My Teacher

My Teacher
Peter Anak William?



PETER



Angel berbaring bersama Erlyn di sampingnya, Erlyn sibuk mengotak atik laptopnya sedangkan Angel sibuk membaca bukunya.


"Jadi, apa Peter tidak menangis ketika kau pulang?" Angel menutup bukunya, ia kembali memutar kejadian beberapa jam yang lalu.


"Entahlah, aku pulang ketika ia masih tidur. Kau tau Erlyn, Peter terlihat begitu tampan dan lugu ketika ia tidur. Aku jadi tidak tega meninggalkannya"


"Semua anak kecil terlihat lugu ketika ia tertidur"


"Ku harap Peter tidak menangis karna aku tidak ada bersamanya."


"Tapi aku masih bingung kenapa Peter memanggilmu mommy"


"Entahlah, mungkin aku mirip dengan ibunya"


Disisi lain..


"HUAAA.... MOMMY.... MOMMY... AKU MAU MOMMY...." Peter menangis tersedu sedu karna tidak mendapati Angel ketika ia terbangun.


"Peter, tenanglah jangan menangis seperti ini" Kata William sambil menggendong Peter. Ia sangat lelah sudah hampir dua jam Peter menangis dan belum ada tanda tanda ia akan diam.


Pinggang William terasa nyeri karna menggendong Peter yang sudah sangat berat.


"Tidak aku mau mommy... HUAAAA MOMMY...."


William meringis ketika tangan Peter mencakar dan memukulinya, sesekali Peter menarik rambut William. Mora, pengasuh Peter hanya bisa berdiri sambil menunduk melihat Tuannya tengah berusaha menenangkan Peter.


Mora merasa kagum dengan William, meski Peter bukan anak kandungnya tapi William sangat menyayangi Peter. Terbukti ketika Peter menangis William akan selalu siap menenangkannya. Meskipun ketika Peter menangis pasti membutuhkan durasi yang lama belum lagi ia suka memukul mencakar dan menarik rambutnya ketika menangis. Tapi dengan kesabaran William yang tingkat dewa ia selalu berhasil menenangkan Peter.


"Daddy, aku mau mommy" lirih Peter di sela sela tangisannya.


"Baiklah, besok kita cari mommy ya... sekarang kau tidurlah" Peter menggeleng


"Aku mau sekarang!"


"Tidak bisa Peter, mommy sedang sakit sekarang. Apa kau mau membuat mommy tambah sakit?"


"Mommy sakit? Tapi tadi dia kan menjengukku"


"Itu karna kau merengek meminta mommy. Jadi sekarang tidurlah. Besok dad akan membawamu menemui mommy" Peter mengangguk. Ia turun dari gendongan William. William bernapas lega ia langsung duduk di sofa sambil meregangkan otot ototnya yang terasa nyeri.


"Dad..." Belum beberapa menit ia bahagia kini Peter kembali bertingkah. Anak itu naik di pangkuan William sambil menenggelamkan kepalanya di dada lebar William.


"Ada apa lagi? Bukankah tadi dad menyuruhmu tidur?"


"Aku mau ice krim. Sekarang"


"Ini sudah malam. Gigimu akan sakit jika kau memakan ice krim"


"Aku tidak mau tau! Aku mau ice krim"


Jika saja ia tidak mengaggap Peter sebagai anaknya ia mungkin sudah membuangnya sejak dulu. Tapi sayangnya ia sangat menyayangi anaknya itu. Ia tidak sanggup membuatnya kecewa.


"Baiklah dad akan menghubungi uncle Mark untuk membelikanmu ice krim"


Peter mengangguk lalu tidur di pangkuan William.


---


"Aku tidak mau tau pokoknya kau harus bisa mendapatkan informasi tentang anak itu!"


Ana menghela nafas panjang Daniel sangat keras kepala bila menyangkut tentang Angel.


"Saya sudah berusaha mencari informasinya tapi sepertinya seseorang telah menutup rapat identitas anak itu"


"Jadi kau tidak bisa mendapat informasi apapun tentang dia?"


"Saya hanya mendapat biodatanya. Saya tidak mendapat informasi lainnya"


Daniel menghela nafas panjang. Ia tau pasti William menutup rapat identitas anak itu. Entah apa alasannya ia melakukan itu tapi Daniel berharap ia bisa menemukan kebenaran tetang anak itu. Ia tidak sanggup mendengar Peter memanggil Angel dengan sebutan 'mommy'. Setidaknya ia harus tau siapa mommy dari Peter.


