
Yora terdiam ternganga, dia terkejut dan menjadi salah tingkah. Yora merasa sedikit kesulitan saat ingin menjawab pertanyaan yang sederhana itu. Tenggorokannya terasa tercekat.
“Yora...?!” Panggilnya lagi sembari menepuk pelan bahu Yora.
“Sa..saya baik-baik saja Pak.” Sahut Yora tergagap.
“Tapi wajahmu sedikit pucat.” Balas Wilfred.
“Ti..tidak apa-apa Pak, saya hanya sedikit pusing.” Ucap Yora.
“Kamu bisa istirahat di dalam dahulu Yor, jika memang sedang tidak enak badan.”
“Tidak perlu Pak, sehabis ini saya akan pulang. Saya permisi dahulu Pak, karena ingin memberi ucapan selamat pada Pak Jaxson dan Enzi.” Tolak Yora sopan.
“Jika saya tidak segera menghindari anda, mungkin hati saya benar-benar akan egois untuk memiliki anda Pak Wilfred.” Ucap Yora dalam hati.
Tanpa menunggu jawaban dari Wilfred, Yora segera bergegas menuju ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai. Dirinya pun juga meminta maaf karena harus kembali pulang lebih awal.
“Mengapa kamu begitu terburu-buru Yora, pestanya masih lama?” Tanya Enzi sedih.
“Aku sedikit tidak enak badan Enz, maafkan aku tidak bisa mengikuti pestamu sampai selesai.” Sahut Yora merasa bersalah.
“Apa perlu aku antar Yor?” Ucap Micha yang kebetulan mendengar percakapan keduanya.
“Tidak perlu Micha, aku sudah memesan taxi online.” Elaknya.
“Aku antar sampai depan ya?” Tawar Micha lagi.
“Tidak usah Micha, aku sungguh berterima kasih. Aku hanya pusing saja dan aku masih sanggup untuk pulang sendiri, kalian tidak perlu khawatir.” Celetuk Yora.
Meski dengan berat hati Enzi dan Micha pun hanya mampu menghargai keputusan Yora.
“Aku rasa akhir-akhir ini Yora lebih banyak diam dari biasanya Enz, tetapi setiap kali aku tanya di tidak mau berterus terang.” Jelas Micha, saat Yora sudah hilang dari pandangannya.
“Kalian ini terlalu banyak befikir.” Celetuk Jaxson menyela perbincangan Enzi dan Micha.
“Ya sudahlah Micha, mungkin saja Yora memang sedang tidak enak badan dan kelelahan.”
Micha hanya mengangguk pelan mengiyakan ucapan Enzi, meski hatinya yakin Yora sedang menyembunyikan sesuatu.
Pesta pun berjalan lancar dan berlangsung hingga larut malam. Axelle, Micha, Joel, Jarvis, dan juga Wilfred, serta tamu-tamu yang lain sudah mulai berpamitan. Kini tersisa keluarga besar Enzi dan juga Jaxson, kedua keluarga tersebut berbincang ringan saling mengenal satu sama lain lebih dalam.
Sedangkan Jaxson dan juga Enzi memilih untuk istirahat lebih awal, karena rasa lelah yang melanda tubuh mereka, setelah satu hari penuh mereka menyalami para tamu undangan.
“Sayang...!!” Ucap Jaxson melingkarkan kedua tangannya di perut rata Enzi.
Enzi yang tengah sibuk menghairdryer rambutnya yang masih basah pun tentu saja terkejut dengan sikap Jaxson yang berubah. Dia menjadi sosok yang lembut, dan perhatian.
“Ada apa denganmu Jax?” Tanya Enzi yang masih belum terbiasa dengan panggilan sayang.
“Mengapa masih memanggil nama? Kita kan sudah resmi menjadi suami istri sayang.” Ucap Jaxson lagi.
Jaxson mulai mengecup tengkuk Enzi perlahan, hal itu membuat Enzi merasakan geli.
“Baiklah sayang, kamu ini sudah tidak sabar ya. Sekarang aku baru tahu ternyata suamiku senakal ini. Tapi jika sampai nakal sama wanita lain aku tidak akan pernah mengampunimu.” Celetuk Enzi.
“Tentu saja aku tidak akan pernah menunjukkan sisi ini kepada wanita manapun, selain dengan istriku tercinta.” Sahut Jaxson.
Enzi tersenyum bahagia mendengar penuturan dari pria yang baru saja resmi menjadi suaminya itu.
Jaxson mulai melanjutkan aksinya menelusuri setiap inci tubuh istrinya. Malam itu menjadi malam yang melelahkan untuk kedua sejoli yang baru saja memulai membina rumah tangga itu.
*****
Ada banyak hal yang terkadang tidak bisa kita dapatkan, kita hanya mampu berusaha namun semua hasilnya tergantung takdir yang sudah di tetapkan.
