
Wilfred dan juga Jaxson mulai mengatur rencana mereka tanpa sepengetahuan Enzi karena rencana yang akan mereka lakukan memang di tujukkan untuk Enzi. Jaxson akan melamarnya saat pertemuan keluarga Wilfred dan keluarga Enzi nanti, seusainya rencana penolakan dari keduanya berhasil atau tidak, Jaxson akan tetap melamar Enzi di hadapan mereka semua.
Tak lama kemudian Enzi pun tiba di bar hotel. Dan menghampiri Wilfred yang sedang duduk santai di depan bartender.
“Hai Wil..!!” Sapa Enzi melambai tangan pada Wilfred.
Wil pun membalas lambaian tangan Enzi dan saat itu juga Jaxson membalikkan arah tubuhnya ke arah Enzi. Seketika Enzi membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena dia tak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Ini benar kamu Jax?” Celetuk Enzi dengan tatapan yang masih tak percaya.
“Bukan, aku kembarannya.” Canda Jaxson.
“Jax...!!!” Tukas Enzi kesal dan memukul dada Jaxson.
“Aw..aw..aw..Sakit Enz.” Goda Jaxson.
Wajah Enzi tentu saja berubah drastis karena khawatir pukulannya terlalu keras pada Jaxson.
“Apakah sangat sakit, maafkan aku Jax.” Ucap Enzi bersalah.
“Tidak, itu tidak akan sakit saat aku bisa melihat senyuman di wajahmu.” Goda Jaxson lagi.
“Jaxson kamu benar-benar mengesalkan.” Sahut Enzi benar-benar marah.
“Maafkan aku oke..!!” Ucap Jaxson sembari mengacak lembut pucuk rambut Enzi.
Sehingga membuat wajah Enzi bersemu merah.
“Sudahlah Jax kamu menggoda Enzi terus.” Sela Wilfred hanya terkekeh dengan adegan keduanya.
“Duduklah dulu Enz, aku sudah pesankan jus untukmu.” Ucap Wilfred lagi.
“Ok, terima kasih Wil.”
“Sejak kapan kamu di Inggris Jax?” Tanya Enzi kemudian.
“Satu jam yang lalu.” Jawab Jaxson singkat.
“Ada hal apa kamu datang kemari?” Tanya Enzi lagi penasaran.
“Ada sedikit urusan bisnis, dan aku tak tahu ternyata Wilfred juga disini. Jika dia tidak memberitahukan bahwa kamu juga ada disini, aku juga tidak akan tahu Enz.” Elaknya di sertai nada kegetiran yang tersirat.
“Oh seperti itu.” Enzi hanya menelan kekecewaan dari jawaban Jaxson.
Dia berharap kedatangannya kemari memang untuk dirinya dan berharap dia tahu masalah perjodohannya dan membatalkannya. Tapi semua itu angan-angannya saja, Jaxson terus menarik ulur hatinya. Mungkin dirinya tidak punya harapan lagi.
“Apa sebaiknya aku menerima perjodohan ini saja, biar Jaxson menyesalinya karena dia sudah mempermainkan perasaanku.” Gerutu Enzi dalam hati.
“Maafkan aku Enzi, aku tidak memberitahumu rencanaku dengan Wilfred, karena aku ingin membuat kejutan untukmu. Kali ini aku akan membuatmu bahagia.” Ucap Jaxson dalam hatinya.
“Wil hari semakin larut, aku akan pulang sekarang. Papaku pasti sudah marah besar karena aku tidak pulang lagi malam ini. Terima kasih atas traktirannya.” Ucap Enzi dengan senyum palsunya.
“Apa perlu di antar Enz, ada Jaxson juga disini, biarkan dia mengantarmu.” Sahut Wilfred.
“Tidak perlu Wil, aku akan naik taxi. Lanjutkan saja perbincangan kalian.” Tukasnya lagi.
Jax sebenarnya menatap sedih Enzi, dia tahu bahwa Enzi sedang marah dan kecewa padanya karena harapannya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Meski saat ini Jaxson sangat ingin memeluk erat tubuh Enzi. Namun dia tetap harus bertahan untuk acara kejutannya nanti.
“Baiklah, kamu berhati-hatilah.” Ucap Wil lagi.
Sedangkan Jaxson hanya terdiam memandangi Enzi yang semakin jauh dari pandangannya, hingga Enzi keluar dari bar ini.
“Sepertinya kamu terlalu keras padanya Jax.”
