
"Masak apa?" tanya Endi tiba-tiba muncul di dapur hingga mengagetkan Nessa yang saat itu tengah memotong wortel, beruntung pisau tidak mengenai jarinya.
"Astaghfirullah. Ngagetin aja!"
"Maaf." reflek Endi meminta maaf.
Saat ini hanya mereka bertiga saja di dalam rumah. Nessa, Endi, dan Mbok Jum. Karena Mami dan Papinya sudah berangkat ke kantor.
Sedangkan Mbok Jum saat ini tengah menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan juga karena tidak mau menganggu pasangan pengantin baru itu. Alhasil Nessa menjadi bosan, kalau libur dulu ia biasanya keluar jalan-jalan. Untuk sekarang rasanya tidak memungkinkan karena statusnya sudah berbeda. Gadis itu juga mendapat banyak nasehat dan masukan dari para orang tua.
"Nyobain masak sup ayam. Mas sukanya apa? Biar nanti Nessa coba masakin." tanya gadis itu sambil membalikkan badannya.
Endi terdiam sesaat. Tiba-tiba ia mencondongkan tubuhnya hingga saat ini wajah keduanya berjarak hanya beberapa centi saja. Hal itu membuat Nessa menahan nafasnya.
"Mas sukanya kamu, boleh?" bisik Endi tepat di telinga istrinya.
"H-hah??!" Nessa melongo dengan wajah seperti orang ling-lung. Wajahnya tiba-tiba memerah karena menyadari mereka sangat berdekatan.
Pria itu menegakkan tubuhnya normal sambil memasang wajah biasanya. "Bukan apa-apa."
Nessa yang saat itu masih mencerna sampai tidak sadar kalau Endi sudah tidak berada di depannya lagi. Lalu, ke mana pria itu?
Pria itu ternyata membuka kulkas dan meneliti bahan masakan. Saat sudah menemukan bahan yang ia cari, segera pria itu mengeluarkannya.
Nessa yang melihatnya bingung, apalagi pria itu berjalan ke arahnya sambil membawa seikat kangkung yang baru saja diambilnya.
Endi meletakkan kangkung itu di atas meja dapur, tepat di depan Nessa.
"Mas sukanya ini. Tumis kangkung kecap. Bisa?"
Nessa mengangguk tanpa aba. Gadis itu mengerti, suaminya ingin dimasakkan tumis kangkung kecap. Lagi pula, hal itu sangat simpel bukan? Hanya ditumis saja dan ditambahkan kecap manis.
"Kenapa masih di sini?" tanya Nessa karena pria itu belum beranjak sama sekali dari tempatnya.
"Kenapa? Cuma pengen liat aja." jawab Endi dengan santainya mengambil kursi dan meletakkan tepat di belakang Nessa dan duduk di sana.
"T-tunggu di depan aja." pinta Nessa karena merasa risih dan malu saat perkerjaannya dipantau, apalagi itu oleh suaminya sendiri.
"Hmm, ya udah deh." sahut Endi mengalah.
Setelah Endi menjauh, Nessa bernafas lega. Akhirnya ia bisa melakukan aktivitasnya tanpa harus dipantau. Memangnya siapa yang tidak malu dan risih saat sedang memasak saja terus dilihat disetiap pergerakannya.
Setelah berkutat sekitar setengah jam di dapur, akhirnya Nessa sudah menyelesaikan pekerjaannya. Bertepatan dengan Mbok Jum yang baru saja sampai di dapur sambil membawa barang belanjaan. Rupanya artnya itu baru saja berbelanja.
"Mbok, tolong salin ke wadah ya, trus simpan di meja makan." pinta Nessa sambil mencuci tangannya di wastafel.
"Siap, Non." jawab Mbok Jum dengan cekatan.
"Nessa ke kamar dulu ya, Mbok? Mau bersih-bersih dulu."
Nessa pamit ke kamarnya setelah Mbok Jum mengiyakan ucapannya.
Gadis itu langsung menuju kamarnya berniat untuk membersihkan dirinya karena merasa badannya lengket setelah berkutat di dapur.
Nessa pikir suaminya itu menunggunya di depan atau di ruang tengah. Dengan santainya gadis itu keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk sebatas paha yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Uhuk uhukk!!!"
Sontak Nessa mengalihkan pandangannya. Gadis itu melotot, menyadari bahwa yang berada di kamarnya itu bukan dirinya saja, melainkan ada Endi yang datang dari arah balkon. Pria itu tersedak minumannya saat melihat penampilan istrinya yang sungguh membuat dirinya gerah. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gelasnya.
Nessa, gadis itu langsung berlari masuk ke kamar mandi kembali tanpa membawa baju gantinya. Wajahnya jelas memerah lantaran malu. Bisa-bisanya ia keluar dari kamar mandi dengan santainya hanya memakai handuk sepaha. Dan itu dilihat oleh suaminya.
