
Setelah memasuki rumah Axelle, Xia pun langsung menghambur ingin memeluk Axelle tapi dengan sigap Rendy sudah menghalanginya.
“Hei..!! Dasar sopir sialan kamu menghalangiku, beraninya kamu.” Ucap Xia yang ingin menampar Rendy.
Tapi Axelle langsung menepis tangan Xia.
“Ada apa kesini, cepat katakan, aku tidak suka basa basi.” Ucap Axelle dingin.
“Kak Axelle kok seperti itu sama Xia, Kak Axelle tidak rindukah dengan Xia? Sudah beberapa tahun kita tidak bertemu.” Ucap Xia dan bergelayut manja di lengan Axelle.
Axelle yang merasa risih pun secara perlahan melepaskan pelukan tangan Xia.
“Xia aku tidak suka basa basi. Jika kamu hanya ingin mengatakan itu, sekarang cepat kembali pulang.” Ucap Axelle tegas.
“Maaf Kak, Xia kesini sebenarnya hanya ingin mengajak Kak Axelle makan malam karena untuk merayakan kedatangan Xia.” Sahut Xia dengan wajah memelasnya.
“Dasar rubah licik, aku sangat jijik dengan tampangmu itu.” Gerutu Axelle dalam hati.
“Cuma berdua?” Tanya Axelle dingin.
“Ti..tidak Kak, ada Momy juga kok.” Jawab Xia mengelak.
“Baiklah kalau begitu, kamu bisa share lokasinya nanti. Sekarang aku mau istirahat kembali.” Jawab Axelle sekaligus mengusir Xia secara halus.
“Baiklah Kak, maaf tadi sudah mengganggu istirahat Kakak. Aku akan share lokasinya nanti. Terima kasih Kak Axelle.” Ucap Xia senang.
Karena sudah mendapat persetujuan dari Axelle, Xia pun segera pergi dari rumah Axelle dan memulai rencananya.
“Akhirnya pergi juga perusuhnya.” Ucap Axelle lega.
“Rendy pastikan semua berjalan sesuai rencana jangan sampai ada kesalahan. Jika ada kesalahan kamu yang akan menanggung akibatnya.” Ucap Axelle dingin.
“Baik Tuan.”
“Kalau sedang serius anda benar-benar menakutkan Tuan.” Ucap Rendy dalam hati.
Rendy pun hanya bergidik ngeri melihat tuannya yang saat ini benar-benar dalam mood yang menyeramkan. Sesuai perintah Axelle, Rendy pun langsung menjalankan tugasnya.
Drrt drrt drrt
“Sayang kamu masih bekerja?” Ucap pesan singkat dari Axelle.
“Masih, ada apa?” balas Micha.
“Jutek banget sih sayang.”
“Aku kan sedang bekerja Axelle sayang, nanti lagi ya jangan menggangguku pelanggan sedang banyak.” balas Micha lagi.
“Baiklah sayang, jika sudah selesai bekerja hubungi aku ya.” Ucap Axelle lagi.
“Oke.” Balas Micha singkat.
“Aku bahkan sampai saat ini masih tidak percaya bahwa seorang Axelle yang arogan bisa selembut ini.” Ucap Micha dalam hati, wajahnya sudah memerah bagaikan tomat matang.
*****
Guliran waktu terus berjalan saat ini Wilfred, Jaxson dan juga Jarvis mengecek kembali ke lokasi pembangunan resort setelah terakhir kali kejadian yang menimpa Axelle waktu itu, mereka baru sempat ke tempat itu sekarang.
“Oh kalian juga datang.” Ucap Kakek Micha yang tiba-tiba, hingga mengejutkan ketiganya.
“Tuan Alexander juga berada disini.” Ucap Wilfred sopan.
“Haih sudah kubilang kalian ini jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil aku Kakek. Mengerti !!” Sahut Doni Alexander.
“Baiklah Kek, maafkan saya.” Ucap Wil lagi.
“Kakek baru saja sampai disini kah?” Tanya Jaxson sopan.
“Ya Nak Jaxson. Kalian hanya bertiga? Apa keadaan Nak Axelle belum membaik?” Tanya Doni.
“Dia sudah membaik Kek, hanya saja belum boleh bekerja dahulu.” Sahut Jarvis.
“Mudah-mudahan dia cepat sembuh dan bisa beraktifitas kembali.”
“Terima kasih Kek atas do'anya.” Ucap Wil mewakilkan.