“Mengapa aku akhir-akhir ini merasa lelah.” Ucap Micha lirih.
Micha lalu membasuh wajahnya dengan air, dia merasa tubuhnya pagi ini lebih lemas dari pagi-pagi sebelumnya.
“Apa aku kurang minum vitamin? Atau karena pekerjaanku yang terlalu menumpuk, rasanya aku malas untuk melakukan hal apapun hari ini.” Ucap Micha dalam hati.
“Ada apa denganmu sayang?” Tanya Axelle khawatir, saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat.
“Aku juga tidak tahu sayang, hanya saja tubuhku pagi ini terasa lemas.” Sahutnya.
“Kita ke rumah sakit sekarang ya.”
“Tidak perlu sayang, sepertinya aku memang sedikit kelelahan. Apalagi semalam kita pulang larut malam dari pesta pernikahan Jax dan Enzi.”
“Mungkin aku hanya kurang istirahat sayang, kamu jangan terlalu panik seperti itu. Selama ini kan aku baik-baik saja.”
“Tapi sayang..”
“Sssstt...!! Aku akan mengambil cuti kerja hari ini dan mengistirahatkan tubuhku. Mungkin seusai istirahat tubuhku akan segera pulih sayang.”
“Ya sudah aku akan mengikuti maumu sayang, tapi jika nanti ada sesuatu yang terjadi atau kamu semakin merasa tidak nyaman segera hubungi aku ya sayang. Hari ini aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat dan pulang lebih awal.”
“Iya sayang, sudah sekarang waktunya kamu berangkat bekerja. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, aku akan baik-baik saja di rumah sayang.” Ucap Micha menenangkan suaminya.
Axelle lalu mencium kening Micha cukup lama, rasanya ia tak tega meninggalkan istrinya di rumah sendirian. Tetapi hari ini Axelle tidak bisa mengambil cuti dengan semaunya, karena ada meeting penting yang harus dia hadiri di perusahaan Star Groupnya.
“Jaga dirimu baik-baik sayang, aku berangkat ya.” Pamit Axelle.
“Iya-iya sayang, sudah sana cepat berangkat, sudah siang.”
Dengan langkah kaki yang berat Axelle meninggalkan kediamannya. Seusainya mobil Axelle sudah tidak terlihat oleh pandangan Micha lagi, dirinya bergegas kembali masuk ke dalam rumah.
Namun hal yang tak terduga terjadi, kepala Micha semakin terasa pusing hingga dirinya hampir terjatuh, untungnya ada salah satu seorang pelayan yang menangkap tubuh Micha.
“Nyonya apa baik-baik saja?”
“Tolong papah saya ke sofa ya Bi.” Pinta Micha.
“Baik Nyonya.”
Dengan perlahan pelayan itu memapah tubuh Micha ke sofa untuk di baringkan. Dengan segera pelayan tersebut berlari kecil ke dapur untuk mengambilkan air hangat untuk Nyonyanya.
“Nyonya minum dahulu.”
Micha lalu meneguk sedikit air hangat itu, namun saat air putih hangat memasuki mulutnya perutnya teras mual luar biasa. Dengan spontan Micha berlalu ke kamar mandi dan memuntahkannya, namun semua yang di muntahkan hanya sedikit air.
“Ada apa denganku sebenarnya? Mengapa sekarang perutku mual?
“Nyonya..!! Nyonya..!! Apakah anda baik-baik saja, bagaimana jika kalau ke rumah sakit Nyonya? Wajah anda teihat sangat pucat, saya khawatir jika terjadi sesuatu pada anda.” Teriak pelayan itu dari luar pintu kamar mandi.
Micha lalu membuka pintunya dan tersenyum melihat kekhawatiran yang di rasakan pelayannya itu.
“Aku tidak apa-apa Bi, aku hanya butuh istirahat saja.”
Micha lalu jalan perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya, tanpa di bantu lagi oleh pelayannya.
Gubrakkkk.....!!!
“Nyonya....!!!!”
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
MOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA UNTUK PARA READERSKU AKU UP KALI INI LAMA LAGI, DI KARENAKAN USRUSAN DUNIA YANG SAMA SEKALI TIDAK BISA DI TINGGALKAN DAN 2 EPISODE AKU KEBUT SORE INI. JIKA ADA KESALAHAN KALIAN BISA LANGSUNG KOMEN🙏🙏🙏
Jangan lupa dukung author guys....
• FAVORIT ❤
• RATE ⭐⭐⭐⭐⭐
• LIKE ❤
• KOMEN (Kritik & sarannya juga ya)
• VOTE seikhlasnya🙏
TERIMA KASIH SEMUA ATAS DUKUNGANNYA🙏🙏🙏😘😘😘