
Micha seketika terbelalak dengan apa yang di lakukan Axelle padanya.
“Axelle...?!!” Teriak Micha.
“Sebaiknya kita putus, kamu sudah terlalu banyak menyakitiku. Aku melakukan semua ini hanya untuk balas dendam supaya kamu merasakan rasa sakit yang aku rasakan.” Ketus Micha dengan nada amarah yang sudah memuncak.
“Mengapa kamu melakukan hal itu Micha, aku sungguh tulus mencintai kamu. Mengapa sekarang kamu ingin pergi meninggalkan aku?” Ucap Axelle yamg sudah ketakutan.
“Karena para sahabatmu lebih baik dari pada kamu, aku bisa bahagia dengan mereka. Karena mereka juga mencintai aku.” Ucap Micha lagi.
“Tidak Micha, jangan lakukan itu, aku mohon. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Micha...Micha....!!!” Teriak Axelle terus memanggil Micha yang sudah melangkah jauh meninggalkannya sendiri di tempat itu.
“Axelle...?!!” Teriak Micha lagi yang menyadarkan lamunan Axelle. Mimpi barusan itu sangat terasa nyata baginya.
“Mengapa kau memelukku seperti ini, aku harus segera panggilkan dokter untukmu.” Ucap Micha dengan nada khawatirnya.
“Sebentar saja, aku ingin memelukmu seperti ini.” Sahut Axelle.
Nada bicara Axelle seolah-olah menunjukkan bahwa Micha akan pergi meninggalkannya. Micha pun sempat berfikir apakah Axelle mengalami mimpi buruk, hingga bicara tersirat nada ketakutan. Micha mencoba perlahan melepaskan pelukkan Axelle dan berbalik menatap wajahnya.
“Axe apakah kamu bermimpi buruk?” Tanya Micha dengan lembut.
“Ya, di mimpiku kamu pergi meninggalkanku Micha, aku sungguh takut kehilanganmu.” Jawab Axe dengan nada yang ketakutan.
“Axelle sayang mengapa kamu bisa berfikir seperti itu. Kamu seharusnya sudah tahu betapa sulitnya aku mempercayakan hatiku pada seorang lelaki, hingga saat aku sudah yakin memilihmu sebagai labuhan cintaku.” Ucap Micha dengan memegang kedua pipi Axelle dengan lembut.
Micha tidak tahu mimpi apa yang sedang di alami Axelle, sehingga Axelle berfikiran pendek seperti itu. Micha tak ingin menanyainya lebih lanjut karena yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Axelle. Dia tidak boleh memikirkan hal berat atau sesuatu hal yang membuatnya stress, karena itu akan mempengaruhi luka di kepalanya.
Setelah mendengarkan ucapan Micha, Axelle pun kembali menatap Micha dengan seksama, dirinya merasa lega bahwa wanita yang dia cintai masih berada di depan matanya dan berkata seperti itu, membuat Axelle begitu bahagia.
“Maafkan aku Micha, mungkin aku terlalu takut dengan mimpiku tadi.” Ucap Axelle.
“Sekarang kamu harus tenang ya, jangan berfikiran macam-macam. Aku akan panggilkan dokter untukmu.” Sahut Micha.
“Aku sungguh lega, tadi itu hanyalah sebuah mimpi belaka.” Ucap Axelle lirih setelah Micha keluar dari ruangan ia dirawat.
Setelah Micha datang dengan sang Dokter, Dokter itu pun langsung memeriksa kondisi Axelle. Sang dokter pun sedikit merasa khawatir setelah memeriksa kondisi tubuh Axelle.
“Sebaiknya anda lebih banyak istirahat Tuan Axelle, jika anda terlalu stress lagi saya pastikan luka anda akan terbuka lagi dan itu bisa membahayakan anda.” Ucap sang dokter menasehati Axelle.
“Maaf Dok.” Sahut Axelle singkat.
“Apa Dok...?! Apa yang harus saya lakukan Dokter, saya tidak mau jika terjadi sesuatu pada Axelle.” Ucap Micha khawatir.
“Jangan khawatir Nona, dia hanya perlu menjalani terapi disini hingga lukanya mengering.”
“Kalau seperti itu saya merasa lega Dok. Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membantu proses terapinya?” Tanya Micha penuh antusias.
“Anda hanya perlu menenangkan fikirannya dan membuatnya selalu dalam mood yang baik.” Jelas sang Dokter.
“Terima kasih Dok atas sarannya, saya akan berusaha melakukannya.”
“Baiklah, kalau begitu saya permisi.”
