
"MAMI! ADA LIAT FLASHDISK NESSA GAK?" teriak Nessa dari dalam kamarnya.
Tidak lama Mami Hana datang ke kamar Nessa.
"Flashdisk yang mana?" tanya Mami Hana.
"Itu loh, Mi, yang warna biru trus ada gantungannya." jawab Nessa tampak kebingungan di mana terakhir kali ia meletakkan barang tersebut.
"Mami gak tau. Emang di mana terakhir kali kamu nyimpannya?"
"Duh... perasaan Nessa simpan di laci deh, tapi, kok gak ada."
"Ya udah, beli yang baru aja. Punya Mami juga ada kalau mau." saran Mami Hana.
"Ish! Kalau bisa sih maunya yang baru, Mi. Tapi, itu penting banget. Ada data-data penting di sana trus banyak lagi."
"Coba cari lagi, mungkin keselip di tempat tidur atau di sudut-sudut kamar, atau di bawah kolong tempat tidur."
"Udah, Mi. Udah Nessa cari, tapi tetep aja nggak ada. Mami, gimana nih."
Mami Hana yang mendengarnya cukup pusing dibuatnya.
"Kamu tenang ya? Coba diingat pelan-pelan. Kata kamu di laci kan? Nah, laci yang mana. Pelan-pelan aja."
Tampak Nessa memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawahnya.
Sesaat ia langsung teringat. Memang Nessa menyimpannya di laci. Tapi, bukan laci di rumahnya.
"Nessa inget, Mi. Terakhir kali Nessa taruh di laci di rumah--Mama Wina." ujar Nessa memelankan suaranya.
"Tuh kan. Pelan-pelan pasti bakal ingat. Ya udah, ambil gih! Mau makainya sekarang?"
"Iya, Mi. Nessa ada tugas." jawab Nessa.
"Tapi, ini udah mau maghrib. Nanti aja ya selepas maghrib."
Nessa hanya mengangguk. Setidaknya gadis itu bisa bernafas lega. Sungguh! Flashdisk itu sangatlah penting bagi Nessa.
Selang beberapa waktu adzan maghrib berkumandang. Nessa segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat berjamaah bersama Mami dan Papinya.
Begitu selesai, Nessa langsung bersiap-siap pergi ke rumah Winanti untuk mengambil flashdisknya yang sempat tertinggal. Pantas saja saat mencarinya di laci rumahnya tidak ada, eh rupanya ada di laci kamar di rumah Winanti.
"Papi, anterin Nessa ya?" pinta Nessa menemui Papinya yang saat itu tengah bersantai.
"Ke mana?" tanya Papi Ibra menurunkan kacamatanya. Sebenarnya pria itu sudah tau.
"Ke rumah Mama Wina, mau ambil flashdisk."
"Ya udah, tunggu bentar. Papi siap-siap dulu. Mami kamu mau ikut?"
"Gak tau. Tanya Mami lah."
🌼🌼🌼
Saat ini mereka bertiga sudah berada di rumah Winanti. Kedua orang tuanya tengah mengobrol dengan Winanti dan Resa, dan Nessa pun tampak duduk di samping Winanti. Ngomong-ngomong soal Tasya, gadis remaja itu sudah pulang ke Depok karena harus masuk sekolah lagi.
"Oohh, ya udah kamu ambil aja. Kayak sama siapa aja pakai izin segala." ujar Winanti.
"Makasih, Ma. Nessa ke atas dulu ya?"
"Iya, Sayang."
Tanpa berlama-lama Nessa pun segera menaiki anak tangga. Begitu sampai, gadis itu mengetuknya terlebih dahulu karena takut ada orang di dalam. Setelah beberapa kali ketukan tidak terdengar sahutan, Nessa pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Nessa langsung menuju nakas di samping tempat tidur karena memang di situlah Nessa menyimpannya.
Setelah dibuka, tidka ada. Nessa pun mencoba lagi membuka laci di bawahnya. Dan hasilnya pun sama, nihil.
