MY PERFECT BOSS

MY PERFECT BOSS
Di Ruangan Axelle



Sesampainya di bagian HRD Micha lalu memperkenalkan Joel pada Bu Rana yang memegang jabatan sebagai Kepala HRD.


“Bu Rana ini Joel yang saya rekomendasikan kemarin. Untuk urusan yang lain saya serahkan kepada anda.”


“Baiklah Micha.”


“Kalau begitu saya tinggal bekerja dahulu ya Bu, sudah hampir terlambat.”


“Tentu saja Micha.”


“Aku pergi dulu ya Joel, semangat untuk interviewnya. Semoga berhasil!!” Ucap Micha menyemangati Joel.


“Terima kasih Micha.” Sahut Joel.


Micha segera bergegas pergi menuju bagiannya karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.55.


“Lima menit lagi..!! Coba kalau dia tidak menggangguku, aku tidak akan terburu-buru seperti ini.” Gerutu Micha sambil menghentak-hentakkan heelsnya.


Axelle tertawa renyah melihat kelakuan istrinya itu dari CCTV. Ya itu sudah menjadi kebiasaan bagi Axelle melihat istrinya dari CCTV di sela ia bekerja, untuk menghilangkan rasa penatnya.


“Hei..Axe bisa-bisa karyawanmu meleleh jika melihatmu tersenyum seperti itu.” Celetuk Wilfred yang tiba-tiba sudah berada di ruangan Axelle.


“Sialan!! Sejak kapan kau masuk?! Tanganmu kemana? Tidak bisakah mengetuk pintu dahulu.” Sahut Axelle dengan pertanyaan beruntun.


“Sepertinya kecerewetan Micha menular padamu Axe.” Jawab Wilfred terkekeh.


“Haih..sudahlah. Ada perlu apa? Cepat katakan jangan ganggu aku yang sedang melihat istri cantikku.”


“Seorang Axelle yang arogan kini sedang di mabuk cinta. Micha benar-benar membuatmu bisa berubah.” Imbuh Wil lagi dengan tawa lepasnya.


“Wil...!!” Ucap Axelle menatap tajam Wilfred.


“Haha baiklah, aku kesini ingin membicarakan sesuatu hal.”


“Apa?”


“Aku akan pulang ke Inggris.”


“Apa?!! Ada masalahkah?” Ucap Axelle terkejut akan pernyataan Wilfred.


“Perjodohan.” Ucap Wil singkat.


“Perjodohan? Dengan siapa?”


“Aku belum tahu siapa dia. Tapi aku rasa dia juga tidak akan setuju dengan perjodohan ini.”


“Mengapa kamu bisa seyakin itu Wil, jika kamu belum tahu siapa dia.” Ucap Axelle menyelidik.


“Karena dia adalah gadis yang tidak seharusnya aku dekati. Maaf Axe untuk yang ini aku tidak bisa memberitahumu.” Ucap Wilfred dalam hati.


“Ya karena di zaman modern seperti ini, masih saja ada soal perjodohan, mungkin saja dia seperti aku karena paksaan.”


“Lalu apa yang akan kamu lakukan Wil?”


“Tentu saja aku akan menolaknya, dan mungkin aku akan lama disana Axe. Jadi urusanku aku serahkan padamu ya.”


“Tenang saja aku akan menghandlenya. Lalu kau akan berapa lama disna?”


“Aku juga masih belum bisa pastikan, mungkin perkiraan terburuknya aku akan selamanya disana untuk meneruskan bisnis keluarga.” Sahut Wilfred lesu.


“Jika kamu membutuhkan bantuanku, jangan sungkan wil, aku pasti akan membantumu.”


“Baiklah, terima kasih Axe.”


“Lalu kapan kau akan berangkat ke Inggrisnya?”


“Lusa Axe.”


“Semoga semua berjalan sesuai rencanamu.” Ucap Axe memberi semangat.


“Semoga saja Axe. Aku juga berharap perjodohan ini tidak akan pernah terjadi, karena aku sendiri sepertinya sudah tertarik dengan gadis lain.”


“Benarkah? Siapa dia?” Tanya Axelle penasaran.


“Tunggu saja Axe, aku akan menaklukkan hatinya terlebih dahulu.” Sahut Wilfred dengan percaya diri.


