My Teacher

My Teacher
Perubahan Daniel, Perhatian William



William Aldrexon



 


Angel bersama Erlyn berjalan berdua menyusuri koridor, tampak mereka sama sama bungkam dan tidak berniat membuka suara seperti tidak ada pembahasan yang mereka bahas kali ini.


suasana canggung menyelimuti keduanya terlebih ketika kemarin Angel sempat memaki maki Erlyn dan meluapkan kekesalannya kepada Erlyn. Angel merasa sangat bersalah meski sudah meminta maaf.


"Angel, kau tampak pucat apa kau ssait?" Angel menggeleng ketika Emma-sekertaris kelas menanyainya.


"Tidak Emma, aku hanya kurang tidur"


"Ah itu pasti karna guru itu. Dia sangat kejam memberikan kita tugas tanpa perasaan" Angel terkekeh mendengar penuturan Emma. Dia adalah gadis cantik dan pintar. Dia juga sangat lugu dan sederhana meski dia dari kalangan orang kaya.


"Ku harap dia tidak terlalu sering melakukannya, aku memerlukan malam untuk tidur bukan menyelesaikan tugas yang menumpuk" Lanjut Erlyn.


"Kau akan memiliki malam yang panjang untuk tidur jika tugasmu kau kerjakan disiang hari nona Erlyn" Semua orang mengalihkan pandangan kepada empat siswa berwajah luar biasa itu.


"Aku tidak sedang bicara padamu tuan Kenzo!" Kenzo terkekeh lalu duduk di atas meja.


"Kau galak sekali, sangat tidak sesuai dengan sifat pendiam Arlan" Arlan menatap tajam kearah Kenzo yang memasang wajah tanpa dosa itu.


"Kenzo benar, kau tidak cocok dengan Arlan. Sebaiknya kau pacaran dengan ku saja" Lanjut Lardo mengompori mereka.


"Diam kalian!" Tegur Arlan merasa tidak nyaman dengan mereka berdua yang mengungkit ngungkit hubungannya bersama Erlyn.


"Daniel, kau tampak murung ada apa?" Daniel yang semula menidurkan kepalanya diatas meja kini mengangkatnya dan melihat sang pemilik suara.


"Aku hanya letih" Jawabnya singkat.


"Erlyn, apa kau hanya menanyai Daniel? Lihatlah Arlan juga butuh perhatian"


"Arlan baik baik saja" Jawab Erlyn dengan ketus. Arlan hanya mengabaikannya meski ada perasaan aneh dalam hatinya ketika Erlyn hanya menanyai Daniel dan bukan dirinya.


Angel memperhatikan Daniel, dia tampak aneh wajahnya pucat dan lesu dia seperti tidak tidur semalaman.


apakah dia tidak tidur karena memikirkanku? batin Angel, ia mengira bahwa Daniel tidak dapat tidur karena memikirkan Angel dan hubungan mereka.


Angel ingin menanyai Daniel tapi ia masih kesal dengan perkataan pria itu kemarin. Toh juga dirinya kurang sehat tidak perlu menguras tenaga dan perasaan untuk hal hal seperti itu. Jika Daniel memang mencintainya dia pasti akan bertanya terlebih dahulu tentang keadaanya.


Bel masuk berbunyi menyadarkan Angel dari lamunannya, dia tampak kecewa karna tidak ada tanda tanda Daniel memperhatikan dirinya. Daniel tampak aneh!


Dilain sisi perasaan Daniel lebih kacau, antara mempertahankan dan menahan kecewa atau melepaskan yang pastinya juga akan kecewa. Hubungan mereka bukan hubungan main main mereka menjalani hubungan sudah bertahun tahun meski tanpa status.


Tidak ada yang fokus selama pembelajaran, Daniel dan Angel lebih fokus kepada perasaan mereka. Bukan hanya mereka kali ini Arlan pun mengalami hal yang sama. Sebagai seorang yang pendiam dia lebih suka bermain main dengan pikirannya. Dan sekarang dia sedang berpikir ada apa dengan Erlyn. Gadis itu nampak tidak biasanya.


Mereka tidak seperti pasangan pada umumnya. Erlyn dan Arlan adalah pasangan yang simple, mereka hanya berbicara seperlunya saja, mungkin hanya menanyakan kabar, sudah makan atau belum, atau mengajak untuk melakukan sesuatu. Selebihnya mereka lebih suka menguruh kegiatan mereka masing masing.


Dulu Arlan pernah berkata.


'Dasar hubungan adalah kepercayaan, jika sudah memiliki kepercayaan tidak perlu banyak pertanyaan. Apa yang perlu dipertanyakan kalau sudah di percayakan?'


Erlyn awalnya tidak setuju dengan pemikiran Arlan karna dia tipe gadis yang menyukai hal hal romantis tapi selama ini dia sudah mulai terbiasa dengan sifat dingin Arlan.


Meski awalnya Erlyn menolak untuk menjadi kekasih Arlan dia kembali memikirkan keputusan itu karena ia bisa melihat ketulusan Arlan di balik sifat pendiamnya. Erlyn percaya rasa cinta akan timbul seiring berjalannya waktu.


