My Teacher

My Teacher
MT part 36



Apakah kalimat itu dinamakan dengan ungkapan cinta? Tidak, tidak!


Endi mengatakannya dengan mengumpulkan keberanian.


Nessa memandang Endi lekat sambil menyelami bola mata hitam pekat itu. Nessa bisa melihat kejujuran dan keseriusan yang tersirat lewat bola matanya.


Jarak mereka lumayan jauh. Nessa duduk di atas kasur sementara Endi duduk di atas sofa yang berdekatan dengan balkon.


"Nessa?"


"Ah ya, Pak?" gadis itu tersentak.


"Kamu dengar apa yang saya bicarakan?" tanya Endi.


Nessa hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata.


Alis Endi terangkat sebelah sambil memandangi Nessa lekat.


"Nessa bersedia. Apa Bapak bisa membimbing Nessa ke jalan-Nya?" ujar gadis itu setelah sekian lama terdiam.


Endi tidak menjawab, melainkan beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kasur sebelah kiri yang kosong.


Saat Endi mendekat, Nessa langsung terserang gugup. Ketahuilah, gadis itu saat ini tengah gugup, jantungnya berdetak 10 kali lipat, seperti orang baru selesai maraton. Tanpa mengucapkan kata, ia langsung berlari ke arah kamar mandi. Selain untuk menenangkan detak jantungnya, Nessa juga ingin membersihkan diri sekaligus, seperti mencuci kaki, menggosok gigi, sekaligus mengambil wudhu.


Endi yang merasa ditinggalkan hanya tersenyum kilas dan mulai menaiki kasur. Sambil menunggu kedatangan istrinya, pria itu lebih memilih mengamati isi kamar Nessa karena sebelumnya ia hanya melihat sekilas saja. Kamar rapi bernuansa terang dengan langit bercorak ala awan putih.


Nessa yang sudah mulai tenang dan selesai membersihkan dirinya langsung keluar dari kamar mandi. Ia berdiri mematung di depan kamar mandi saat melihat Endi yang sudah menempati tempatnya.


Merasa Nessa sudah keluar, pria itu melirik sambil tangannya menepuk pelan kasur yang kosong di sebelahnya.


Langkah kaki Nessa ragu, perlahan ia mendekat dan mulai mengisi kasur yang kosong di sisi Endi. Posisi Nessa berada di pinggiran hingga membuat jarak di tengah-tengah mereka yang kalau diisi dua orang lagi pasti muat.


"Sini!"


Nessa melirik, menatap Endi yang mengkodenya untuk bergeser. Bantal guling yang awalnya berada di tengah-tengah, kini entah hilang ke mana. Nessa tidak tau itu.


Tiba-tiba pria itu menangkap tangan Nessa dan menggenggamnya. Hal itu langsung membuat Nessa seakan-akan tersetrum listrik ribuan volt. Jantung berdetak cepat seiring dengannya yang menatap bola mata hitam itu.


"Tangan ini adalah tangan yang akan selalu saya genggam di kondisi apapun."


Nessa terdiam, terharu sekaligus.


"Tangan ini adalah tangan yang akan selalu memberi saya kelembutan dan kedamaian."


"Sejak saat pertama bertemu. Saya memang sudah mengagumi kamu. Gadis sederhana dan kebaikan hatinya. Disaat semua orang mencaci saya, kamu adalah orang pertama yang melihat saya."


"Dan saya juga yang sudah meminta kedua orang kita untuk mempercepat pernikahan ini. Kamu tau?"


Bila mata Nessa membesar, ia berusaha menarik tangan Endi yang terus menggenggam tangannya. Gadis itu kecewa, impian dan waktu mudanya tidak bisa seperti anak muda lainnya. Waktu Nessa terbatas.


"Maaf, saya hanya takut. Kedekatan kita tanpa adanya status halal akan menimbulkan fitnah dan maksiat."


"Tolong jangan benci orang tua kita. Kamu boleh membenci saya. Saya tidak ingin mengulur waktu, lebih cepat lebih baik supaya tidak menimbulkan maksiat atas bisikan setan."


"Izinkan saya menempati hati kamu, Nessa."


Nessa sedikit luluh. Biar bagaimanapun juga apa yang dikatakan Endi ada benarnya.


