
Berita keluarga San atau keluarga Wilfred di Inggris yang tiba-tiba menghilang dalam satu malam membuat para pencari berita berbondong-bondong mencari tahu rahasia di balik hilangnya keluarga terpandang ini. Namun hasilnya nihil, mereka sama sekali tidak menemukan bukti apapun yang mengarah akan hilangnya keluarga ini.
Namun yang pasti semua harta mereka telah di sita oleh pihak kepolisian. Pihak kepolisian sendiri tak berkomentar banyak tentang keluarga San, mereka hanya memberitahukan bahwa keluarga San telah lama tidak membayar pajak negara. Sehingga semua harta mereka di sita. Untuk masalah keberadaan keluarga San sendiri, pihak kepolisian memilih untuk tutup mulut.
Karena keluarga San memang di lenyapkan oleh dunia bawah atau bisa di sebut mafia. Wilfred sudah tidak lagi memiliki rasa belas kasihan terhadap mereka. Karena mereka yang lebih dahulu melanggar perjanjiannya.
“Apakah kamu puas Wil?” Tanya Axelle.
“Ya, terima kasih Axe sudah banyak membantuku.”
“Itu sudah sewajarnya.”
“Sebaiknya kau segera kembali, ini sudah malam. Kasihan Micha, tidak baik untuk Ibu hamil di luar lama-lama saat malam.” Ucap Wilfred.
“Baiklah, kami akan kembali dahulu.” Sahut Axe sembari menepuk bahu sahabatnya itu.
Axelle kemudian menghampiri Micha yang masih duduk di samping Yora. Micha tersenyum ke arahnya.
“Sudah selesai?”
“Iya sayang, mari kita pulang.” Micha mengangguk pelan.
Kedua insan itu kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.
“Maaf ya sayang baru hari ini aku bisa menepati janjiku untuk membawamu menjenguk Yora. Kemarin aku benar-benar sibuk membantu Wilfred mengurus keluarga San.” Jelas Axelle.
“Tidak apa-apa sayang, semoga kedepannya tidak akan ada lagi yang mengganggu hubungan mereka.”
“semoga saja.”
*****
2 bulan berlalu begitu cepat.
Proses melahirkan Micha berjalan dengan lancar, ia melahirkan seorang putra dengan normal. Wajah mungilnya sangat mewarisi wajah tampan Axelle.
Krisna Lexmond, begitulah Axelle dan Micha menamakan anak pertamanya. Lexmond di ambil dari marga Alexander dan Osmond. Keluarga mereka kini lengkap sudah, kebahagiaan menyelimuti keduanya, keluarga mereka, sahabat-sahabat mereka, hingga seluruh dunia pun tahu kehadiran calon pewaris Axelle ini.
“Selamat ya Micha sayang kamu sudah menjadi orang tua dan sekarang Mama dan Papa sudah jadi Nenek.” Ucap Alice haru.
“Mulai sekarang Micha harus merawat cicit Nenek dengan baik ya.” Ucap Rimala yang tak kalah haru.
“Sebentar lagi dedek Krisna akan ada temannya.” Celetuk Enzi sembari mengusap perut besarnya.
Mereka pun tertawa bersama. Di luar ruangan Axelle, Wilfred, Jarvis dan juga Jaxson sedang berbincang bersama. Mereka turut merasakan kebahagiaan Axelle, meski Wilfred masih sedih dengan keadaan Yora yang masih koma sampai saat ini. Begitu juga dengan Jarvis yang masih terus berusaha mendekati Joel.
Meski keadaan Yora stabil, namun tanda-tanda dia akan sadar sama sekali tidak ada perkembangan. Walaupun seperti itu Wilfred selalu setia mengurus Yora, rumah sakit kini menjadi rumahnya. Setiap pulang bekerja Wilfred selalu tepat waktu kembali ke rumah sakit untuk merawat Yora hingga pagi tiba dan dia baru beranjak kembali saat waktunya bekerja.
Sedangkan Jarvis, meski dirinya sudah mengatakan akan kebenaran bahwa dia yang mengambil kesucian Joel malam itu. Joel malah semakin menjauh darinya, walau Joel tidak mempermasalahkan hal itu. Dirinya tahu betul itu juga bukanlah keinginan atau kesalahan Jarvis, dia di jebak. Lalu bagaimana Joel bisa menerima pertanggung jawaban Jarvis karena kenyataannya dia pernah menjadi wanita malam.
Meskipun Jarvis mau menerima keadaan Joel apa adanya, tetapi Joel merasa tak pantas untuknya. Dia merasa rendah diri, meski Micha dan Enzi pernah menasehati Joel untuk membuka hatinya. Namun Joel benar-benar tak mampu menghilangkan perasaan jijik pada dirinya sendiri.
*****
#4 tahun kemudian
“Mama..Mama..ayo kita ke rumah Fio, Kris ingin bermain bersamanya.” Celetuk Krisna manja.