“Aku melakukan ini semua demi dia, meski hatiku juga terasa sakit saat dia kecewa padaku Wil.”
“Bersabarlah, semoga rencana kita nanti berhasil.” Ucap Wil sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
“Semoga saja.” Harap Jaxson.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi Wilfred bergegas pulang, sedangkan Jaxson kembali menuju kamarnya. Dirinya cukup lelah hari ini, matanya langsung terpejam saat ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
*****
Keduanya lalu bergegas menuju hotel yang sama dengan Jaxson. Axelle mendapatkan keseluruhan informasi Jaxson tentu saja dari Virgo. Hingga kamar yang mereka booking pun dekat dengan kamar yang Jaxson tempati.
Axelle lalu mencoba menekan bel yang berada di pintu kamar Jaxson, berharap Jaxson akan membukanya. Namun beberapa saat kemudian pintu itu tak ada respon sama sekali.
“Sepertinya Jaxson sudah tidur Axe. Sebaiknya kita juga beristirahat terlebih dahulu, saat pagi menjelang kita baru temui dia.” Ucap Jarvis menyarankan.
“Baiklah, aku juga sudah lelah.” Sahut Axelle menyetujui.
Keduanya kemudian memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat dari perjalanan panjang mereka. Tak lupa Axelle mengirim pesan singkat kepada Micha terlebih dahulu bahwa dia sudah sampai di Inggris dengan selamat.
“Aku sudah sampai sayang dan aku akan langsung beristirahat karena disini sudah pukul 02.30 pagi.” Pesan singkatnya pada istri tercintanya.
“Selamat beristirahat sayang.” Balas Micha.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi waktu inggris. Axelle bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket, karena pagi tadi dirinya tidak sempat membersihkan diri karena rasa lelahnya. Hal yang sama pun terjadi pada Jarvis. Setelah usai dengan aktifitas pagi mereka, keduanya kemudian berjanji bertemu di depan kamar Jaxson.
Namun lagi-lagi mereka terlambat, karena Jaxson sudah lebih dulu pergi keluar dari hotel itu.
“Sepertinya dia baik-baik saja.” Ucap Axelle lirih.
“Benar Axe, sebaiknya kita mencari sarapan di cafe dekat sini. Nanti kita bisa menghubungi Jaxson untuk menemui kita. Mungkin sekarang dia ada urusan yang penting.” Sahut Jarvis.
“Ok, aku juga lapar.”
Selagi Axelle dan Jarvis menikmati sarapan mereka di Cafe dekat dengan hotel yang mereka tempati, Jaxson sibuk memilah cincin untuk melamar Enzi di salah satu toko perhiasan yang cukup terkenal di Inggris.
“Ada yang bisa kami bantu Tuan?” Ucap salah seorang pekerja.
“Saya menginginkan cincin untuk melamar seorang gadis.” Sahut Jaxson.
“Anda sangat beruntung hari ini tuan, kami baru saja kedatangan barang baru dan ini hanya ada satu jenis. Di rancang oleh desainer perhiasan terkenal.” Ucap pekerja itu sambil menunjukkan cincin yang cukup cantik meski permatanya hanya kecil tapi ukiran dan bentuknya sungguh elegan.
“Sungguh indah, baiklah saya akan mengambil ini. Ah..iya apakah ada kalungnya juga?” Tanya Jaxson kemudian.
“Tentu ada Tuan, perhiasan ini memang di buat satu set dengan ukiran-ukiran yang sama, hanya saja kebanyakan mereka membeli secara terpisah.” Jelas pekerja itu lagi.
“Satu set?”
“Iya Tuan, dari cincin ini, kalung beserta liontinnya, gelang tangan dan juga anting.”
“Saya akan mengambil semuanya. Namun untuk cincinya tolong di pisahkan dan tempatnya di hias lebih cantik dan menarik.” Pinta Jaxson lagi.
“Baik Tuan.”
Sepasang mata berbinar melihat Jaxson, gadis cantik bak model mendekati Jaxson dengan wajah yang sangat bahagia.
“Kak Jaxson..?!” Sapa gadis itu tanpa ragu.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Siapakah gadis itu dan apakah rencana pembatalan pertunangan Enzi dan Wilfred berhasil batal?
Tunggu kelanjutannya ya...🤗
Mohon bantu Vote, like, dan rate dari kalian. Author sangat butuh Vote dari kalian, seikhlas kalian saja dan terima kasih🙏🙏