
Suara adzan isya sebagai pertanda pemanggil para umatnya untuk menyegerakan melaksanakan perintahnya.
Endi pun keluar untuk memanggil Mama, Mami, dan Bundanya.
"Lan, ayo masuk!" titah Endi pada saudaranya.
"Ngapain?" tanya Erlan.
"Sholat isya. Ayok!" lantas Erlan pun menggelengkan kepalanya.
"Kamu haid?" tanya Endi membuat bola mata Erlan melebar.
"Ngadi-ngadi. Gue cowok tulen ya!" ujar Erlan tidak terima.
"Cowok tulen itu ketika mendengar adzan dia diam dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat. Apa kamu bisa disebut cowok tulen?"
"Tapi, gue gak belok an*jir." ujar Erlan pelan tapi masih terdengar.
"Ayo, cepat! Jamaah bareng di dalam."
"Itu cewek-cewek kok gak ikutan?" tanya Erlan berusaha mengalihkan pembicaraan dan agar dirinya bisa terhindar.
"Cewek itu punya kodrat. Menstruasi, melahirkan, nifas. Jangan kamu samakan cowok dan cewek. Jelas itu berbeda, kalau kamu mau dianggap jadi cowok tulen, maka, ayo perbaiki sholatmu!" seru Endi menasehati.
"Gitu ya?" Endi yang geram langsung saja menarik tangan saudranya sehingga Erlan kini terseret oleh Endi.
Nessa yang melihatnya pun hanya geleng-geleng kepala. Beda lagi dengan Vella yang memasang wajah menyebalkan.
"Lo mau disamain sama cewek? Atau lebih parahnya lagi jadi hewan?" sindir Vella kepada Deca.
"Hah?" pemuda itu malah ngelag.
"Masuk sana!"
"Eh... iya." Deca langsung ngacir menyusul Endi masuk ke dalam.
Sehingga tersisa Nessa, Vella dan Mamanya di halaman rumahnya.
"Lagi dapet, nak?" tanya Mama Vella yang dibalas anggukan oleh Nessa.
🌼🌼🌼
"Woy, daging gue jangan diembat!" teriak Vella kesal sekaligus dongkol karena Erlan tiba-tiba menyerobot daging panggang yang akan dia ambil.
"Siapa cepat dia dapat. Jangan lelet jadi cewek!" balas Erlan sambil menjulurkan lidahnya ke arah Vella.
Vella hanya menggeram kesal. Ingin marah, tapi, kalau dipikir-pikir pasti percuma juga. Lah wong kalau marah sama laki-laki itu sia-sia.
"Sabar, sabar." ujar Nessa tetap tenang. Dirinya yang datang bulan lalu kenapa Vella yang emosian. Untuk meredakan emosi Vella, Nessa pun menukar piringnya dengan piring Vella.
"Udah, jangan marah-marah." ucap Nessa pelan.
"Makasih, Nes." Nessa pun membalas senyuman Vella.
Sementara anggota keluarga lain pun sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Erlan yang seperti anak-anak, lalu Vella yang gampang emosian. Bahkan sahabat dari Nessa itu tidak malu untuk melupakan emosinya di depan kedua orangtuanya dan juga anggota keluarga Nessa.
Tiba-tiba piring Nessa ditarik dari belakang. Gadis itu pun menoleh ke belakang dan tersenyum ketika melihat suaminya yang mengambil piringnya lalu menukarnya dengan piring suaminya yang telah terisi makanan.
Nessa pun hanya mengangguk sambil tersenyum malu. Rupanya kelakuan pasangan suami-istri itu dilihat oleh anggota keluarganya. Mereka pun hanya berpura-pura tidak melihat. Sangat serasi. Pikir mereka.
"Eummmm... maaf semuanya. Kayaknya Deca harus pulang sekarang karena udah malam juga." seru Deca kemudian berdiri dari duduknya.
"Ya udah, kami gak akan maksa. Pulangnya hati-hati ya."
"Iya, Om. Terimakasih buat semuanya terutama buat Nessa, makasih udah undang aku ke acara ini. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu. Deca pamit ya semuanya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." pemuda itu akhirnya pulang. Formasi mereka pun berkurang satu.
"Anaknya lumayan baik dan sopan. Temen kamu, nak?" tanya sang Kakek yang duduk di kursi roda.
"Iya, Kek." jawab Nessa sambil mengangguk.
