My Teacher

My Teacher
MT part 26



Dua bulan yang lalu, Nessa sudah memberikan jawabannya atas perkataan Winanti waktu lalu yang memberikannya sedikit waktu untuk berpikir. Kalau mau menolak percuma saja kan? Ujung-ujungnya gadis itu akan dipaksa. Lebih baik ia memutuskan sendiri. Keputusan itu sudah diambilnya dengan segala pertimbangan. Dan ia juga sudah mendapat petunjuk atas do'a-do'anya di sepertiga malam.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka akan menikah dalam jangka waktu kurang dari 1 bulan lagi, tepatnya sesudah ujian semester pertama. Dan untuk sekarang pun Nessa terfokus pada belajarnya agar nanti saat ujian ia bisa menjawab dengan lancar. Semoga saja.


Sangat tanggung bukan? Kenapa tidak saat Nessa lulus sekolah saja. Kenapa harus menikah saat statusnya masih pelajar? Bukankah itu sangat dilarang oleh pihak sekolah. Kalau ketahuan, pasti akan langsung dikeluarkan. Namun, apalah daya, Papinya, Ibra sangat berkuasa, ditambah dengan kekuasaan Resa. Keduanya bahkan sudah memberitahu kepala sekolah. Selain itu, kebetulan kepala sekolah Nessa adalah sahabat Papinya dan Resa semasa sekolah dulu.


"Sayang, belajarnya udah dong. Tuh ada telfon." seru Mami Hana masuk ke dalam kamar putrinya. Saat ini Nessa tengah berkutat dengan buku-bukunya.


"Telfon? Dari siapa?" tanya Nessa reflek menutup bukunya.


"Dari Rey, katanya hp kamu gak bisa ditelfon."


Nessa menepuk pelan keningnya. Ia lupa untuk menghidupkan ponselnya setelah mengisi daya tadi.


"Nessa lupa. Ya udah, kalau penting bilang aja telfon Nessa lagi."


"Iya, nanti Mami bilangin. Lagi ngobrol sama Papi soalnya."


Mami Hana sedikit mendekat. Lalu mengambil tangan Nessa dan menggenggamnya.


"Jangan lupa nanti sering-sering main ke sini."


Nessa yang mengerti arti kalimat itu langsung membalas genggaman tangan Maminya dan mengeratkannya.


"Mami ngomong apa sih? Nessa gak bakal tinggalin Mami sama Papi di sini." balas gadis itu menatap bola mata Maminya yang tampak berkaca-kaca.


"Gak boleh gitu. Kamu harus nanti harus nurut sama suami, ikut di mana pun ia tinggal. Pesan Mami, kamu harus jaga kesehatan, jadi istri yang baik. Mami gak nyangka putri Mami yang manja ini udah mau nikah aja."


Nessa tersenyum menanggapi. Ia juga tidak pernah mengira kalau di umurnya yang belum genap 18 tahun sudah mau menikah saja.


Pernikahan mereka juga akan sederhana karena mengingat status Nessa masih pelajar. Untuk resepsinya nanti akan dilaksanakan saat Nessa sudah lulus sekolah.


"Istirahat ya? Mami ke kamar dulu."


"Iya, goodnight, Mami."


Mami Hana menyempati untuk mengecup pucuk kepala Nessa, baru setelahnya beranjak.


Selepas kepergian Maminya, Nessa beranjak dari kasurnya dan mendekat ke arah nakas untuk mengambil ponselnya yang tergelatak. Gadis itu langsung menghidupkan ponselnya yang sempat ia matikan.


Tampak banyak panggilan tidak terjawab atas nama Pak Dimas, iya, Nessa menamainya Pak Dimas. Dan juga ada beberapa pesan masuk dari Vella.


Bukannya menelfon balik dan bertanya ada hal apa pria itu menelponnya, Nessa malah membuka room chatnya dengan Vella yang ternyata sahabatnya itu tampak online.


