MY PERFECT BOSS

MY PERFECT BOSS
Kejadian Yang Tak Terduga



Wilfred tertawa kecil karena gadis ini sungguh tidak melihat kondisi, bagaimana gadis itu bisa menyuruhnya melepaskan bajunya di tempat ramai seperti ini. Sedangkan gadis itu hanya mengernyit heran melihat Wilfred tertawa.


“Kamu yakin menyuruhku membuka baju disini?” Tanya Wilfred penuh penekanan


“Iya Pak, memangnya kenapa?” Jawab gadis itu polos.


“Cobalah lihat disekitarmu, apakah kamu ingin menjadikanku sebuah pertunjukan membuka baju disini.”


“Upps...!!” Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Ma..maaf Pak, saya tidak melihat kondisi.” Ucapnya merasa bersalah.


“Kalau kau ingin bertanggung jawab, sekarang ikutlah denganku.”


“Kemana Pak?!”


“Jangan cerewet, cukup ikuti saja.”


Wilfred lalu membawa gadis itu menggunakan lift dan pergi menuju kamar yang sudah ia booking. Sesampainya di depan pintu kamar, gadis itu meringkuk ketakutan. Sedangkan wilfred masih dengan santainya memasukan menempelkan kartu akses.


Saat Wilfred sudah berhasil membuka pintunya dia menengok ke arah belakang dan di kejutkan lagi oleh sikap gadis itu yang sudah berjongkok dan tubuhnya gemetaran karena takut. Wilfred sempat tertawa melihat tingkah lucu gadis itu. Bagaimana tidak, gadis itu pasti berfikir bahwa dirinya ingin macam-macam dengannya padahal Wilfred hanya ingin berganti pakaian dan menyerahkan pakaian kotornya pada gadis itu.


“Kamu kenapa? Mengapa jongkok seperti itu?” Tanya Wil yang masih santai.


“Ma..maaf Pak jika saya sudah membuat anda marah, tapi tolong jangan lakukan itu Pak, sa..saya masih suci.” Ucapnya terbata dan dengan polosnya. Alhasil membuat Wilfred tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha..bagaimana kamu bisa berfikir sampai kesitu gadis kecil. Tadi kamu bilang ingin bertanggung jawab atas pakaianku. Sedangkan aku mengajakmu kemari karena aku ingin berganti pakaian dan setelah itu menyerahkan pakaian kotorku padamu.”


“Apa kamu ini sungguh menganggap aku pria yang berotak mesum?”


“Ti..tidak Pak, bu..bukan seperti itu.” Sahutnya lagi.


“Kamu bodoh, bagaimana kamu bisa beranggapan Pak Wilfred seperti itu. Padahal aku sungguh tahu Pak Wilfred adalah atasan yang paling sopan dan lembut di antara yang lain.” Decak Yora merutuki kebodohannya dalam hati.


“Kalau begitu ikutlah masuk denganku, aku sungguh sudah tidak tahan dengan lengketnya jus ini.”


“Ba..baik Pak.”


Keduanya pun lalu masuk kedalam kamar, Wilfred langsung mencuci tangannya terlebih dahulu di wastafel.


“Kamu tunggu saja disini, aku akan berganti pakaianku di kamar.” Ucap Wilfred mempersilahkan gadis itu duduk di sofa ruang utama. Dan dia pergi menuju kamarnya.


“Baik Pak.” Sahut gadis itu sopan.


“Aku sungguh tidak menyangka bahwa aku tiba-tiba berada di kamar Pak Wilfred seperti ini dan mengobrol lama dengannya.” Ucap Yora sangat senang.


Karena sesungguhnya Yora sangat mengidolakan atasannya itu, namum apa daya perbedaan status mereka sangatlah jauh. Untuk berharap saja Yora tidak berani.


Selang beberapa menit akhirnya Wilfred datang dengan sebuah bungkusan baju kotor di tangannya dan menghampiri Yora yang masih duduk termangu melihat sekeliling kamarnya karena merasa kagum.


“Maaf lama.” Celetuk Wilfred mengalihkan pandangan Yora.


