
Laila tertegun di depan pintu kamarnya. Niat hati ingin membuka paksa pintu tersebut, tapi urung dilakukan karena suara lirih Dewi di dalam sana.
"Bagaimana ini? Aku selalu dihantui rasa takut tinggal di sini, tapi untuk kembali ke rumah itu aku juga tidak mau." Dewi menghela napas berat, dan Laila di luar kamar masih menunggu kelanjutan monolognya.
"Tapi jika dilihat-lihat Daisha sepertinya tidak menaruh dendam padaku, dia juga tidak terlihat membenciku. Apa semua ini hanya perasaanku saja?" Dewi mulai merayap pada nuraninya.
Tentu saja, bodoh. Kau nenek sihir yang jahat pasti akan terus dihantui rasa takut.
Laila menggeram, mengumpat dalam hati. Ia tak senang Dewi berada di rumah itu, apalagi menempati kamarnya. Lancang sekali!
"Apa aku harus mulai mengenalnya? Mulai berbaikan dengan wanita itu? Hah, rasanya tidak mungkin. Sebaiknya aku pergi saja," pungkas Dewi mengakhiri monolognya seraya bangkit menyiapkan diri untuk pergi.
Laila buru-buru pergi dari depan pintu dan duduk di teras. Berpura-pura tak pernah masuk ke rumah dan menunggu Daisha. Laila memainkan ponsel ketika langkah kaki mengetuk lantai mendekati teras.
Hanya melirik tanpa ingin menyapa, Dewi melewati Laila begitu saja. Pun dengan remaja itu, tak ada keinginan untuk sekedar menyapa ataupun berbasa-basi. Mereka saling diam dan saling mencibir satu sama lain.
"Masih sombong saja, padahal dia tinggal di rumahku. Kuusir baru tahu rasa!" umpat Laila begitu jengah dengan sikap angkuh Dewi.
"Sabar saja, Nona. Mungkin dia sulit beradaptasi dengan lingkungan rumah ini," sahut Bibi tiba-tiba sudah berdiri di belakang Laila.
Remaja itu mendengus, terus mengikuti punggung Dewi yang menjauh dan hilang bersama taksi yang membawanya.
"Kenapa dia tinggal di sini, Bi? Apa Kakak yang membawanya?" tanya Laila tak menutupi kebenciannya.
"Entahlah, tuan muda yang membawanya saat subuh kemarin. Nona sendiri tidak tahu," jawab Bibi seadanya.
Ia berbalik dan masuk ke rumah diikuti Laila yang langsung menuju ruang tengah. Berbaring di sofa sambil menonton televisi menunggu Daisha kembali.
****
"Laila!"
Daisha membangunkan Laila yang tertidur pulas di sofa. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Ia terlihat lelah.
"Laila! Bangun, sayang!"
Remaja itu melenguh, perlahan membuka kelopak mata dan tersenyum melihat sang kakak.
"Kakak!" Laila beranjak memeluk Daisha.
Ada rindu yang menggebu setelah beberapa hari tak bertemu.
"Aku merindukan Kakak. Kenapa tidak kembali dulu ke villa?" rengek Laila seraya melepaskan pelukan.
Daisha tersenyum, mengusap lembut rambut sang adik penuh cinta. Ia juga rindu pada gadis kecil itu.
"Kakak juga merindukanmu, tapi kamarmu di sini ditempati ibunya kak Dareen. Kau akan menginap?" ucap Daisha memikirkan di mana Laila akan tidur.
"Aku akan tidur dengan Bibi saja di belakang. Aku ke sini karena Bibi Areta tidak datang menjemput," ucap Laila sedikit cemberut.
Daisha mengusap kepalanya, ia memberitahu bahwa Areta menatap sementara di villa mereka.
"Jadi, Bibi di sana? Apa aku juga boleh tinggal di sana? Lebih dekat ke rumah ini daripada harus tinggal di dalam hutan sana," pintanya memelas.
"Yah, boleh saja. Nanti sore Kakak antar," katanya.
****
Untuk sementara waktu Laila tinggal di villa Daisha bersama Areta. Menetap untuk sementara atau selamanya tak apa. Di rumah seperti biasa Daisha melakukan pekerjaannya. Terkadang menyapu lantai, mengambil pakaian dari jemuran, juga menyiram tanaman bunga yang tumbuh dengan baik.
Dareen menyempatkan diri ke kantor karena Alfin terus menerus menghubunginya. Keduanya berencana untuk menjadi saingan Bardy dalam memperebutkan kursi Presdir yang kosong milik Yeworks Company.
Ia kembali ke rumah saat matahari hampir tiba di ufuk barat. Daisha masih sibuk mengatur tanaman di halaman, menata bunga-bunga agar lebih indah dipandang. Dareen yang melihat langsung saja mencemaskan keadaan istrinya itu.
"Ini tidak apa-apa, Kak. Aku juga melakukannya dengan hati-hati," sahut Daisha tak senang.
Namun, tetap saja Dareen tak senang. Ia membawa istrinya masuk ke rumah dan membiarkan halamannya berantakan.