“Terima kasih Dok.” Ucap Micha sebelum sang Dokter meninggalkan ruangan Axelle.
Sang Dokter pun hanya tersenyum dan perlahan melangkah pergi dari ruangan itu. Setelah mendapat penjelasan dari Dokter Micha pun akan mulai menjaga ketat kondisi Axelle.
“Kamu sudah dengar bukan Axe, jadi mulai saat ini jangan fikirkan hal apapun yang membuatmu stress. Mengerti...!!!” Ucap Micha memarahi Axelle.
“Baiklah tuan putriku aku akan menuruti kata-katamu.” Sahut Axelle dengan senyum bahagianya.
“Ya sudah sebaiknya kamu segera tidur lagi Axe ini masih malam.” Ucap Micha lagi.
“Asal kamu ikut tidur bersamaku disini.” Ucap Axe sambil menepuk-nepuk tempat kosong disebelahnya.
“Aku akan tidur di sofa.” Sahut Micha ketus.
“Kau tak mau merawatku?” Ucap Axelle sedih.
“Bukan begitu Axe hanya saja aku tidak mau sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi, kamu mengerti kan Axe.” Jawab Micha dengan wajah sedikit tertunduk.
Axelle yang mengerti akan maksud dari perkataan Micha pun hanya menghembuskan nafasnya pelan. Walaupun dirinya sama sekali tidak ada niatan ke arah sana. Tapi Axelle tidak mau membuat Micha tidak merasa nyaman.
“Baiklah sayang, maafkan aku ya.”
Cup
“Tak apa Axe, sebaiknya istirahat sekarang ya supaya kondisimu segera pulih dan bisa segera pulang.” Ucap Micha yang sangat perhatian dengan kekasih barunya ini.
“Terima kasih sayang.” Sahut Axelle.
“Sama-sama sayang.” Ucap Micha malu-malu.
Keesokan paginya Micha dengan lembut membilas wajah dan tangan Axelle, setelah menyuapi dan memberikan obat untuk Axelle. Micha mengupaskan buah-buahan yang di bawakan oleh Wilfred kemarin.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi. Wilfred, Jaxson dan juga Jarvis sudah datang menjenguk Axelle, walaupun di antara mereka ada sedikit kecanggungan, namun Wilfred dapat mengkondisikan situasinya agar senormal mungkin.
“Kalian sudah disini menggantikanku menjaga Axelle ya, aku akan pulang untuk siap bekerja.” Ucap Micha pada ketiganya.
“Ya Micha tenang saja, serahkan Axe pada kami.” Sahut Wilfred lembut.
“Benar Micha jangan khawatir.” Ucap Jarvis dengan nada jahil seperti biasanya.
“Berhati-hatilah saat bekerja Micha.” Ucap Jaxson sedikit dingin.
“Terima kasih semuanya.” Ucap Micha dengan nada sedikit haru.
“Sama-sama Micha.” Sahut mereka hampir bersamaan.
“Aku pulang dulu ya Axe, jaga dirimu dan jangan telat untuk makan dan meminum obatnya nanti.” Ucap Micha pada Axelle.
“Tentu sa..”
“Ya sudah aku pergi ya, bye semua.” Ucap Micha lagi yang memotong ucapan Axe.
Micha tahu apa yang akan Axe ucapkan, tapi Micha masih canggung jika itu di ucapkan di depan para sahabat Axelle. Sehingga Micha dengan sengaja memotong ucapan Axelle dan langsung berlalu pergi dari ruangan itu.
“Haihh..!!” Axelle menghembuskan nafasnya kasar.
“Bagaimana keadaanmu sekarang Axe?” Tanya Jaxson.
“Sudah lebih baik.” Sahut Axe datar.
“Mengapa harus perang dingin seperti ini, aku tidak mungkin membiarkan ini semua terus berlanjut.” Ucap Wilfred dalam hati.
“Axe kau tak ingin memberitahu keadaanmu pada orang tuamu?” Tanya Wil yang mencoba mengubah suasana.
“Untuk apa Wil, kau sudah tau dengan jelas bukan.” Sahut Axe tersirat nada kegetiran dalam ucapannya.
“Maaf Axe.” Ucap Wil merasa bersalah.
.
.
.
.
.
Hayooo...siapa yang ngrasain dag dig dug tadi..ternyata si Micha minta putus itu hanya mimpi belaka🤭
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Klik 👍 Klik❤️ Klik 5 🌟 dan jangan lupa Vote nya juga ya sebanyak yang kalian mampu.😁
Terima Kasih 🙏🙏