“Oh..tidak apa-apa Pak. Kalau begitu saya pamit dulu ya Pak.” Ucap Yora sembari mengambil bungkusan yang berada di tangan Wilfred.


Yora berlalu pergi dari kamar Wilfred dengan buru-buru, dia sungguh tidak ingin berlama-lama dekat dengan atasannya itu. Perasaanya sudah memburu tak menentu namun Yora sadar diri, dia tidak pantas memiliki rasa itu.


“Sadar Yora, dia dari dunia yang berbeda, kamu tidak akan pernah pantas untuknya.” Celetuknya sembari menepuk-nepuk kedua pipinya agar tersadar dari harapannya.


Yora kemudian memutuskan untuk pulang, karena hari mulai larut malam meski pestanya belum usai. Dia tidak ingin membuat mamanya khawatir.


“Hai Micha..!!” Ucap Yora sambil melambaikan tangannya saat melihat sosok yang dia cari sudah ketemu.


“Hai Yor, ada apa?”


“Aku sungguh minta maaf ya Micha, aku harus pulang sekarang kasian ibu, takut jika dia khawatir.”


“Baiklah Yora, kamu naik apa?”


“Aku bisa naik bus umum saja Micha.”


“Jangan..!! Biar sopir Axelle mengantarmu sebentar ya. Aku tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi.”


“Dilarang menolak, aku akan bilang pada suamiku.”


“Aku ikut Micha, sekalian aku mau meminta maaf, karena tidak dapat ikut berpartisipasi sampai pesta selesai.”


“Baiklah.”


Setelah Axelle mengiyakan keinginan istrinya, Micha pun mengantar Yora sampai dirinya masuk ke dalam mobil Axelle.


“Rendy antar dia sampai rumah dengan selamat ya.” Ucap Micha.


“Baik Nyonya.”


Rendy segera melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Yora hanya duduk terpaku menatap ke arah jendela, membayangkan akan kejadian yang terjadi di pesta tadi. Dirinya sungguh di landa kegalauan, ada sesuatu yang tersirat dalam hatinya. Namun dia harus menepisnya jauh-jauh meski rasa sesak datang menyeruak kedalam.


Sedangkan Rendy sesekali mengamati Yora dari kaca depan, Rendy sedikit mengerti akan apa yang sedang Yora pikirkan. Mungkin dirinya sedang putus cinta atau cintanya bertepuk sebelah tangan.


“Percintaan itu sangat rumit.” Celetuk Rendy dalam hati.


Rendy kemudian kembali fokus untuk menyetir hingga sampailah di apartemen Yora.


“Terima kasih sudah mau mengantar saya.” Ucap Yora dengan sopan.


“Sudah tugas saya Nona. Kalau begitu saya permisi.” Balas Rendy tak kalah sopan.


*****


Keadaan Enzi kini mulai membaik, Jaxson pun mengantarkan Enzi ke kamar yang baru saja di booking karena hari sudah larut tidak mungkin Jaxson mengantar Enzi dalam keadaan seperti ini.


“Kamu istirahatlah Enz, jangan terlalu banyak berfikir.” Ucap Jaxson menenangkan Enzi.


“Terima kasih Jax atas pertolonganmu tadi.” Sahut Enzi.


“Tidak masalah Enz, dia yang sudah keterlaluan padamu. Jadi dia pantas mendapatkan pukulanku.”


“Baiklah kalau begitu aku akan istirahat dulu Jax.”


“Selamat malam Enz.”


“Malam juga Jax.”


Enzi lalu menutup pintu kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia sungguh sangat lelah hari sangat banyak kejadian yang menguras hati.


“Semoga kamu baik-baik saja Joel, maafkan aku.” Ucap Enzi dalam hati.


.


.


.


Terimakasih untuk yang mau bersabar dengan author yang lagi gabut ini😪😪🤧🤧


.


.


.


.


.


Bersambung......


Klik 👍 Klik❤️ Klik 5 🌟 dan jangan lupa Vote nya juga ya sebanyak yang kalian mampu.😁


Terima Kasih 🙏🙏