Kembali pada Angel dan Daniel. Hampir empat jam pembelajaran tidak sedikitpun ada materi yang mereka pahami hingga jam istirahat tiba.


Angel berharap ada satu kata maaf yang terucap oleh Daniel, atau penjelasan dari sikapnya kemarin. Namun harapannya sia sia Daniel hanya berlalu melewatinya begitu saja.


"Angel, ayo kita makan siang aku sangat lapar" Angel menggeleng. Ia sudah kehilangan napsu makannya sejak kemarin.


"Tapi Angel, kau belum makan sejak kemarin"


"Aku tidak lapar Erlyn, kau bisa pergi sendiri"


"Angel... aku tau kau sedang kesal, tapi jangan sampai kau menyiksa tubuhmu seperti ini"


Angel tidak menanggapinya, dia hanya menenggelamkan wajahnya dilipatan tangannya diatas meja.


"Ya sudah... aku makan duluan ya"


--


Erlyn melihat empat siswa itu tengah duduk sambil menikmati makanan mereka. Erlyn berjalan mendekati mereka dan berdiri tepat dihadapan Arlan.


"Daniel, bisakah kita bicara berdua saja? Ini sangat penting"


"Ukhuk. apa aku tidak salah dengar? Kau berdiri tepat dihadapan Arlan tapi malah mengajak Daniel beribicara secara pribadi. Wah situasi macam apa ini" Kata Kenzo. Inilah bagian kesukaan Lardo. Ia akan menjadi api kompor dan memanasi setiap hubungan yang terancam putus.


"Aah... ibuku pasti akan terkejut ketika tau Daniel kini dekat dengan Erlyn sahabat Angel dan berniat meninggalkannya" Tambah Lardo dengan nada mengompor.


Arlan menyinis duo kompor itu, ia tidak melirik Erlyn sedikitpun begitu juga sebaliknya.


"Mau bicara apa?"


"Ikut saja"


Arlan memperhatikan interaksi keduanya ia hanya bisa diam dan memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.


Sementara Daniel hanya pasrah ia mengukuti Erlyn dari belakang dan menjadi pusat perhatian para siswa siswi lainnya. Pasalnya selama ini Daniel hanya dekat sama Angel dan tidak pernah berinteraksi pada gadis manapun selain dia.


--


Disisi lain, Angel mengusap air matanya, ia menyadari perubahan Daniel yang mendadak dan sangat drastis. Angel masih berpikir keras dan mencari dimana sebenarnya letak kesalahannya.


Angel kembali mengusap air matanya ketika dua siswi yang tiba tiba masuk kedalam kelas. Siswi itu tampak kaget melihat keberadaan Angel disana.


Mereka berbisik bisik.


"Kenapa dia masih disini, ku kira dia pergi bersama Daniel tadi" Kata salah satu siswi itu dengan berbisik namun samar samar masih terdengar oleh Angel.


"Yang tadi itu Erlyn sahabatnya Angel bukan Angel."


"Benarkah? Tapi mereka terlihat sangat dekat."


"Entahlah, kau seperti tidak tau taktik musuh didalam selimut" Keduanya terkekeh. Perkataan itu jelas menusuk perasaan Angel. Angel bangkit dari duduknya sambil menatap mereka.


"Apa magsudmu musuh didalam selimut?"


"Tentu saja Erlyn, gadis bermuka dua itu"


"Diam kalian! sekali lagi kau mengatai temanku ku pastikan akan ku habisi kalian disini juga"


"Angel! Sadarlah yang terlihat baik belum tentu baik" Kedua siswi itu langsung berjalan keluar melihat Angel yang akan melempari mereka dengan buku.


Emosinya kini telah di ubun ubun. Angel memutuskan untuk keluar menemui mereka berdua.


Angel keluar dengan amarah yang menguasainya, namun perlahan langkahnya mulai tidak mentu kepalanya berdenyut sakit dan ulu hatinya terasa perih.


Angel memegang kepalanya yang terasa sakit hingga sakitnya tidak tertahankan.


BRUG


Angel ambruk untungnya lengan kekar dengan sigap menangkapnya. dengan sisa sisa kesadarannya Angel melihay wajah pemilik lengan kekar itu.


"Mr. William" Lirih Angel.


Angel masih merasakan William mencoba menyadarkannya dengan menggoyangkan tubuhnya dan akhirnya membopongnya ke Uks.


Melihat adegan itu seluruh penghuni sekolag nampak heboh. Guru idola mereka tampak memboponh seorang gadis.


"Ah.. aku sangat iri dengannya"


"Apa yang dia lakukan. Apakah aku harus pingsan juga?"


"Bukankah itu kekasih Daniel"


"Ah tampan sekali"


William tidak mempedulikannya hingga akhirnya ia sampai di Uks. William sedikit panik ketika melihat wajah pucat Angel.


"Segera tangani dia, hubungi aku jika sampai terjadi sesuatu padanya"


Tanpa mereka sadar Daniel memperhatikan mereka dari kejauhan sambil tertawa miris.


"Baiklah, Angel"


----


Angel Haerly