“Ayolah kita berbincang disana, disini terlalu berbahaya. Jangan sampai kejadian yang menimpa Axelle juga menimpa kalian.”
“Baik Kek.” Sahut ketiganya hampir bersamaan.
Mereka semua kemudian mengikuti Doni Alexander menuju sebuah Cafe terbuka disana untuk sekedar berbincang dan menikmati kopi.
Terik matahari siang ini begitu menyilaukan, Micha yang sudah selesai bekerja bergegas untuk pulang. Bau matahari sangat menyengat dari tubuhnya, dia lalu membersihkan dirinya dan berganti dengan pakaian yang santai.
“Aku sudah sampai rumah Axe.” Ucap Micha dalam pesan singkat tersebut.
“Baiklah gadisku jangan lupa untuk makan siang.” balas Axelle.
Micha yang keasyikan menonton Tv pun tidak membalas lagi pesan dari Axelle hingga dirinya sudah tidak sadarkan diri di sofa dengan posisi Televisi yang masih menyala.
“Mengapa Micha tidak membalas pesanku lagi ya?” Ucap Axelle kebingungan.
Hari sudah menjelang sore, Axelle sudah berkali-kali mengirimkan pesan untuk Micha dan melakukan panggilan, tapi tetap saja tidak ada respon sama sekali dari Micha.
Bahkan orang suruhannya yang bertugas menjaganya pun sudah mengatakan bahwa Micha sama sekali tidak keluar dari apartemennya lagi sejak pulang dari bekerja tadi.
“Jangan-jangan ada apa-apa dengan dia.” Ucap Axelle yang mulai khawatir.
Dia langsung menyahut kunci mobilnya dan segera bergegas pergi menuju apartemen Micha. Rendy yang melihat Axelle terburu-buru pun segera menghampirinya.
“Anda mau kemana Tuan?” Tanya Rendy.
“Aku akan pergi ke tempat Micha dahulu, yang lain kamu atasin dulu, sebelum aku datang.” Jawab Axelle.
“Baik Tuan.”
Axelle dengan gesit segera melajukan mobilnya menuju dimana Micha tinggal. Dalam perjalanan Axelle terus berbicara yang tidak jelas. Karena dirinya sungguh khawatir jika terjadi sesuatu dengan Micha.
“Kamu harus baik-baik sayang.” Ucap Axelle dengan nada yang sangat khawatir.
Sesampainya di apartemen Micha, Axelle pun bergegas menuju lantai atas. Tanpa aba-aba Axelle memasukan kata sandi pintu apartemen Micha dengan tergesa-gesa sampai dirinya dua kali salah memasukkan pinnya.
“Aaarrghhhhh..!! Kenapa disaat seperti ini harus pakai salah segala.” Gerutunya.
Setelah berhasil membuka pintu apartemen Micha. Axelle sangat terkejut melihat keadaan Micha yang terbaring di Sofa dengan posisi terlentang dan tangan Micha sudah menggelantung ke bawah.
Jleeedaarrrr...!!!!
Bagai di sambar petir di siang bolong, Axelle langsung terduduk lemas. Melihat Micha seperti itu, ruang tamu yang berantakan karena banyak tercecer makanan ringan beserta bungkusnya disana.
Di tambah lagi sebilah pisau kecil yang sudah berlumur noda merah. Hati Axelle hancur seketika, dia sangat ketakutan. Dirinya tak berani menghampiri tubuh Micha. Air matanya sudah mulai mengalir dari pelupuk mata.
“Micha mengapa kamu setega ini, mengapa kamu meninggalkan aku begitu cepat.” Ucap Axelle di sela tangisnya.
“Aku bahkan belum melamarmu, belum menjadikanmu sebagai pengantinku. Aku belum sempat membahagiakanmu Micha.”
“Aku sungguh tidak berguna Micha, aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku pasti akan membalaskan apa yang sudah mereka lakukan terhadapmu.” Ucap Axelle penuh emosi.
“Aarghhhhhhhh...!!!” Teriak Axelle sekencang mungkin untuk melepaskan rasa kekecewaannya terhadap dirinya sendiri.
Buuuugghhh...!!!!
.
.
.
.
.
BESOK LAGI YACCHHHH...DI TUNGGU..!!!!🤭
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
Klik 👍 Klik❤️ Klik 5 🌟 dan jangan lupa Vote nya juga ya sebanyak yang kalian mampu.😁
Terima Kasih 🙏🙏