MY PERFECT BOSS

MY PERFECT BOSS
Perasaan Micha



“Awwaaaasss...!!!”


Buuuugghhh....!!!


Micha terkejut akan suara itu terutama dia sudah berada di pelukkan Axelle dengan posisi mereka terbaring di atas pasir. Para pekerja yang melihat kejadian itu langsung menghampiri keduanya.


“Kamu tidak apa-apa kan Micha?” Tanya Axelle dengan suara yang sedikit lemah.


“Aku tidak apa-apa, kamu...”


Micha belum selesai mengucapkan kata-katanya Axelle sudah jatuh pingsan dalam pelukan Micha.


“Kalian tidak apa-apa kah?” Tanya seorang pekerja yang merasa panik, tapi Micha tak menggubrisnya.


“Axelle jangan bercanda kamu, bangun Axe.” Micha menggoyang-goyangkan tubuh Axelle.


Alangkah terkejutnya saat Micha mengangkat tangannya yang sudah berlumuran darah, yang tadinya memegangi belakang kepala Axelle.


“Non darahnya keluar banyak.” Ucap salah seorang pekerja lagi yang merasa khawatir dengan keadaan Axelle.


Micha pun semakin kalap di buatnya, dirinya sudah menangis histeris melihat pria arogan di hadapannya kini terbaring lemah tak berdaya.


“Tolong seseorang panggilkan ambulance.” Teriak Micha di sela isak tangisnya.


“Sebaiknya segera mengantarnya ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Non, karena jika memanggil ambulance akan memakan waktu lama untuk sampai disini.” Jawab seorang pekerja lain.


Kakeknya yang mendapat kabar akan kejadian ini pun segera bergegas ke tempat kejadian begitu pula dengan Jaxson, Wilfred dan Jarvis yang merasa khawatir akan keadaan Axelle maupun Micha.


Kakek Micha yang sudah tiba di lokasi pun tak kalah terkejutnya melihat sang cucu kesayangan menangis histeris sambil memangku kepala Axelle yang sudah berlumuran darah. Para sahabat Axelle pun demikian sama terkejutnya melihat Axelle terkapar tak berdaya di pangkuan Micha, sedangkan Micha yang melihat sosok sang Kakek pun langsung berteriak.


“Kakek tolong Axelle Kek.” Ucap Micha di sela isak tangisnya.


Para sahabat Axelle pun tak tinggal diam mereka lalu mengangkat Axelle dengan segera untuk menuju rumah sakit, Micha mengikutinya dari belakang dengan Kakeknya.


“Ini semua salah Micha Kek, jika Axelle tidak menolong Micha dia tidak akan seperti ini.”


“Sudah-sudah kamu jangan terus menangis, Axelle melakukan hal ini mungkin memang ingin melindungi kamu sayang. Jangan menyalahkan dirimu sendiri jika Axelle mendengarnya dia pasti akan sedih.”


“Coba jika tadi Axelle tidak membantumu, sekarang yang terkapar berlumuran darah mungkin kamu dan jika Nenekmu tahu kamu seperti itu, itu juga akan membahayakannya, Nenekmu pasti bisa syok.” Ucap sang Kakek lagi menenangkan Micha.


Setelah sampai di rumah sakit Axelle langsung menjalani operasi di kepalanya, karena benturan dari balok kayu itu lumayan keras mengenai bagian kepalanya.


Micha terus mondar mandir di depan ruang operasi sudah hampir 2 jam tapi dokter belum juga menampakkan batang hidungnya.


“Tuhan ku mohon selamatkan dia, apapun yang dia minta aku akan melakukannya. Aku tidak ingin kehilangannya, aku sangat mencintai dia.” Ucap Micha dalam hatinya yang terus memohon untuk keselamatan Axelle.


Micha memang sudah menyadari sejak lama bahwa hatinya telah jatuh pada Axelle, namun dirinya tidak mau mengakui akan hal itu karena Micha masih belum percaya akan kesungguhan Axelle dan dia takut patah hati seperti yang pernah di alami oleh teman-temannya dulu.


Kini dia sangat percaya pada perasaan Axelle, karena Axelle merelakan nyawanya demi melindunginya namun hal itu pula membuat Micha merasa bersalah dan menyesal. Dirinya sangat takut jika terjadi sesuatu terhadap Axelle dan dia bahkan belum mengucapkan kata maaf dan memberikan jawaban cintanya untuk Axelle.


Lampu ruang operasi pun berganti warna yang artinya operasinya telah selesai, dokter dan para perawat yang membantu pun keluar ruangan satu per satu.


“Dokter bagaimana keadaannya?” Tanya Micha yang sudah tidak sabar.


