My Teacher

My Teacher
MT part 19



Tidak terasa waktu berputar dan kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tamu-tamu yang datang juga sudah pulang dan hanya tersisa keluarga inti saja.


"Sayang, kadonya kok belum dikasihin?" tanya Mami Hana.


"Sekarang, Mi? Tapi Nessa masih malu." jawab Nessa.


"Malunya dipending mulu atuh. Nanti keburu pulang nih." pancing Resa yang curi-curi obrolan.


"Eh! Pa?" sentak Nessa kaget lalu menoleh.


"Sana kasihin." ucap Resa pelan membujuk Nessa.


"Ayo dong, Kak. Keburu nanti Bang Rey ngambek tuh. Gak liat apa mukanya udah kayak benang kusut." sahut Tasya mengompori sambil menunjukkan Endi yang duduk di kursi sambil memakan kue.


"Eh, Cil. Ikutan aja. Sana! Kamu aja yang ngasih." seru Nessa.


"Lah, kok aku? Kadonya dari siapa coba?" ucap Tasya tidak terima.


Kerena terus ditekan, membuat Nessa terpaksa memberikan kadonya yang sudah di ujung acara, malahan sudah selesai dan para keluarga pun sudah mau pulang.


Nessa menarik nafasnya dalam sebelum mengambil kadonya saat Papi Ibra menyerahkannya kepada dirinya.


Dengan langkah pelan Nessa berjalan menuju kursi yang diduduki oleh Endi. Tiba-tiba gadis itu berhenti dan berbalik untuk melihat ke belakang. Sontak semuanya terlihat menyibukkan diri dengan mengobrol seolah-olah tidak melihat Nessa agar gadis itu tidak ragu untuk menberikan kadonya.


Saat sudah sampai di belakang pria itu, Nessa kembali menarii nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Pak." panggil gadis itu memberanikan dirinya.


Endi yang saat itu tengah menatap layar ponsel sontak berdiri dan berbalik melihat lawan bicaranya.


"Ah ya, Nessa? Ada apa?" tanya Endi mengernyit, ia pun menyimpan ponselnya di saku celananya.


Nessa tidak menjawab melainkan langsung menyodorkan kadonya yang berukuran lumayan besar.


"Apa ini?" tanya Endi.


"Ya kado, buat Bapak." jawab Nessa.


"Oh, terima kasih, Nessa."


"Sama-sama, Pak. Oh ya, barakallah fii umrik, Pak. Semoga panjang umur dan sehat selalu, semoga dilancarkan rezekinya, semoga apa yang dicita-citakan tergapai. Semoga diumur yang sekarang Bapak mendapatkan nikmat dan rahmat dari Allah. Semoga berkah, do'a yang terbaik buat Bapak."


"Masyaa Allah. Aamiin, Aamiin, Aamiin. Makasih, Nessa. Do'a yang terbaik juga untuk kamu."


Endi tersenyum, Nessa pun membalasnya.


"Eh ya, mau kue?" tawar Endi yang dibalas gelengan kepala oleh Nessa.


"Bapak aja, Nessa udah kenyang."


"Mmm... maaf ya, Pak. Tadi Nessa kira Tasya yang ulang tahun." lanjut Nessa.


"Itu bukan hal yang penting bagi saya. Ini sudah malam, ayo pulang! Besok kamu harus sekolah."


"Izin satu hari boleh kali, Pak." seru Nessa bercanda.


Endi tampak menggelengkan kepalanya. "Gak boleh, Nessa. Itu hanya untuk pengecualian kalau kamu sakit."


🌼🌼🌼


"Bang Rey, isi kadonya apa? Buka dong! Tasya pengen liat." rengek gadis remaja itu begitu mereka sampai di rumah. Ia melompat-lompat untuk menggapai kado yang Endi angkat ke atas menggunakan tangannya.


"Ish, Mama, Bang Rey pelit!" adu Tasya manyun.


"Kenapa sih, Dek? Biarin lah Abangmu yang bukanya, nanti juga dikasih tau kok." sahut Resa yang melihat perdebatan kedua anaknya.


"Tuh! Dengerin apa kata Papa. Kamu juga dikasih kan? Jadi, jangan ambil bagian Abang." balas Endi dengan nada mengejek.


