
Axelle tidak tahu harus bilang apa kepada Micha, karena dia takut akan mempengharuhi kehamilan Micha yang kini sudah memasuki bulan ke delapan.
“Sayang...!!” Panggil Axelle pelan.
“Hmm ada apa?!” Sahut Micha yang masih asyik membaca novel.
“Aku ingin berbicara sesuatu padamu.”
“Iya katakan saja sayang.”
“Tapi...kamu harus tenang ya.”
Akhirnya Micha pun membalikkan badannya dan menatap ke arah Axelle.
“Memangnya hal apa yang ingin kamu bicarakan, mengapa sepertinya cukup serius?” Tanya Micha.
“Ini tentang Yora sayang.”
“Yora..?! Memang ada apa dengan Yora sayang?! Apa ini tentang hubungannya dengan Wilfred?!”
“Bukan sayang.”
“Lalu apa, jangan bertele-tele seperti itu sayang. Katakan yang jelas, memang ada apa dengan Yora?”
“Yora...kecelakaan.”
Bluggg...!!
Buku novel yang sedang di pegang Micha pun terjatuh ke lantai, Micha syok mendengar kabar tersebut, air matanya mengalir begitu saja. Apa akan terulang kembali, dimana dia harus kehilangan sahabat baiknya.
“Tidak mungkin...kamu bohong kan sayang. Belum lama tadi dia masih baik-baik saja sayang. Dia bahkan memberitahuku dia akan bertemu dengan Wil. Bagaimana dia bisa kecelakaan?!
“Tenang dulu sayang, kita akan ke rumah sakit sekarang ok. Kasihan anak kita, jika kamu sedih dia akan ikut sedih. Sekarang atur emosimu ya.”
Perlahan Micha mengatur nafasnya mencoba membuat dirinya tenang, meskipun air matanya tak mampu berhenti mengalir.
Axelle pun memapah Micha perlahan menuju mobil, mereka kemudian bergegas menuju rumah sakit.
Saat tiba di rumah sakit, disana sudah ada Joel dan juga Jarvis yang tidak kalah sedihnya. Sedangkan Wilfred masih terduduk lesu di lantai. Setelah penanganan darurat di IGD, Joel disarankan untuk segera di operasi karena luka di kepalanya cukup parah.
“Wil kamu harus sabar, semoga Yora bisa di selamatkan.” Ucap Jarvis mencoba menenangkan Wilfred.
Axelle hanya terus memeluk istrinya yang saat ini masih terisak dalam tangisnya. Tak lama kemudian Jaxson dan juga Enzi pun datang. Enzi menghambur kepelukan Micha, begitu juga Joel. Ketiganya menangis bersamaan.
“Sudah-sudah, kalian berdua jangan menangis terus. Kasian baby yang ada di perut kalian, dia akan ikut sedih.” Ucap Joel mulai melerai agar mereka tak berlarut dalam tangisnya.
Apalagi Enzi juga sudah memasuki bulan ke enam. Kedua sahabatnya itu sedang sama-sama hamil besar, Joel tidak ingin kedua sahabatnya ini juga dalam masalah. Apa lagi Ibu hamil di larang keras untuk stress berlebihan.
Akhirnya Enzi dan juga Micha mulai berangsur meredam emosi mereka. Meski sesekali air mata masih menetes, tapi setidaknya mereka sudah tidak menangis sampai terisak.
Sudah enam jam lamanya Yora di dalam ruang operasi tetapi dokter belum juga menampakkan batang hidungnya. Mereka masih terus menunggu kabar keadaan Yora.
Ceklekkk....
Wilfred seketika langsung menghampiri sang dokter saat pintu ruang operasi terbuka dengan wajah yang penuh harap.
“Bagaimana keadaan Yora Dok?! Dia baik-baik saja kan Dok?” Tanya Wilfred tidak sabar.
“Operasi berjalan dengan lancar, namun kondisi pasien masih kritis. Bisa di bilang dia koma.”
“Apa Dok?! Koma?!” Wilfred kembali terduduk lemas.
Isak tangis kembali menyelimuti Micha, Enzi dan juga Joel.
“Benar dia koma, itu di sebabkan karena adanya pembekuan darah di otaknya, meski kita sudah mengeluarkan darah bekunya tersebut akan tetapi sisa-sisa pembekuan darah yang berada di otak menyebabkan dia koma.” Jelas sang Dokter.
“Ap..apakah Yora bisa bangun Dok?!” Tanya Wilfred kembali dengan harapan Yora tidak akan koma lama.
“Masalah ini kami juga tidak memprediksinya, tetapi jika saja dia mampu sadar dari komanya. Kemungkinan besar dia tidak bisa normal seperti dulu atau bisa di katakan dia akan lumpuh.”
“Apa lumpuh?!”
“Mengapa semua ini harus terjadi padamu Yora?!” Tangis Wilfred pun kembali pecah.