Mereka tampak saling berkomunikasi lewat chatan. Di tengah-tengah chatting mereka, ponsel Nessa berdering. Nessa langsung menyudahi chatannya bersama Vella. Untung sahabatnya itu mengerti. Ngomong-ngomong soal Vella, gadis itu masih belum mendapat kabar dari Nessa. Entah kapan Nessa akan bercerita, intinya ia masih ingin menyembunyikan hubungannya. Nessa butuh waktu, ia belum siap melihat tanggapan Vella nantinya.


Nessa langsung menggeser tombol hijau. Panggilan pun tersambung.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Sibuk? Kata Mami tadi lagi belajar." tanya pria itu di seberang sana.


"Nggak juga kok. Ini udahan belajarnya. Kenapa nelfon?"


"Salah ya nelfon calon istri?"


Wajah Nessa memerah. Untung mereka hanya melakukan panggilan suara. Akhir-akhir ini memang pria itu lebih banyak bercanda. Tepat saat Nessa memberikan jawaban. Nessa baru tau kalau pria itu memiliki humor yang tinggi, terbukti saat Nessa melihatnya tertawa lepas saat mereka bercanda waktu lalu.


"Hei, kenapa diam?"


Nessa baru tersadar kalau panggilan telfon mereka masih tersambung.


"Nggak kok. Belum tidur?" tanya Nessa reflek.


"Saya gak bisa tidur." jawab Endi menggantung.


"Baru selesai isya. Ini lagi telfonan sama seseorang."


"Siapa tuh?" Nessa tidak sadar kalau saat ini mereka tengah melakukan telfon, dan yang tentunya yang ditelfon pria itu ya dirinya.


"Namanya Nessa. Saya tebak muka kamu memerah. Nessa, ayo tidur, Sa--"


"Bapak Dimas yang terhormat, telfonannya saya tutup dulu. Mau istirahat, besok sekolah. Assalamu'alaikum." potong Nessa cepat lalu langsung mematikan telfonnya tanpa mau menunggu balasan dari sana.


Tut


"Papi, tolongin Nessa." cicit Nessa pelan sambil memejamkan matanya erat.


🌼🌼🌼


"Mami, sakit!!!" keluh Nessa bercucuran air mata dan keringat.


"Tahan, Sayang. Kamu pasti bisa!" balas Mami Hana memberikan semangat kepada putrinya yang saat itu berjuang antara hidup dan mati.


"Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa, demi suami kamu, demi anak-anak kamu, demi Mami Papi, demi Mama Papa. Ayo, Sayang!!"


"S-sakit, Mi... Nessa gak kuat hikss."


"Bismillah, Sayang. Kamu pasti kuat. Ayo, semangat calon Ibu."


"Mamiii arghhhhhhh..."


Oek


Oek


Oek


"Lagi ya, Ibu. Ini yang terakhir."


Nessa memejamkan matanya kuat sambil menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan.


Oek


Oek


Oek


"Alhamdulillah."


Nessa memandang haru ke arah dua bayi mungil itu yang masih dalam ditangani oleh Dokter. Sementara Maminya dengan setia mengelap setiap keringat dari wajahnya.


"Selamat karna udah jadi Ibu, Sayang."


"Makasih, Mi. Nessa---"


Tok tok tok


Gadis itu terlonjak kaget saat mendengar suara nyaring dari ketukan pintu kamarnya. Ia mimpi. Mimpi yang baru pernah dialaminya.


"Sayang, udah bangun belum?" tanya Mami Hana yang masih setia berdiri di depan pintu kamar Nessa sembari mengetuknya.


Nessa mengusap wajahnya kasar lalu beristighfar.


"Iya, Mi. Nessa bangun kok."


"Ya udah, nanti langsung turun sarapan ya?"


"Iya, Mi." jawab Nessa lalu bangkit dari kasurnya.


Memang gadis itu baru bangun. Kebetulan ia tidak sholat karena sedang halangan. Kalau saja tidak berhalangan, Nessa pasti sudah bangun dari subuh karena memang gadis itu biasanya tidak tidur lagi saat sesudah sholat subuh.