"Jangan melakukan apapun, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu juga anak kita. Kalian harus sehat," ucap Dareen begitu tiba di kamar mereka.
Daisha tersenyum senang, bahagia rasa hati mendapatkan perhatian dari sang suami. Ia mengangguk patuh, tanpa berniat membantahnya.
"Sepertinya Ibu belum pulang, pasti sedang bersama teman-temannya," gumam Dareen seraya merebahkan dirinya yang lelah di ranjang.
Pikirannya dipenuhi oleh rencana untuk perkumpulan lusa. Termenung menatap langit-langit ruangan setelah ditinggal Daisha untuk membuat minuman. Secangkir teh hangat masih mengepulkan asap dibawa Daisha mendekati Dareen.
"Ibumu sudah pulang, Kak. Dia menyapaku tadi, apa Ibu sudah menerimaku?" ucap Daisha memberitahu Dareen perihal Dewi yang berpapasan dengannya di dapur saat membuat teh.
"Itu bagus, semoga Ibu bisa menerimamu," sahut Dareen terlihat antusias mendengar kabar tersebut.
Ia beranjak dan memeluk istrinya itu.
****
Dua hari berlalu sudah, hari yang ditunggu banyak orang untuk hadir melakukan rapat besar kosongnya kursi Presdir.
Satu per satu orang-orang penting itu berdatangan ke sebuah aula yang telah disiapkan untuk mereka. Bardy tiba lebih awal dengan penuh percaya diri. Ia duduk di kursi pimpinan sebelum rapat dimulai.
Di rumahnya Dareen pun sedang bersiap, di luar Alfin telah menunggu untuk berangkat bersama-sama.
"Jadi, kau akan mengajukan diri sebagai Presdir? Apakah tidak apa-apa seperti itu? Memangnya ke mana si Pemilik kursi?" tanya Daisha sambil memasangkan dasi di leher suaminya.
"Entahlah, aku masih terbilang baru di dunia bisnis ini meskipun melanjutkan perusahaan milik ayah. Aku sendiri tidak percaya diri pada kemampuan yang kumiliki. Hanya doakan suamimu ini, ya. Semoga apa yang terbaik selalu kita raih," ucap Dareen meminta restu pada istrinya.
Daisha gamang, bagaimana pun mereka akan bertemu di perkumpulan itu hanya untuk satu kursi kosong yang seharusnya tidak menjadi rebutan semua pihak. Hari ini semuanya akan terbongkar dan selesai dengan semestinya.
Di kamar Laila, Dewi pun telah bersiap-siap menghadiri acara tersebut sebagai ganti Bardy karena dia memiliki satu perusahaan kecil yang bernaung di bawah Yeworks Company.
Dewi keluar setelah Dareen pergi bersama Alfin. Daisha masih berdiri di ambang pintu memperhatikan tanaman bunga yang telah selesai dirapikan.
"Siapa yang merapikan ini semua? Apakah Bibi?" tanyanya pada diri sendiri.
Daisha menoleh ke belakang tubuhnya ketika mendengar suara ketukan heels di lantai rumah.
"Nyonya, Anda juga pergi?" pekik Daisha melihat sang ibu mertua yang telah rapi dengan setelan kantornya.
Pagi itu Dewi terlihat berbeda, ia bersikap lebih ramah terhadap Daisha. Setelah beberapa hari tinggal bersama, sedikit demi sedikit Dewi akhirnya mengenal bagaimana Daisha.
"Sebenarnya Ibu ingin bicara denganmu-"
"Ibu?" Daisha terkejut mendengar itu.
Dewi tersenyum, terbersit rasa bersalah di hati karena telah merendahkan menantunya itu bahkan menolak hadirnya.
"Yah, mulai hari ini bisakah kau memanggil aku Ibu? Kau adalah menantuku dan aku mertuamu. Untuk semua yang telah terjadi, aku meminta maaf padamu. Aku sadar semua itu tak pantas aku lakukan. Siapapun dirimu dan bagaimana pun kehidupanmu, kau adalah tetap menantuku. Wanita yang dicintai putraku. Maafkan Ibu, Nak. Ibu menyesal, bisakah kita memulainya dari awal lagi? Hubungan antara mertua dan menantu?" papar Dewi panjang lebar.
Daisha tertegun, pagi itu rasanya berbeda sekali. Melihat Dewi seperti melihat sosok seorang Ibu yang menyayangi anak-anaknya. Inikah yang dimaksud Bibi di rumah besar itu. Sebenarnya dia orang baik, hanya saja gengsi mengalahkan kebaikannya.
Daisha tersenyum, kemudian mengangguk pelan. Dewi memeluknya penuh penyesalan. Hidup bergelimang harta membuatnya lupa dari mana dia berasal.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak," lirihnya dalam pelukan Daisha.
"Sama sama, Ibu."
Hati keduanya penuh haru ketenangan dan kedamaian perlahan hadir mengisi jiwa yang hampa. Dewi tak akan lagi merasa sendirian, ada Daisha yang akan menjadi temannya mulai sekarang.