"Huh... menyusahkan sekali."


.....


Jam weker berdering Angel menggeliat sambil membuka matanya. Ia merasa lebih segar dari kemarin. Sepertinya ia sudah sehat sekarang.


Ia melihay kesisi ranjang, ia tidak mendapati Erlyn ia sudah tau pasti Erlyn sudah bangun lebih dulu dari pada dia untuk menyiapkan sarapan.


Angel melangkahkan kakinya kekamar mandi dan melakukan ritual mandi selama beberapa menit. Setelah itu ia mengenakan seragam dan turun untuk sarapan.


"Angel apa kau akan sekolah? Apa kau sudah merasa baikan?"


"Aku sudah baikan. Aku akan sekolah hari ini"


"Baiklah, kalau begitu cepat habiskan sarapanmu dan aku akan menyiapkan bekalmu"


Angel menghabiskan sarapannya bersama Erlyn, gadis itu sudah menyiapkan bekal untuk hari ini.


"Angel, apa menurutmu Peter itu adalah anak Mr. William?"


"Entahlah, jika dia bukan anaknya mungkin saja Mr. William mengadopsinya"


"Tapi kenapa? Kenapa dia mengadopsinya? Bukankah dia bisa menikah untuk mendapat anak?"


"Aku tidak tau Erlyn, aku merasa tidak enak jika menanyakan hal itu."


"Ah.. kau benar, ini sudah siang, ayo berangkat"


"Kau berangkatlah lebih dulu Erlyn, Mr. William tadi mengirim pesan dia akan menjemputku. Katanya Peter akan ikut bersama kami?"


"Benarkah? Angel, bagaimana jika Daniel tau? Apa dia tidak akan marah?"


"Tidak, aku sudah mengatakan padanya."


"Ya sudah terserah kau saja. Aku akan berangkat duluan"


"Bye"


"Bye"


'Ku harap Daniel bisa lebih sabar dengan mu Angel' Batin Erlyn.


Beberapa menit kemudian William datang membawa mobilnya.


"Mommy....." Angel langsung membungkuk memeluk Peter.


"Apa kau sudah sehat"


"Sudah mom."


Angel, Peter, dan William berangkat bersama Angel dan Peter tampak sangat akrab. William merasa sedikit senang melihat interaksi mereka berdua.


William mengantar Peter terlebih dahulu kesekolahnya, sekolah Peter searah denga sekolah Angel.


"Mommy, aku berangkat dulu, aku akan menemuimu nanti"


"Baiklah sampai nanti"


---


Di sekolah..


Daniel uring uringan menunggu Angel yang belum datang. Angel memang sudah mengatakan padanya bahwa dia akan berangkat bersama William. Tapi, kecemburuannya tidak bisa menerima hal itu. Ia tidak rela jika Angel berdekatan dengan William.


"Tenanglah Daniel, dia akan segera datang" Kata Kenzo berusaha menenangkan Daniel.


"Disaat gadisku tengah bersama pria lain lalu bagaimana aku bisa tenang hm?"


"Daniel benar, seharusnya Angel tidak ikut bersama Mr. William apapun alasannya"


Cetus Emma yang mengompor keadaan.


"Apa yang kau katakan. Mungkin saja anak Mr. William memang menginginkannya" Sela Erlyn.


"Yah kita tidak pernah tau jika ada udah yang bersembunyi di balik batu"


"Hai semua"


Seluruh pandangan jatuh kepada Angel yang berdiri di ambang pintu.


"Angel, dari mana saja kau?" Tanya Lardo


"Aku mengantar Peter sekolah"


"Angel.."


"Iya Daniel, ada apa"


"Temani aku setelah pulang sekolah"


"Maaf Daniel, aku tidak bisa aku sudah berjanji kepada Peter akan menemuinya nanti"


"Apa sekarang dia lebih penting bagimu?" Kata Daniel dengan nada datar, ia menaikan sebelah alisnya sambil menatap Angel.


"Tidak Daniel, jangan salah paham dulu"


"Sudahlah, jika kau mau menemaniku maka jangan temui anak itu, tapi jika kau mau bersama anak itu jangan menampakan wajahmu di depanku"


Setelah itu Daniel pergi meninggalkan kelas diikuti ketiga temannya.


"Apa yang harus aku lakukan?"


---


WILLIAM