"Keluar dulu! Nessa mau ganti baju." teriak gadis itu memejamkan matanya erat.
Sedangkan Endi yang berada di luar berusaha mencerna, dan tanpa aba-aba keluar dari kamar saat mendengar teriakan istrinya yang menyuruhnya untuk keluar.
🌼🌼🌼
"Dek, Mas berangkat ke masjid dulu. Assalamu'alaikum!"
Setelah Endi pergi, Nessa menarik nafasnya panjang. Lega, ia merasa lega. Nessa tau perbuatannya tidaklah benar. Masa gara-gara kejadian tadi, ia bahkan menghindari suaminya. Jelas itu perbuatan yang salah.
"Non kenapa? Sakit?" tanya Mbok Jum mengagetkan Nessa yang saat itu menelungkupkan wajahnya di atas meja makan. Mereka akan makan siang nanti setelah Endi pulang dari jamaah di masjid.
Nessa mengangkat wajahnya dan menatap wajah Mbok Jum yang terlihat khawatir. Tanpa sadar gadis itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Enggak, Mbok. Nessa gak pa-pa."
"Ya sudah, kalau ada apa-apa tinggal bilang ke Mbok aja ya?"
Nessa mengangguk. Tiba-tiba terlintas satu pertanyaan di benaknya.
"Mbok." panggil Nessa.
"Iya, Non?"
"Nessa mau tanya boleh?" ucap gadis itu kemudian meminta Mbok Jum untuk duduk di sampingnya. Alhasil mau tidak mau Mbok Jum menuruti keinginan anak majikannya itu.
"Mau tanya apa, Non?"
Kalau sudah begini Nessa jadi ragu.
"Dulu saat Mbok menikah dengan suami Mbok itu gimana?" tanya Nessa.
Mbok Jum terdiam.
"Kalau nggak mau jawab juga gak pa-pa kok, Mbok." ujar Nessa.
"Ini pasti ada sangkut pautnya dengan Den Rey kan?" tebak Mbok Jum membuat Nessa mengangguk ragu.
"Den Rey jahat sama Non?" Nessa menggelengkan kepalanya.
"Dulu, Mbok menikah dengan suami Mbok itu memang saling cinta. Suami Mbok baik, pengertian, dan orangnya juga penyayang. Suami Mbok sakit selama 1 tahun, dia memang semangat dan berusaha untuk melawan penyakitnya. Tapi, Allah lebih sayang sama dia. Mbok ikhlas, karna memang semuanya udah jalannya."
Nessa mengangguk-angguk mendengar cerita Mbok Jum. Jujur, baru pertama kalinya Mbok Jum bercerita tentang suaminya. Dan Nessa pun baru tau. Mbok Jum bekerja di rumahnya sudah berusia 10 tahun. Jadi, diperkirakan Mbok Jum bekerja di rumahnya sudah 7 tahun.
"Lalu, apa yang membuat Non Nessa bertanya begitu?"
"Gak pa-pa, Mbok. Nessa cuma tanya aja. Mbok, apa Nessa bisa jadi istri yang baik?"
Tiba-tiba Nessa menjadi mellow. Mbok Jum mengelus pucuk kepalanya untuk memberi semangat.
"Pasti bisa. Non cinta sama Den Rey?"
Nessa menggelengkan kepalanya tidak tau. Jujur, ia juga belum mengerti apa itu cinta, karena memang selama ini Nessa belum pernah berpacaran. Dulu, Nessa memang pernah menyukai lawan jenisnya. Tapi, hanya sekedar menyukai dan mengagumi saja, tidak sampai melebihi batas.
"Nessa gak tau, Mbok."
Mbok Jum tersenyum. "Gak pa-pa. Seiring berjalannya waktu, maka rasa itu akan hadir. Yang penting Non ikhlas dan lapang dada menjalaninya."
"Tapi, Mbok. Jantung Nessa selalu gak aman."
"Non sakit?" tanya Mbok Jum terkejut.
"Ish! Bukan, Mbok."
Mbok Jum bernafas lega. Sesaat Mbok Jum pun tersadar akan kalimat Nessa. Biar bagaiamanapum juga, Mbok Jum pernah menikmati masa-masa muda.
"Itu dia. Mulai sekarang Non belajar mengontrolnya. Jangan terus-terus menghindar, nanti kasian Den Rey. Sebagai istri kita harus bisa memanjakan suami, ikuti perintahnya kalau itu masih di jalan yang benar."
"Assalamu'alaikum."
"Eh! Udah dulu ya, Mbok. Orangnya dateng, jaga rahasia ya, Mbok?" bisik Nessa pelan dan langsung beranjak dari tempatnya.
Sementara itu, Mbok Jum hanya tersenyum melihat tingkah Nessa. Mbok Jum salut karena Nessa mau belajar dan menerima takdirnya. Mbok Jum berdo'a semoga rumah tangga Nessa terhindar dari musibah yang besar.