
Berita pertengkaran mereka kini sudah menyebar luas di lingkungan sekolah. Baik Nessa, Vella, dan adik kelasnya itu akan dipanggil ke ruang BK saat jam pulang sekolah nanti. Tentunya membahas persoalan pertengkarannya.
Tidak sedikit ada yang menggunjingkan adik kelasnya lantaran sombong dan ada beberapa yang memandang Nessa remeh karena mereka menganggap Nessa hanyalah gadis miskin. Tidak tau saja mereka kalau Nessa itu putri tunggal dari seorang pengusaha yang namanya sudah terkenal di mana-mana.
Endi yang mendengar kabar tersebut langsung membuat jantungnya berdetak cepat karena ia takut Nessa kenapa-napa. Pria itu ingin menemui Nessa, namun kondisinya tidak memungkinkan. Alhasil ia hanya bisa mengirim pesan.
Sedangkan Nessa saat ini baru selesai bercerita kepada Vella tentang dirinya. Sebelumnya Vella hanya tau sebagian karena mendengar cerita Mamanya, namun, dirinya belum mendengar cerita lengkapnya. Dan sekarang ia baru bisa dan sedikit mengerti. Keduanya juga langsung damai, ralat, lebih tepatnya Vella tidak marah lagi dengan Nessa.
Nessa yang saat itu tidak membawa ponsel jadi tidak tau kalau Endi ada mengirim pesan kepadanya.
Tepat saat bel pertanda pulang, mereka dipanggil ke ruang BK untuk diinterogasi.
Nessa duduk tenang di samping Vella, sedangkan adik kelasnya itu memandang sinis.
"Saya kecewa dengan sikap kamu, Nessa. Padahal kamu itu Kakak kelas, kenapa tidak mencerminkan sikap yang baik untuk adik-adik kelas kamu."
Vella yang mendengar itu melotot. Apa-apaan guru pendamping itu? Sedangkan adik kelasnya tersenyum sinis. Vella mengerti bahwa guru tersebut sudah bersekongkol dengan adik kelasnya yang bernama Jihan. Panggil saja dia Jihan, anak kelas 11 IPA 3.
Tiba-tiba pintu diketuk, membuyarkan lamunan mereka.
"Masuk!" ujar guru perempuan itu.
"Maaf. Bu Fitri tidak bisa hadir, jadi saya yang akan mendampingi mereka berdua."
"Oh ya, silahkan, Pak Endi."
"Terima kasih, Bu."
"Jadi, damai saja ya? Nessa, silahkan kamu minta maaf kepada Jihan."
"APA-APAAN!!" itu suara Vella. Gadis itu tidak tahan lagi, dadanya sungguh sesak seperti tertimpa bongkahan batu besar.
"Kenapa kamu, Vella?"
"Maaf, Bu."
"Tenang, Vel." ujar Nessa mengelus bahu Vella, memberikan ketenangan untuk sahabatnya.
"Jadi, bagaimana? Masih mah minta maaf tidak? Selagi saya kasih kesempatan."
Nessa sebenarnya juga ikut geram. Guru macam apa itu yang seenaknya saja mengambil keputusan tanpa tau kejadiannya seperti apa.
"Maaf, Bu. Sebelumnya saya mau mengklarifikasi bahwa yang salah di sini bukan saya, tapi, Jihan."
"Kok gue? Lo tuh yang salah!" potong Jihan nyolot.
"Kenapa marah? Saya hanya mau berbicara fakta. Banyak saksi mata yang melihat kejadian itu. Kamu lari-lari tanpa melihat keadaan dan langsung menabrak saya yang sedang berada di dalam kelas. Di sini saya yang menjadi korban, keadaan kamu baik-baik aja sedangkan saya, pakaian saya basah terkena tumpahan kopi kamu itu. Dan kamu langsung marah-marah. Oke kalau minta ganti rugi, saya gak masalah. Tapi, untuk minta maaf? Sorry, saya bukan orang bodoh yang bisa kamu permainkan."
"Sudah, sudah. Nessa, sebaiknya kamu mengalah saja. Jihan itu adalah siswi VVIP di sini. Orang tuanya salah satu donatur di sekolah kita."
Brakk
Kali ini Vella lagi yang melakukan itu. Matanya memerah lantaran emosi.
"Mentang-mentang Ibu guru di sini, bukan berarti saya takut. Dengarkan baik-baik ya, Bu. Di sekolah ini semuanya sama rata, gak ada yang namanya siswa-siswi kawasan elit, siswa-siswi VVIP atau apalah itu. Sekolah itu tempat menimba ilmu, bukan tempat ajang siapa yang paling berkuasa di sini."
"Vella, jaga sikap kamu!"