“Dia sudah melewati masa kritisnya, nanti kami akan pindahkan ke ruang rawat. Namun untuk saat ini pasien jangan terlalu banyak berbicara ataupun di ganggu terlebih dahulu.” Jelas sang Dokter.


Micha pun merasa sedikit lega bahwa Axelle sudah berhasil melewati masa kritisnya. Begitu pula sang Kakek dan ketiga sahabat Axelle. Dari kejadian inilah Jaxson, Wilfred dan juga Jarvis menyadari akan perasaan Micha yang sudah berlabuh pada Axelle.


“Iya Micha jaga Axelle sementara ya.” Ucap Jaxson juga.


Sedangkan Jarvis hanya terdiam dan tak berkata apa pun, Jarvis juga menyalahkan dirinya sendiri karena sebelumnya mereka hampir bertengkar karena memperebutkan Micha. Tanpa di ketahui oleh Wilfred maupun Jaxson. Sedangkan Wilfred yang sudah menduga dari awal hati Micha tidak akan berlabuh padanya, dirinya sudah mempersiapkan untuk menerima akan hal ini dan merelakannya.


Begitu pula dengan Jaxson yang sungguh patah hati melihat Micha yang sangat mengkhawatirkan Axelle sampai seperti itu, dirinya tidak akan mengira bahwa Micha akan menunjukkan cintanya secepat ini tapi bukan pada dirinya melainkan pada sahabatnya Axelle. Sesampainya di Arion Club Jaxson melampiaskan amarahnya.


“Arrrggghhh...!! Kamu menang Axe, kamu yang berhasil mendapatkan hatinya.” Ucap Jaxson sambil mengepalkan tangannya yang sudah berlumuran darah karena menghantam kaca kamar mandi di Arion Club.


“Selama ini kamu sungguh baik dan dekat denganku Micha, aku kira aku bakal mendapatkan kesempatan itu ternyata hatimu sejak saat itu sudah berlabuh pada Axelle yang jelas-jelas sering menyakiti kamu.” Ucap Jaxson lagi tertunduk lesu.


Setelah dari rumah sakit Jaxson memang memilih pergi ke Arion Club untuk minum wine ataupun cocktail untuk menghilangkan rasa sakit hatinya sejenak. Tak di sangka setelah keluar dari kamar mandi dirinya melihat Wilfred dan juga Jarvis sudah duduk di depan bartender. Melihat mereka yang sudah berada disana membuat Jaxson malas untuk bergabung.


“Kenapa tanganmu Jax?” Tanya Wilfred khawatir.


“Tidak kenapa-kenapa Wil, kalau begitu aku akan pulang duluan.” Ucap Jaxson datar.


“Hei..kita baru saja sampai Jax, kenapa tidak minum bersama dulu, disini juga ada kotak obat kau bisa mengobati tanganmu disini bukan?” Ucap Jarvis membujuk Jaxson agar tetap tinggal.


Jaxson hanya menghela nafasnya kasar, namun dirinya tetap menuruti permintaan Jarvis.


“Baiklah, hanya sebentar.” Ucap Jaxson datar.


Setelah mengobati dan membalut lukanya, Jaxson lalu memesan wine kesukaannya.


“Jaxson bahkan lebih frustasi dari pada diriku.” Ucap Wilfred dalam hati.


“Hei Wil, mengapa begitu sulit mendapatkan cinta seorang gadis dan aku sungguh tidak menyangka Axelle kadi seperti ini, aku ingin minta maaf padanya.” Ucap Jarvis yang sudah mabuk berat.


“Haih..anak satu ini sama saja, tapi untuk apa dia meminta maaf pada Axe.” Ucap Wilfred bingung.


Wilfred hanya menghela nafasnya melihat kedua sahabatnya depresi karena cinta mereka bertepuk sebelah tangan, sama seperti dirinya tapi bedanya Wilfred masih bisa mengontrol emosinya.


Saat Wilfred menatap ke sebelah Jaxson, dirinya pun juga sudah terkapar karena mabuk berat. Akhirnya Wilfred menyuruh pelayan laki-laki disana untuk membawa kedua sahabatnya ke kamar mereka masing-masing yang memang sudah di buat khusus di Arion Club ini. Setelah selesai mengurusi kedua sahabatnya Wilfred pun mendapatkan kabar tentang kondisi Axelle dari Micha.


“Hallo, ada apa Micha?” Tanya Wilfred yang khawatir.


“Wil..Axelle sudah..”


.


.


.


.


.


.


Bersambung......


Klik 👍 Klik❤️ Klik 5 🌟 dan jangan lupa Vote nya juga ya sebanyak yang kalian mampu.😁


Terima Kasih 🙏🙏