
Malam yang seharusnya mereka lewati dengan begitu syahdu malah berganti dengan suara dengkuran halus dari keduanya. Mereka memilih untuk langsung tidur dan istirahat karena seharian ini tenaga mereka sudah terkuras habis dengan berdiri selama berjam-jam lamanya di atas pelaminan sambil menyambung tamu undangan. Akhirnya sehari penuh dengan kesibukan itu mereka lewati. Bersama-sama keduanya suasuaah siap mengarungi rumah tangga yang sesungguhnya terlepas dari Nessa yang sudah lulus sekolah.
Dua hari berlalu dengan dipenuhi segala pembersihan. Selama dua hari itu sepasang suami-istri itu disibukkan dengan pembehanan rumah mereka yang sebelumnya sempat berantakan akibat acara resepsinya. Ya walaupun ada petugas kebersihan yang dikirim Maminya untuk membantu membersihkan rumah mereka. Tapi, kalau orang yang mengerjakan rasanya kurang afdol.
Hari ini Nessa sudah meminta izin kepada suaminya untuk menemani sahabatnya berbelanja. Ya, tidak terasa besok adalah hari keberangkatan Vella menuju London.
Keduanya menghabiskan waktu seharian sebagai pengisi charger agar nantinya rindu mereka akan sedikit berkurang.
Seperti memborong, Nessa memasukkan kotak susu bubuk ke dalam keranjang trolli. Sementara Vella hanya bisa menghela nafas panjang.
"Nes, ini mah kebanyakan kali. Gue kalo minumnya tuh palingan habis dua kotak sebulan." tutur Vella sudah berulang kali. Dan balasan dari Nessa tetaplah sama.
"Biarin. Buat stok di sana, Vel. Lo kan suka susu stroberi, biar nanti kalau habis tinggal lo beli di sana. Tapi, gue pikir rasanya pasti beda produk made in Indonesia dengan produk made in London." terang Nessa yang sudah seperti emak-emak. Bahkan melebihi Mama Vella.
"Habis apaan? Ini bahkan kalo dihitung bisa buat satu tahun." batin Vella hanya pasrah. Bahkan nantinya dia pun pasrah saat barang bawaannya kebanyakan susu bubuk yang dihadiahi oleh sahabatnya. Walaupun Vella sudah beranjak dewasa, tapi, dirinya itu sangatlah suka minuman susu stroberi.
"Hmmmm... kita beli apa lagi ya?" tanya Nessa setengah bergumam.
"Udahan aja kali, Nes. Udah banyak juga nih. Nanti di rumah tinggal packing-packing aja." sahut Vella.
"Beneran gak ada yang pengen dibeli lagi?" tanya Nessa mendapat balasan anggukan kepala oleh Vella.
"Yaudah, kita bayar dulu." nyatanya yang membayar semua belanjaan Vella adalah Nessa. Sahabatnya itu bahkan memaksa, katanya sebagai hadiah.
Karena belanjaan mereka terlalu banyak, mereka pun meminta kepada salah satu karyawan di toko tersebut untuk mengantarkan belanjaan mereka sesuai alamat.
Tidak langsung pulang, mereka pun berencana untuk menonton film di bioskop. Entah kebetulan ataukah apa, film yang mereka tonton menceritakan sebuah hubungan persahabatan yang begitu erat. Namun, salah satu dari keduanya harus pergi ke tempat yang jauh. Setelah belasan tahun terpisah, akhirnya keduanya dipertemukan saat setelah melakukan ibadah sholat idul fitri di salah satu mesjid terbesar. Setelah belasan tahun komunikasi yang mereka jalani sempat putus, tapi, setelah belasan tahun menanti akhirnya mereka dipertemukan.
Akibat dari menonton film itu, Nessa bahkan sempat menangis tersedu-sedu, sedangkan Vella juga sama menitikkan air mata namun tidak separah Nessa. Ruangan bioskop itu dipenuhi oleh suara isak tangis, ya yang menangis pastilah perempuan. Karena yang menonton pun didominasi oleh perempuan.
"Jangan nangis lagi dong, Nes. Gue jadi berat tau mau ninggalin lo." tegur Vella menghibur Nessa.
"Hiksss... hiksss... gue hanya takut kalo komunikasi kita sampai putus. Mana itu di filmnya sampai belasan tahun. Sedih tau, Vel." Nessa mengambil tisu yang sempat Vella berikan kepadanya dan langsung menghapus air mata serta sedikit ingusnya yang sempat meler.
"Ihhhh! Jorok banget!" Vella sampai bergidik. Karena baru kali ini dia melihat Nessa secara terang-terangan membuang ingus di depannya.
Nessa sempat tertawa karena melihat ekspresi Vella. Dengan jahilnya dirinya menyodorkan tisu bekas ingusnya tadi. Vella yang geli akhirnya memilih melarikan diri. Dan Nessa hanya tertawa ngakak. Saat itu keduanya sudah berada di area parkir, jadilah Nessa berlari mengejar Vella dengan jarak mereka yang sedikit jauh.