"Yang mau ambil bagian Abang siapa sih?! Tasya juga punya kali, wlekk! Pasti kado Tasya lebih bagus dari punya Abang."


"Iya, kado kamu lebih bagus dari kado Abang. Sana! Abang mau ke kamar, ngantuk. Besok Abang harus ke sekolah."


"Yeeee!!!" teriak Tasya kesal karena ditinggalkan oleh Abangnya.


"Pa, kapan Tasya pindah sekolah?" tanya Tasya sambil menggoyangkan lengan Papanya.


"Bener ya? Awas loh kalau bohong."


"Ya ampun, kapan sih Papa bohong? Sana masuk kamar trus tidur. Jangan main hp lagi, udah malam." titah Resa.


"Oke, Papa." balas Tasya lalu berlalu ke kamarnya. Sebelumnya memang ada satu kamar kosong saat Nessa tinggal di sini. Namun, kamar tersebut masih berantakan karena sebelumnya dijadikan gudang sementata. Total kamar ada 4 dengan 1 kamar tamu.


Sementara itu, Nessa juga sudah sampai ke kediamannya.


"Gimana? Rey suka gak sama kadonya?" tanya Papi Ibra. Memang kalau di kalangan keluarga, Endi dipanggil Rey, kalau di sekolah pria itu dipanggil Pak Endi.


Nessa mengangkat kedua bahunya.


"Udah, ngobrolnya dilanjut besok. Sekarang kamu istirahat, besok sekolah." ucap Mami Hana mendekat lalu menarik Nessa pelan menuju kamarnya. Wanita itu mengantarkan Nessa sampai ke dalam kamar.


"Ganti baju aja ya, jangan mandi malam-malam, gak baik."


Nessa hanya tersenyum sambil mengangguk. "Iya. Mami istirahat juga. Good night, Mami."


"Night too, Sayang."


🌼🌼🌼


"Pagi, Nessa, Om, Tante." sapa Vella yang pagi itu menjemput Nessa.


"Pagi, Vel. Mau berangkat sekarang?"


"Iya, Tante." jawab Vella.


"Ya udah, hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut bawa motornya."


"Siap, Tante. Kalau gitu Vella sama Nessa berangkat."


"Nessa berangkat, Mi, Pi."


Keduanya menyalami punggung tangan Papi Ibra dan Mami Hana. Lalu mereka pun langsung berangkat ke sekolah.


Di dalam perjalanan, Nessa bercerita tentang acara semalam. Tapi, ia tidak menyebutkan siapa yang berulang tahun. Bisa gawat kan kalau Vella tau. Pasti nantinya akan dicerca banyak pertanyaan.


"Pak Endi siapa lo?"


"Kalian deket?"


"Lo sama Pak Endi--"


Nessa menggelengkan kepalanya berusaha menepis pikirannya itu.


Sesampainya di sekolah, keduanya langsung menuju kelas. Kebetulan saat mereka melewati depan kantor, keduanya tidak sengaja bertemu dengan gurunya yang bernama Endi.


"Pagi, Pak." sapa Vella, sementara Nessa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Pagi. Nanti ada jam saya ya?" tanya Pak Endi memastikan.


"Iya, Pak." kali ini yang menjawan bukan Vella, melainkan Nessa.


"Baiklah, silahkan kalian masuk ke kelas. Jangan bolos."


"Anak teladan mana pernah bolos, Pak." sahut Vella membuat Pak Endi terkekeh.


"Iya, iya, kalian anak teladan di kelas saya. Sana, sana!"


"Ngusir, Pak?" sindir Vella.


"Saya bukan mengusir, tapi sekarang sudah bunyi bel."


"Eh iya, hehe. Pamit dulu, Pak."


"Hati-hati."


Pandangan Nessa sedari tadi tidak pernah teralihkan ke pergelangan tangan gurunya itu. Nessa baru ingat, kalau jam tangan yang dipakai pria itu adalah jam tangan pemberiannya semalam. Iya, kado dari Nessa yang berisikan perlengkapan, mungkin setengah. Hanya dasi, kemeja, dan jam tangan.


Nessa tersenyum, dan sampai tidak sadar kalau mereka sudah berada di dalam kelas. Kalau bukan Vella yang menyadarkannya, mungkin Nessa akan berjalan sampai ke ujung kulon.