"Lebih baik kita pindah ke dalam aja. Ini makanannya dibawa ke dalam aja. Cuaca di luar dingin, kurang baik untuk kesehatan." celetuk Endi menyarankan. Apalagi mengingat kondisi sang Kakek yang kurang fit. Maklum, faktor umur.
Semua anggota keluarga pun mengangguk. Lalu ikut membantu yang lain membawa makanan mereka masuk ke dalam.
Jadilah sekarang tempat bersantai mereka pindah menjadi di ruang tengah. Hanya para orang tua saja yang duduk di atas sofa, sisanya duduk di lantai beralas karpet, termasuk juga dengan Endi dan sang istri.
"Nessa, nanti mau lanjut ke Universitas gak?" tanya Bunda Dita, ibu kandung Endi. Sementara ayahnya bernama Rio.
"In Syaa Allah, lanjut, Bun. Sambil liburan ini lagi nyari-nyari universitas yang cocok." jawab Nessa.
"Baguslah. Semangat terus ya. Jangan jadikan status kamu sebagai penghambat karir kamu. Kamu bisa sukses kok."
"Aamiin. Makasih ya, Bun."
"Sama-sama, Sayang. Oh ya, ada yang pengen Bunda tanyakan. Kalian... nunda punya momongan?"
Seketika Nessa melirik suaminya yang ternyata juga sama meliriknya. Melihat respon sang menantu, membuat Bunda Dita langsung mengalihkan pembicaraannya. Takut-takut kalau menyinggung perasaan menantunya.
"Udah malam nih. Lebih baik kita pulang saja. Kasian sama pengantin baru, kali aja mau berdua-duaan." kali ini Ayah Rio membuka suara membuat semuanya mengangguk menyetujui.
Ngomong-ngomong tentang Vella. Gadis itu sudah pulang bersama kedua orangtuanya.
"Iya juga. Mending kita pulang sekarang."
"Gak nginap aja di sini?" tanya Nessa menawarkan namun ditolak lembut oleh para orangtua.
"Kapan-kapan aja ya, Sayang. Sekarang waktu kalian berdua."
Nessa mengangguk lemah. Dia dan suaminya pun mengantarkan kepulangan anggota keluarganya. Lambaian tangan pun menjadi penutup acara mereka malam ini. Endi segera merangkul bahu istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Besok aja kita beresin. Sekarang istirahat aja dulu. Udah malam." tutur Endi saat melihat istrinya itu bergerak ingin membereskan kekacauan.
Nessa pun mengangguk menyetujui. Badannya juga lumayan letih. Setelah membersihkan tubuhnya, sepasang suami-istri itu kini mulai menuju tempat peraduan. Saling berbagi selimut dan berbagi kenangan akan pelukan mereka.
"Goodnight, Sayang." ucap Endi pelan dan lembut diiringi dengan kecupan sayang di kening istrinya. Nessa hanya mengangguk lalu membalas ucapan suaminya lewat pelukan.
Akhirnya gadis itu telah lepas menyandang status pelajar SMA. Statusnya saat ini ialah seorang istri. Dirinya akan lebih berusaha memahami perasaan masing-masing. Bukankah memahami setiap pasangan memerlukan waktu yang cukup lama. Bahkan, pernikahan yang sudah lama pun belum tentu mereka bisa memahami setiap pasangannya. Oleh karena itu Nessa ingin belajar mulai dari besok. Perlakuan manis dari suaminya semakin membuat Nessa lebih bersemangat untuk lebih mengekspresikan rasa.
Tepat saat dua bulan yang lalu dirinya berulang tahun. Dan itu adalah hari yang sangat spesial baginya. Suaminya itu memberikan surprise kado berupa cincin. Dan sebagai hari peringatan ulang tahun istrinya, pria itu bahkan menjalankan puasa sebagai rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya dan juga istrinya. Tidak lupa hadiah-hadiah lainnya dari semua anggota keluarganya termasuk sahabatnya. Membuat hidup Nessa kini lebih berwarna. Menikah muda sebenarnya bukan tujuannya, namun, akhirnya gadis itu mulai menerima takdir yang sudah Allah gariskan di dalam hidupnya. Mungkin inilah awal dari kehidupan Nessa. Menjadi istri di usianya yang sangat muda.
Ngomong-ngomong soal pernikahan, keduanya pun memutuskan untuk melakukan acara resepsi pernikahan mereka. Resepsinya akan digelar dengan meriah, sesuai dengan permintaan para orang tua waktu lalu. Undangan pun masih dalam proses mencetak.