
"Baiklah. Dengar ya... istri Mas itu cantik, Ma Syaa Allah cantik seperti bidadari. Bidadari yang Allah turunkan kepada Mas yang In Syaa Allah akan menemani disetiap umur Mas dan nantinya juga In Syaa Allah akan menemani Mas di surga-Nya. Masih kurang?"
Nessa tertunduk malu, tanpa kata ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Cieee... mukanya merah, malu ya?" goda Endi seketika membuat Nessa memukul punggung tangannya pelan.
"Kdrt loh ini, Dek?"
"Eh! Maaf." sesal Nessa tanpa sadar mengelus punggung tangan suaminya. Sebenarnya Endi hanya bergurau, mana mungkin dipukul pelan sudah terasa sakit.
Endi langsung menumpukkan tangan kirinya di atas tangan istrinya yang saya itu mengusapnya. Pria itu menggenggam erat, menautkan kedua tangan mereka hingga menimbulkan perasaan hangat di hati masing-masing.
"Kamu istri Mas. Mas sebagai suami harus sentiasa mendukung, bukan menjatuhkan. Mas minta maaf kalau menjadi penghalang cita-cita kamu." sudah berapa kali pria itu mengucap kata maaf.
Nessa tidak dapat lagi bicara, gadis itu hanya tersenyum manis, sangat manis. Nessa mengurai genggaman tangan mereka membuat Endi merasa kehilangan. Namun, rupanya Nessa tidak benar-benar melepaskan. Nyatanya tangannya itu berpindah di kepala suaminya. Mengelus rambut hitam tebal itu dengan penuh kasih sayang. Membelai lembut hingga sampai ke dahi dan alisnya. Endi seketika memejamkan mata menikmati perlakuan istrinya terhadapnya.
Saat pria itu masih memejamkan mata, ia merasakan sebuah benda lembut dan hangat terasa menempel di keningnya. Hatinya kembali berdesir menyadari bahwa istrinya mencium hangat keningnya. Sesaat keduanya terlarut, Nessa bahkan sempat meneteskan kembali air matanya. Rasa syukur dan nikmat yang diberikan Allah membuatnya sulit untuk mengucapkan kata. Hanya lewat tetesan air matalah yang bisa menyalurkan rasa syukur itu.
Nessa memberikan jarak, saat itulah Endi membuka matanya. Netra mata keduanya bertemu, saling menyelami perasaan masing-masing lewat indera penglihatan.
"Nessa minta maaf." ucap Nessa akhirnya buka suara.
Kedua alis Endi bersatu dan terangkat sempurna. Memandang istrinya dengan penuh tanya.
"Maaf kalau Nessa belum menjadi istri yang sempurna. Nessa minta maaf karna belum bisa memberikan kebutuhan batin Mas."
Endi bangkit dari posisinya, berdiri sedikit menunduk menyamakan tingginya dengan istrinya. Pria itu langsung menangkup kedua pipi Nessa menggunakan kedua tangannya.
"Hei, dengarkan Mas. Mas menikahi kamu itu bukan untuk persoalan itu. Tapi, Mas menikahi kamu itu karena rasa cinta yang Allah kasih dan Mas sadar kalau kita berdekatan tanpa adanya hubungan halal itu pastilah dosa. Kamu paham? Mas sama sekali nggak nuntut. Mas nggak mau maksa, intinya kita jalani aja?"
Nessa mengangguk pelan. Beruntung? Iya, dirinya sangat sangat beruntung.
"Jangan banyak pikiran ya? Adek udah semester 2, saatnya fokus sama ujian. Dan Mas gak mau nambah beban pikiran kamu."
Sekali lagi Nessa hanya mengangguk. Gadis itu menjadi pendengar yang baik, dan menerima segala masukan dari suaminya.
"Pinter." ucap Endi sambil mengacak-acak rambut istrinya.
🌼🌼🌼
"Mas, tadi Nessa liat cowok." ucap Nessa menggantungkan kalimatnya. Membuat pria yang berbaring manja di sampingnya itu mendelik seketika.
"Natapnya biasa aja dong." potong Nessa merasakan aneh saat suaminya menatapnya dengan tatapan tidak seperti biasanya.
Sedangkan Endi hanya mendengus. Cemburu? Haha! Apakah pria itu cemburu? Mungkin iya! Suami mana yang tidak cemburu saat istrinya sendiri membicarakan pria lain di hadapannya. Tapi, Endi percaya kalau istrinya itu tidak macam-macam. Bukankah kepercayaan itu adalah kunci utama menjalin hubungan langgeng?
Nessa terkekeh melihat suaminya yang tampak setengah cemberut. Bisa juga ya seorang Bapak Endi, guru mata pelajaran agama Islam cemberut? Bahkan akhir-akhir ini pria itu tampak lebih manja.
"Nessa belum selesai ngomong loh ya." ujar gadis itu kembali akan melanjutkan obrolannya.
"Tadi tuh pas di resto bareng Vella, Nessa gak sengaja liat cowok. Itu mirip banget sama Mas, tapi, cuman penampilannya aja yang beda. Mirip banget loh, tadi Nessa aja sampai pangling."
"Oh ya?" tanya Endi terkejut.
