang tamu untuk menonton televisi. Ya, daripada mengganggu acara makan siang cucu menantunya.
Tiara duduk dengan canggung di kursi samping tempat Nessa duduk. Pertemuan pertama sudah diajak makan siang bersama? Rasanya tidak enak hati. Seakan ada yang mengganjal di hatinya. Dan Nessa menyadari akan hal itu.
Nessa mendekatkan sedikit tubuhnya. "Jangan malu-malu, Ra. Anggap aja rumah sendiri." bisik Nessa pelan.
Tiara hanya mampu mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Ayo! Silahkan dimakan, Sayang. Kamu juga, siapa namanya?" tanya Bunda Dita kepada Tiara. Karena saat pertama tadi Bunda Dita belum sempat bertanya dan bercengkrama.
"Tiara, Tante." jawab Tiara.
"Nah, Tiara. Jangan malu-malu. Anggap saja di rumah sendiri. Nessa adalah menantu Tante, kamu sebagai temannya juga otomatis menjadi menantu tante." ceplos Bunda Dita tanpa sadar.
Tiara sontak memandang Nessa yang saat itu tidak melihatnya. Apakah hanya telinganya saja yang salah dengar. Saat sedang memikirkan hal itu, dirinya dibuat terkejut karena piring kosongnya diambil dan diisi oleh Bunda Dita.
"Makan yang banyak supaya cepat besar." Bunda Dita mengambil lauk pauk dan menaruhnya di atas piring Nessa.
"Makasih, Bun. Bunda juga makan yang banyak biar kenyang." ujar Nessa disertai kekehan diakhir kalimatnya.
"Bunda lagi diet. Hihihii." mertuanya itu cekikikan sendiri. Tanpa sadar Nessa tergelak mendengar perkataan mertuanya barusan. Diet? Nessa tidak salah sedang kan?
"Ah, Bunda cuma becanda, Sayang. Ayo, makan. Semoga makanannya cocok dengan selera kalian."
Nessa dan Tiara hanya mengangguk.
Nessa memandang piring yang sudah penuh oleh lauk pauk di hadapannya dengan tatapan lapar. Tidak biasanya dirinya sangat berselera saat melihat tumis capcay seafood, ayam masak kecap, dan tumis kangkung. Rupanya menu tumis kangkung tidak pernah tinggal, dan Nessa baru sadar kalau suaminya kan juga suka dengan tumis kangkung. Pantas saja.
Wanita itu menikmati makanan masakan mertuanya. Sangat pas di lidahnya yang membuat naf*su makannya bertambah. Namun, setelah beberapa suapan dan saat Nessa akan mencicipi tumis capcay itu tiba-tiba dirinya merasa mual. Padahal awalnya tadi dia tidak merasakan apapun, malahan seperti tidak sabaran untuk mencicipi tumis capcay seafood itu.
Nessa langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju wastafel. Makanan yang sudah masuk ke perutnya otomatis keluar.
"Huekkkkk... huekkkkk..."
.
.
.
tebak aja itu ada apaš¤£yg paham pasti langsung tau. Oke, konflik ringan ya. Cuman tambahin bumbu masako aja dikit nanti. Bentar lagi kokš¤