
Joel tahu Jarvis memang sengaja ingin membuatnya kesal. Tapi dirinya bahkan tidak tahu bahwa Jarvis melakukan hal itu demi untuk lebih kenal dekat dengan dirinya. Hingga satu hari tiba-tiba Jarvis mengajaknya untuk makan malam.
“Aku akan menunggumu di restauran ini jam tujuh malam nanti. Usahakan datang tepat waktu ya baby.” Tertulislah pesan singkat itu di layar ponsel Joel.
“Mau apa lagi sebenarnya CEO satu ini. Apa dia ingin mengerjaiku lagi?!”
“Huuhh...!! Sudahlah aku malas memikirkannya.” Celetuk Joel lagi.
Malam itu Joel tetap saja mau datang ke restauran yang sudah di booking oleh Jarvis. Dia mulai memasuki restauran mewah itu dengan langkah kaki yang mulai pelan. Kepercayaan diri Joel kembali menciut, namun dia sudah terlanjur sampai di restauran tersebut.
Dengan memberanikan diri Joel berbicara kepada salah satu pelayan di sana.
“Maaf permisi..!! Saya ada janji temu dengan Pak Jarvis.” Ucap Joel hati-hati.
“Nona Joel ya?!” Tanya pelayan itu kembali.
“Iya benar.”
“Mari saya antar Nona.”
“Baik, terima kasih.”
Pelayan tersebut kemudian mengantar Joel pada satu ruangan VIP yang tertutup.
“Silahkan Nona, Pak Jarvis sudah menunggu anda di dalam.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama Nona.”
Joel perlahan memasuki ruangan itu dengan gugup, karena dirinya kembali teringat dengan masa lalunya yang buruk. Pernah di lecehkan di dalam ruangan VIP restauran juga.
Joel masih menundukkan kepalanya menghadap Jarvis. Jarvis mengerti gelagat Joel yang ketakutan, dia tahu itu merupakan salah satu traumanya. Sehingga mulai dari sekarang semua tempat yang menjadi trauma Joel akan Jarvis hilangkan dengan momen-momen indah mereka.
“Duduklah Joel, kamu tidak perlu takut. Di sini aku hanya mengajakmu makan.” Ucap Jarvis menenangkan Joel.
Joel sedikit terhenyak karena Jarvis yang biasa jahil, kini Jarvis di hadapannya menjadi sosok pria yang dewasa. Malam itu tak banyak yang di bicarakan, namun Joel sudah mampu menenangkan hatinya. Bahwa tak semua dunia orang kaya itu kotor.
*****
Seiring berjalannya waktu hubungan Wilfred dan juga Yora semakin mengarah ke jenjang yang serius, hingga mereka memutuskan untuk merencanakan hari pertunangan. Semua begitu tenang dan damai, kehidupan para empat CEO ini berjalan sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Hingga pada satu waktu, takdir berkata lain, kita tidak akan tahu masa depan yang akan datang seperti apa. Sebisa mungkin kita selalu memberi kasih sayang kepada orang yang kita sayangi. Jangan sampai membuat mereka merasa sedih atau tersakiti. Karena hal itu hanya akan menjadi penyesalan bagi kita saat orang yang kita sayang tidak lagi berada disisi kita.
Siang itu Wilfred mengajak Yora untuk bertemu di cafe seberang apartemen Yora. Dengan wajah yang bahagia Yora segera memakai pakaian terbaiknya dan memoles sedikit make up pada wajahnya.
“Kamu mau kemana sayang? Sepertinya suasana hatimu sangat baik hari ini.” Tanya Ibu Yora.
“Ah..Ibu bisa saja, aku hanya ingin bertemu seseorang Bu.” Sahut Yora dengan senyumnya yang masih mengembang.
“Pasti Nak Wilfred bukan?” Tebak sang Ibu.
“Ibu tahu dari mana?”
“Sayang tidak ada hal yang bisa kamu sembunyikan dari Ibu. Beberapa hari lalu Nak Wilfred menemui Ibu dan dia menceritakan semua hal tentangmu.”
“Jika kamu dan Nak Wilfred memang sudah menuju ke tahap yang serius, Ibu merestuinya, Ibu senang kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu sayang.”
“Bolehkah seperti itu Bu? Tapi dalam hubungan kami tetap ada batasannya Bu, aku dan dia berada di kalangan yang berbeda, sebenarnya aku takut untuk melanjutkan hubungan ini Bu.”
“Tentu sayang, kamu berhak bahagia. Nak Wilfred sangat tulus mencintaimu, cinta tulus itu tidak akan memandang apapun. Kamu pantas memperjuangkannya.”
“Terima kasih Ibu, aku jadi lebih tenang sekarang. Oh ya Bu aku ingin berpesan, mulai sekarang Ibu jangan terlalu lelah, jaga kesehatan Ibu. Yora tidak ingin ibu jatuh sakit karena kelelahan.”
“Iya sayang Ibu akan perhatikan kesehatan Ibu.”