Nessa menganggukkan kepalanya. Lalu ia beranjak dari kasurnya untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Kemudian gadis itu kembali lagi ke tempat asalnya. Duduk bersandar di belakang sandaran kasur.
Tangan lentik itu dengan lihai mengotak-atik ponselnya. Setelah itu ia tampak menyodorkan ponselnya kepada suaminya.
Endi menerima ponsel yang diberikan oleh istrinya. Lalu mengamati gambar yang Nessa ambil tadi saat berada di restoran mall. Keningnya mengernyit saat melihat sosok pria yang ada di dalam foto itu.
"Gimana, Mas?" tanya Nessa.
Endi kembali mengembalikan ponsel istrinya. Pria itu hanya menghela nafas panjang.
"Mungkin nanti Mas akan minta bantuan Papa dan Papi. Siapa tau mereka bisa bantu." Nessa menganggukkan kepalanya mendengar perkataan suaminya.
"Oh ya, tadi ke mana aja? Seru gak?" tanya Endi mengalihkan pembicaraan, melupakan sejenak masalah baru yang sepertinya akan muncul di dalam kehidupan mereka.
Dalam benaknya, kenapa sosok pria itu baru tampak? Dan bahkan yang pertama melihatnya adalah istrinya sendiri. Apa benar? Apa benar itu adalah saudara kembarnya yang sempat terpisah dulu? Beribu pertanyaan bersarang di kepala Endi. Tapi, pria itu tidak boleh terlalu larut.
"Seru, seru. Seru kok. Kata Vella malah waktunya kurang, hehe." Nessa cengegesan membuat Endi tersenyum melihatnya. Sekecil apapun kebahagiaan yang dirasakan oleh istrinya, maka pria itu juga akan ikut turut merasakan bahagia. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala istrinya dengan senyum yang tidak luntur.
"Nanti ya, kapan-kapan lagi." ucap Endi. Ia juga ingin sekali ikut jalan-jalan. Tapi, hanya berdua! Bedua ya!
"Mas, gimana kalau besok penampilannya diubah?"
"Diubah?" tanya Endi bingung dan masih tidak konek.
"Iya, Nessa jadi kepengen liat wajah yang sama, di rumah dan di sekolah."
"Harus ya? Berarti Adek cuma pengen liat wajahnya doang? Orangnya enggak?"
"Bukan gitu, Mas. Mas emang gak sakit hati kalau dikatain terus sama anak-anak sekolah? Nessa kasian loh liatnya." sangkal Nessa memberi alasan.
"Mas ingin tampil adanya. Takutnya kalau Mas berubah ke tampilan yang sekarang tuh anak-anak pada deketin Mas. Secara kan ganteng. Iya kan?" tutur Endi dengan pede.
"Nggak tuh." jawab Nessa pura-pura.
"Iya, iya." balas Endi beringsut turun dari kasur lalu memasuki kamar mandi.
Nessa yang melihatnya sudah berpikiran kalau suaminya merajuk. Haha, pria itu pandai juga merajuk. Sebenarnya Endi tidak marah, hanya ingin menggoda istrinya saja. Dan Endi rasa setelah itu pasti istrinya akan membujuknya.
Terbukti saat Endi baru keluar dari kamar mandi setelah bersih-bersih, ia sudah menemukan istrinya yang berdiri di ambang pintu.
"Mas marah??" pertanyaan itu terlontar dari bibir Nessa.
"Bersih-bersih, Dek." tegur Endi seraga melangkah ke arah kasur setelah memberikan satu usapan di kepala Nessa.
Dengan cepat Nessa masuk ke kamar mandi. Melakukan ritual malam dengan hati tidak tenang. Hanya begitu dan Nessa sudah kepikiran. Apalagi kalau suaminya ngambek beneran.
Nessa keluar dari kamar mandi, menemukan suaminya tengah duduk di sisi kasur sebelah kiri, di samping meja riasnya. Selanjutnya Nessa melakukan ritual perawatan dengan gesit, memakai skincare dan pelembab wajah. Setelahnya sedikit memoleskan tipis pelembab bibir di bibirnya.
Setelah melakukan semua ritual tersebut, Nessa memutar kursinya hingga dirinya mengadap ke belakang dengan sempurna. Melihat sosok pria yang kini tengah menatapnya lekat sedari tadi dari saat Nessa keluar kamar mandi.
Nessa bangkit dari duduknya, mendekati pria itu dengan langkah pelan.
"Mas, marah??" Nessa begitu menghargai pria yang menjadi suami itu. Hingga kesalahan kecil pun sampai membuatnya kepikiran. Perlu ditegaskan, gadis itu akan langsung drop apabila banyak pikiran.
Nessa berdiri tepat di hadapan Endi. Lalu pria itu pun mendongak, melihat raut wajah Nessa yang tampak sendu. Endi jadi merasa bersalah dibuatnya.
Tiba-tiba tanpa adanya aba-aba pria itu langsung menarik tangan Nessa hingga istrinya jatuh terduduk di pangkuannya. Nessa yang mendapatkan serangan mendadak pun terkejut bukan main. Hampir saja ia berteriak, namun segera ia kondisikan.