🌼🌼🌼
"Dek, ayo berangkat sekarang. Katanya Vella bentar lagi mau berangkat." seru Endi sempat menyusul istrinya yang masih berada di kamar.
"Udah." belum sempat membuka pintu kamar, Nessa bahkan sudah muncul di balik pintu.
"Ngapain, hm?" tanya Endi, tangannya terangkat untuk membelai lembut kepala Nessa sebelah.
Gadis itu hanya menyengir, posisi tangannya berada di belakang membuat Endi sedikit heran. "Nggak pa-pa kok. Ayok, berangkat sekarang."
Kebingungan Endi pun hilang saat istrinya itu langsung menggandeng lengan. Ia sempat berpikir kalau istrinya tengah menyembunyikan sesuatu, tapi, nyatanya tidak ada.
Setelah sekitar empat puluh lima menit berkendara, akhirnya keduanya sampai di bandara soekarno-hatta. Melangkahkan kaki sedikit masuk ke dalam sambil membawa sebuah kado, mereka sudah melihat Vella tengah melambaikan tangannya ke arah keduanya. Rupanya sahabatnya itu sudah menunggu kedatangannya.
"Assalamu'alaikum."
"Maaf telat, ya, Vel."
Endi hanya membalasnya dengan senyuman tipis. "Nggak masalah. Semoga pendidikan kamu lancar di sana."
"Iya, Pak. Oh ya, Nes, kenalin ini sepupu gue yang sempat gue ceritain." Vella mengenalkan sepupunya. Sebenarnya kakak sepupu, karena umur mereka terpaut dua tahun.
"Dan buat Kakak, kenalin ini Nessa, dan di sampingnya itu suaminya."
"Nessa, Kak. Salam kenal."
"Viola, salam kenal juga." sambut sepupu Vella membalas jabatan tangan Nessa. Viola pun sempat melirik pria yang berdiri tegap di samping Nessa yang memiliki paras yang tampan. Ya, perempuan mana kalau tidak terpesona saat melihat laki-laki bening. Sepupu Vella itu sempat mengulurkan tangannya, berniat berjabatan tangan dengan Endi.
Sementara Endi yang melihatnya hanya menangkupkan kedua telapak tangannya dan menundukkan kepalanya sedikit. Viola pun langsung menarik kembali tangannya canggung.
Bagi yang mendengar Nessa dan Endi menikah mungkin terdengar aneh. Begitu juga dengan Viola. Bukannya Nessa itu baru saja lulus, dan statusnya saja sudah berubah menjadi seorang istri.
Karena masih ada sedikit waktu, mereka pun mengobrol. Kebetulan orang tua Vella juga turut hadir untuk mengantarkan putrinya ke bandara.
"Vel, ini kado buat lo. Semoga bermanfaat di sana." Nessa tampak menyodorkan sebuah kado berukuran sedang kepada Vella.
"Makasih, Nes. Kenapa lo repot banget sih."
"Nggak kok. Santai aja."
Keduanya tersenyum, mereka mengobrol banyak. Mulai dari Nessa yang kini memberikan semangat untuk sahabatnya.
Selama mengobrol dengan Papa Vella, pria yang berstatus suami dari Nessa itu sedikit risih saat dirinya ditatap terus oleh sepupu Vella. Bahkan pria itu sempat mengakhiri percakapannya dengan Papa Vella dan langsung berdiri tidak jauh dari istrinya.
Sedangkan Nessa yang melihat gelagat aneh dari suaminya langsung peka dan memanggil suaminya agar mendekat kepadanya.
Setelah melewati waktu sekitar setengah jam, akhirnya Vella pamit karena sebentar waktunya keberangkatan pesawat Jakarta-London, yang mungkin memakan waktu belasan jam.
Nessa dan Endi pun pamit, mereka berpisah dengan kedua orang tua Vella saat berada di parkiran.
"Mas, tadi risih kenapa?" tanya Nessa saat keduanya baru masuk ke dalam mobil.
"Nggak tau, Dek. Mungkin perasaan Mas aja kali. Sepupu Vella itu dari tadi liatin Mas mulu." adu Endi langsung mendapatkan senyuman dari Vella.
"Kok senyum sih, Dek?"
"Lahh, salah ya? Lagian Mas lucu tau."
"Kalau sepupu Vella itu suka sama Mas gimana?" sebenarnya Endi tidak ingin su'udzon. Namun, sudah kepalang tanggung mereka membicarakan hal itu.
"Ya biarin. Itu kan tak dia buat suka sama siapa. Lagian itu Mas juga udah punyaku. Ngapain aku takut kalau milikku mau diambil orang lain."
.
.
.
Hummm sambilan nunguin ini, mari mampir di karya emak tersayang. Gak janji bikin suka karna pendapat org lain beda-beda😇