“Baiklah sayang, kita akan kesana. Sekarang ganti bajumu terlebih dahulu okey.” Sahut Micha lembut.
“Siap Ma.” Krisna kemudian berlari kecil menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya sendiri.
“Hallo..sayang..aku dan Krisna akan ke rumah Enzi. Dia terus merengek ingin bertemu dengan Fiona.” Ucap Micha dalam panggilannya.
“Baiklah sayang, nanti sepulang kerja aku akan jemput kalian. Hati-hati ya sayang jangan terlalu lelah karena sekarang kandunganmu sudah memasuki bulan ke tujuh.” Ucap Axelle lembut.
“Iya sayang, aku akan lebih berhati-hati.”
Setelah panggilan usai, Krisna berteriak kembali kepada sang mama.
“Mama Kris sudah siap.”
“Iya sayang, jangan lari-lari. Pak antarkan kami ke rumah Enzi ya.”
“Baik Nyonya.”
Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang terkadang pelan. Sang sopir sangat berhati-hati dalam mengendarai karena nyonya nya saat ini tengah hamil besar.
Tin tin
Klakson mobil berbunyi nyaring di depan rumah Enzi. Enzi sudah sangat hafal dengan suara mobil Micha. Ia segera berlari memyambutnya secara langsung. Fiona anak perempuan Enzi pun tak kalah semangatnya untuk menyambut mereka.
“Micha...!! Mengapa tidak memberitahuku jika mau kesini?” Tanya Enzi sembari memeluk tubuh sahabatnya itu.
Sang sopir pun segera memasuki halaman rumah Enzi setelah Micha dan Krisna sudah lebih dulu turun dari mobil.
“Maafkan aku Enz, tadi Kris merengek ingin kemari. Jadi aku belum sempat untuk mengabarimu.”
“Ya sudah, ayo kita masuk, lanjutkan bicaranya di dalam.” Ajak Enzi.
Mereka berempat pun memasuki rumah Enzi dan juga Jaxson. Rumah dengan interior berwarna abu-abu, namun banyak tanaman bermacam-macam di halaman maupun di sekeliling rumah. Sehingga membuat rumah tersebut begitu tenang dan sejuk. Kedua anak lucu itu pun mulai berinteraksi, meski umur Fiona hanya berjarak dua bulan dari Krisna. Tetapi Fiona lebih suka memanggil Kriss dengan sebutan kakak karena memang menurutnya Krisna lebih tua darinya.
“Hei..Kak Kris..!!” Sapa Fiona dengan khas imutnya.
“Hai juga Fio, aku membawakan sesuatu untukmu.” Celetuk Kris.
“Apa itu Kak..?!” Fio pun langsung girang.
“Ini..!!” Ucap Kris sembari menyodorkan satu paket macaron mini yang berwarna warni itu.
“Waaaahh..terima kasih Kak Kris, aku menyukainya.” Sanjung Fiona.
“Sama-sama Fio.” Sahut Kris senang.
“Ya sudah kalian berdua main di kamar bermainnya Fio ya.” Ucap Enzi lembut.
“Baik Ma.”
“Baik tante.”
Keduanya pun lalu berlari kecil menuju kamar Fiona yang memang khusus di buat untuk bermain.
“Micha sudah beberapa hari kita tidak menjenguk Yora. Bagaimana kalau besok kita kesana.” Ucap Enzi.
“Oh ya Micha, apa kamu sudah tahu kabar Joel?”
“Ya dia sangat sibuk dengan perusahaan barunya. Itu bagus untuknya, supaya dia bisa benar-benar melupakan masa lalunya. Papanya sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan dia di penjara seumur hidup. Semoga saja hubungannya dengan Jarvis bisa menuju ke jenjang pernikahan.” Jelas Micha.
“Aku harap juga seperti itu, dulu Jarvis benar-benar melakukan apapun untuk membuat luluh hati Joel sampai dia mau menjadi kekasihnya. Tapi sekarang sudah 2 tahun pacaran Joel masih saja belum siap untuk menikah.” Keluh Enzi.
“Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di pikiran Joel.”
Ting tong..
“Ada tamu Enz?”
“Aku juga tidak tahu Micha, aku buka pintu sebentar ya.”
“Iya Enz.”
Enzi berjalan menuju pintu untuk melihat siapakah tamunya ini. Saat di bukanya pelayannya sudah lebih dulu membuakakan gerbang.
“Siapa Bi?” Tanya Enzi.
“Ini Nyonya ada paket.” Sahut sang Bibi sembari menyodorkan sebuah paket.
“Baiklah, terima kasih Bi.”
“Baik Nyonya, sama-sama.”
Enzi pun kembali memasuki rumahnya dengan raut wajah heran dan penasaran, karena di paket tersebut sama sekali tidak ada nama pengirimnya.
“Siapa Enz?”
“Kurir pengirim paket.”
