My Teacher

My Teacher
MT part 64



"Assalamu'alaikum." ucap Nessa saat sudah dipersilahkan masuk oleh sekretaris yang selalu standby di depan pintu ruang CEO.


"Masuk aja, Papi mau ke bawah dulu nyusul Papa kamu." bisik Papi Ibra yang dibalas anggukan kepala oleh Nessa.


Dengan membawa tas berukuran sedang yang ada toples di dalamnya, Nessa melangkah lebih dekat. Netra matanya langsung menemukan sang suami yang saat ini duduk di kursi kebesarannya. Sangat tampan. Batin Nessa melihat penampilan Endi yang hanya mengenakan kemeja putih polos, sedangkan jasnya dia gantung di tempat gantungan besi.


Nessa mendekat, melihat apa yang dikerjakan suaminya di depan laptop. Jari-jari kekar itu bergerak lincah. "Ekhemmm..." dehem Nessa sontak membuat pergerakan jari Endi terhenti. Pria itu memutar tubuhnya sedikit ke samping dan mendongak.


"Wa'alaikumsalam." jawab Endi sambil tersenyum senang saat mengetahui istri datang berkunjung.


"Sibuk ya?" Nessa mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan suaminya.


"Enggak juga kok. Ke sini bareng siapa?" Endi menutup laptopnya setelah data-data penting yang dia salin tadi sudah tersimpan. Pria itu bangkit dari duduknya dan memegang kedua bahu Nessa kemudian mengajaknya untuk duduk di atas sofa.


"Tadi dianterin Bunda. Ketemu juga sama Papi tadi di bawah." cerita Nessa kemudian duduk sambil meletakkan tasnya. Wanita itu mengeluarkan toples dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.


"Tadi aku bikin kue sama Bunda. Mas cobain, enak gak."


Endi menganggukkan kepalanya lalu mengambil alih toples yang dipegang Nessa dan membukanya. Mengambil satu kue nastar hasil buatan istrinya. Satu gigitan yang berhasil membuat matanya terbuka lebar.


"Enak?" tanya Nessa sembari meringis. Takut-takut kalau kue buatannya tidak disukai oleh Endi. Sementara dirinya tau rasa kue itu seperti apa. Karena kan selera orang itu beda-beda.


"Enak. Enak banget malahan." Endi mengambil lagi kue dari dalam toples dan memakannya. Hingga isi toples itu tersisa setengah saja. Membuat Nessa geleng-geleng kepala.


"Lahap banget. Mas udah makan siang?" tanya Nessa.


"Udah kok. Kamu udah makan?" tanya Endi balik. Nessa hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kepala.


Merasa cukup, Endi kembali menutup toples itu. Mengambil tisu di atas meja untuk mengelap tangannya.


"Mas lanjutin aja kerjanya." sahut Nessa.


"Bentar ya? Tinggal dikit lagu kok. Kalau ngantuk tidur aja di kamar." Endi bangkit kemudian memberikan satu kecupan di kening istrinya.


Nessa yang mendengar itu menjadi bingung. Ini kantor. Mana ada kamar di dalamnya, kecuali kalau di hotel. Wanita itu hanya tau di kantor papinya saja yang ada kamarnya. "Emang di sini ada kamar, Mas?" tanya Nessa kepada suaminya yang saat ini sudah duduk di kursi kerja.


"Ada kok. Itu!" tunjuk Endi ke arah rak buku. Nessa mengikuti arah pandang suaminya dengan kening mengerut.


Endi menghela nafasnya. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju rak dengan banyak buku. "Sini!" panggil Endi meminta istrinya untuk mendekat. Nessa pun menurut.


"Liat ya." mulut Nessa reflek terbuka, spontan dirinya menutup mulutnya.


"Ada juga ya? Aku kira nggak ada, hehe. Soalnya di kantor Papi juga ada kamar. Tapi, tempatnya beda." ujar Nessa yang takjub.


"Masuk gih. Terserah mau ngapain. Mas selesain pekerjaan Mas dulu bentar."


"Iya." balas Nessa lalu masuk ke dalamnya. Sedangkan Endi kembali lagi ke meja kerjanya.


Tidak terasa sudah satu jam lebih Nessa selonjoran di kasur empuk itu ditemani dengan sebuah buku novel. Novel itu dia dapat saat dirinya melihat-lihat isi rak buku Endi. Nessa dikejutkan dengan kedatangan Endi yang tiba-tiba langsung berbaring di pangkuannya. Reflek wanita itu menaruh bukunya di atas nakas. Tangannya berganti dengan mengelus kepala pria itu.


"Mas, masih pengen ngajar di sekolah?"


Lama Endi terdiam. Lalu dirinya mengurai pelukannya, berbaring telentang di samping Nessa.


"Menurut kamu gimana, Dek? Apa Mas berhenti ngajar dan fokus ke kantor aja?" saat ini Endi benar-benar bingung dan sangat membutuhkan saran dari istrinya.