"Nessa!"
Suara itu? Nessa terkejut dengan reflek menutup laci tersebut.
Tiba-tiba gadis itu berteriak saat tangannya terjepit, begitu juga dengan ujung jilbabnya. Jadi, posisi Nessa saat ini menunduk sambil memegang tangannya yang terasa nyut-nyutan.
"Kamu kenapa?"
Nessa meringis. Kenapa pria itu ada di dalam kamar. Padahal tadi tidak ada, kalaupun di kamar mandi, pastilah ada suara gemercik air shower.
"S-sakit." ucap Nessa terbata sambil memegang jarinya yang tampak memerah. Matanya sudah berkaca-kaca.
"J-jilbab N-essa, Pak."
Sontak Endi langsung membuka laci itu kembali, dan terlepaslah ujung jilbab Nessa yang sempat tersangkut.
"Mana yang sakit?" tanya pria itu khawatir.
Nessa menunjukkan jarinya dengan bergetar. Tidak terasa air matanya jatuh lantaran tidak kuat menahan rasa sakit itu, perih, nyut-nyutan, ngilu, bercampur menjadi satu.
"Hei, sakit banget ya? Maafin saya yang udah bikin kamu kaget dan jadi seperti ini."
Nessa menggelengkan kepalanya, ia tidak menanggapi perkataan Endi barusan.
Endi tidak sadar memegang pundak Nessa dan menuntun gadis itu untuk duduk di atas kasur. Lalu dirinya langsung mengambil kotak P3K yang berada di dekat lemari pakaiannya.
Pria itu kembali sambil memegang kotak P3K di tangannya. Ia berjongkok tepat di hadapan Nessa.
"Maaf, tangannya."
Nessa menurut, menunjukkan tangannya dan langsung di sambut oleh Endi. Benar saja, jari Nessa memerah dan sedikit lebam.
"Ini pasti sakit, tahan ya?"
Nessa hanya diam tidak menjawab. Gadis itu memejamkan kedua matanya saat jari-jari kokoh milik Endi menyentuh jarinya saat mengolesi salep atau obat memar.
"Masih sakit?" tanya Endi lalu tanpa sadar meniup-niup kecil jari Nessa.
Nessa yang tersadar dengan cepat menarik tangannya dan langsung berdiri berniat untuk kembali ke bawah. Namun, ternyata niatnya itu tidak berjalan mulus. Skenarionya sudah diatur oleh sang Kuasa dengan sedemikian rupa.
Semua anggotanya keluarganya berdiri di ambang pintu dengan sorot mata yang susah ditebak.
"Rey, kamu apain anak saya!?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Papi Ibra. Sorot matanya berbeda, tidak ada kelembutan di sana.
Mereka berdua yang berada di dalam masih berusaha mencerna. Tenggorokannya tercekat, seakan-akan ada sebuah batu besar yang sangat kokoh berdiri di depan pintu.
"Sayang." ah ya, suara itu. Suara lembut yang biasa menari-nari di telinga Nessa, sang Mami. Suara lembut yang kini berubah menjadi suara sendu.
Tolong... siapapun tolong Nessa saat ini. Gadis itu tidak melakukan apa pun. Ini semua hanya kesalahpahaman yang bisa dijelaskan.
"JAWAB! KAMU APAIN ANAK SAYA!" teriak Papi Ibra di bawah alam sadarnya.
"Astaghfirullah, astaghfirullah." laki-laki itu langsung tersadar dan langsung mengucap istighfar. Pria itu kalut dan jelas emosi. Apalagi saat melihat putrinya yang dalam keadaan sedikit berantakan.
"Pi, Papi tenang, Pi." Mami Hana mengusap lengan suaminya berusaha menenangkan emosi laki-laki itu.
"Kalian kami tunggu di bawah." setelah mengucapkan itu, Winanti langsung ke luar diikuti oleh yang lainnya.