“Kurir pengirim paket? Memangnya kamu pesan apa Enz?”
“Aku tidak membeli barang online apapun Micha. Aku juga bingung ini dari siapa, karena nama pengirimnya tidak ada.”
“Coba di buka.”
Perlahan Enzi mulai membuka kotak paket tersebut. Kedua mata Enzi dan Micha saling bertatap, mereka cukup terkejut karena isi di dalam kotak tersebut ternyata kartu undangan pernikahan Joel dan juga Jarvis. Keduanya tersenyum bahagia.
“Aku sungguh tidak menyangka Joel memberikan kita kejutan seperti ini. Kita harus mengintrogasinya.” Celetuk Enzi.
“Benar juga apa katamu Enz, sepertinya aku juga mendapatkan paket itu di rumah.” Keduanya pun terkekeh.
Waktu sudah menjelang sore, Axelle dengan tepat waktu menjemput istri dan anak tercintanya dari kediaman Jaxson.
“Kami pamit dulu Enz.” Ucap Micha sembari memeluk tubuh sahabatnya.
“Aku pulang dulu Fio.” Celetuk Krisna.
“Oke Kak Krisna.” Sahut Fiona sembari melambaikan tangan.
“Hati-hati di jalan ya.”
Micha mengangguk pelan, Axelle kemudian mengajak keduanya memasuki mobil. Enzi, Jaxson dan juga Fiona melambai bersamaan hingga mobil itu hilang dari pandangan mereka.
Keesokan harinya Jakson sekeluarga dan juga Axelle sekeluarga berkunjung ke rumah sakit menjenguk Yora. Disana Yora masih menjalani terapi berjalan, karena kecelakaan itu benar-benar membuatnya lumpuh.
Satu bulan yang lalu Yora baru sadar dari komanya dan pada saat itu juga tanpa adanya resepsi yang mewah atau balutan gaun pengantin Wilfred menikahi Yora di rumah sakit.
Seusainya Yora melakukan terapi mereka berkumpul di ruangan Yora dirawat. Ya ruangan itu cukup luas dan mewah, setelah tersadarnya Yora dari koma lamanya. Wilfred memindahkan Yora ke ruang VIP.
Mereka pun membicarakan mengenai kejutan undangan pernikahan Jarvis dan juga Joel. Karena mereka di berikan kejutan dadakan seperti itu, mereka pun merencanakan kembali untuk memberikan kejutan pada kedua sejoli yang akan segera menuju ke pelaminan itu.
*****
1 minggu berlalu.
Joel dan juga Jarvis telah usai mengucap ikrar janji suci mereka, dengan pesta yang sederhana dan hanya d hadiri kerabat serta sahabat mereka saja. Namun suasana hangat penuh cinta menyelimuti acara sakral itu.
Namun saat terakhir Jarvis ingin mengambil cincin di sakunya untuk di pasangkan pada Joel, kotak beserta cincinnya hilang dari sakunya. Jarvis sedikit panik, bagaimana bisa dia kehilangan cincin itu. Ini adalah moment terpenting.
“Apa yang kau lakukan Jarv?” Bisik Joel.
“Cincinya tidak ada di sakuku.” Sahut Jarvis berbisik pula.
“Apa..?! Bagaimana bisa kamu menghilangkannya?”
“Maafkan aku sayang.”
“Sebaiknya malam ini kamu tidur di luar, sampai kamu mendapatkan cincin itu kembali.” Tegas Joel.
Acara tukar cincin pun di lewatkan oleh mereka dan berlanjut ke acara melempar buket bunga.
Hari itu mereka pun menginap di hotel, di mana acara resepsi Joel dan Jarvis di adakan. Menjadi pengantin baru bukannya senang, wajah Jarvis begitu suram namun para sahabatnya hanya menertawakannya, saat Jarvis menceritakan kejadian itu.
Karena memang hilangnya cincin itu adalah ulah mereka, dan mereka sengaja menaruh cincin pernikahan Jarvis di nakas milik Joel.
Joel tentu saja sudah menemukan cincin tersebut saat dirinya memasuki kamar pengantinnya. Dan membaca secarik kertas bertuliskan bahwa itu memang di sengaja oleh teman-temannya.
“Jadi mereka melakukan ini untuk membalas dendam karena aku dan Jarvis diam-diam mengirim undangan pernikahan.” Celetuk Joel terkekeh.
“Ya sudahlah, sudah terlanjur, biarkan saja malam ini Jarvis tidur beda kamar.” Ucapnya lagi terkekeh.
Saat pagi buta Jarvis mengetahui kebenarannya, tanpa di tundanya lagi dia memasuki kamar pengantin yang ia tinggal semalaman. Dan menebus malam pertamanya yang tertunda karena kejahilan para sahabatnya. Joel mau tidak mau pagi harinya menjadi adegan panasnya.
.
.
.
.
.
.
TAMAT