"Terserah kamu, Mas. Kalau menurutku mending Mas berhenti ngajar, jangan terlalu diforsir nanti capek. Belum lagi ngurus perusahaan papa." apa yang dikatakan Nessa ada benarnya. Bekerja di dua tempat bukanlah hal yang mudah. Apalagi saat ini Endi akan mengemban tugas yang besar. Ratusan bahkan ribuan karyawan ada di tangannya.


"Itu aja. Takutnya nanti Mas gak bisa bagi waktu. Mas pengennya di rumah aja berdua bareng adek."


"Gombal!" sambar Nessa cepat.


Endi terkekeh. Dia langsung mengubah posisinya menjadi berbaring menghadap Nessa dengan kepala dia sanggah menggunakan tangan kanannya.


"Udah siap masuk kuliah?" tanya Endi meyakinkan. Yap, lusa adalah hari pertama Nessa menginjakkan kakinya sebagai mahasiswi baru di salah satu universitas di daerahnya.


"Siap!" jawab Nessa sumringah. Walau dia tau senangnya akan hanya sesaat saja di awal. Saat nanti sudah di pertengahan dan di ujung, dia akan merasakan arti dari belajar yang sesungguhnya.


"Perlengkapan udah siap semua? Gak ada yang pengen dibeli lagi?" Nessa menggelengkan kepalanya dengan senyuman di bibirnya.


Sesaat keduanya terdiam. Saling bertukar pandangan lewat mata. Netra keduanya saling bersirobok dan bertaut. Saat itu juga lengkungan di kedua ujung bibir keduanya tertarik ke atas.


Pandangan pria itu turun ke bawah, dari hidung hingga ke bibir alami istrinya. Terlena akan istrinya, Endi mulai mendekatkan wajah dan tubuhnya. Tangannya merengkuh pinggang Nessa, dari pinggang kini mulai naik ke atas hingga sampai di punggung belakang. Mengusap-usapnya lembut secara perlahan.


Nessa memejamkan matanya saat ujung hidung mereka bersentuhan. Menggesekkan ke kiri dan kanan lalu berhenti, mempertemukan kening mereka hingga menempel erat. Endi memberikan jarak untuk memberikan kecupan di kening Nessa. Mulai dari kening, kedua mata, hidung, hingga dirinya berhenti tepat di depan bibir istrinya yang terkatup rapat.


Seakan tersihir dengan perlakuan suaminya, Nessa mulai memejamkan matanya saat Endi mempersatukan bibir mereka. Hanya kecupan singkat, hangat, dan dalam, lalu dilepaskannya lagi. Endi langsung mengambil posisi berada di atas istrinya, memandang wajah ayu itu yang berada di bawahnya. Endi kembali menyatukan bibir mereka. Menggerakkan bibirnya dengan penuh kelembutan. Nessa yang mengerti langsung membuka sedikit bibirnya. Membiarkan sang suami mengeksplor lebih. Endi mulai menyatukan indra pengecap mereka, mengeksplorasi rasa itu dengan penuh penghayatan. Rasanya sangat damai.


Tangan Endi kini tidak tinggal diam. Bergerak mengusap-usap lembut punggung belakang istrinya lalu turun ke pinggang dan naik lagi ke punggung. Begitu juga seterusnya. Memberikan sensasi yang berbeda di tubuh Nessa seiring dengan pergerakan suaminya. Spontan Nessa menepuk pelan lengan suaminya saat merasa dirinya sudah kehabisan pasok oksigen. Menghirup udara di sekitarnya dengan rakus.


Nessa bahkan tidak menyadari kalau sekarang kondisi suaminya sudah bertelanjang dada. Kemejanya sudah dia lepaskan ke sembarang arah.


Deru nafas keduanya saling bersahutan. Nessa merasakan ada letupan-letupan kecil di dadanya. Endi meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri Nessa.


"Sayang... Mas---"


Nessa menggelengkan kepalanya menandakan agar suaminya berhenti berkata. Tangannya yang awalnya berada di atas kasur kini mulai terangkat, menggalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


"Datangi aku kapanpun Mas mau." ujar Nessa dengan suara paraunya.


Tangan pria itu tergerak untuk menyentuh ubun-ubun istrinya. Membacakan do'a-do'a kebaikan. Selanjutnya dia memandang istrinya dengan penuh kelembutan. Mengkode Nessa untuk mengikuti dirinya saat membacakan amalan-amalannya. Bismillah sebagai pembuka, diiringi dengan bacaan surat pendek, takbir dan tahlil. Selanjutnya sekali lagi pria itu menyentuh ubun-ubun istrinya.


"Bismillahil 'aliyyil 'azhim. Allahummaj'alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi. Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani."


Endi berkata lirih diiringi dengan suara istrinya. Pria itu mengambil selimut tipis untuk menutupi tubuh keduanya. Kembali menyatukan bibir mereka dengan lembut dan mengeksplorasi dengan lebih sebelum benar-benar mencapai inti dari tujuannya.


Di dalam ruangan kedap suara itu hanya terdengar suara lirihan, lenguhan, dan desah@an keduanya. Mengiringi siang hari mereka.