
Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya Wilfred sampai di bandara Inggris, disana dia sudah di jemput oleh sopir pribadi orang tuanya.
“Silahkan Tuan.” Ucap sopir itu sambil membukakan pintu belakang mobilnya.
Wilfred hanya tersenyum simpul, kemudian menurut dan memasuki mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan menuju rumah matanya hanya menerawang kosong menatap hiruk pikuk malam kota inggris.
“Pak Nanti kita mampir sebentar ke bar ya.” Ucap Wilfred memecah keheningan.
“Baik Tuan.”
Di sisi lain di kediaman gadis yang akan di jodohkan oleh Wilfred.
“Pa, stop mencampuri urusan pribadiku. Aku tidak mau menikah dengan anak teman Papa itu, dia belum tentu baik untukku.” Teriak gadis itu menentang kehendak Papanya.
“Kamu akan menyukainya jika sudah bertemu dengannya nanti, dia anak yang baik.”
“Pa aku sudah memiliki pilihanku sendiri, Papa juga tahu itu.”
“Sekarang Papa tanya sama kamu pria itu mau serius sama kamu atau tidak, selama ini kamu jalan dengannya tapi tak pernah sekalipun dia kamu bawa ke rumah.”
“Kamu tidak bisa menjawab pertanyaan Papa bukan? Karena dia hanya menggantungkan perasaanmu.” Imbuh Papanya lagi.
“Tapi Pa...”
“Tidak ada tapi-tapian, itu sudah keputusan bulat Papa. Kamu tidak boleh menolak.”
Gadis itu menggerutu kesal pada keputusan papanya, sedangkan mamanya hanya terdiam membisu tak membelanya sedikitpun.
Braakkkkk...!!!
Suara benturan pintu terdengar cukup keras dan memekik telinga, kedua orang tua gadis itu hanya mampu menggelengkan kepala mereka dengan tingkah putri semata wayangnya itu.
Tak cukup sampai disitu, gadis itu pun membuat kegaduhan yang lebih besar untuk melampiaskan amarahnya. Dia memyalakan music rock pada DVD nya dengan full volume, membuat seisi rumah dapat mendengar suara tersebut.
Tentu kedua orang tuanya hanya mampu menghela nafas mereka kasar. Sedangkan para asisten rumah tangga di rumah itu hanya mampu menahan kebisingan yang di buat oleh Nona mereka.
Gadis itu juga merubah penampilannya yang feminim menjadi seorang rocker dengan make up serba hitam, berbagai tindik menancap di telingannya. Dan juga pakaian rocker serba hitam, serta aksesoris lain yang ia kenakan cukup banyak. Gadis itu lalu menyambar tas dan juga kunci mobil yang berada di atas nakasnya.
Tanpa mematikan music yang iya nyalakan, dengan langkah yang angkuh gadis itu keluar dari kamarnya. Tentu saja kedua orang tuanya terkejut melihat penampilan putrinya yang berubah drastis.
“Apa yang kamu lakukan dengan penampilanmu?” Teriak sang Papa marah.
Tanpa menjawab pertanyaan papanya, gadis itu terus melenggangkan kakinya pergi dari rumah tersebut. Sedangkan sang mama hanya menatap sedih putrinya.
“Maafkan aku Ma, ini bentuk protesku terhadap Papa yang semaunya sendiri menjodohkanku.” Ucapnya lirih sambil memasuki mobilnya.
Gadis itu lalu melajukan mobilnya cukup kencang untuk menuju salah satu bar yang terkenal di Inggris. Sesampainya disana dia lalu memesan koktail tapi dengan kadar alkohol yang rendah.
“Bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku? Mengapa kamu terus menarik ulur hatiku?” Ucap gadis itu frustasi saat mengingat pria yang dia cintai tak kunjung memberinya kejelasan.
Matanya terus berkeliling menatap seluruh bar, hingga dia menatap sosok pria yang cukup di kenalnya. Dia lalu perlahan berjalan mendekatinya.
“Hai..” Sapanya pada pria yang di kenalnya itu.
Pria itu adalah Wilfred, dirinya terus mengernyitkan sebelah matanya dan merasa bingung, karena seorang gadis rocker menyapanya.
“Kamu tidak mengenaliku?” Tanya gadis itu sambil tertawa ringan.
“Anda mengenal saya?” Tanya Wilfred lagi.
“Bolehkah aku duduk terlebih dahulu?” Tanya gadis itu balik.
“Silahkan.”
“Mengapa kamu ke Inggris?” Tanya gadis itu tanpa memberi tahu identitasnya.
“Bisa tahu anda ini siapa dahulu?”
“Ah iya aku lupa memberi tahu mu, aku..?”
“Tuan maaf, Nyonya dan Tuan besar sudah menyuruh anda untuk segera pulang.” Ucap sopir Wilfred.
“Baiklah tunggu aku di luar.”
“Baik tuan.”
“Kalau begitu saya pergi dulu, sampai bertemu lain waktu.” Ucap Wilfred pada gadis itu sebelum dirinya meninggalkan bar itu.
“Baiklah, semoga kita bertemu lagi Wil.” Sahut gadis itu tersenyum pada Wilfred yang sudah mulai menjauh.
Kini tinggalah dirinya sendiri lagi tanpa teman kecuali satu gelas koktail yang ia pesan tadi. Dirinya sungguh malas untuk pulang ke rumah hari ini. Malas untuk berdebat atau bertemu dengan papanya.
“Haih...apa aku harus menerima perjodohan ini.” Ucapnya lelah.
Hingga tengah malam gadis itu berada di bar, kemudian dia lebih memilih untuk memesan hotel untuk tempat dirinya beristirahat malam ini.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Klik 👍 Klik❤️ Klik 5 🌟 dan jangan lupa Vote nya juga ya sebanyak yang kalian mampu.😁
Terima Kasih 🙏🙏