"APA, BU?! IBU SUDAH KETERLALUAN. DI MANA MATA DAN HATI NURANI IBU? IBU SUDAH BUTA KARNA HARTA, SOGOKAN? INGAT YA BU, DI DUNIA INI HARTA HANYALAH SEMENTARA. JAGA SIKAP IBU KALAU TIDAK MAU DIKELUARKAN SECARA TIDAK HORMAT DI SEKOLAH INI."
"Kamu yang akan dikeluarkan di sekolah ini, Vella. Beraninya kamu mengancam guru. Apa kuasa kamu di sini?"
Nessa memijit kepalanya yah terasa berdenyut. Sungguh! Inilah sifat Vella yang sebenarnya. Tidak bisa dihentikan oleh siapapun.
Endi yang sedari tadi hanya menyimak tidak berniat turun tangan. Biarlah, Endi sudah merekam semuanya dan itu akan menjadi bukti. Netra matanya teralihkan pada Nessa yang saat itu memegang pelipisnya. Rasa khawatir langsung besarang di lubuk hatinya.
"Mana yang sakit?" tanya Endi pelan.
"Kepala Nessa, Pak." jawab Nessa meringis.
"Kita pulang aja ya?"
"Tapi, Pak..." Nessa menggantungkan kalimatnya karena perkataannya sudah dipotong oleh Endi.
Vella hanya menoleh tanpa mengeluarkan suara.
"Sebaiknya kamu pulang. Nessa biar saya yang antar."
Vella sedikit melunak, apalagi saat melihat kondisi Nessa yang sepertinya kurang baik.
"Nes, lo kenapa? Ini semua karna gue ya? Maafin gue ya, Nes."
Nessa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Pulang yuk, Vel. Biar nanti gue ngasih tau Papi."
"Iya, ayo!"
"Bu Susi, Jihan. Kami pamit duluan. Semoga hari kalian menyenangkan."
Jika kalian menebak, perkataan itu dari siapa?
🌼🌼🌼
Bukannya mengantarkan Nessa pulang, Endi malah membawa gadis itu ke rumahnya. Karena kalau membawanya pulang ke rumah Nessa gadis itu tidak ada yang merawat, mungkin ada yaitu Mbok Jum, tapi, Mbok Jum juga ada pekerjaan yang harus dia kerjakan. Sementara kalau membawanya pulang ke rumahnya pastilah ada Mamanya yang akan merawat Nessa.
Vella? Sahabat Nessa itu juga mengekori. Vella ngotot pengen ikut karena khawatir dengan keadaan Nessa. Padahal, Endi sudah mengatakan kalau Nessa tidak apa-apa, dan dia yang akan menjaganya.
"Loh loh, Nessa kenapa ini?" tanya Winanti kaget saat melihat Nessa yang dipapah oleh Vella, sementara Endi berjalan di belakang sambil membawa tas Nessa.
"Nessa kecapean, Ma."
"Ya sudah, langsung bawa ke kamar kamu aja. Mama ke dapur dulu buatin minum buat tamu."
"Iya, Ma. Rey ke atas dulu."
"Pak, saya boleh temenin Nessa?" tanya Vella meminta izin.
Tampak Endi berpikir lalu sesaat ia mengangguk.
"Silahkan. Memangnya nanti kamu tidak dicari orang tua?"
"Tenang kok, Pak. Kalau saya udah sebut nama Nessa pasti mereka tau."
Endi hanya mengangguk tanpa banyak tanya. Mereka langsung membawa Nessa naik ke lantai atas, ke kamar Endi.
"Kamu jaga Nessa ya? Saya mau ke bawah dulu."
"Siap, Pak." jawab Vella mengacungkan jempolnya.
Vella sedikit terkesima saat melihat kamar gurunya yang didominasi berwarna biru gelap dan abu-abu.
Sementara itu, Nessa tampaknya sudah terlelap. Bahkan sesampainya di rumah Endi tadi, ia tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Pandangan Vella teralihkan ke atas nakas. Karena penasaran akhirnya gadis itu mengambil bingkai foto yang menurutnya cukup menarik.
Di dalam bingkai itu terdapat foto Nessa dengan seorang pria tampan. Vella meneliti lebih lagi dan ternyata yang ada di foto tersebut adalah gurunya. Lalu, kenapa berbeda? Vella bahkan melongo.
Foto itu adalah foto Nessa dan Endi saat acara lamaran. Keduanya tampak serasi dengan warna pakaian senada.
"Jangan dilihat, nanti kamu kaget."
Vella refleks mengembalikan foto tersebut ke tempat asalnya.
"Udah terlanjur, Pak. Tapi, saya beneran kaget loh. Kok bisa?"
"Rahasia."
"Wah! Bapak udah pandai main rahasia-rahasiaan."
"Saya ini manusia, bukan pesulap. Sudah, sudah, lebih baik kamu pulang. Nanti dicari orang tuamu."
"Sabar, Pak. Saya pengen jagain Nessa bentar. Sambil nego-nego kenapa Nessa mau sama Bapak."