
Baru saja Micha menapaki satu tangga, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap dan dirinya terjatuh tak sadarkan diri.
Gubrakkkk.....!!!
“Nyonya....!!!!”
“Cepat panggilkan dokter untuk Nyonya.” Teriak pelayan itu kepada pelayan yang lainnya.
Dengan perlahan beberapa pelayan membantu mengangkat Micha ke kamar tamu yang berada di lantai bawah, demi keamanan Nyonya mereka. Mereka sengaja memilih untuk tidak langsung membawa Micha ke kamarnya karena takut, jika sesuatu terjadi pada Nyonya nya di saat mereka menaiki anak tangga.
Sekitar setengah jam kemudian, dokter dan perawat yang sudah sering menangani masalah kesehatan Axelle pun datang. Micha sesegera mungkin di tanganinya dan perawat pun mulai memasangkan selang infus pada Micha.
“Bagaimana keadaan Nyonya kami Tuan Dokter?”
“Tidak ada masalah yang serius dia hanya kelelahan dan kurang cairan. Berikan resep obat ini tiga kali sehari, pastikan untuk di habiskan.” Sahut sang Dokter.
“Baik Tuan Dokter.”
Mereka pun lalu berpamitan, karena keadaan Micha sudah stabil setelah dua kantong infus di habiskan.
“Apa aku harus menghubungi Tuan ya? Tapi sepertinya Tuan tadi sedang ada urusan yang cukup penting, jika tidak pasti beliau akan tinggal di rumah menemani Nyonya.”
“Sebaiknya aku tidak mengganggu pekerjaan Tuan. Semoga saat Tuan pulang Nyonya sudah sembuh.”
Hari pun mulai menjelang sore, namun keadaan Micha belum juga membaik. Kini tubuhnya mengalami demam yang tinggi.
Padahal sebelumnya Micha sudah sadar untuk makan dan meminum obatnya, tapi bukannya merasa lebih baik, tubuh Micha semakin terasa tidak nyaman. Badannya terasa sakit, suhu badannya cukup tinggi, di tambah pusing yang semakin parah, hingga dirinya sulit untuk membuka mata.
“Bagaimana ini kondisi Nyonya semakin mengkhawatirkan.”
“Sebaiknya kita segera memberitahu Tuan, dari pada nanti Nyonya dalam bahaya, kita juga yang kan di marahi.”
“Baiklah aku akan memberi tahu Tuan sekarang.”
Salah satu pelayan pun segera menghubungi Axelle.
Drrtt drrtt drrtt
“Panggilan dari rumah? Apa sesuatu terjadi padanya?”
“Hallo...”
“Maaf Tuan saya mengganggu waktu anda, tapi keadaan Nyonya sekarang semakin mengkhawatirkan.”
“Apa..?! Kenapa tidak memberitahuku sedari tadi Bi?”
“Maafkan saya Tuan. Sebenarnya tadi pagi setelah Tuan berangkat, Nyonya sempat jatuh pingsan dan di rawat oleh Dokter, dan Nyonya juga sempat sadar untuk makan dan meminum obatnya Tuan. Akan tetapi sore ini Nyonya semakin demam tinggi.” Jelas sang pelayan.
“Apa hal segenting ini kamu baru memberitahukanku sekarang. Jika sampai istriku ada apa-apa kalian semua tunggu saja hukuman dariku.”
Axelle lalu mematikan panggilannya dan bergegas untuk kembali pulang. Dia tak menghiraukan lagi pekerjaan yang masih menumpuk.
“Urus sisa pekerjaan untukku. Aku akan pulang Rend.” Perintah Axelle.
“Tapi Tuan banyak berkas penting yang harus anda selesaikan hari ini.”
“Istriku sakit Rendy, kamu atur saja semuanya, aku akan urus nanti.” Celetuk Axelle langsung meninggalkan Rendy sendiri di ruang kerjanya.
“Haihhh...lagi-lagi aku yang kena.” Keluh Rendy lirih.
Axelle terus memacu kecepatan mobilnya, pikirannya kacau dia takut terjadi sesuatu pada istri tercintanya. Tak membutuhkan waktu lama, Axelle sampai di kediamannya. Dia langsung berlari untuk segera menemui istrinya.
“Di mana Nyonya?!” Celetuk Axelle dengan nada marahnya.
“Di...di kamar tamu Tuan.” Ucap sang pelayang tergagap.
Tanpa bada basi lagi Axelle lalu menuju kamar tamu. Mereka tahu betul saat ini Tuannya sangat marah karena mereka terlambat memberitahukan tentang kondisi Nyonya mereka.
“Sayang...!!” Panggil Axelle pelan.
“Kamu sudah pulang sayang.” Sahut Micha dengan suara yang lemah.
“Badan kamu sangat panas sayang, sebaiknya kita ke rumah sakit ya.” Ucap Axelle khawatir.
“Badanku terasa sakit semua sayang, aku benar-benar merasa tidak nyaman. Kepalaku sangat pusing sampai aku sulit untuk membuka mataku, jika aku memaksanya kepalaku semakin bertamabh pusing dan sakit.” Keluh Micha menangis.
Micha sebenarnya sudah mencoba menahan rasa sakit serta pusing yang ia rasakan dalam satu hari ini. Namun menjelang sore dirinya semakin tidak nyaman, meski matanya terus terpejam akan tetapi dirinya sulit untuk tidur.
“Jangan menangis sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya.” Micha pun mengangguk pelan.
Axelle kemudian menggendong Micha perlahan menuju ke mobil.
“Siapkan keperluan Nyonya selama di rumah sakit.”
“Baik Tuan.”
Perlahan Axelle merebahkan tubuh Micha di kursi depan yang sudah dia ubah tempat duduknya setengah duduk. Dengan telaten Axelle memasangkan sabuk pengaman pada tubuh istrinya.
“Sabar ya sayang. Kamu tahan sebentar rasa sakitmu.” Ucap Axelle mencoba menenangkan Micha.
Sesampainya di rumah sakit dengan segera Micha di tangani oleh dokter, setelah sang dokter mendengar apa yang di rasakan oleh Micha. Sang dokter pun melakukan beberapa tes lab pada tubuh Micha yaitu tes darah dan tes urine.
Micha dan Axelle sempat bingung mengapa harus tes urine juga, keduanya mengira bahwa penyakit yang di derita Micha cukup serius. Hingga sang dokter harus menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada penyakit serius yang di derita oleh Nyonya Axelle ini.
“Lalu jika tidak ada yang serius mengapa harus melakukan tes darah dan tes urine Dok?” Tanya Axelle.
“Pak Axelle tunggu saja nanti hasil lab nya ya, tidak akan lama. Kita akan mengetahui saat hasil labnya keluar.” Sahut sang dokter.
“Sudahlah sayang, kita tunggu saja dan menuruti apa kata Dokter.” Ucap Micha.
Hanya sekitar lima belas menit mereka menunggu, hasil lab pun keluar. Seorang perawat memberikan hasil lab tersebut kepada sang dokter.
“Bagaimana Dok hasilnya?” Tanya Axelle tidak sabar.
Sang dokter pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah Axelle yang cukup antusias dan serius, karena kekhawatiran pada istrinya.
“Hasilnya...”
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung author guys....
• FAVORIT ❤
• RATE ⭐⭐⭐⭐⭐
• LIKE ❤
• KOMEN (Kritik & sarannya juga ya)
• VOTE seikhlasnya🙏
TERIMA KASIH SEMUA ATAS DUKUNGANNYA🙏🙏🙏😘😘😘