Nessa adalah gadis paling beruntung di dunia ini. Dicintai oleh laki-laki yang kini menjadi suaminya sungguh adalah anugerah terindah.


"Saya tau kalau gaya bicara saya terlalu formal karena mungkin sudah terbiasa. Jadi, mulai sekarang saya akan belajar merubah itu semua supaya kamu nyaman jika berdekatan dengan saya."


"Ajari saya menjadi suami yang baik untuk kamu. Ana uhibbuka fillah."


Mata Nessa sudah berkaca-kaca saat mendengar perkataan Endi dari awal hingga akhir. Begitu sederhana dan mampu membuat hatinya tersentuh.


"Jangan menangis, tangismu adalah duka di hidup saya."


Saat itu juga air mata Nessa langsung bercucuran dengan posisi kepala menunduk.


Endi yang menyadari itu segera melepas genggaman tangannya dan mulai mengangkat wajah Nessa menggunakan tangan kirinya. Dapat Endi lihat air mata yang mengalir di pipi istrinya. Bukan air mata kesedihan, namun, air mata terharu.


"Nessa akan berusaha jadi istri yang baik buat Bapak." jawab Nessa dengan suara seraknya.


Endi menggelengkan kepalanya. "Bapak? Saya bukan Bapak kamu apalagi guru kamu. Ini di rumah, dan sekarang saya adalah suami kamu. Ingat itu!"


Nessa menatap wajah Endi dengan tatapan bingung. "Trus Nessa panggil apa?"


"Apa aja, asal jangan Bapak. Saya belum setua itu."


"Bapak kan emang tua. Umur aja udah 26, sedangkan Nessa 18 tahun aja belum." balas Nessa dengan kejujurannya.


Pria itu hanya menggaruk alisnya yang tidak gatal. Sungguh jujur. Batinnya.


"Abang? Aa? Kakak? Mas? Kang bakso kali ya." Nessa sedikit terkekeh.


Endi terdiam sesaat, seperti berpikir. "Itu lebih baik. Saya suka dengarnya, coba ulangi!" pinta pria itu.


"Aa?"


"Bukan."


"Abang?"


"Mas?"


Endi baru mengangguk dengan senyumannya.


"M-mas?"


"Iya, Dek?"


Jantung Nessa seperti maraton. Ia malu. Malu, malu, dan malu. Mas? Panggilan baru? Baiklah nanti akan dicoba. Lagi pula apa salahnya?


Wajah Nessa sudah merona karena menahan malu. Namun, biar bagaimanapun ia menutupinya, tapi tetap saja tidak bisa karena wajahnya terpampang jelas.


"Pak."


"Mmmmm!" Endi berhedem sembari menggelengkan kepala supaya Nessa sadar.


"Maaf. Bilang'aku, gitu!" titah Nessa.


"A-ku." jawab Endi dengan gagap.


"Aku!" ujar Nessa lagi.


"A-aku."


"Aku!"


"Aku." kini percobaan yang ketiga baru Endi merasa berhasil. Namun, tetap saja lidahnya terasa keseleo.


Nessa tersenyum.


Keduanya terdiam sesaat sambil menatap, lalu terkekeh bersamaan. Hanya hal sederhana tersebut bisa membuat mereka bahagia.


Keduanya mengobrol hingga larut malam. Endi yang sadar, segera menghentikan obrolan mereka.


"Udah larut, tidur ya? Besok bisa dilanjut lagi."


Nessa mengangguk. Ia menarik selimut tebal itu yang berada di ujung kakinya. Begitu juga dengan Endi, karena mereka memakai satu selimut yang sama. Tanpa adanya penghalang yaitu keberadaan guling di tengah-tengahnya.


Pria itu bangkit dari tidurnya lalu mendekatkan dirinya pada Nessa. Tiba-tiba pria itu mendaratkan satu kecupan di kening Nessa hinga membuat gadis itu reflek memejamkan kedua matanya.


Biar bagaimanapun juga hal sederhana itu harus Endi terapkan. Melakukan hal sederhana yang terbilang romantis sangat dianjurkan.


Amal ibadah. Seperti Rasulullah yang selalu berlaku romantis kepada istri-istrinya.


Malam pertama mereka, mereka habiskan dengan saling bertukar cerita. Berkomunikasi, mengikis jarak di antara mereka. Masih ada hari esok yang bisa lebih baik lagi.