“Sialan kau!! Bukannya menyemangati sahabatmu malah menertawakanku.”


“Sorry, aku hanya tidak menyangka seorang Wilfred yang baik hati dan selalu lembut ini bahkan bisa mendapatkan cinta yang bertepuk sebelah tangan.” Ucap Axelle lagi dengan tawa lepasnya.


Hingga Wilfred melempar bantal sofa yang berada di ruangan Axelle ke arahnya. Pembicaraan serius tadi kini menjadi canda mereka, tak selang beberpa lama Jarvis juga langsung memasuki ruangan Axelle alhasil dia yang terkena lemparan bantal dari Axelle yang di tujukan untuk Wilfred.


Tatapan ketiga pemuda tampan itu saling bertemu dan di akhiri dengan tawa lepas dari Axelle dan Wilfred, sedangkan Jarvis menggerutu kesal pada dua sahabatnya itu.


“Apa-apaan kalian ini? Sialan aku jadi yang kena!! Es balok sama si lembut lagi akur? Sampai main lempar-lemparan bantal.”


“Sialan kau Jarv!! Siapa yang kau bilang si lembut?” Celetuk Wilfred.


“Dari pada kamu yang pembuat onar Jarv.” Sahut Axelle kemudian.


“Kalian mengeroyokku?! Rasakan ini..!!”Jarvis lalu melempar dua bantal sofa sekaligus ke arah Axelle dan juga Wilfred.


Ketiganya kini sungguh sangat di luar kendali mereka. Tak lama kemudian terdengarlah ketukan pintu dari luar. Ketiganya yang asyik bercanda ria segera merubah raut wajah mereka dan buru-buru untuk membenahkan bantal sofa dan juga pakaian mereka yang sedikit berantakan.


“Kalian cepat duduk yang rapi.” Perintah Axelle pada dua sahabatnya itu, agar seakan-akan mereka sedang membicarakan bisnis.


“Ehem..ehem..silahkan masuk.” Ucap Axelle dengan nada datarnya.


Saat orang tersebut membuka pintu. Alhasil membuat ketiga orang itu menggerutu kesal.


“Sialan kamu Jax..!!” Ucap ketiganya hampir bersamaan.


Sedangkan Jaxson yang baru saja datang dan langsung di maki seperti itu pun merasa bingung. Apa yang salah dengannya tiba-tiba di marahi oleh ketiga sahabatnya.


“Ada apa? Mengapa kalian menatapku seperti itu?” Tanya Jaxson kebingungan.


“Aku kira siapa yang datang, ternyata cuma kamu Jax.” Celetuk Wilfred.


“Biasanya juga langsung masuk.” Imbuh Axelle.


“Benar kata mereka.” Ucap Jarvis asal.


“Memangnya kenapa jika aku masuk mengetuk pintu dahulu? Takutnya Micha sedang disinikan, aku bisa mengganggu kalian.” Jelas Jaxson santai.


“Benar juga yang di ucapkan Jaxson. Kalian berdua ingat itu, ketuk pintu dahulu jika masuk ke ruanganku sekarang.” Ucap Axelle yang kini berganti memperingati kedua sahabatnya.


“Ya sudahlah, aku mau kembali ke ruanganku. Karena urusanku dan Axelle sudah selesai.” Ucap Wilfred lalu pergi dari ruangan Axelle.


“Dan kalian berdua ada urusan apa kemari?” Tanya Axelle pada Jaxson dan juga Jarvis.


“Aku hanya mau menyerahkan proposal ini. Kau tinggal cek dan juga cap stempel. Nanti siang aku akan mengambilnya lagi. Yang lain sudah menandatanganinya.” Jelas Jaxson.


“Baiklah Jax, nanti aku akan cek dahulu. Kalau kamu ada apa Jarv?”


Jaxson berlalu pergi dari ruangan Axelle setelah menyerahkan dokumennya. Kini tinggal Jarvis yang masih disana.


“A..aku mau minta tolong padamu Axe.” Ucap Jarvis sedikit terbata.


“Minta tolong apa?”


.


.


.


.


.


.


Bersambung......


Klik 👍 Klik❤️ Klik 5 🌟 dan jangan lupa Vote nya juga ya sebanyak yang kalian mampu.😁


Terima Kasih 🙏🙏