“Dan kalian berdua jangan selalu menyusahkan Ibu. Sering-sering bantu Ibu saat Kakak tidak di rumah.” Ucap Yora memperingati kedua adiknya.
“Baik Kak.” Jawab keduanya serentak.
“Kalau begitu Yora berangkat ya Bu.” Pamit Yora memeluk erat tubuh Ibunya dan mencium punggung tangan sang Ibu.
Yora melangkah keluar rumah dengan sangat bahagia. Dia akan bertemu dengan pria yang sangat di cintainya.
Di seberang jalan Wilfred melambaikan tangannya pada Yora. Yora pun membalas lambaiannya, Yora segera melangkah untuk menyebrangi jalan saat lampu merah menyala. Namun hal tak terduga terjadi.
Sebuah mobil melaju kencang ke arah Yora dan menabraknya, tubuh Yora terpental cukup Jauh. Darah segar mengalir dari kepala, hidung dan mulutnya. Tanpa aba-aba Wilfred berlari mendekati tubuh Yora yang sudah tergeletak tak berdaya.
Sudah banyak orang yang mengerumuni di sekitar tubuh Yora. Sedangkan mobil yang menabrak Yora sudah melarikan diri.
“Yora..Yora..sadarlah..buka matamu. Jangan seperti ini, jangan menakutiku Yor.” Teriak Wilfred ketakutan.
Buliran bening mengalir di pelupuk mata Wilfred. Setengah sadar Yora mencoba membuka matanya sayu. Ia menatap Wilfred penuh cinta, jika ini adalah akhir dari hidupnya dia tetap bahagia. Karena di saat-saat terakhir dia bersama dengan orang yang di cintainya.
“Jangan menangis, itu tidak pantas untuk seorang CEO sepertimu.” Ucap Yora dengan suara yang sangat lemah.
“Kita akan ke rumah sakit, kamu jangan banyak bicara dulu.” Ucap Wilfred lalu mengangkat tubuh Yora ke dalam taxi yang di berhentikan salah satu orang yang berada di tempat tersebut.
“Terima kasih.” Ucap Wil pada orang tersebut.
“Yora tetap jaga kesadaranmu ya.” Ucap Wilfred panik
“Wil..!!” Panggilnya lirih.
“Jangan bicara dahulu, kita akan segera sampai di rumah saki. Tolong percepat lagi Pak..!!!” Raut wajah panik tentu terlihat jelas di wajah Wilfred.
“Uhukkk...!!” Darah segar kembali keluar dari mulut Yora.
“Yora aku mohon bertahanlah.” Wilfred semakin ketakutan.
“Wil ku kumohon dengarkan aku.” Pinta Yora dengan suaranya yang semakin lemah.
“Aku akan mendengarkanmu nanti ok, sekarang kamu diam, tenagamu sudah sangat lemah.”
“Tolong bantu jaga Ibu dan adik-adikku, katakan pada mereka aku sungguh meminta maaf tidak bisa menemani mereka lagi. Jangan biarkan Ibuku berlarut dalam kesedihan dan kamu juga aku sangat mencintaimu sayang. Terima kasih telah membalas cintaku dengan tulus, aku berharap kamu akan bahagia meski tidak dengan diriku.” Suara Yora terpenggal-penggal karena dia terus memaksakan untuk berbicara pada Wilfred.
Suaranya semakin tenggelam, kesadaran Yora semakin menipis. Wilfred sudah tidak tahan melihat keadaan Yora yang kritis.
“Aku juga sangat mencintaimu sayang, aku mohon kamu bertahanlah, jangan tinggalkan aku sendirian.” Sahut Wilfred yang sudah berderai air mata.
“Uhukk..uhukk..!!” Lagi-lagi Yora batuk darah dia tersenyum bahagia menatap sang kekasih, hingga matanya benar-benar terpejam karena kehilangan kesadaran.
“Tidak..!!! Yora bangun..!! Ku mohon bertahanlah...!!” Teriak Wilfred mengguncang pelan tubuh Yora.
Dengan sigap pihak rumah sakit membawa Yora ke IGD untuk di tangani. Wilfred terduduk di lantai, dia menangis tanpa henti. Dia terus memohon agar Yora dapat di selamatkan. Wilfred sangat frustasi hingga dirinya tidak memperdulikan pakaian dan tubuhnya yang di penuhi noda darah Yora.
Dengan tangan yang gemetar Wilfred mencoba menghubungi Axelle. Dengan suara yang tercekat Wilfred berusaha memberitahukan bahwa Yora kecelakaan dan kini berada di rumah sakit.
Axelle terkejut mendengar hal itu, dia lalu mengirim pesan singkat pada Jaxson dan juga Jarvis. Biarlah mereka bergantian menghubungi yang lainnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung author guys....
• FAVORIT ❤
• RATE ⭐⭐⭐⭐⭐
• LIKE ❤
• KOMEN (Kritik & sarannya juga ya)
• VOTE seikhlasnya🙏
TERIMA KASIH SEMUA ATAS DUKUNGANNYA🙏🙏🙏😘😘😘