Sedangkan tangis ke tiga sahabat Yora semakin menjadi. Mereka tidak sanggup mendengar kenyataan pahit itu, bagaimana dengan Yora, jika dia sudah tersadar nanti. Apakah dia akan mampu menerima dirinya sendiri.
“Tapi sudah pasti dia masih ada harapan untuk bangun dari komanya kan dokter?!”
“Iya dia masih punya harapan untuk bangun entah membutuhkan waktu berapa lama dia bisa bangun.”
“Baiklah Pak Wil, kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhannya. Kalau begitu saya permisi, Nona Yora akan segera di pindahkan ke ruang rawat khusus.”
“Terima kasih Dok.”
“Sama-sama Pak Wil.”
“Wil apakah orang tua Yora sudah kamu hubungi?!” Tanya Micha di sela isak tangisnya.
“Belum Micha, aku belum sempat dan aku takut jika nanti Ibu akan syok. Apakah kamu bisa membantuku memberitahunya Micha?!”
“Baiklah, nanti aku akan coba membantu untuk menjelaskannya. Tetapi untuk sekarang kamu jelaskan bagaimana Yora bisa mengalami kecelakaan tragis seperti ini?” Tanya Micha lagi.
“Aku harus menyelidiki hal ini terlebih dahulu. Sepertinya memang ada orang yang menginginkan nyawa Yora. Mobil itu jelas sengaja menabrak Yora, padahal sangat jelas lampu lalul lintas menyala merah. Dan lagi, kebetulan saat menyebrang Yora sedikit berlari sehingga dia tidak dalam kerumunan orang-orang penyebrang yang lainnya.”
“Apa?! Ini sabotase?!” Celetuk Micha terkejut.
“Tenang saja Wil, biar Virgo yang menangani hal ini, kamu fokus saja pada Yora. Jika memang ini ada kaitannya dengan keluargamu di Inggris, aku tidak akan melepaskannya juga.” Sahut Axe.
“Terima kasih Axe.”
Sopir rumah Axelle lalu di tugaskan untuk menjemput keluarga Yora, meski tadinya Ibu dan adik-adik Yora sedikit takut karena tiba-tiba di jemput dengan orang asing. Tetapi setelah sopir Axelle menjelaskannya pun Ibu Yora langsung mengerti.
“Aku berharap kamu baik-baik saja anakku.” Batin Ibu Yora.
Ibu Yora pun mendekap kedua anaknya yang masih kecil itu.
“Ada apa Ibu?! Mengapa Ibu menangis?”
“Iya Ibu, jangan menangis. Kita tidak akan nakal lagi kok Bu. Kita akan menurut sama Ibu.”
Ucap kedua bocah itu, semakin membuat hati sang Ibu tersayat. Bagaimana nanti adik-adiknya akan tahu jika sang Kakak kini tengah koma.
Ibu Yora pun sedikit tergesa melangkahkan kakinya, dia sudah tidak sabar ingin melihat putri tercintanya yang saat ini sedang tergeletak lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit.
“Nak Wil, bagaimana kondisi Yora? Bagaimana dia bisa mengalami kecelakaan Nak?” Tanya Ibu Yora beruntun.
Wilfred pun masih tertunduk diam, tak mampu berkata pada calon ibu mertuanya itu, yang bahkan dia sudah anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
Micha yang mengerti akan situasi tersebut, dengan segera menghampiri Ibu Yora dan adik-adiknya untuk di ajaknya duduk. Micha kemudian secara perlahan menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Yora.
Isak tangis sang Ibu Yora pun pecah, begitu juga dengan kedua adik Yora yang masih duduk di bangku SD tersebut. Mereka sudah mengerti dengan perkataan Micha. Micha tak mampu berbuat apapun selain menenangkan mereka.
“Sebaiknya kalian semua pulang saja, biar aku yang menjaga Yora. Dan Ibu serta adik juga ya, kalian istirahat di rumah saja. Perhatikan kondisi kesehatan Ibu, jika Ibu kenapa-napa Yora akan sedih.” Ucap Wilfred pelan.
“Baiklah kami akan pulang dahulu Wil, semoga segera ada keajaiban untuk Yora.” Ucap Jarvis, kemudian mengajak Joel untuk pergi dari rumah sakit tersebut.
Jaxson, Enzi, Axelle dan Micha pun juga segera kembali kekediaman mereka masing-masing. Sedangkan Ibu Yora dan adik-adiknya memaksa untuk tinggal sebentar sampai menjelang malam, barulah mereka pulang dan di antar oleh sopir Wilfred. Yang sudah Wilfred hubungi sebelumnya untuk menjemput Ibu Yora di rumah sakit.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung author guys....
• FAVORIT ❤
• RATE ⭐⭐⭐⭐⭐
• LIKE ❤
• KOMEN (Kritik & sarannya juga ya)
• VOTE seikhlasnya🙏
TERIMA KASIH SEMUA ATAS DUKUNGANNYA🙏🙏🙏😘😘😘